Mungkin kita pernah mendengar cerita orang-orang terdekat kita tentang orang-orang terdekat mereka, yang sekarang tidak ada lagi di dalam hidupnya. Bayangkan jika orang-orang itu bisa kembali sekali lagi untuk bicara tentang apa yang terjadi dari sudut pandang mereka.
Bayangan itu muncul ketika saya membaca Dosa, yang terbit sepuluh tahun sebelum Gula, Gula, Gula, saya merasa seperti menyimak cerita tentang apa yang pernah terjadi, bukan yang sekarang sedang terjadi. Sedikit banyak, saya tahu 'nasib' apa yang akan dialami tokoh-tokoh dalam Dosa, tapi itu nggak lantas membuat perjalanan 'hidup' mereka jadi nggak berarti, atau sia-sia untuk disimak. Malah ada rasa haru. Saya pikir, untuk menceritakan kepergian seseorang dengan berarti, kita perlu menceritakan juga arti kedatangannya.
Dosa dibuka dengan peristiwa ketika Riki (yang menulis namanya sendiri Ricky biar lebih keren) nggak sengaja mendengar percakapan orang tuanya. Bapaknya ingin memasukkannya ke pesantren, karena rumah keluarga mereka akan kedatangan penghuni baru. Tinggal di pesantren juga diharapkan bisa mengurangi sifat manja Ricky. Percakapan itu membuat Ricky marah. Dia tidak terima dibilang manja. Sebelum orangtuanya sempat bicara langsung kepadanya, dengan hati panas Ricky mencari sendiri pesantren yang sekiranya cocok dengan dirinya. Setelah menemukan sebuah pesantren yang nggak jauh dari STM tempatnya bersekolah, Ricky langsung menemui ibunya untuk bilang bahwa dia ingin tinggal di pesantren.
Sejak tinggal di pesantren, dunia seolah terbuka semakin luas untuk Ricky. Di sana dia bertemu dengan beragam orang dan berbagai peraturan. Pesantren tempatnya mondok ajarannya wajar dan masuk akal bagi Ricky. Kegiatan utama santri-santri di sana adalah mengaji dan menghafal kitab-kitab. Ricky kesulitan memahami arti dari apa yang dia hafalkan, tapi Bang Ali, seniornya di pondok, kira-kira berpendapat bahwa, begitulah ilmu, sebelum bisa memahami artinya, paling tidak kita harus tahu dulu.
Beriringan dengan kehidupannya di pesantren, Ricky juga menjalani kesehariannya sebagai pelajar STM yang tidak terpisahkan dengan tawuran. Ricky harus berstrategi supaya bisa menghindari terluka, sekaligus tidak kehilangan muka jika menolak tekanan teman-temannya menyerang sekolah lain. Di STM dia juga bertemu Paris, sesama pelajar yang tingkah lakunya gemulai, tapi disekolahkan orang tuanya di STM supaya lebih gagah. Dari latar itulah, Ricky berusaha mencari apa yang dia inginkan dalam hidupnya.
Pelan-pelan terbentuk bayangan di benak Ricky tentang seperti apa kehidupan yang keren, yang tidak cuma keren di nama saja. Bagi Ricky, untuk membuktikan bahwa dia tidak manja, berarti dia harus bisa melepaskan ketergantungan dengan orang tuanya sendiri. Dia harus bisa mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Untuk bisa membeli makanan apapun yang dia inginkan. Ricky juga ingat pendapat Bang Ali bahwa orang biasanya terlebih dulu menilai penampilan orang lain sebelum memutuskan apakah orang itu perlu didengar atau tidak. Seseorang yang menyiarkan ajaran agama perlu menjaga penampilannya. Supaya bisa menjadi manusia yang terpandang, Ricky merasa harus berpenampilan menarik–harus punya uang supaya penampilannya terjaga. Karena itulah ia mulai mencari celah mendapatkan uang yang cukup untuk kebutuhannya yang banyak.
Selanjutnya, uang jadi tokoh yang tanpa banyak omong menggulirkan cerita Dosa. Daya tarik uang mempertemukan Ricky dengan berbagai orang dan pengalaman yang tidak dia bayangkan sebelumnya. Uang seolah bisa digunakan sebagai alat tukar dengan hal-hal yang membuat kehidupan berharga. Semua juga tahu bahwa uang bisa membeli segalanya yang berlabel harga. Namun selain itu, uang seolah juga bisa ditukar dengan waktu dan kebersamaan; dengan kesempatan untuk dipuja dan menggauli tubuh yang diinginkan; dengan kekuatan; dengan kekuasaan; dengan kasih sayang; dengan rasa aman. Namun, benarkah?
Bersamaan dengan usaha Ricky mencari uang, hadir juga berbagai hal dalam hidup Ricky yang sebetulnya nggak dia harapkan, tapi nggak bisa dibilang nggak berharga, meski hal itu nggak berlabel harga. Ricky bertemu dengan orang-orang yang secara organik menjadi sahabatnya. Orang-orang itu digambarkan Ricky dengan hidup. Dia jeli mengamati peringai dan perilaku orang-orang di sekitarnya. Dalam diri Ricky tumbuh perasaan yang sulit dia pahami tentang sahabat-sahabatnya, meski tanpa dipupuk uang. Baru setelah ia kehilangan persahabatan itu, dia bisa membahasakan hubungannya dengan sahabat-sahabatnya.
Satu hal yang membuat saya terpikat dengan penuturan Nuril Basri: ia nggak 'memanjakan' tokoh-tokoh ciptaannya. Nuril Basri kerap memposisikan tokoh-tokohnya dalam situasi sulit, di mana mereka bisa merasa terjebak, putus asa, maupun dijungkirbalikkan kepercayaannya. Dalam perjalanan tiap-tiap tokoh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, seringkali keinginan itu harus ditebus lebih mahal daripada apa yang menjadi kesiapan mereka.
Setelah membaca Dosa, saya punya dugaan apa yang mungkin dianggap orang sebagai dosa buku itu. Dosa yang membuat cerita itu sulit diterbitkan dalam bahasa yang pertama kali digunakan untuk menuturkannya. Dosa bicara tentang hal-hal yang sampai sekarang masih sulit dibicarakan, dan itu bukan soal minoritas seksual saja, melainkan juga penindasan manusia kepada sesamanya, dengan landasan yang barangkali masih sebelas dua belas dengan 'gold, glory, gospel'. Dalam hidup yang ideal, mungkin kejujuran akan selalu dihargai. Namun, saya pikir hidup nggak akan pernah ideal. Saya sendiri nggak ingin menghargai hal-hal dalam hidup yang terjadi sesuai keinginan saya saja. Saya harap bisa memproses kenyataan bahwa dalam hidup selalu ada hal yang membuat saya benci, sedih, marah, ataupun kecewa.
Kalau terserah saya, tentu saya akan mengampuni dosanya Dosa. Tapi siapa bilang Dosa perlu diampuni?