Transendensi feminin adalah peristilahan langsung dari Simone de Beauvoir dalam karya Le Deuxeme Sex (1949) yang diterjemahkan menjadi The Second Sex (1954). Meskipun dikabarkan terjemahannya cukup bermasalah, inilah buku penting dan pertama mengulas kesetaraan gender, suatu gagasan yang kini kita kenal dalam perbendaharaan bahasa Indonesia.
Demi kesetaraan itu, diperlukan transendensi yang dalam filsafat eksistensialis J.P. Sartre adalah kebebasan dalam eksistensi. Kehadiran manusia sebagai eksistensi memiliki transendensi yang mengatasi imanensi, seperti halnya hubungan antara subjek dan objek, suatu polaritas yang sekaligus berarti transendensi maskulin dan imanensi feminin, aktivitas maskulin dan pasivitas feminin.
Dalam perbedaan gender, perempuan pun ditanggapi berbeda dari pria, menjadi liyan, yang lain, dan menjadi objek pasif bukan subjek aktif. Feminitas pun ditelusuri dalam psikoanalisa sebagai feminine character (V. Klein) pada ulasan Freud, dan psikoanalisa lainnya seperti pada Jung, Adler, Karen, Horney, Helena Deutsch, dan Maslov, akhirnya bermuara pada gagasan eksistensi dengan kebebasan dasariah. Padahal sebagai manusia, perempuan dapat melaksanakan kebebasannya juga demi kesetaraan. Oleh Simone de Beauvoir dijelaskan bahwa transendensi feminin itu nyaris terwujud secara historis, antropologis, sosiologis, dan empiris psikologis.
Pada hasil Tes Rozenzweig, tampil dengan jelas masculine character yang pada saat frustrasi menjadi extra-punitive (agresif cenderung mengalahkan pihak lain) dan ego-defensive (menyelamatkan martabatnya). Berbeda dengan feminine character, yang cenderung menyalahkan diri sendiri dan merawat silaturahmi.
Toeti Heraty was born in 1933. An outstanding Indonesian poet with a powerful vision she is also a philosopher an art historian and a human rights activist well known for both her opposition to the Suharto regime and for her feminism.
Pertama, saya tidak menyangka ternyata buku ini adalah sebuah thesis tugas akhir yang dibukukan. Gagasan-gagasan pemikirannya lebih dari sekedar thesis tugas akhir saja, bahkan di tahun 2020 pemikiran ini masih berguna dan cukup relate dengan kehidupan sehari-hari. Saya bilang relate di tahun 2020, karena pada dasarnya ini adalah thesis tugas akhir pada tahun 70. Saya seperti membaca gagasan Beauvoir yang dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam, cukup ringan untuk sebuah buku, namun juga pembahasan yang mendalam tetap menjadikan buku ini sebagai buku yang menarik. Saya akan merekomendasikan ini kepada orang-orang yang baru belajar feminisme dan konsep dasarnya, karena balik lagi ke poin sebelumnya, buku ini cukup ringan untuk pemula yang sedang mendalami apa itu feminitas dan lain-lain.