Dear R, Hari ini aku memutuskan untuk menulis seluruh perasaanku tentangmu pada kartu pos. Aku tidak suka menulis panjang-panjang. Kupikir, kartu pos adalah pilihan terbaik. Aku akan mengumpulkan seluruh kartu pos ini dan jika waktunya tiba, aku akan memberikannya kepadamu (jika aku punya keberanian). Kita lihat apakah kita akan masih berteman. Aku juga tidak yakin, apakah selama ini kita berteman. Ataukah kita, sebenarnya, hanya saling terikat?
Dari, Piti
***
Ilse menghilang selama dua tahun. Pada suatu malam, dia mengetuk pintu rumahnya yang mewah, membuat Firas, sang suami, tertegun. Perempuan itu kembali, tetapi tidak serta-merta ingatannya. Menghadirkan banyak tanda tanya dalam benak, apa yang terjadi selama dia menghilang?
Yaampuuuun, selesai aku baca ini, huhu. Aku gak tahu perasaanku sama buku ini selain aku ngerasa gak tenang. Rasanya, tuh, kek ada yang belum selesai gitu ama ceritanya. Tapi aku suka, tapi aku juga gak suka. Aku suka ceritanya tapi aku benci semua karakternya, ini asli aku gak boong. Yang kusuka kayaknga cuman Sura doang, sih, ini. Manipulatif semuanya.
Berikut pros ama cons nya:
Pros:
1. Aku suka misterinya. Penyampaian tentang kebenarannya itu beneran runut. Jadi kayak aku dibimbing buat tahu satu-satu dan akhirnya bisa memecahkan sendiri kasus ini itu sebenernya gimana.
2. Penyelidikannya. Ia aku suka banget cerita Hana sama Saram. Asyik aja buat diikuti.
3. Karakterisasi. Di sini, semuanya punya peranan penting dan karakternya berperan buat menjalankan cerita. Dan aku beneran benci semua karakternya saking mereka jelas banget peranannya apa huhu. TOP bgt authornya memang.
Cons:
1. Endingnya. Entah, ya, menurutku klimaksnya berasa nanggung. Di sini ada twist memang, tapu yang gak bikin kaget gitu. Nah, apa yang terjadi di akhir tuh bikin aku langsung bergumam, "Lho, udah? Terus masa gini aja?" semacam itulah. Nasib semua para karakter emang jelas, tapi pengungkapan pelakunya berasa kayak anti-klimaks banget malahan.
2. Bukan mayor, cuman ada beberapa kata ambigu. Contohnya ini: "Dia selalu sibuk dan jarang di kamar. Dia enggak pernah keluar kamar" (Nani, hal. 84). Jarang di kamar tapi enggak pernah keluar kamar? Nah entahlah.
3. Alasan dibalik orangtua Ilse. Aku bingung aja gitu, orangtua Ilse itu sebenernya kenapa bisa sampe benci ma Ilse?
Eniwe, menurut kalian yang udah baca siapa Aiakos? (gini gak sih nulisnya)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini KEREN BANGET PARAH 🥺. Aku sampai mbatin, kayaknya kalau novel ini dibikin film bakalan seru nih. Dan aku bakalan nonton tentunya. 😆
Jujur, di awal-awal sempat kurang tertarik meneruskan membaca novel ini. Tapi itu semua berubah ketika Ilse muncul. Kondisi Ilse yang tiba-tiba sampai di depan rumahnya setelah 2 tahun hilang amat sangat memprihatikan, dan itu juga yang membuat aku semakin kepo. Ada apakah gerangan dengan Ilse? Kenapa dia bertindak tanduk layaknya binatang? Apakah dia sedang kesurupan arwah kocheng oren yang bar-bar?? Eh 🙈
Intinya aku suka banget banget banget sama novel ini. Thriller nya berasa, misterinya berasa, dan bahasanya enak buat dibaca. Pokoknya novel ini layak banget buat dibaca dan aku yakin gak bakalan bikin nyesel.
HAHHHHHH TERNYATAAAAAA aku rasanya gabisa ninggalin novel ini karena penasaran banget ini bakal gimana, selanjutnya apa, laki2 perak, kandang, hilang ingatan. sampai akhirnya, tibalah pada ending yang wow.
tokoh2 yg diselidiki mula2 kayak semacam tiba2 ada, ketemu, kebetulan, dan yah lain sebagainya yg menurutku kok gini yaaa. tapi selain itu i love this book!!
Disclaimer dulu, nih. Semua tulisan ini adalah tumpahan perasaanku pribadi yang aku tulis di notes SAAT aku membaca novel ini. Jadi, semisal ada tulisan yang kurang berkenan, ini murni apa yang kurasakan, tanpa unsur tidak suka terhadap penulisnya atau alasan lain.. Here we go.
Capek bacanya. God, have mercy on me. 😭😭😭😭 Pertama, Firas. Ya ampun!! Pria ini suami Ilse tapi gak punya pendirian sama sekali, ga mau ngurus Ilse di saat Ilse udah balik dan malah membebankan seluruh urusan Ilse ke Ralia, “Bagus, kamu bisa fokus dengan Ilse.” Haloooo, suami Ilse di sini siapa, ya? Ralia juga punya kehidupan sendiri. Ini juga cewek satu ga bisa nolak permintaan Firas sama sekali. Cinta sungguh membutakan.
Kedua, berhubung aku cukup sensitif dengan cerita-cerita yang deksripsinya cukup graphic (re: gore) dan detail, aku jadi agak menyesal kenapa aku memutuskan untuk baca buku ini di saat kondisiku sedang tidak nyaman-nyamannya. Gak kok, gak ada yang salah dengan detail kekejamannya, memang aku aja yang sensitif akan hal-hal kayak gini.
Lalu, kesan misteriusnya. Ga tau ya mungkin tujuan buku ini memang untuk membuat pembaca penasaran dengan pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi pada Ilse?” Tapi sepanjang aku baca, aku justru mendapatkan kesan kalau ceritanya kayak sengaja diulur-ulur dan itu sangat menyebalkan (untukku pribadi). Dari satu peristiwa ke peristiwa lain yang diceritakan dari sudut pandang Ilse (POV orang pertama) dan sudut pandang Raila, Firas, Kale, dan Hana (POV orang ketiga). Alur yang lompat-lompat ini justru bikin aku ga sabar bacanya sampai aku cari review bloggers yang udah baca buku ini untuk menambah motivasiku kenapa aku HARUS melanjutkan buku ini, atau dengan kata lain yaudah deh aku mau baca review (re: spoiler) orang lain aja untuk tau apa sebenarnya yang terjadi dengan Ilse. Kalau 2/3 buku alurnya terkesan lambat, 1/3 akhir buku malah terburu-buru. Kayak segala sesuatu berjalan begitu cepat, “mudah”, dan “mulus”.
Ada plot hole di bagian [redacted], buat yang udah baca Second Sister-nya Chan Ho Kei mestinya ngeh sama plot hole yang kumaksud ini. Subjectively speaking, ceritanya menarik banget. 👍🏽👍🏽
Aku berhasil menyelesaikan buku ini dan yaa buat teman2 yang suka baca thriller psikologis, buku ini cocoklah buat kalian. Akhir kata, dear humans, don’t play god.
I LOVE THIS BOOK ini buku kedua kak ruwi meita yang aku baca. bukunya selalu kerenn 🥹🫶🏻
jadi ini ceritanya tentang ilse yang tiba" muncul selama 2 taun menghilang. pas dateng dia bener" ga inget apapun, banyak luka sayatan ditubuhnya, makan kayak binatang pokoknya tingkahnya bener" aneh. nah disisi lain ada kepolisian yang lagi mengusut tentang korban yg meninggal saat kebakaran rumah. nah ini nnti nyambung sama kenapa si ilse menghilang
ceritanya bener" mind blowing bgt sih aku smpe gabisa stop bacanya krna penasaran sama kelanjutan ceritanya. kalo kalian suka baca misteri thriller gitu aku rekomenin buat baca buku ini!!
Ilse sudah menghilang selama dua tahun. Pada suatu malam, dia pulang, mengetukmenekan bel pintu rumahnya yang mewah, membuat Firas sang suami tertegun. Perempuan itu kembali, tetapi tidak serta merta dengan ingatannya. Menghadirkan banyak tanda tanya dalam benak, apa yang terjadi selama dia menghilang?
Ini perbaikan blurp versi saya setelah selesai membaca bukunya. Beserta teks dari selembar kartu pos, nampaknya buku ini akan mengarahkan kita pada interaksi antara Ilse, Firas, R, dan Piti. Ternyata lebih dari itu.
Ini buku pertama Ruwi Meita yang saya baca, setelah beberapa teman bilang puas atas karyanya. Misteri, thriller, atau mungkin horor bercampur. Sayang saya hanya menemukan misteri dalam buku ini. Misteri yang dalam penelusuran saya tak terpecahkan hingga akhir buku.
Di bab pertama sudah hadir Ralia menemani Firas di tempat tidur, dengan gambaran bahwa kejadian itu malah bikin kedua pihak bertanya-tanya setelahnya, alih-alih puas atau diliputi kebahagiaan. Rupanya, dua tahun setelah Ilse menghilang tanpa kejelasan, barulah Firas "berani" mengajak Ralia ke ranjang. Akan halnya Ralia, di samping merupakan sahabat lama pasangan itu, sudah selama itu pula memendam rasa pada Firas. Tapi ia masih rasional, mungkin Firas hanya perlu pelampiasan hasrat, bukan membalas perasaan cintanya.
Dalam suasana menggantung ini, Ilse pulang dengan kondisi menyedihkan. Sekujur tubuh penuh luka parut, dan ingatannya hilang. Urusan Firas dan Ralia terabaikan, karena Firas fokus mengurus Ilse. Ketimbang penasaran apa yang telah terjadi pada istrinya, ia malah "mengurung" Ilse di kamar, mencekokinya dengan obat penenang, tak lagi ingin istrinya diketahui sudah kembali. Firas tak peduli bahwa pada saat bersamaan tersiar kabar terbakarnya sebuah rumah beserta penemuan sesosok jenazah, yang sebenarnya berhubungan dengan istrinya saat hilang. Ilse sudah kembali padanya, itu cukup.
Alur cerita bolak balik antara masa sekarang (setelah Ilse kembali ke rumah) dengan masa kala Ilse dalam penyekapan. Selain penceritaan ttg kehidupan Ralia (lebih banyak daripada kisah ttg Firas, atau bahkan Ilse), ada juga cerita penyelidikan polisi (yang cuma dua orang se-Kota Malang!) mengenai pengelola situs deep/dark web yang dianggap bertanggungjawab atas menghilangnya beberapa tokoh antagonis di dunia nyata.
Agak ruwet dan banyak belokan, karena memang demikian situasi dunia internet ini. Hal yang mungkin diharapkan bisa menjadi akar persoalan, malah benang merahnya lepas ke mana-mana.
Ya gitu deh. Bintang tiga, karena penulis bisa membuat saya bisa menjaga rasa penasaran saya hingga membaca buku ini sampai akhir.
Belenggu Ilse bercerita tentang seorang wanita bernama Ilse yang hilang secara misterius selama dua tahun. Ilse sendiri mempunyai seorang suami bernama Firas, anak perempuan bernama Kale, dan sahabatnya bernama Ralia. Semenjak dia hilang, semua orang panik dan mencarinya. Tapi semua sia-sia. Dia tetap hilang, bahkan tidak ada jejak yang ditinggalkan sehingga pencarian berujung kegagalan.
Setalah dua tahun berlalu, keajaiban datang. Saat suaminya Firas hendak keluar rumah, tiba-tiba Ilse muncul di depan pintu rumah. Dengan kondisi fisik dan mental yang memprihatinkan, Ilse datang dengan membawa sejuta tanda tanya besar. Bahkan dia berperilaku layaknya hewan. Lambat laun, satu persatu keganjilan itu mulai terkuak dan ada seorang psikopat gila di balik peristiwa ini.
Ini merupakan novel pertama karya Ruwi Meita yang aku baca dan aku langsung suka. Cerita yang disajikan sangat mengena dan bisa langsung terbayang begitu saja. Walaupun kisah di dalamnya penuh dengan kepahitan, namun ada unsur lelucon yang mengimbanginya. Penulis pun menyelipkan cukup banyak teka-teki, sehingga pembaca dibuat menerka-nerka jawaban di balik konflik yang sedang terjadi.
Gaya penulisan yang sederhana, membuatku nyaman membaca ceritanya. Berbagai konflik hadir untuk memperkaya cerita. Mulai dari percintaan sampai konflik sosial mengenai sisi negatif dari penggunaan internet. Semua dikemas dengan menarik dan apik.
Terdiri dari 319 halaman yang memuat 66 bab, membuat aku sedikit kurang terpuaskan, terutama dibagian klimaks dan akhir cerita. Penulis terkesan buru-buru menamatkan ceritanya, padahal menurutku penulis bisa mengembangkan isi ceritanya lebih kaya dan lebih berisi lagi. Tapi secara keseluruhan, aku cukup menikmati novel ini dan tidak ada sedikitpun penyesalan karena sudah membacanya. 👌👍 ⭐4/5
Awal mula dari kasus besar itu adalah bentuk kebencian. Saya jadi ingat pernah menonton sebuah video yang berisi pesan kurang lebih begini, "Kamu boleh tidak suka dengan sesuatu. Tapi jangan pernah membencinya. Sebab kebencian itu bukan saja merusak sesuatu tadi, melainkan secara bersamaan merusak diri sendiri dari dalam."
Setelah menghilang selama dua tahun, Ilse kembali ke rumahnya pada suatu malam tanpa setitik pun ingatan tentang kehidupannya sebelum dia pergi. Dia mencoba kembali ke kehidupan normalnya bersama suami, anak, dan sahabatnya ketika Molly datang dan memintanya mencari kebenaran. Perlahan, fakta-fakta mengerikan mulai terungkap, dan Ilse semakin meragukan mana yang benar dan mana yang tidak.
Ini adalah salah satu novel Ruwi Meita yang paling aku suka selain Misteri Patung Garam. Bedanya, di sini penulis lebih mengeksplorasi sisi gelap tiap-tiap tokohnya. Masing-masing dari mereka memiliki kekurangan, dosa, dan motif tersendiri sehingga mereka terasa sangat realistis. Aku selalu suka membaca cerita tentang tokoh yang morally grey seperti mereka. Selama membaca buku ini, aku sering merasa was-was dan curiga untuk memercayai salah satu dari mereka.
Alur di buku ini cukup cepat. Ditambah dengan bab yang pendek-pendek, sangat mudah buatku untuk terjebak berjam-jam dengan buku ini tanpa ingin berhenti karena penulis selalu tahu caranya menjaga agar nuansa muram dan tegang yang meliputi buku ini tidak pernah pudar. Kalau enggak karena ada urusan lain, mungkin sehari bisa selesai. 😂
Secara keseluruhan, Belenggu Ilse adalah sebuah novel dengan plot yang bagus serta tertata. Namun, meski misterinya sudah dibangun dengan sedemikian rupa, penulis lupa mengerem kecepatan plot sehingga bagian akhir terlalu terburu-buru. Ada beberapa hal yang belum terselesaikan di sini dan berakhir menggantung. Mungkin memang sengaja dibuat seperti itu, tapi jika ada penjelasan lebih lanjut mengenai identitas si penjahat dan apa motifnya, buku ini akan ter-wrap up dengan lebih sempurna.
Aku selalu menunggu lebih banyak karya yang seperti ini dari Ruwi Meita.
Novel karya Ruwi Meita selalu membuatku kagum dengan sang penulis juga jalan ceritanya. Misterinya dapet, thillernya juga dapet, dan tentunya page turner banget untukku. Yang paling melegakan, setidaknya novel ini memiliki akhir yang lebih baik, tidak terlalu banyak misteri menggantung (menurutku) jika dibanding Rumah Lebah.
Seperti judulnya, Ilse yang menghilang selama 2 tahun tiba-tiba kembali di satu malam. Suaminya, Firas, kaget karena selama dua tahun terakhir dia telah mencari istrinya ke mana-mana sampai hampir menyerah.
Ini yang aku katakan tokoh di dalamnya tidak ada yang antagonis, semua punya kisah kesakitan masing-masing. Seolah-olah karma melenyapkan semua dosa mereka di masa lalu. Salute banget bisa baca buku genre beginian karya penulis Indonesia.
Buku kedua karya Mbak Ruwi Meita yang aku habiskan dalam kurun waktu dua hari! Memang kisahnya se-complicated dan semenegangkan itu. Di bab awal langsung diseret dalam permasalan pelik lalu aku menemukan ternyata meletakkan atau mengabaikan buku ini sangat susah.
Bagi kalian pencinta kisah misteri berbumbu romansa dan thriller boleh coba baca buku ini. Bintang 4.8 buat buku ini, karena masih menemukan typo yang mengganggu lalu ada beberapa hal dengan penokohan tokoh Ralia yang membuatku agak bingung.
Ps: Hati-hati dengan rating buku, khusus untuk yang berusia 18+ aja, ya!
Belenggu Ilse, merupakan novel karya Ruwi Meita yang bercerita tentang Ilse yang kembali ke rumahnya secara tiba-tiba setelah 2 tahun dinyatakan hilang. Bersamaan dengan itu pula, satu persatu teka-teki bermunculan. Dari soal Ilse yang menjadi hilang ingatan sampai dengan fakta-fakta lain yang perlahan terungkap dan mengerucut pada suatu fakta yang mencengangkan tentang praktik tindak kejahatan yang sadis.
Cerita berjalan dengan perlahan namun tidak membosankan, konflik demi konflik dibangun dengan terstruktur. Penulis dengan piawai mengarahkan anggapan dari para pembaca yang tentu saja dipatahkan dengan suatu fakta di akhir cerita. Sepanjang cerita, hal-hal romansa dan keluarga masih cukup mendominasi, namun menjadi semakin menarik ketika proses investigasi dilakukan dan fakta-fakta lain turut menguatkan dan membentuk benang merah yang utuh.
Selesai sebelum 24 jam, karena memang sebagus itu! Aku gak nyangka kalau buku ini ditulis oleh penulis Indonesia. It was so well-written. Thrilling-nya dapet banget! Sempat curiga sama beberapa orang diawal, lalu dipertengahan kecurigaan itu dipatahkan, lalu diakhir jadi tanda tanya. Yup! Se-twisting itu. Keren sih, aku bingung mau ngomong apa lagi soal buku ini. Bab-babnya singkat, jadi gak bosen bacanya, malah penasaran pengen lanjut terus. Tokoh-tokohnya juga digambarkan dengan sangat baik, dengan karakter-karakternya masing-masing. Nilai plus juga karena ada sedikit mitologi Yunani yang diangkat di sini.
Seru dan bikin penasaran. Kita akan digiring untuk menerka-nerka, siapa pelakunya? Benarkah Ilse adalah korban? Tapi kenapa Ilse mempunyai sejarah kelam? Lalu Ralia, sahabat Ilse kenapa begitu ketakutan? Faras, suami Ilse yg bekerja sbg apoteker, kenapa selalu memberi dia obat tidur? Polisi di sini gercep sih, Tapi harusnya ini dibikin lebih banyak halaman lagi, supaya tau siapa si Hades sebenarnya?
Aku suka sekali dg konsep kirim kartu pos itu dengan ditujukan kepada R dan ditulis oleh Piti.
Sejauh ini aku udah baca dua buku karya Ruwi Meita, Rumah Lebah dan ini, kedua-duanya page turner dan mengalir, mudah dibaca, walau topiknya lumayan berat. Itu yang aku suka dari buku beliau.
Tapi sayangnya ada banyak hal yang bisa digali lagi dari hubungan para tokohnya, sehingga agak kurang mateng gitu pengungkapan misterinya.
Buku ini kayak campuran Rumah Lebah, Sometimes I Lie dan Girls in The Dark. Yang udah baca mungkin bakal paham kenapa aku bilang begini😁😁
Terlalu banyak tokoh yang harus dihapal begitupun alur ceritanya agak muter, jd maju mundur maju mundur Dan tiap section engga di jelasin ini pov siapa jadi akhirnya menebak2 dan itu malah ngebuat baca bukunya jadi lamaa Karena harus liat halaman sebelumnya dulu untuk tau itu pov siapa
Baca buku ini tuh selalu tergoda ingin cepat-cepat baca halaman terakhirnya. Penasaran siapa pelakunya. Sejauh ini gue sudah baca 3 buku Mbak Ruwi Meita dan nagih. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Buku-buku yang lain dicetak ulang dong 🤧🙏🏽💜
Baca seharian sampai kelar soalnya nagih bangetttt gak bisa berhenti meskipun ada beberapa hal yang kayak nanggung huhu TAPI tetep seruUuu! Misterinya dapet, thrillernya juga berasa 👌🏻
Belenggu Ilse adalah buku kedua yang saya baca setelah Rumah Lebah. Dibandingkan buku sebelumnya, saya lebih menyukai buku ini karena karakternya yang natural dan tidak hiperbolik.
Kisah yang bercerita tentang persahabatan dan percintaan. Keduanya mempunyai kesamaan di dalam cerita ini yaitu one sided relationship.
Ada 66 bab di dalam buku ini dengan empat sudut pandang yang dipakai, yaitu Firas (mengawali dan menutup cerita), Ralia, Ilse dan Hana. Pada setiap beberapa bab (jumlah babnya random) ada postcard (dengan tanggal acak) yang merupakan benang merah dari cerita utama. Postcard yang tidak akan dikirimkan melainkan diberikan jika pemiliknya mempunyai keberanian.
Cerita diawali dengan kejadian setelah ONS antara Firas dengan Ralia. Yang satu sudah memendam perasaan sejak lama sekali (tepatnya dari masa kanak-kanak) dan yang satu lagi sedang berusaha meyakinkan perasaannya. Di awal cerita diceritakan istri Firas yang sudah menghilang semenjak dua tahun sampai polisi mencurigai kalau Firas telah membunuh istrinya. Kemudian di bab awal itu diceritakan pula mengenai kejadian penemuan gadis yang hilang di Coban Talun, Malang dengan kondisi tidak bernyawa di rumah yang terbakar.
Setelah bab ini, saya sempat membalik buku ke belakang karena nama Kale, anak perempuan berumur 4 tahun yang ada di cerita Ralia dan Firsa secara terpisah. Disini sempat agak membingungkan, awalnya berpikir Kale adalah anak Ralia, tapi di bab berikutnya diceritakan Firsa yang hendak menjual rumah karena rumah itu terlalu besar untuk mereka huni berdua, dia dan Kale.
Kemudian datanglah Ilse, entah darimana datangnya tapi dia ada kembali ke rumah yang dia tempati dulu dengan Firsa. Adanya perubahan sikap Ilse yang seperti binatang, kemudian percakapan yang ada di pikirannya menunjukan dia telah mengalami perlakuan mengerikan selama dia menghilang dua tahun.
Lambat laun semua tanda tanya kita terjawab dan plot twistnya juga mengejutkan. Belenggu yang mengikat Ilse pun ada yang dia sendiri ciptakan dan ada yang diciptakan oleh orang lain. "... Sama seperti sekarang kamu nggak berani untuk menghadapi masa lalu Isle. kamu justru membelenggunya dengan mengatakan hal-hal bohong tentang masa lalunya." (hal.261).
Selain itu juga kenyataan bahwa ternyata dua orang itu bersama karena adanya kesamaan sikap (Firas dan Ilse).
Hanya masih ada pertanyaan seperti jika tubuh jatuh di atas tubuh lain dari ketinggian tertentu bukankah pasti mati?, segemuk apapun badan yang di bawahnya.
Buat yg sudah baca novel Belenggu Ilse juga, kasih tau dong yg jadi Hades itu sebenernya siapa? Latar belakangnya gimana? Firas itu Radhamantus kah? Atau Firas nggak ada hubungannya sama sekali dgn penculikan Ilse?
Jadi, aku baca buku ini di Ipusnas. Gara-gara lihat riwayat bacaan orang, terus pas aku cek ternyata ini buku antrian. Hmm... Entah kenapa aku selalu tertarik dgn buku antrian, apakah sebagus itu sampai orang banyak yg baca atau file yg tersedia sedikit.
Sepanjang aku baca, aku penasaran dgn sosok laki-laku perak yg menghukum Ilse. Aku juga penasaran dgn korban-korban lain yg ikut dihukum.
Semakin ke belakang, mulai terbuka sedikit kalau laki-laki perak ini disebut Hades dan dia tidak bekerja sendiri. Ada Minos, Radhamantus, dan Aiakos. Dari penjelasan tersurat, mereka ini ingin menghukum orang-orang yg berbuat kesalahan. Cara menjaring orang bersalah calon dihukum ini bermacam-macam.
Aku terus baca buku ini karena penasaran dgn kesalahan Ilse, kenapa dia bisa diculik, kenapa dia dihukum. Walaupun sedikit demi sedikit mulai ada penjelasan tentang masa lalu Ilse (lewat cerita kartu pos juga), tapi kayaknya masih banyak yg belum dibongkar. Misal tentang karosel, daun maple, itu simbol tentang sesuatu atau apa?
Kalau Ilse menyimpan rahasia kelam Ralia, rahasia Ilse yg disimpan Ralia tuh apa? Kenapa Ilse nggak disukai ortunya, bahkan ortunya ga peduli dia hilang atau enggak, cuma mau hartanya.
Terus nasib Aiakos dan Radhamantus? Di ujung cerita Hades mati, jatuh ke jurang, dan nggak ada penjelasan lebih lanjut asal muasal dan motif si Hades.
Aku sempet kepikiran Radhamantus itu Firas karena di akhir dia menghapus history jual beli obat ilegal. Dan Minos sempet bilang kalau yg menyediakan barang2 kebutuhan Hades itu Radhamantus. Iya ga sih?
Ah, yaudahlah. Toh itu cuma novel. A good novel actually, walau masih banyak yg nanggung.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Selalu menantikan akhir cerita yang penuh kejutan tak terduga serta mindblowing twist setiap baca tulisan Ruwi Meita. Yah, tapi sayang, untuk buku ini menurutku terlalu biasa saja.
Beberapa orang nggak menyadari dirinya bajingan bahkan saat tertangkap. Mereka selalu percaya bahwa apa yang dilakukannya adalah kebenaran. Kamu nggak bisa mengubah kebenaran mereka, karena kebenaran kita dengan mereka berbeda.
This Book is Absolutely Mind-Blowing!
At first glance, the cover of this book tricked me into thinking it was about a slightly toxic romantic relationship. Oh, how wrong I was—very, very wrong. This story dives into the chaotic life of Ilse, a woman planning to run away with her cheating boyfriend, leaving behind her husband and their 3-year-old son. Add to the mix Ralia, Ilse’s childhood best friend, and you’ve got a tangled web of betrayal and secrets.
This book had me constantly second-guessing: Who’s good? Who’s evil? The word "crazy" doesn’t even begin to capture the characters here—each with their own motives, flaws, and complexities. As the story unfolds, you’re thrown into a thrilling investigation of what really happened between these characters, how their lives are intertwined, and the secrets they hide. It’s gripping and unnerving—every page had me teetering on the edge.
However, I couldn’t help but notice a few loose threads. Minos’ reasons for becoming an executioner? Barely touched on. Hades’ motives and backstory? Mysterious at best. And don’t even get me started on Ilse’s secrets or Firas and his hidden medicine—it’s a buffet of unsolved puzzles that drove me absolutely crazy. The attachment and tension in this book are so intense that I found myself wanting to scream with every revelation. Honestly, I don’t think I’ve ever hated all the characters in a book before—but Ilse, Firas, and Ralia? Oh, they’ve made my "people to avoid at all costs" list. Denial, madness, stupidity—they’ve got it all. I’d need a saint’s patience to handle all three in one room.
That said, I do have favorites—Saram and Hana, the dynamic police duo trying to crack the case. I couldn’t help but root for them. Saram, in particular, amazed me—always one step ahead of Hana, inching closer to uncovering the “who” and “why.”
And yet… that ending. I hate open endings with a fiery passion. Sure, the “what” is solved, but the “why”? So many lingering questions left unanswered. It’s maddening, but also speaks to the brilliance of this story.
Now, this might be a little biased, but Ruwi Meita never disappoints me. Her writing is a masterclass in plot twists, storytelling, and atmosphere. Smart, clever, and mind-blowing—those are the only words that truly fit.
Baca ini itu udah kayak mau kentut tapi gak jadi atau jadi tapi bunyinya “pessss”, ngeselin kan, ngeselin banget.
Sebelum baca review baca sinopsisnya dulu, karna mau langsung review kesan-kesan dan inti garis besarnya aja😁
Jadi dari awal baca emang belum terlalu nyaman, dan mikir bakalan gak seru karna diawal itu disuguhinnya soal cinta-cintaan biasa, jadi kayak zonk banget. Tapi beberapa bab selanjutnya mulai ada yang menarik yaitu waktu kedatangan Ilse, sempet ngerasa kok cepet banget datengnya, dikira bakalan ada scene-scene penting dulu yang nanti bakalan nyambung buat di klimaksnya.
Terus lanjut di pertengahan yang segalanya cukup rumit tapi bikin asik, tokoh-tokoh disini memang gak terlalu berkembang secara luas, tapi tokoh-tokoh disini udah lebih dari cukup sesuai porsinya. Ide ceritanya juga menarik, buat pengalaman pribadi sih baru novel ini yang buat penasaran sampe merinding, tapi kalo dipikir-pikir lagi novel ini bukan genre horor, adegan berdarah-darahnya pun sedikit, cuma pengarang ini cukup berani memadukan unsur psikopat, teknologi, psikologi, sama history dewa Yunani yang hasilnya ya bikin takut sendiri kalo dibaca malem-malem hahahaha
Barulah di bab akhir-akhir mulai ngerasa curiga karna masih banyak pertanyaan yang belum terjawab tapi halamannya bentar lagi tamat, dan bener ajaaaaaa akhirnya itu antiklimaks banget 😭😭😭 dibilang ada twist nya sih ya ada, tapi sedikit banget, dan ya gak bikin kaget, karna udah bisa ketebak dari awal, terus juga masih banyak misteri dari kasusnya sendiri yang belum terungkap pfffttt
Mungkin penulis emang sengaja mau fokus ke cerita tentang proses bagaimana hilangnya korban dan kenapa korban bisa menghilang. Dan kalo dipikir-pikir emang beresiko juga kalo buat kasusnya lebih detail lagi, karna emang case yang penulis buat itu case nya udah lebih dari sekedar penculikan atau kiriminal biasa.
Ini list pertanyaan yang belum terjawab di buku, 1. Hades itu siapa? Aiakos kemana? Radhamanthus juga kemana? apakah beneran mati? Terus kenapa bisa ada jaringan sindikat kriminal kayak mereka?
2. Terus masa lalu Ilse itu sebenernya seperti apa? Kenapa orang tuanya benci banget sama Ilse?
siapa tau dibaca penulisnya terus dibuatin sekuel nya 😀
"Kadang, kamu harus membiarkan rahasia nggak pernah terbuka agar tidak ada lagi yang bisa disakiti." (hlm. 312)
Ilse menghilang selama dua tahun, meninggalkan Firas dan Kale--suami dan anaknya. Tiba-tiba suatu hari Ilse muncul di depan pintu rumahnya. Tubuhnya kurus dan rambutnya berantakan. Bahkan, ia hilang ingatan, memiliki banyak luka bekas siksaan yang mengerikan, dan tingkah lakunya seperti binatang. Ia makan langsung dengan mulutnya dan minum pun dengan menjilati air dalam gelas. Ralia--sahabat Ilse yang membantu merawat Kale sejak kepergian Ilse--membantu merawat Ilse atas permintaan Firas. Hanya saja, kepulangan Ilse membuat kelegaan yang dia rasakan seketika lenyap.
Setiap hari Ilse berusaha mengingat masa lalunya. Sekotak kartu pos yang ia temukan memberinya petunjuk tentang seperti apa dirinya dulu. Namun, setiap kali ia minum obat dari Firas, ia akan mengantuk dan keesokan harinya ia kembali kesulitan mengingat masa lalunya.
Di tempat lain, seorang gadis ditemukan tewas di dalam kandang di sebuah rumah terpencil yang hangus terbakar di Malang. Penyelidikan yang dilakukan Saram dan Hana berujung pada suatu mitologi Yunani tentang penghakiman Hades. Apakah Hades ini ada hubungannya dengan menghilangnya Ilse dua tahun ini?
Novel yang keren. Cocok buat kalian yang suka misteri kriminal dan thriller. Misterinya dapet banget. Hal ini yang membuat novel ini sangat page turner. Setiap halamannya membuatku penasaran untuk segera mengetahui rahasia yang tersembunyi. Ada selipan humor dan romansa yang cukup menghibur, sehingga membuat kita tidak tegang terus-menerus.
Ide tokoh Hades ini mungkin berasal dari kegelisahan penulis terhadap orang-orang jahat yang selalu lolos dari sanksi peradilan. Pesan yang kutangkap dari novel ini adalah pertemanan, keluarga, dan lingkungan tak sehat bisa mempengaruhi kejiwaanmu. Sebisa mungkin kita harus keluar jika berada di lingkaran seperti itu, agar kita tidak terjangkit dan menularkannya pada orang lain.
Gue meluangkan waktu untuk membaca novel ini kemarin siang sampai akhirnya sebelum tidur malam bisa selesai membacanya. To be honest, ternyata ceritanya memang menarik, dari segi penokohan gue rasa gak usah meragukan mba Ruwi lagi. Tata bahasa yang apik, enak dibaca tapi kayaknya ada beberapa kesalahan dalam pemberian nama di satu bagian, ya tidak menghilangkan keseruan jalan cerita.
Alurnya sedikit lambat, dari 2 novel yang udah gue baca dari karya nya mba Ruwi (misteri patung garam & rumah lebah) disayangkan Belenggu Ilse tidak menjawab harapan gue hahaha walau gue tetep suka dan menyelesaikannya sampai akhir.
Yang gue suka adalah plot cerita memberikan kesan misteri kriminal yang cukup padat, sudut pandang di ceritakan secara bergantian yang membuat gue tidak bosan mengikuti kisah Ilse dan toko lainnya, juga jumlah halaman perbab yang tidak ditumpuk sehingga pembaca tidak perlu menunggu lama untuk membaca bab selanjutnya, tokoh Sura menjadi favorit gue entah mengapa 😅 membaca percakapan antara dia dengan Ralia begitu menghangatkan dan juga duo detektif yang sering melawak.
Satu yang gue kurang sreg disini adalah tokoh “hades”, apa ya seperti kurang menegangkan dari segi kengerian dan ketegangan seorang pelaku kriminal. Lalu, kasus Hades juga tidak di usut sampai tuntas, tidak diberikan penjelasan gamblang siapa sosok Hades sebenarnya, seperti apa kehidupannya, bahkan kita tidak sempat diperlihatkan proses penyelidikan lebih lanjut terhadap Hades? Apakah Belenggu Ilse hanya memusatkan ceritanya pada bagaimana Ilse menghilang? Bagaimana Firas memperlakukan Ilse setelah ia berhasil pulang ke rumah?
Oiya poin menarik lainnya di dalam novel ini juga diceritakan soal deep web dan dark web, bagaimana cyber crime bekerja.
Yah intinya gue bisa memberikan rate yang solid sebesar 3.7/5⭐️ 👌
This entire review has been hidden because of spoilers.
“Beberapa orang nggak menyadari dirinya bajingan bahkan saat tertangkap. Mereka selalu percaya bahwa apa yang dilakukannya adalah kebenaran. Kamu nggak bisa mengubah kebeneran mereka, karena kebenaran kita dengan mereka berbeda.”
Bagi yang sudah membaca, mungkin kutipan di atas bisa jadi rangkuman yang cukup untuk menceritakan kembali isi di dalam buku ini.
***
Di awal pembacaan, saya sempat merasa dihantui ketakutan seperti apa yang saya rasa pada buku Ruwi Meita sebelumnya yang saya baca (Rumah Lebah). Namun, saat saya mulai membalik halaman satu per satu ‘nyawa’ ketakutan itu hilang begitu saja digantikan dengan perasaan mual.
Sangat disayangkan, sebetulnya saya sempat dibuat bingung dengan POV siapa di sini POV siapa di sana, tapi setelah terbiasa, hal tersebut bisa teratasi dengan cara menebak-nebak.
Saya sendiri merasa buku ini patut diacungi jempol karena berhasil membuat saya bangga bisa menyelesaikannya dengan hanya dua hari saja.
Untuk plot di awal memang tidak mudah ditebak, banyak pertanyaan yang menyebar, kemudian akan terkumpul jadi satu ketika saya membaca bab demi bab terlebih pada bagian surat-surat tulisan Piti yang justru membuat saya ingin segera menyelesaikan cerita ini dengan sekali duduk saja karena penasaran. Akan tetapi, pada akhir cerita sayang sekali saya tidak menemukan beberapa hal yang saya cari.
Beberapa sebaran pertanyaan tidak terasa terjawab walau sudah sampai penghujung cerita. Namun, jika beberapa kawan yang ingin mengetahui kenapa buku ini ditulis dengan judul Belenggu Ilse, kalian akan dengan bahagia menemukan jawabannya di akhir cerita.
Kalau boleh berdiskusi lebih panjang. Dibanding dengan ‘Molly’ dan orang di balik cerita hilangnya Ilse, saya lebih penasaran dengan latar belakang Firas.
Sebetulnya, ada apa dengan Firas? Kenapa ayahnya bertanya demikian?
This entire review has been hidden because of spoilers.