"Ketika kita lupa mengingat-ingat pelajaran penting pada waktu kita absen dari suatu kelas, kita merasa tertinggal dari sekitar. Tetapi, kita terus berjalan, bukan? Meski bukan menjadi yang terdepan, setidaknya langkah kita tetap seirama dengan tubuh dan jiwa yang kita punya."
"Tenang, tak ada yang salah menjadi orang biasa. Jangan ikut kebanyakan orang yang khawatir jika dirinya menjadi debu, menjadi bukan siapa-siapa, dan biasa saja. Padahal, menjadi debu pun akan bermakna ketika ia menjadi berperan. Untuk tayamum, misal."
- Surat dari Rizky Iis Firunika, Pati
~ו°~
Ini Untuk Kamu, berisi kumpulan surat dari hasil seleksi ribuan surat. Dari sampulnya aja--berwarna ungu dengan bunga dandelion di bawah judul (sangat polos dan cantik. Nggak norak tapi cukup buat menarik perhatian. Cocok banget sama isinya yang berupa kumpulan surat-surat manis)--cukup untuk menyampaikan identitas dari buku ini, bahwa, layaknya bunga dandelion, buku ini akan menyampaikan surat-surat yang belum sempat sampai kepada orang yang seharusnya. Namun walau begitu, tim penulis percaya, jikalau surat-surat tersebut juga tak kunjung sampai ke yang seharusnya, tentunya surat-surat tersebut dapat dibaca oleh orang yang gak kalah tepat.
Daaaann, di dalam buku ini, ada bermacam-macam surat--mungkin puluhan surat, atau bahkan ratusan. Satu surat cuma ngabisin satu halaman. Jadi enak aja gitu bacanya kalo dibarengin baca buku lain. Nah, surat-surat yang lumayan itu terbagi menjadi beberapa bagian. Ada bagian tentang cinta yang kebanyakan tentang perpisahan, penyesalan, dan mengikhlaskan. Bikin sesak woy, walau, meski aku jomblo, kayak... aku bisa ngerasain apa yang dirasain si penulis surat. Sangat tersampaikan ke dalam hati.
Lalu ada surat buat orangtua. Nah di bagian sini ada satu surat yang gak beres, surat dari PDj dari Jakarta T-T, sksksksk ngakak juga si tapi gak beres lah intinya. Ada juga bagian surat untuk sahabat. Ngakak jugaa karena ada yang terjebak prenjon ternyata. Eh tapi karena ini sahabat harusnya bestijon dong sksksksk. Terus ada surat buat orang tersayang yang telah tiada (rata² semua bawang berkumpul di sini. Jadi siap sedia tisu ajaa).
Yang terakhir, surat buat diri sendiri di masa depan. Jujur ini bagian di mana surat-suratnya, in my opinion, unik dan gak biasa. Gimana gak unik? Dari temanya aja udah menarik kan? Surat buat diri kita di masa depan. Kesannyaaa kayak kapsul waktuuu gituuu. Hahaha jadi pengen nyoba bikin jugaa. Aku paling suka sama bagian ini. Karena beda sendiri gitu. Maksudku, surat buat ortu, sahabat, pasangan? Itu kan udah biasaa. Tapi surat buat diri sendiri di masa depan nanti? Waw!
Jujur ada sensasi unik gitu yang nyentil tiap kali ketemu surat panjang satu halaman penuh. Kayak berbeda dari yang lainn ajaa gituu. Soalnya semua suratnya kebanyakan pendek, jadi pas kamu hampir dapat feel dari suatu surat... ehh tetiba udah tamat aja. Kan gregettt ujung-ujungnyaa. Beda kalo sama surat-surat yang panjangnya di atas rata-rata, feel yang ingin disampaikan pasti akan lebih terasa. Aku sendiri lebih baperin surat yang panjang. Terutama surat Neptunus untuk Saturnus. Astagaa, indahh bangett. Rasanya aku kayak lagi liat dua planet itu pegangan tangan, so sweet parahhhhh!
Baca buku ini, aku merasa seperti sedang menyelami apa yang dirasakan si penulis surat. Membayangkan si penulis sedang menulis surat tersebut. Menari bareng sama kalimat-kalimat surat yang, ya Allah, puitis dan indahhh bangettt. Semisal lagi baca surat yang sedih, sontak jadi pengen meluk dan rangkul si penulis surat. Kalo lagi baca surat yang isinya keputusasaan, jadi kepengen megang tangan si penulis surat dan bantu dia melangkah satu langkah maju ke depan. Pokoknya entah siapa penulisnya, surat-suratnya benar-benar laksana tari yang menarik kita ke dalam samudera perasaan dan galaksi peristiwa. Avvvvvvv indahhh, lopppppp ><
Aku paling sukaa. Sama. Bagian. Pembuka! Jugaaa suka bangett samaa teori bab Bertamu! Avvvv, apa lagi sama dua pertanyaan ini;
1. "Apa definisi menjadi manusia?"
2. "Mereka hanyalah seorang tamu yang harus segera pulang ke rumah. Beberapa dari mereka senang mengulur-ulur waktu.
Tanpa ada rasa dendam, apa yang ingin kamu utarakan kepada mereka yang pernah singgah, namun hanya sementara?"
Mungkin bagi sebagian kalian dua pertanyaan tadi biasa aja. Tapi buat aku itu berarti banyak. Pertanyaan pertama bikin aku sadar kita gak perlu menjadi "manusia pada umumnya". Lalu, pertanyaan kedua bikin aku mengingat dan ngebatin, "Ah bener juga. Semua orang yang ada di hidupku ini cuma tamu. Dan mereka punya rumah masing-masing. Aku gak bisa bikin mereka terus bertahan sama aku dengan memaksa mereka menganggap aku sebagai rumah mereka. Bahkan aku sendiri pun pada hakikatnya hanyalah tamu yang sekedar singgah di planet ini. Suatu hari nanti, layaknya tamu, aku juga akan pergi."
Kekurangan dari buku ini? Ah kayaknya gak adaa. Oh tapi aku kurang suka sama font-nyaaa. Karena nurutku gak cocok kalo diaplikasikan ke buku berisi kumpulan surat-surat. Andaikata font-nya mirip tulisan tangan, kayaknya bacanya bakal berasa seperti baca surat benerannn! Ah tapi balik lagi sama kebijakan penerbitnyaa.
Dan satu lagi. Sepertinya aku agak kecewa sama buku ini. Memang, aku yang sebenarnya salah karena naruh ekspetasi terlalu tinggi. Karena kukira isinya bakal bikin nangis kejerr, tapi ternyata yahh isinya gak terlalu relate karena kebetulan aku lagi gak ada masalah apa-apa. Kecuali di bagian surat-surat terakhir memang relate banget sih. Jadinya bukan kayak surat tapi lebih seperti sejenis motivasi dan reminder yang indah. Tapi tetap aja gak berhasil bikin aku nangis gimanaa gituu.
Ishhh tapiiiiiiii, tetap ajaaa. Ditanya recommended apa nggak, pastinya aku gak bakal ragu buat bilang "IYAAA!!!". Terutama buat kamu yang lagi galauin sesuatu, bakal berasa punya temen galau pas lagi baca buku ini deh shshshsh. Maksudku, buku ini gak kurang apa pun! Buku ringan, suratnya menyentuh dan layaknya seperti membaca puisi, pokoknyaaa indahhhhhhh.