Actually 2,5!
Oke, seharusnya saya memang stop di buku pertama saja dan nggak lanjut kesekuel kedua series Dhini & Aji ini.
Pertama karena novel ini nggak seseru novel pertama.
Kedua, ceritanya mau dibawa kemana sebenarnya??
Come Back Home, masih menceritakan perjalanan cinta antara Dhini & Aji, namun bedanya dengan novel pertama yang berjudul "False Hope" mereka sudah menikah. Menjadi tentara dan hidup di selatan Indonesia yaitu Aceh membuat Dhini mau tak mau berpisah dari keluarganya demi ikut sang suami, Aji. Disana mereka hidup berdua, cobaan pernikahanpun datang seperti tak ada habisnya. Ditambah memiliki tetangga yang nyinyirnya minta ampun, sanggupnya Aji dan Dhini bertahan hingga akhir?
Jujur saya bosan dengan konflik mereka berdua yang itu-itu aja! Dhini dengan keras kepalanya, Aji dengan memendam perasaanya. Yang satu emosi, yang satu nggak mau menjelaskan, ujung-ujungnya ribut, salah paham. Diulang terus sampai halaman akhir. Cape dehh!
Disini saya nggak suka banget sama sifat Dhini. Emosian, suka negatif thinking, suka menyimpulkan sesuatu sendiri, egois tapi cengengnya minta ampun, sumpah cengeng banget! Bikin frustasi!! Beda banget sama dibuku pertama.
Aji juga gimana ya. Setelah jadi suami dia terlalu mengekang dan mesum. Oke saya tau dia sudah menikah, tapi memuakan banget engga sih kalau hampir tiap bab dijelasin dia ngegrepein istrinya, mana bahasanya vulgar banget.
Ini juga novel mau dibawa kemana sebenarnya?
Jadi gini loh, kan diceritakan Aji itu statusnya sudah suami kan. Mungkin novel ini mau ngajarin kebenaran ya kaya istri itu harus nurut suami. Tapi gini, ini kan bukan novel agamis atau sejenisnya kan? Jadi saya sebagai pembaca nggak sreg banget dengan sikap Aji yang terlalu mengekang istrinya dengan alasan istri harus tunduk pada suami. Pergi kepasar, ke warung, keluar rumah harus izin suami, instal fb, ig harus izin suami, bahkan pasang status WApun harus dapet izin suami! Cara pakaian, jilbab, make up, cara bicara, berhubungan dengan teman harus dengan acc suami! Oke saya tau memang dalam agama Islampun menganjurkan agar istri harus ikut apa kata suami TAPI.. ini nih yang saya bingung, mau mengajarkan kebenaran tapi ya mesumnya banyak!
Oke, mungkin nggak bisa dikatakan mesum juga karena mereka suami istri. Tapi saya sebagai pembaca ngerasa risih dengan banyaknya ciuman dihalaman ini. Ada kali ratusan tuh ciuman bibir, endus-endus leher, gigit-gigit, bahkan hubungan seksual!
Banyak review yang bilang ini novel sesuai dengan realita bla bla. Ya saya paham memang karakter suami ya kadang mesum-meusm gitu dikehidupan aslinya. Tapi kan ini sebuah tulisan ya, kalau mau menjelaskan tentang istri yang patuh pada suami ya fokus aja kesitu, adegan ciuman bibir atau romance lain buat selingan aja. Atau kalau mau fokus bahas ciuman, esek-esek kaya novel jebolan wattpad lainnya ya fokusnya kesitu juga. Jadi jangan mencampurkan gitu lohh, bikin kesel. Kesanya Aji kaya sok alim doang tapi otak sampah. Ya pokonya gitu deh. Alasan ini juga yang membuat saya ngasih rate rendah.
Jujuly, semua karakter disini mengecewakan. Konflik monoton ala sinetron yang menye-menye dan jabatan Aji sebagai TNI cuma tempelan doang.
Ps : seandainya bu Heni alias bu Ramdan tetanggan sama bu Umi, udah pasti dicincang itu orang terus disebar di Danau Toba buat pakan ikan.