Jump to ratings and reviews
Rate this book

Betawi: Queen of the East

Rate this book
Pada abad 19, Betawi-Weltevreden dipromosikan dengan sebutan: Queen of the East (Ratu dari Timur). Saat itu Betawi mengalami transfusi yang cukup besar dari para pendatang Eropa. Serdadu dan pedagang dari abad 19 ini jauh berbeda dari rekan-rekan mereka di abad 17. Mereka lebih santun dan terhormat ketimbang serdadu dan petani yang didatangkan JP Coen dua abad sebelumnya. Di sekitar Weltevreden muncul pemukiman-pemukiman baru seperti Tanah Aband, Gondangdia, Meester Cornelis (Jatinegara) dan Menteng. Mereka membangun rumah-rumah di pinggir jalan selayaknya rumah modern Eropa. Jalan-jalan dinaungi pohon rindang. Awal abad ke-20 Betawi mencapai kekayaan yang melimpah

190 pages, Paperback

First published June 1, 2002

4 people are currently reading
47 people want to read

About the author

Alwi Shahab

13 books6 followers
Jakarta, atau dulu dikenal dengan nama Batavia cukup menarik kisah kehidupannya untuk diceritakan. Alwi Shahab seorang wartawan senior yang telah lama hidup di Jakarta sangat fasih menceritakan hal-hal yang menarik tentang kota Jakarta, pada saat penjajahan Belanda sampai pada saat kemerdekaan Indonesia. Kisah-kisah menarik ini terangkum dengan rapi pada setiap tulisannya……

Alwi Shahab, lahir di Jakarta 31 Agustus 1936, telah menjalani profesi sebagai wartawan selama lebih dari 40 tahun. Karirnya dimulai tahun 1960 sebagai wartawan, kantor berita Arabian Press Board di Jakarta.

Sejak Agustus 1963 ia bekerja di Kantor Berita Antara. Berbagai jenis liputan digelutinya saat di Antara, mulai dari reporter kota, kepolisian parlemen, sampai bidang ekonomi. Selama sembilan tahun (1969-1978), anak Betawi kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat ini, menjadi wartawan Istana.

Sepanjang bertugas sebagai wartawan, Alwi Shahab kerap melakukan liputan di luar negeri. Di antaranya, tahun 1983 ia mengunjungi perbatasan Malaysia-Thailand untuk meliput operasi penumpasan gerakan Komunis oleh tentara Malaysia.

Pensiun dari Antara tahun 1993, ia bergabung dengan HU Republika. Koran yang usianya relatif muda ini, tanpa kesulitan Abah Alwi — begitu ia biasa dipangil oleh rekan-rekan yuniornya — langsung beradaptasi dengan lingkungan baru yang dihuni oleh orang-orang muda.

Dengan komitmennya yang tinggi terhadap kewartawanan Abah Alwi langsung menjadi contoh bagi rekan yuniornya, bagaimana seseorang bisa menjadi wartawan sejati, walau telah memasuki usia senja. Ia tak kalah produktif dibandingkan dengan rekan yuniornya.

Sejak di Republika, ia mulai menulis artikel-artikel tentang sejarah kota Jakarta, baik dalam bentuk tulisan lepas, di rubrik kebudayaan, maupun di rubrlik Sketsa Jakarta dan Nostalgia.

Walau telah lebih enam tahun menulis, ia seolah-olah tidak kehabisan bahan untuk mengangkat permasalahan kota Jakarta, terutama kisah-kisah tempo doeloenya. Untuk objektivitas penulisan, ia bukan saja mendatangi nara sumber, menelaah berbagai koleksi dan bahan, tapi juga mendatangi tempat yang menjadi bahan penulisannya.

Abah Alwi bisa dihubungi di email : alwishahab@gmail.com

Sumber: http://alwishahab.wordpress.com/about/

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (40%)
4 stars
6 (20%)
3 stars
10 (33%)
2 stars
2 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
38 reviews
November 7, 2023
Buku ini menjawab pertanyaan sepintas di kepala ketika melewati jalanan jakarta. Kenapa sedikit sekali bangunan era batavia yang dirawat? Kenapa daerah ini itu banjir? Apa nama daerah dulunya? Kenapa suatu tempat bernama demikian? Juga kenapa tokoh betawi sedikit yang disebutkan bahkan jarang terdengar sebagai pahlawan era pra kemerdekaan? Sebagai warga Jakarta menikmati buku ini juga selipan sejarah dan fakta yang dimuat dalam buku ini
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.