Kita semua pengecut. Pengecut dan membungkus kepengecutan dengan segala kata yang memualkan seperti demokrasi, aspirasi, musyawarah, kebijaksanaan, dan lain-lain.
Aku juga pengecut. Sama seperti Kalian semua. Maka mari Kita sama-sama menikmati penderitaan ini. ***
Ini karya kolaborasi antara penulis Puthut EA dan seniman jalanan Gindring Wasted yang kasar, bahkan cenderung brutal, dan gelap. Tokoh utamanya menguliti realitas dengan cara pandangnya yang sepintas naif dan tolol. Tapi mungkin dia, si tokoh utama, adalah sisi gelap kita. Sisi yang diam-diam ingin kita tutupi, tapi tak pernah sungguh-sungguh bisa kita sembunyikan. Tanpa dinyana, kadang meletup di salah satu bilik paling sunyi di kehidupan kita.
Cerita tentang seorang laki-laki dengan keapatisannya dalam hidup. Di beberapa bagian, buku ini amat provokatif sampai-sampai aku ingin mengikuti hal-hal "menakjubkan" yang ada dalam pikiran si laki-laki itu. Untungnya, aku masih sadar dan masih pengecut sebagaimana si laki-laki itu sehingga aku tidak melakukannya.
Namun, secara keseluruhan, apa yang laki-laki itu sampaikan mewakili apa yang aku pikirkan. Aku banyak anggukkan kepala dan tentu saja masih pengecut sebagaimana si laki-laki itu sehingga aku tidak melakukan apa pun.
Buku ini bagus tapi provokatif dan mengerikan tapi bagus. Aku hanya khawatir buku ini dibaca oleh mereka yang punya nyali besar dan tidak berpikir panjang. Tapi, tidak apa-apa. Itu berarti dia pemberani dan aku tetap pengecut sebagiamana laki-laki itu.
Membaca ini seperti berkaca bahwa sebenarnya hidup kita memang cenderung memuakkan dan berengsek. Tapi mau tidak mau, terima tidak terima, harus dinikmati, ya karena memang kehidupan memaksa kita untuk menjadi demikian. Mulai sekarang, aku akan mencoba biasa saja dengan kehidupan. karena memang seharusnya aku seperti itu.
Bagaimana bila manusia tanpa emosi? Akankah ia menjadi orang yang bijaksana ataukah orang yang tak acuh?
Kira-kira seperti itulah gambaran tokoh Aku dalam novela Puthut EA ini. Dapat dibaca sekali duduk dengan selingan gambar-gambar ala mural. Saya rasa kalau lebih dikembangkan sisi filosofisnya akan makin menarik.
sebuah buku yang ringkas tapi sangat padat, mewakili perasaan-perasaan gelap yang terkubur dalam diri sendiri. jujur dan apa adanya, menyentil berbagai aspek kehidupan.
susah dijelaskan dengan detil.
ilustrasinya juga menarik, sangat mewakili isi buku dan karakter-karakter di dalamnya.
"Mereka bilang hidup ini indah. Padahal hidup ini brengsek. Makin brengsek karena kita pengecut. Mungkin karena kita tahu, seandainya kita jadi mereka, kita akan melakukan hal ya sama."
"Orang buruk tidak harus lahir dari keluarga buruk. Kamu harus tau itu."
"Mereka berdiskusi karena mereka pusing melihat dunia. Padahal dunia tidak akan pusing jika mereka tak ada."
"Mereka terlalu melebih-lebihkan kehadiran mereka di dunia ini. Padahal mereka ada atau mati, jalanan juga bakal penuh dengan kendaraan dan hujatan."
"Berbohong adalah salah satu tameng hidup. Menipu adalah salah satu keahlian untuk bertahan hidup, dan berbual adalah cara agar kamu bisa dihargai."
Buku ini singkat, namun sangat kelam dan brutal. Ceritanya cukup simpel, tentang tokoh "Aku" yang sangat apatis terhadap kehidupan. Kenapa dia apatis seperti itu? Apakah karena masa kecil yang kurang bahagia atau karena rententan hal-hal buruk yang terjadi pada dirinya? Entahlah. Sulit untuk dikatakan. Namun yang pasti, buku ini memaparkan pandangan terhadap kehidupan yang penuh satir serta kritik sosial yang memuatku berpikir. Tidak dapat dipungkiri bahwa aku sedikit setuju dengan beberapa bagian yang si "aku" utarakan. Mungkin memang ada sedikit sisi gelap dan sikap apatis pada setiap manusia.
Sesuai dengan klaim di bawah blurb di halaman belakang, buku ini memang kasar, brutal dan gelap. Mengisahkan tentang 'Aku' yang sejak lahir sudah dilingkupi berbagai ketidakberuntungan. Lahir dari pasangan tukang becak dan asisten rumah tangga, 'Aku' hidup miskin sejak kecil. Di sekolah ia dirundung, dirisak, dikucilkan. Dia hidup dalam kebingungan, sehingga tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Di buku ini, 'Aku' bercerita melalui sudut pandangnya yang kelihatan bodoh dan dangkal, tapi kalau dipikir-pikir lagi, kita semua tentu pernah punya jalan pikiran yang sama dengan 'Aku'.
Di samping judulnya yang kelihatan depresif sekali, sebetulnya buku ini cukup ringan, tapi memiliki pembahasan yang mendalam. Bahasa yang dipakai sederhana, sesuai dengan karakter 'Aku' yang sangat sederhana (tapi juga kompleks--nah loh 😂). Banyak sekali fenomena masyarakat pinggiran yang dipaparkan di sini, kehidupan orang-orang yang jauh dari kekayaan dan kemewahan. Meski mungkin hidup mereka jauh dari kita, tapi sebetulnya kita memiliki kesamaan yang lebih dekat.
Cuma butuh 30 menit untuk membacanya, tapi kayaknya bakal berhari-hari buat kupikirkan isinya. Ini mengingatkanku pada L'Étranger-nya Albert Camus dan Napas Mayat-nya Bagus Dwi Hananto. 'Aku' di novella ini, 'Aku' di Napas Mayat dan Mersault, semuanya ada di antara kita dan mungkin di dalam diri kita. Full review: https://readingordying.wordpress.com/...
negara itu mirip kondangan makan. semua makanan sudah disajikan. orang-orang yang datang duluan menghabiskan semua makanan di sana. itu pun rebutan. orang-orang yang datang belakangan, tak kebagian.
extremely brutal and harsh. and i meant that literally. the illustrations are also very graphic too which made me very uncomfortable but did i dig them? yes.
oftentimes you are in a situation and forced to be fine with it when all you want to do is kill some people. that's also what is in the head of this book's main character. he is a character that is basically numb to everything. he didnt do any of the things in his head, though. like how we didn't do any of those things that are considered horrible because we gotta stick to our own moral compass. it is very interesting to read how your darkest thoughts are laid bare on pages and by reading this it feels like you actually have the space to recognize and admit you do have horrible thoughts and intentions too.
this book also practically tells you that you and the main character are a coward. which is right. and life is shitty and there is nothing we can do about it. (it's very bitter and depressing, but i think that's this book's goal which i can say did a well enough job in achieving it)
i don't think it should be read by anyone under twenty years old.
dan faktanya, kita semua lebih memilih diam. kelaparan. tak punya masa depan. hanya memandang dengan rasa benci dan marah. lalu kena asam lambung dan vertigo. marah yang tak terlampiaskan. kecewa yang tak menemukan solusinya.
Baca buku ini bikin aku sadar kalo hidupku juga hampir sama kayak si tokoh utama. Bukan dari jalan hidupnya, melainkan cara dia menghadapi hidupnya. Bisa dikatakan "nrimo" bagaimanapun hidup membawanya. Tapi mungkin karena dia tidak punya emosi atau memang kurang bisa mengekspresikan emosinya. Sehingga hidupnya terus berjalan tanpa keluh kesah, tanpa penyesalan, tanpa keinginan.
Buku ini aku kategorikan dewasa ya (mungkin 21+), karena di dalamnya berisi beberapa adegan yang belum pantas buat anak di bawah umur seperti kekerasan dan pelecehan seksual. Walaupun aku pikir di dunia ini bakal ada atau bahkan mungkin banyak anak yang berpikiran seperti si tokoh utama ini (apalagi emang dunia ini udah brengsek).
Kemudian buku ini memang menyentil beberapa masalah politik yang aku rasa relate melihat keadaan pemerintahan bumi pertiwi kita ini. Sayangnya aku enggak terlalu paham dan enggak mau berspekulasi yang tidak benar, jadi aku enggak bisa menjelaskan bagaimananya.
Bukunya memang menarik, tapi bukan buku yang bikin aku penasaran gimana kelanjutannya. Poin plusnya buku ini terdapat ilustrasi yang menggambarkan setiap bab ceritanya, walau gambarnya terkesan agak aneh tapi unik.
Ini pertama kalinya saya membaca novela karya Puthut E.A. Jadi, saya tak tahu mengenai gaya berceritanya meskipun pada pengantar, disebutkan sang pengarang kerap menulis bergaya liris. Barangkali, buku ini merupakan pengantar yang baik—bagi saya—untuk mengenal karya Mas Puthut E.A. Mari kita mulai.
Pertama-tama, setelah selesai membaca, saya sadar bahwa judul novela ini bertolak belakang dengan isinya. Pada judulnya, hadir kata "dipaksa". Akan tetapi, saya tidak menemukan unsur/nilai keterpaksaan dari si "aku" dalam isinya. "Aku" menerima hidupnya (yang brengsek) sebagai suatu takdir yang tak dapat diubah. "Aku" seringkali menerima peristiwa yang dialaminya, misalnya, dilempar kursi sampai berdarah, makan daging kadal, dan sebagainya. Ia hanya menganggap semua kejadian atau aktivitas dalam hidupnya sebagai suatu hal yang bersifat sepintas-lalu. Jadi, saya merasa agak tertipu dengan judulnya.
Kedua, meskipun "aku" menganggap semua peristiwa yang hadir dalam hidupnya sebagai hal yang sepintas-lalu, "aku" tetap mempertanyakan hal-hal, misalnya, apa itu harapan serta apa itu baik-buruk. Berbagai pertanyaan semacam ini, bagi saya, lebih dari sekadar pertanyaan filosofis yang ditujukan kepada para pembaca. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah kritik atas ilusi sosial yang sudah tertanam dalam masyarakat kita. Misalkan, orang yang bekerja sebagai pelacur adalah tak berguna dan tak punya masa depan. Lalu mereka dicap buruk oleh masyarakat. Itu salah satu ilusi sosial yang kita ciptakan sendiri, yang hanya berlandaskan hukum agama tanpa melihat kondisi sosial atau yang lainnya.
Ketiga, saya tak sepakat pada penulis pengantar bahwa Puthut E.A. "seakan membuang semua kemampuannya". Memang, Mas Puthut E.A. menulis dengan frontal, tetapi kemampuan menulis narasinya tetap bagus. Saya sendiri menikmati tulisan Mas Puthut melalui buku ini. Saya rasa ini novela distopia. Hal ini didukung dari penggambaran situasi dunia (baca: lingkungan) yang buruk dan tak teratur, seperti ketidakadilan yang dilakukan oleh para politikus. Juga, ditambah lukisan karya Gindring Wasted yang menyeramkan. Kalau benar Mas Puthut meninggalkan kemampuan menulisnya yang liris, saya apresiasi. Sebab, meninggalkan suatu gaya yang lama dipakai, kemudian menggantinya dengan yang lain adalah susah dan membutuhkan waktu yang lama untuk menghayatinya.
Tidak ada humor, romance bahkan dialog yang kalimatnya tertata rapi dan indah. Buku ini adalah hasil karya kolaborasi antara Penulis Puthut EA dan seniman jalanan Cindring Wasted yang kasar, bahkan cenderung brutal dan gelap. Tokoh utamanya menampilkan realitas dengan cara pandangnya yang sepintas naif dan bodoh. Sisi yang diam-diam terpendam dalam diri kita. Cenderung ingin kita tutupi, tapi tak pernah sungguh-sungguh bisa kita sembunyikan, sebetulnya. Hingga terkadang, tanpa sengaja akan meledak di salah satu bilik paling sunyi dalam kehidupan kita. Tokoh utama yang sedari lahir “kenyang” dengan berbagai penderitaan karena kekurangan yang menghimpit memang tak bisa disalahkan. Ia juga tidak memiliki keluarga utuh yang normal. Maksudku, keluarga yang mapan dan punya penghasilan tetap, kakak adik yang baik dan penurut, dan berbagai kriteria keluarga ideal lain. Namun yang kutemui dalam buku ini, bahkan kakaknya sendiri pun kerap kali mabuk-mabukan dan memukul tokoh utama. Tidak berhenti di situ, ia pun selalu diejek di sekolah. Kalau bahasa kerennya sekarang, dibully. Namun tak pernah ada yang menaruh perhatian padanya, atau mungkin sedikit saja dari belas kasihan itu sendiri. Dilihat dari sisi psikologis, tentu saja tokoh utama ini pasti kehilangan self esteemnya atau rasa percaya dirinya sejak kecil. Menguap karena terlalu banyak yang harus ia kerjakan dan pikirkan. Atau karena terlalu banyak mabuk atau bahkan karena terlalu banyak menghirup lem. Hingga akhirnya ia seperti yang orang-orang normal lain bilang, tak punya masa depan. Novela yang kasar bahkan cenderung brutal ini tidak direkomendasikan untuk dibaca anak di bawah dua puluh satu tahun. Hidup ini Brengsek dan Aku Dipaksa Untuk Menikmatinya by Puthut EA dan Gindring Wastep Penerbit Shira Media, 106 halaman, Cetakan Pertama 2019. 3/5
Kalian punya gak teman yang kerjaannya komen, ngedumel, ngomel, and ngoceh2 random mulu gitu? Di satu sisi kita capek dan bosen dengerinnya, tp di sisi lain, khususnya saat yg diungkapkan itu relate, kita malah bilang "eh iya, bener lagi" kita tuh tersadar dan membenarkan dalam hati.
Nah, itu yang gue rasain waktu baca buku "Kenyataan itu Kontol, Riak-riak Nyingir di Tengah Lautan Realitas" dari Trio Muharam.
Coba deh dibayangin, kok ada ya orang kayak gini? Bukan selflove lagi levelnya, kayaknya udah selfworship banget hahaha. bisa-bisanya dia kepikiran biar ocehan-ocehannya itu gak boleh hilang, gak terlupakan, harus selalu didengar dan dibaca semua orang. Pokoknya ocehan randomnya harus abadi, dengan cara dibukukan seperti ini.
Emang sih, ada tipe-tipe orang yang se-keras kepala itu. Pas lg ada masalah trus dinasehatin dgn template empati, malah gak mempan sama sekali. Mereka ga cocok dinasehati. Karena mereka hanya bisa tersadar dengan cara dikata-katai. Haha Orang-orang seperti mereka ini cocok bgt sejenak istrahat & baca buku ini.
Tidak ada susunan diksi dan cerita panjang lebar disini. Isinya kutipan-kutipan ngeselin tp bener dgn tambahan ilustrasi.
Tapi selain kutipan-kutipan pedasnya, salah satu bagian menarik dari buku ini, ada di bab 10: Judulnya "Mohon Maaf," isinya ya permintaan maaf. Tapi, permintaan maaf yg dimaksud bukan maaf dari penulis atas ocehannya, melainkan jenis-jenis permohonan maaf yang sering kita dengar, yang bukannya bikin adem, malah bikin kesel setengah mati.
Kalau kamu pengen denger orang ngomel, ngoceh, nyinyir, ngomong kasar, tp bukannya marah ke org itu, malah jd ngetawain diri sendiri. dan kalau km jg penasaran gmn sih permohonan maaf yg ngeselin itu, Silakan baca juga bukunya :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kamu tau? Kuberikan 4 Bintang karena buku kecil ini sukses menjadi bacaan yang kubaca dalam sekali duduk. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikannya, namun isi dan pesan dari buku ini akan terus melekat selamanya didalam hati dan pikiranku.
"Di hidupku, tak ada batas antara penting dan tidak penting. Semua terjadi begitu saja."
Aku suka sekali karakter yang dibuat oleh author disini. Sebuah sosok seseorang yang tak pernah mendapatkan keadilan didunia ini semasa hidupnya. Melibatkan kritik terhadap tuhan dan negara, bahwa keberuntungan dan keadilan itu tak pernah ada di dunia ini. Sosok karakter yang sempurna untuk membenci dunia dan segala isinya, tapi ternyata hanya berakhir menjadi sesosok pemuda yang apatis tanpa perasaan.
Aku suka bagaimana pesan-pesan dari cerita di buku ini dikemas secara ringan dan mudah sekali untuk diikuti. Singkat, penuh kritik dan kekesalan, ngeri, kelam, dan penuh sekali dengan sarkasme didalamnya. Entah untuk siapa yang dituju, tapi sarkasme dalam bentuk kisah hidup si "Aku" ini cukup menarik untuk diikuti sampai akhir, and it's so worthy.
"Mereka Berdiskusi karena mereka pusing melihat dunia. Padahal dunia tidak akan pusing jika mereka tak ada."
A brutally honest, satirically humorous, and surprisingly tender take on the everyday absurdities of life. Hidup Ini Brengbreng dan Aku Terpaksa Menikmatinya isn’t your typical self-help or reflective essay collection—it’s raw, messy, and unapologetically human. Puthut EA’s writing reads like a late-night conversation with a friend who’s been through a lot but still manages to laugh. It’s relatable, frustrating, and oddly comforting.
The real gem, though, is the collaboration with street artist Gindring. His visual interpretations of each piece give the book a pulse—it’s not just something you read, but something you see and feel. The fusion of text and illustration turns it into an urban diary of survival and sarcasm.
Some parts hit harder than others, and a few essays meander a bit, but that’s also what makes it real. It doesn’t try to be neat or polished—it’s beautifully chaotic, much like the life it describes.
Favorite quote: “Nggak semua luka harus disembuhkan. Beberapa cukup diajak ngobrol tiap malam sambil ngopi.”
A recommended read for anyone who’s tired, stuck, or just trying to stay afloat. It won’t fix your problems—but it might make you smile through them.
Blak-blakan, vulgar, gelap, dan liar— kata-kata yang bisa mendeskripsikan buku ini.
Mengisahkan tentang si Aku dan keapatisan terhadap hidupnya. Tokoh Aku ini adalah gambaran sisi brutal kita semua. Pikiran-pikiran edan dan liar si Aku ketika melihat atau mengalami ketidakadilan pasti pernah muncul sekilas juga di pikiran kita. Hanya saja kita milih untuk bungkam, menerimanya. Karena apa? Yap, persis seperti yang ditulis di buku ini—karena kita semua adalah pengecut! 👾
Tebalnya tidak lebih dari 110 halaman. Bisa dibaca dalam sekali duduk. Walaupun tipis, tapi buku ini benar-benar ngasih sindiran yang menohok banget untuk 'ke-fafifuwasweswos-an' para politikus, sastrawan, seniman, dan penjilat bokong penguasa. Ilustrasi yang digambar oleh Gindring juga membuat ceritanya semakin hidup! Oiya, banyak kata-kata tidak ramah di sini, tanpa sensor. E-word dan k-word udah gabisa keitung jari. Jadi pastikan umurmu 21++ saat baca ini!
Buku ini mengangkat isu yang cukup berat, tapi kalimat yang disajikan penulis terkesan lumayan ringan. Tidak membuat alis berkerut atau otak panas juga. Tapi agaknya Judul tidak terlalu mewakili isi buku secara keseluruhan.
Tokoh 'Aku' dalam buku ini lebih banyak menyoroti kebobrokan sistem, ketidak adilan dalam masyarakat, kebrutulan hasrat manusia. Tapi tidak ada hal yang spesifik menunjukan keberengsekan hidup selain dari sisi (yang dimengerti pembaca) hanya dari kepemerintahan dan sisi luar diri sendiri.
Saya kira, isi buku ini setidaknya bisa membuat kita melihat 'sudut pandang kehidupan' dari sisi masing-masing presfektif pembaca. Tapi ternyata ekspektasi saya tidak sesuai ya hahaha.. tapi cukup oke kok. Walaupun banyak kata-kata kasar dan makian dari penulis yang kadang membuat kita tidak nyaman membacanya.
Cerita mengenai seorang laki-laki yang hidupnya mengikuti arus kehidupan. Aku ternganga banget melihat bagaimana hidupnya di jalanan. Dari mulai memiliki orangtua yang abusive, ayahnya yang tidak memiliki tanggungjawab, keluarga yang sebetulnya belum cukup dalam finansial namun memaksakan kehendak untuk beranakpinak membuat dirinya menjadi korban kemelaratan. Dibully disekolah, tidak memiliki teman untun sekadar berbagi kisah, kemudian saat dewasa dilecehkan. Karena sedari kecil dia hidup sendirian, tumbuh tanpa ada arahan jadi saat dilecehkanpun dia tidak mampu memproses bahwa dirinya sedang dilecehkan. Bagaimana sudut pandanganya mengenai dunia ketika kemudian semua hal menyakitkan sudah pernah dirasakannya dalam hidup. Mengerikan sih ini, terlalu menyakitkan andai kata ada di sudut-sudut Indonesia sana, yang kehidupannya masih banyak yang seperti ini.
Sebuah buku yang hanya boleh dibaca oleh orang dewasa, karena ditulis dengan gaya bahasa yang kasar dan brutal. Menceritakan kehidupan dan sisi gelap tokoh utama “Aku”. Bagi sebagian orang mungkin akan merasa kurang nyaman membaca novel ini karena bahasanya yang kasar. Mengandung kritik sosial dan politik dengan bahasa berani dan eksplisit. “Mereka membenci politikus. Tapi kenapa tidak ada yang membunuh mereka semua? Kenapa tidak satu orangpun membunuh satu politikus. Lalu menyerahkan diri. Paling juga dihukum seumur hidup.” Sebagai orang yang terbiasa membaca novel dengan gaya penulisan bahasa yang “aman” cukup kaget membaca bagian awal dari buku ini. Tapi pada akhirnya menjadi sangat menyukai bagian akhir dan Epilog dari buku ini.
Sebuah novela khusus dewasa yang mengandung konten berbahaya. Buku setebal 106 halaman ini menceritakan kemuakan sang tokoh terhadap keadaan sekitarnya. Berangkat dari masa lalu yang pelik membuat ia termarjinalkan dan dilecehkan. Fantasi psikopatnya sangatlah KEJAM. Kosakata-kosakata carut Puthut EA dan ilustrasi gahar Gindring Wasted dalam buku ini sangat menjelaskan mengapa anak-anak di larang keras untuk membaca.
Gindring anak terakhir dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya sebagai preman dan jagoan di terminal, sedangkan Ia adalah seorang anak yang dikucilkan, diejek, dan dibully di sekolah. Dirinya tumbuh sebagai remaja yang penakut, apatis, naif, dan pengecut yang tidak bisa membalas dendam kepada orang-orang yang membullynya. Sama seperti kita pada umumnya, Gindring hanya bisa memandang dengan rasa benci dan marah.
Sebuah buku yang mengandung unsur dewasa dan konten berbahaya. Dalam buku ini, kita akan menemukan gambar-gambar yang ditampilkan secara liar dan "bebas".
Isinya memang brutal dan tanpa tedheng aling-aling, juga bertebaran kosakata yang oleh beberapa orang mungkin dikatakan tidak sesuai dengan budaya ketimuraan yang konon kosakatanya halus. HHH. Dan karena itu, pantas jika buku ini diberi label U21+. Menceritakan seseorang yang dikepung kemiskinan dan penderitaan sejak lahir. Dituturkan dari sudut pandang orang pertama yang terlalu banyak menelan pil pahit sehingga menganggap segala sesuatunya dengan biasa saja dan cenderung mati rasa. Dan mungkin sikapnya adalah diri kita yang lain. Karya ini bisa dibilang "pas". Ilustrasi dan isinya saling melengkapi. Puthut EA mengungkapkan kemarahan dengan elegan. Tapi entah kenapa, saya berharap bahwa ceritanya bisa lebih panjang.
tokoh dalam buku ini begitu penuh dengan demotivasi dan apatis, jujur terhadap hidup yang begitu brengsek, cerita sarkas tentang kehidupan bersosial dan berpolitik cocok di elaborasi dengan seniman jalanan khas Gindring Wasted. silahkan menikmati sambil mengumpat ternyata hidup lebih brengsek dari yang kita kira.
Buku ini cukup gelap, tetapi memberikan perspektif kehidupan yang lain dari yang selama ini saya yakini. Penulisannya sederhana dan khas mas Puthut. Dipenuhi banyak sekali ilustrasi-ilustrasi sesuai dengan cerita. Cukup menarik meski tidak bagus-bagus amat bagi saya. Cocok dibaca bagi mereka-mereka yang (sok-sokan mengaku) aktivis
Karakter utamanya sangat mencerminkan definisi manusia "bystander" dan mungkin juga istilah "mati segan hidup tak mau." Bisa dibilang semacam tahap denial juga mungkin. Bukan hal yang buruk, mengingat lingkungannya yang sangat menyesakkan.
It was a fun, intriguing -on top of all, read. Oh, dan ilustrasinya bagus sekali.
Tokoh "aku" digambarkan sebagai sosok yang nihilis dan mati rasa yang mungkin ada pada diri kita. Kemarahan kita terhadap kebohongan di sekitar kita diwujudkan dengan "aku". Tokoh "aku" berhasil membuatku merasa terlibat dalam hidup si "aku"
This entire review has been hidden because of spoilers.
Satu kata buat buku ini, Gilak! Satu kata lagi deh, Brutal! Tapi aku suka banget baca ini, aku kira awalnya aku salah beli buku ternyata pas udah sampe habis sih gak juga hehe. Untung pas baca ini aku udah cukup umur wkwk
Buset, kasar banget. Bagiku seorang yang lahir dari kelas menengah, makan bisa memilih, tidur nyaman. Cant relate! Tapi ternyata segitunya ya kehidupan yang dialamai orang lain. okelah, jadi membuka perspektif baru.
Melihat sudut pandang seorang yang lahir tidak diterima dunia sehingga sampai dewasanya kepekaan dan perasaannya mati. Di satu sisi dia itu seperti saya yang juga memikirkan hal hal yang kelam yang muncul disaat saat