Memasuki tahun ketiga kuliah, Unggun punya kecemasan yang akut. Sementara teman-teman lainnya punya ketakutan nanti kalau lulus kuliah mau kerja di mana, Unggun justru mengkhawatirkan eksistensinya di depan kawan-kawannya. Dia merasa tidak pernah dianggap benar-benar ada.
Peringatan: Kisah-kisah dalam buku ini mengandung bahasa Jawa.
Identitas Buku Judul: Sastrawan Salah Pergaulan Penulis: Puthut EA Tahun terbit: 2019 Jumlah cerita: 15 cerita mini (obrolan berbahasa Jawa) Penyunting: Prima Sulistya Pemeriksa aksara: Aprilia Kumala Gambar sampul: Ong Hari Wahyu Penata sampul: Azka Maula Penata isi: Narto Anjala & Azka Maula Tebal: vi + 106 halaman Ukuran: 12 x 18 cm ISBN: 978-623-7284-08-6 Penerbit: Buku Mojok
Review — Sastrawan Salah Pergaulan
Ada buku yang dibaca untuk merasa pintar. Ada buku yang dibaca untuk merasa ditemani. Sastrawan Salah Pergaulan lebih cocok masuk kategori kedua.
Buku ini berisi 15 cerita mini dalam bentuk obrolan berbahasa Jawa. Bukan Jawa yang kaku, bukan Jawa yang sok sastra, tapi Jawa yang terasa seperti percakapan sehari-hari: di warung kopi, di teras rumah, di bangku panjang depan toko yang hampir tutup.
Puthut EA tidak sedang ingin tampil sebagai sastrawan besar yang menggurui. Ia justru menertawakan posisi “sastrawan” itu sendiri—yang sering terlalu serius pada hidup, terlalu banyak berpikir, tapi tetap kalah oleh kenyataan yang sederhana.
Lewat dialog-dialog pendek, kita seperti diajak duduk diam sebagai orang ketiga. Mendengar dua orang membicarakan hidup, menulis, nasib, cinta, kesepian, dan kegagalan. Tidak ada ceramah. Tidak ada teori sastra. Hanya obrolan. Dan justru dari obrolan itulah, kita sering menemukan diri sendiri.
Humornya tipis tapi kena.
Sindiran sosialnya santai tapi pedas. Kesedihannya sederhana tapi menetap. Namun buku ini juga punya jarak.
Bagi pembaca yang tidak akrab dengan bahasa Jawa, banyak bagian yang terasa gelap. Beberapa dialog hanya bisa dinikmati dari konteks, bukan dari pemahaman penuh. Rasanya seperti mendengar orang ngobrol di sebelah, tertawa, tapi kita tidak sepenuhnya mengerti leluconnya. Ini membuat buku terasa eksklusif pada satu lingkar bahasa tertentu.
Meski begitu, justru di situlah kejujurannya. Puthut tidak menerjemahkan, tidak menjelaskan, tidak menyederhanakan. Ia membiarkan ceritanya hidup dalam bahasa yang memang menjadi rumahnya.
Membaca buku ini rasanya seperti: duduk di warung kopi, menjadi pendengar setia, yang sesekali mengangguk meski tak sepenuhnya paham. Buku ini cocok dibaca pelan-pelan. Satu cerita, satu jeda. Satu dialog, satu renungan. Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan buku yang mengubah hidup, tapi buku yang mengingatkan: hidup memang sering tidak istimewa, tapi selalu layak ditertawakan dan diceritakan.
Q: Apasih yang dirasakan setelah baca buku ini??? 🤭
. "Sastrawan Salah Pergaulan" itu bikin mewek hingga ngakak. 🤣 So, aku mau berbagi yang menarik - menarik ya?! 🤣.
☕ Lihat dari covernya. Awal lihat covernya sudah kepikiran "Buku apa sih ini?!" "Lucu opo garing?!". Tapi tetap pengen baca. Mungkin karena kepo tingkat akut. 😃
☕ Kumpulan cerita yang mencoba memberikan pesan moral di setiap ceritanya meski penuh dengan guyonan. Jujur, persahabatan bagai kepompong itu ada di buku ini. Sahabat yang nyata.
☕ Senang diajakin kulineran mulai dari soto hingga angkringan dan masih banyak lagi. Dapat pesan moral juga jelajah rasa.
☕ Bikin rilex. Ceritanya bikin rilex, buku yang tidak terlalu tebal, cocok banget buat nemenin habis pulang kerja yang cukup lelah, nyender lalu baca buku ini ditemani Unggun dkk, plus teh hangat. Fresh seketika deh! 🤭
Karena saya mungkin nggak teliti ketika membeli bukunya, saya agak prenges-prenges ketika tau bahwa isi buku ini juga ada bahasa Jawanya yang tentu saya tidak mengerti sama sekali
Secara keseluruhan saya menikmati kisah-kisah kocak yang terkandung di dalamnya. Selain itu, saya juga agaknya jadi sedikit mengerti terkait iklim dunia seni dan kebudayaan di Jogja. Tetapi, saya nggak nangkep apa yang ingin penulis sampaikan dalam cerita ini? Soalnya bab "Mas Naryo" (yang merupakan bab akhir) itu seolah terpisah dari cerita-cerita sebelumnya.
Buku yang habis dibaca sekali duduk ini memuat kisah ringan yang menggelitik dari orang-orang di sekitar mas Puthut, mulai dari adik tingkatnya di kampus hingga temannya yang berkecimpung di dunia buku dan kebudayaan. Hanya saja bagi beberapa pembaca akan cukup sulit untuk memahami kata atau kalimat tertentu karena buku ini kental dengan bahasa Jawa.
Buku mini mengenai cerita orang-orang di sekitar Mas Puthut yang 'unik', nyeleneh, dan tiada duanya. Ada aktor yang ternyata hobi nyabet rokok orang. Ada mantan teman sekampus yang sekarang jualan motor, karena dulu pernah kehilangan motor setelah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Kisah-kisahnya lucu sih tp banyak bahasa jawanya yang bikin saya sesekali harus tanya artinya sama istri. Meski tetap bisa dinikmati, buku tipis ini terkesan biasa saja jika dibandingkan dengan Para Bajingan yang Menyenangkan. Kalo orang jawa tentu bisa menikmati dengan lebih afdol dan lingkaran orang-orang yang diceritakan dalam cerita ini, anak-anak Jogja ya sudah tahulah siapa aja mereka.
Ngakak (kurang pol soalnya saya passive speaker untuk bahasa Jawa) sampe saya khawatir rahang bakal kram. Ga paham ngapain sih baca buku ini tapi ngakak dan bahagia. Udah ga paham lagi sama diri sendiri:(