Kindly, naïve and just a little bit chubby, agent 212 is the target of all problems big and small, and a magnet for all possible mishaps that can render a police officer's life miserable. Villains, imprudent drivers, and plain pigheaded suicidal maniacs are just a few of the bizarre characters he gets himself into scrapes with, much to the amusement of the readers and, of course authors themselves, Kox and Cauvin.
Cerita Arthur kali ini banyak menceritakan kisah perselisihannya dengan ibu mertua yang tampaknya kecewa anaknya menikahi Arthur, dan berharap putrinya menikahi polisi lain(at least, polisi jalan tol seperti anak temannya yang sudah punya Porsche).
Cerita paling lucu dalam edisi ini menurut saya adalah Peluru Hilang. Arthur mendapati bebek mati dan seorang pemburu setelah mendengar suara tembakan. Si pemburu mengatakan kalau si bebek mati alami karena serangan jantung.
Ketika Arthur menanyakan kenapa dia menembakkan peluru, si pemburu mengatakan kalau ada babi hutan yang tiba-tiba menyeruduk ketika dia sedang jalan-jalan. Kemudian dia menembaknya dan nyaris kena. Sekarang dia khawatir si babi mengamuk.
Arthur yang tidak percaya, marah kepada si pemburu. Di tengah kemarahannya, seekor babi hutan yang mengamuk keluar dari semak dan menyeruduk mereka.
Mereka berdua berakhir di ranjang rumah sakit. Adegan ditutup dengan si pemburu yang bertanya, apakah Arthur sekarang sudah percaya dengan ceritanya.
Ik kan me vagelijk herinneren dat ik deze strip wel eens eerder heb gelezen, de hoofdpersoon komt me bekend voor. Dit was een zeer leuk deel om te lezen. Die arme Agent 212, hij heeft echt geen enkel geluk in zijn leven blijkbaar. Zijn baas is snel boos en gelooft niets wat Agent 212 zegt (maar ja, als je in zulke situaties als Agent 212 komt kan ik me voorstellen dat mensen gaan twijfelen aan je). Sommige strips waren kort, sommige waren wat langer, ik vond het zeker leuk dat er afwisseling was. Dus ja, hopelijk zijn er meer delen te vinden in mijn bibliotheken, ik wil namelijk meer van deze serie.