Sam is excited about getting new shoes, and as he grows into the shoes he becomes old enough to help his father on the farm, eventually becoming a farmer himself.
JENNIFER THERMES is an award-winning children’s book author-illustrator and map illustrator. Her nonfiction picture book The Indestructible Tom Crean recently received the Bank Street College of Education’s 2024 Flora Stieglitz Straus Award in the Younger Reader category and is an ALSC Notable Children’s Book. Both Tom Crean and her book A Place Called America were named to the Kirkus Best Picture Books of 2023 list. She also creates black & white maps for middle-grade and young adult novels including the bestselling Vanderbeekers series. Jennifer is fascinated by big-picture ideas that span history, adventure, and the natural world, and weaves maps throughout her stories to explore new places and visualize how the past connects to our lives today.
To learn more please visit www.jenniferthermes.com, @jenthermes on Twitter and @jenniferthermes on Instagram.
Most children today, at least in the United States, own many pairs of shoes that fit properly. Sam Bennett, however, grew up during a period of history when getting a new pair of shoes was a special occasion. Sam was proud of his new shoes, purposely too big for him so that he would have plenty of room to grow into them. As the story progresses, Sam matures and takes on more responsibilities proving that not only are his feet growing to fit his shoes, but he is growing up with strength and character. Included in the book is the mention of the old tradition of hiding a worn out pair of shoes within the walls of a house to solicit good favor and ward off bad luck. The story comes full circle as Sam reaches adulthood with a child of his own and hides a pair of shoes in the wall of the new addition to his home, whispering the meaning of this tradition in his baby daughter's ear.
I enjoyed learning of this tradition of hiding shoes, a tradition of which I was not previously familiar. This picture book is most suited for younger elementary school children.
Pada tahun 1600-an hingga 1700-an para petani di Amerika memiliki kepercayaan unik. Mereka percaya bahwa ada arwah-arwah yang sering datang mengunjungi rumah mereka. Untuk mencegah arwah itu masuk ke dalam rumah, mereka menyimpan sepatu bekas milik anak mereka di beberapa tempat yang bisa menjadi jalan masuk arwah itu, misalnya di cerobong asap atau dekat jendela. Mereka percaya bahwa ketika arwah melihat sepatu bekas tersebut, arwah ini akan pergi karena menganggap rumah yang mereka datangi sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Walaupun sepatu yang disembunyikan umumnya sepatu anak-anak, akan tetapi ditemukan juga beberapa sepatu orang dewasa.
Sam Bennet adalah anak pertama dari seorang petani. Suatu hari ayahnya membelikan sepatu baru untuknya. Sepatu lamanya kemudian disimpan oleh ayahnya di dekat cerobong asap. Untuk keberuntungan, kata ayahnya. Sepatu baru Sam agak kebesaran, tapi Sam tetap memakainya. Seiring pertumbuhannya, Sam menganggap sepatu baru itu membawa keberuntungan baginya. Dengan sepatu barunya Sam bisa membantu ayahnya bertani, memberi makan babi, mengambilkan air dari sumur tanpa tertumpah untuk ibunya, dan mencukur bulu domba.
Setahun berlalu, sepatu Sam mulai sempit. Ayahnya yang melihat betapa Sam rajin membantu selama ini, memutuskan untuk membelikan sepatu baru lagi untuk Sam. Kali ini sepatunya berbentuk boot, seperti orang dewasa. Sepatu lama Sam diwariskannya ke adiknya Caleb yang sangat gembira mendapatkan sepatu baru. Seterusnya, sepatu itu berpindah tangan setiap tahun kepada adik-adiknya. Sampai akhirnya sepatu itu benar-benar rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Sepatu itu disimpan di loteng dan terlupakan.
Ketika Sam dewasa, menikah dan mempunyai seorang anak, Sam hendak membangun kamar kecil untuk anaknya di loteng. Sam menemukan sepatu tua itu, dan teringat tradisi ayahnya. Sam menyimpan sepatu tuanya di dekat jendela untuk menjaga rumahnya dan untuk keberuntungan. Sam berjanji, suatu saat nanti dia akan menyimpan sepatu bekas milik anaknya.
Tidak ada informasi mengapa hanya sepatu anak-anak yang disembunyikan. Hanya sedikit informasi mengenai kepercayaan ini, mungkin karena budaya ini bukan merupakan budaya asli penduduk, tapi dibawa oleh para pendatang dari Inggris. Ketika penulis buku ini, Jennifer Thermes, menemukan beberapa sepatu anak-anak bekas di rumah tua yang ditempatinya, dia mulai membuat sebuah cerita tentang Sam Bennett. Menurut Jennifer, anak-anak adalah simbol dari harapan dan impian akan masa depan. Menyembunyikan sepatu anak-anak sama halnya menyimpan harapan dan impian akan masa depan.
This was a cute little story about a boy who got a new pair of shoes. The story is set roughly around the 1600-1700's when people had only one pair of shoes, which they had made especially for them by a cobbler, in a size or two too big so they could grow into them. These shoes were then passed on to younger siblings or cousins and were worn until they were practically falling apart. In this story, it is Sam's family's tradition to put a shoe in e wall to project the family and bring good fortune.