Kado-kado itu terus berdatangan, tanpa sedikit pun petunjuk tentang siapa pengirimnya, kecuali bros bunga matahari yang selalu tersemat di dalamnya. Salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa bunga itu merupakan kesukaan Putri adalah Enrico—mantan pacar yang sebenarnya masih dirindukannya. Apakah itu cara pemuda itu mencoba mendapatkan maafnya?
Demi memecahkan misteri itu, Putri rela pergi ke pusat kota Roma yang sesak di malam tahun baru, tanpa sedikit pun mengira bahwa kejutan besar tengah menantinya di sana.
Saya suka kovernya (still a sucker for flower paintings after all this time, sigh), saya suka latarnya, dan kelihatan banget penulisnya pernah tinggal di Italia dan mengunjungi banyak kota di sana. Mungkin juga kayaknya kecantol orang sana? Hehe.
Sayangnya, yang dicantumkan di blurb itu terjadi di halaman 288. Ya, betul, nyaris ke akhir. Bunga mataharinya juga sebatas begitu saja, saya pikir bakal ada filosofi lebihnya. Jadi, yang awalnya saya kira akan dihadapkan langsung dengan konflik mencari sosok misterius ini, nyatanya justru dihadapkan dulu dengan pengalaman Putri selama tiga musim lamanya. Sebelum ke sana, kita harus melewati dulu banyaaak tokoh di banyaaak tempat dan banyaaak info tentang budaya Italia. Don't get me wrong, nggak ada yang saya ragukan di sini, karena sudah pasti legit dan benar terjadi. Banyak yang saya nikmati dari cerita-cerita Putri yang berlibur ke tempat-tempat eksotis, kulineran makanan baru, sampai hal-hal harian seperti naik bus dan perangai profesor-profesornya. Namun rasanya saya akan lebih menikmati semua itu jika tidak dibungkus dalam bentuk novel, melainkan catatan perjalanan. Kayak, semua yang pernah penulisnya alami dituliskan di sini. And it's overwhelming.
Latar Italianya memang cukup mendominasi, bahkan melebihi alur dan penokohannya. Padahal banyak tidbits yang potensial banget dijadikan penggerak plot (kalaupun bukan konflik besar). Misalnya, soal ekshibisionis yang mengganggu. Kita bisa lempar hero dan heroine-nya ke situasi itu dan lihat gimana mereka bersikap, jadi bukan cuma kasih tahu mereka diganggu dan solusinya meng-call-out lewat selebaran dan masalah selesai. Nah ini, saya merasa rangkaian ceritanya seperti serial one-shot yang dapat masalah, beres, lalu lanjut ke bab berikutnya. Kayak satu kasus satu episode gitu. Novel terbitan Bhuana Sastra yang menampilkan Italia juga, Addio, lebih mulus soal ini. Penokohannya jelas, alurnya kelihatan, dan porsi latarnya nggak sebanyak novel ini tapi terasa sekali Italianya.
Sepanjang cerita, saya nggak bisa kenal Putri itu siapa. Leo, Lisa, dan teman-teman yang lain juga masih terlihat permukaannya saja, belum bisa membuat saya simpati. Apalagi Enrico, hhhh tipikal banget nih orang, ngerusak nama baik cowok Itali aja haha. Satu-satunya yang bisa saya bayangkan wajahnya adalah Prof Mazzino haha. Mau dong punya dosen kayak beliau 😍 Unsur favorit saya di sini berkaitan dengan latarnya, yaitu Sastra Italia yang dipelajari Putri. Sungguh, pengin bisa ngerti! Udah gitu ada beberapa kutipan puisi-puisinya, lihat bentukan kalimatnya aja udah indah wkwk.
Oh ya, di sini diselipkan resep-resep makanan terutama yang khas Italia, jadi bisa banget buat dicoba kalau lapar hehe. Literally nyelip karena ada di tengah-tengah cerita, bukan di halaman paling belakang. Makanya, saya lebih merasa semua pengalaman Putri yang berharga ini lebih nyaman disampaikan sebagai travel notes apalagi ada resep-resep juga. Terus saya sempat coba baca kalimat-kalimat Italiano-nya tanpa lihat catatan kaki (for the record, my Italiano sucks bad 😂) dan penulis banyak menggunakan bahasa sehari-hari, tapi ternyata lumayan banyak tebakan saya yang jitu wkwk.
Membaca novel dengan latar yang kuat selalu menyenangkan buat saya dan memberi nilai plus. Buku ini menawarkannya, hanya saja kurang diimbangi oleh plot yang concise dan penokohan yang kuat (dan sedikit aja, karena banyak banget tokoh figurannya). Kalau Mbak Tanti nulis fiksi lagi dan latarnya Italia lagi, saya tetap mau baca, tapi semoga bisa lebih cocok ke saya hehe.
Blurb-nya menipu, padahal aku tertarik baca buku ini karena konsep ceritanya kedengaran menarik. Yang tertulis di blurb, yang harusnya jadi fokus utama cerita, malah dibahas gak sampai 50 halaman di bukunya, kesannya cuma kisah sampingan aja. Ceritanya justru fokus ke kehidupan Putri dan teman-temannya di Perugia, jadinya bertele-tele dan konflik utama yang jadi nilai jual buku ini malah terabaikan. Masih banyak plot hole di sana-sini yang kebanyakan menurutku kurang realistis.
Selain itu, gaya tulisan di buku ini mirip kayak buku KKPK, and i don't think it delivers the plot well which is more new adult themed. Salah satu ick dariku adalah ketika Putri melakukan ujian lisan dengan dosennya, dia merujuk dirinya sendiri sebagai 'aku' dalam percakapan dengan dosen yang notabenenya senior dari segi umur dan posisi. Menurutku itu terlalu kasual, ya walaupun budaya di luar negeri lebih santai dibanding di sini, tapi tetap saja kesannya kurang sopan. Hal-hal begini yang bikin aku kurang suka dengan penulisannya.
Sorry to say but karakternya juga kekanak-kanakan dan gak konsisten. They behave irrationally childish almost everytime. As for the romance, kalau pun blurb-nya ngeklaim cerita ini berpusat ke kisah cintanya Putri, Enrico, dan Leo, aku hampir gak merasakan itu. Putri dan Enrico terlalu cepat berprogress, gak ada satu kecurigaan pun dari Putri soal itu apalagi dia merantau di negeri orang. Untuk Leo sendiri, aku gak merasakan ada aura love interest sepanjang cerita, justru dia menunjukkan kesan sebagai sahabat seperantauan yang selalu ada buat Putri and nothing more. Makanya, ketika akhirnya ditunjukkan ada percikan antara keduanya, aku gak begitu bersimpati.
Intinya, aku merasa buku ini jauh di bawah ekspektasiku dari berbagai aspek. Aku coba untuk kasih bintang 1/5 sebab riset soal tempat wisata dan latar tempat yang cukup solid, sisanya just no for me.