Trauma has become a catchword of our time and a central category in contemporary theory and criticism. In this illuminating and accessible volume, Lucy Bond and Stef
provide an account of the history of the concept of trauma from the late nineteenth century to the present day
examine debates around the term in their historical and cultural contexts
trace the origins and growth of literary trauma theory
introduce the reader to key thinkers in the field
explore important issues and tensions in the study of trauma as a cultural phenomenon
outline and assess recent critiques and revisions of cultural trauma research
Trauma is an essential guide to a rich and vibrant area of literary and cultural inquiry.
Berdasarkan bacaan Trauma ini menarik ya, terutama pada chapter 3, di mana para psikolog mencoba untuk membagi tipe-tipe trauma seperti trauma individu, trauma sosial/kolektif, dan trauma budaya/institusi/negara. Pada chapter 1, Luckhurst menerangkan bahwa pengalaman traumatis harus dibagikan ke sesama manusia lainnya dengan tujuan edukatif dan cabang-cabang keilmuan seperti psikologi, hukum, sastra, kesehatan, dan lainnya terutama di penghujung abad 20. Hal yang membuat saya bertanya-tanya atau mencoba berpikir kritis adalah pertanyaan pertama yaitu pada chapter 1 sejarah trauma tidak dimulai/tidak dibuka dari cerita-cerita mitos atau keagamaan seperti yang tertera di chapter 3? (Bond & Craps, 2019: 97). Serta, mengapa harus dari sejarah kemunculan era/zaman industri yang memulai cerita trauma berasal dari sebuah kecelakaan histeris yaitu rubuhnya sebuah lajur kereta (railway spine)? Lalu, jika memang pada chapter 2 menjelaskan bahwa pengalaman trauma itu dapat menyiksa psikologis manusia ketika para penyintas retelling truma mereka, dengan pernyataan silence is an alternative serta pelarangan tulisan-tulisan post-Holocaust (Bond & Craps, 2019: 47), ditambah kemunculan dekonstruksi Derrida dan term Shosana Felman “expressionless to storytelling” (Bond & Craps, 2019: 71), dan juga yang telah dijelaskan terkait definisi trauma yang makin kompleks dapat ditransmisikan ke generasi selanjutnya (second generation) melalui foto, lalu ingatan-ingatan yang dinarasikan, terutama dengan adidaya pengaruh media, dengan kekuatan menyebarkan, membaginya setara kepada manusia-manusia seperti yang telah dicontohkan oleh Schindler’s List (Bond & Craps, 2019: 91), sebenarnya apa tujuan dari ini? Pilihan bijak antara aksi ‘diam’ atau banning tulisan, mana yang terbaik? Apakah tujuannya hanya mentransmisikan? Atau lebih peningkatan kesadaran? Apa benar tidak ada cara efektif dalam pengalihan trauma selain melalui medium-medium yang sepenuhnya hanya bersuara dalam diam seperti novel, fotografi, atau hal lainnya yang dijunjung oleh Kaplan? (Bond & Craps, 2019: 89). Terakhir, pada chapter 4, Caruth menyatakan bahwa pengalaman traumatis adalah milik bersama, yang akan menciptakan ikatan emosional antar generasi (Bond & Craps, 2019: 110-111). Pertanyaan penutup, fungsi trauma sebagai solidaritas yang dipelopori oleh Caruth, apakah hanya untuk menciptakan trauma kanonik?
A very timely intervention in the broad theory of trauma and memory studies, this book is going to be an inevitable resource for anybody who is working in the fields aforesaid. Starting from Freud and Cathy Caruth laying down the foundation of trauma studies to the recent diversification of trauma and memory studies towards seeking new possibilities, this book is a must-read.
I like Routledge's New Critical Idiom series, and this directly related to a course I'm teaching in fall. It offered a succinct history of the development of cultural trauma studies, representations of internal and external critiques of and in the field, and intriguing thinking about the future of the field given the current constantly mediated "trauma culture" in the West right now.
This book is an essential guide for all those who wish to initiate themselves into trauma studies. It give a broad framework of the history of trauma as an experience and well as of representation.