Jump to ratings and reviews
Rate this book

Loving the Wounded Soul: Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia

Rate this book
Depresi adalah penyakit yang sangat mengganggu, bahkan dapat memunculkan keinginan untuk mengakhiri hidup bagi yang mengalaminya. Di tengah pergulatan orang dengan depresi, banyak stigma yang melabeli sehingga mereka kesulitan untuk mendapatkan pertolongan. Regis, sebagai salah satu penyintas depresi dan akademisi psikologi, akan mengungkap apa itu depresi dan mengapa depresi rentan dialami manusia abad ini.

Buku Loving the Wounded Soul membahas depresi secara komprehensif, mulai dari aspek klinis dan budaya, faktor internal dan eksternal, serta higher meaning dari kehadiran depresi itu sendiri. Tak hanya menjadi pedoman bagi orang dengan depresi, buku ini juga penting bagi pendamping dan siapa saja yang ingin memahami kompleksitas jiwa sekaligus menemukan makna sejati kehidupan.

287 pages, Paperback

Published September 30, 2019

264 people are currently reading
2069 people want to read

About the author

Regis Machdy

1 book3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
725 (50%)
4 stars
529 (37%)
3 stars
144 (10%)
2 stars
22 (1%)
1 star
5 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 302 reviews
Profile Image for Andy Wijaya.
75 reviews7 followers
January 11, 2020
Disclaimer: Saya membaca buku ini dalam kondisi tidak netral, dan mungkin reviu ini bersifat pandangan subjektif saya, tidak dapat dipersamakan dan digeneralisasikan.

—————————

Saya cukup menikmati buku ini. Buku ini memberikan penjelasan yang cukup komprehensif tentang depresi. Namun ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan pembaca saat membaca.

Pertama, menurut saya, cara membaca buku ini (dengan sehat dan netral) harus membedakan Regis Machdy (RM) dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu RM sebagai akademisi & aktivis, dan RM sebagai mantan orang yang hidup dengan depresi (disarankan untuk tidak menggabungkan keduanya).

Beberapa pandangan beliau yang bersifat subjektif dan mengandung rasa kebencian, khususnya beberapa part buku yang mungkin beliau sebut dengan bagian “tegas dan kesal atas kesalahpahaman yang beredar di masyarakat” pada pembuka (termasuk di dalamnya cerita pengalaman personal beliau) sebaiknya dipandang sebagai tulisan RM sebagai mantan orang yang hidup dengan depresi, sehingga segala informasi di dalamnya bisa dicerna sebagai cara pandang beliau atas suatu hal dengan kacamata orang dengan depresi. Hal ini diperlukan agar pembaca dapat menjaga posisi netralnya, dan informasi persuasif-subjektifnya tidak membuat misleading. Misleading dalam artian, pembaca tidak serta merta dapat membenarkan segala pemikiran dan tindakannya (yang mirip dengan RM) karena menurutnya ia juga memiliki gejala depresi yang sama. Ini cukup berbahaya menurut saya, ketika bagian ini dipandang sebagai RM sebagai Akademisi.

Selebihnya dapat dianggap sebagai tulisan RM sebagai akademisi dan aktivis sosial tentang penanganan depresi.

Kedua, reader’s neutrality is ‘academically’ needed, beberapa klaim yang beliau bangun cenderung lebih banyak mengutip literatur yang mendukung saja dan tidak dikontraskan dengan literatur yang lain, sehingga secara kualitatif terasa sedikit berat sebelah. Netralitas pembaca secara akademis dibutuhkan untuk mencerna bagian ini.

Ketiga, menimbang poin pertama, kedua, dan beratnya gravitasi buku pada usaha-usaha RM dalam menghadapi depresi, rasanya buku ini kurang tepat dikategorikan sebagai nonfiksi. Saya berpendapat buku ini lebih tepat dikategorikan sebagai biografi, dengan alternatif judul:

1. “Regis Machdy dan Metodenya dalam Menghadapi Depresi”

2. “Regis Machdy dan Kiat-Kiat Self-Healing dalam Depresi”

3. “Regis Machdy dan Depresi: Pandangan Sebagai Praktisi dan Akademisi”

4. “Loving the Wounded Soul: Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Kehidupan Regis Machdy”

Bagaimanapun juga, usaha-usaha RM struggling menghadapi depresi; mengupas dan mencincang depresi dengan bahasa “manusia” yang mudah dicerna; dan quote-quote manis yang beliau ciptakan dalam buku ini juga patut diapresiasi. Oleh karena itu, saya memberikan 3 bintang.
Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
August 12, 2020
Saya membenarkan jika buku pengembangan diri tidak terlepas dari pengalaman penulisnya. Di sini, Regis Machdy menambah pemahaman secara ilmiah tentang asal muasal depresi bagi pembacanya. Ada cukup banyak teori dan artikel ilmiah yang menjadi pendukung. Itu menjadi kelebihan utama buku ini.

Selebihnya, Regis Machdy cenderung tidak menggali kontradiksinya. Ia hanya berpusat pada pengalaman depresi yang ia alami, begitu pula dengan literatur pendukungnya. Ia tidak berusaha memaparkan literatur lain yang bertentangan atau sedikit membelokkan persepsi Regis mengenai definisi depresi itu sendiri, sehingga kesan yang didapat adalah ketidakdinamisan buku ini untuk dibaca secara luas, karena tidak semua orang mengalami depresi yang sama persis dengan Regis.

Melalui buku ini, saya memahami bahwa bisa saja seorang penulis merasa terbuka sekali dengan dirinya. Ia bahkan bisa mendetilkan setitik perasaan menjadi sebuah paragraf, tetapi ketika tulisan tersebut ditujukan ke publik kesannya malah tertutup, tidak ramah, dan pola komunikasinya jadi searah saja. Jadi, kalau saya simpulkan, ternyata sulit ya membuat tulisan personal tetapi di saat yang bersamaan juga mampu mengajak pembacanya untuk berkomunikasi dengan penulisnya.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
October 4, 2019
** Books 105 - 2019 **

4 dari 5 bintang!

Pertama kali melihat cover buku ini kok bagus ya kenapa ada gambar orang dengan berbeda jenis kelamin yang berwarna warni dan setelah tahu ternyata Suku tangan yang membuat desain covernya semakin tertarik membacanya.. Buku tentang Depresi di Indonesia juga termasuk jarang jadi kenapa tidak kita memulai membaca buku non fiksi di awal bulan Oktober ini??

Setelah membaca buku ini saya mendapat pengetahuan lebih mengenai depresi, apa saja penyebabnya dan bagaimana pertolongannya. Saya salut sekali karena penulis berani untuk mengangkat topik ini yang merupakan tabu dibicarakan di masyarakat Indonesia. Mas Regis sendiri mengalami depresi sejak usia 12 tahun dan sempat ada kecendrungan untuk melakukan percobaan bunuh diri. Diagnosanya menghidap distimia dan depresi lainnya. Kalau ngomongin distimia jadi keinget saya membaca buku I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki yang penulisnya juga mengalami distimia dan isi bukunya percakapan mbaknya dengan psikiaternya.

Bagian yang paling menarik di buku ini mau orang itu introvert atau ekstrovert bisa mengalami depresi.. Baru tahu juga kalau sejak dalam kandungan apabila kehadiran kita tidak diinginkan oleh orangtua maka bisa jadi menjadi salah satu faktor depresi di kehidupan kedepannya kelak. Faktor toxic relationship dimana kita tidak mendapat pujian hanya amarah dari keluarga (orangtua atau kakak dan adik) bisa juga menjadi pemicu depresi karena membuat si anak rendah diri atau merasa apapun yang diperbuat tidak ada artinya

Penyakit2 yang menganggu ditubuh kita juga sebenarnya gejala ada yang salah dengan emosi yang kita miliki. Kalau saya jujur sering merasakan migrain atau maag kumat yang bisa jadi dikarenakan faktor tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi hingga terkadang harus lembur membuat saya intropeksi bagaimana caranya mengurangi stress yang dialami. Salah satu obat buat saya adalah membaca buku karena pikiran saya tidak terfokus akan ke masalah yang ada tetapi lebih masuk kedalam dunia didalam buku

Terimakasih Gramedia Digital Premium!
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
October 31, 2019
Saya kerap ingin mendapat jawaban seluas-luasnya tentang mengapa isu kejiwaan belakangan menjadi begitu ramai dibicarakan. Ujung-ujungnya saya mendapat jawaban serupa dari beberapa teman yang menggeluti dunia psikologi,
"Bukan karena dunianya (yang semakin menantang bagi kejiwaan kita), tapi karena saat ini makin banyak orang yang melihat urgensi pembahasannya."
Menarik karena semakin banyak kepala yang menyadari pentingnya kesehatan mental dan bagaimana seharusnya menyikapinya, namun di sisi lain, teman-teman saya juga mengingatkan untuk menghindari self-diagnose.


***

Kalau Anda pembaca Filosofi Teras, kemungkinan besar Anda juga akan menyukai buku ini. Pembahasan yang masih satu tema dan gaya bertutur yang sederhana membuat pembaca mudah menyerap pesan yang disampaikan. Yang menarik, penulis memiliki latar belakang pendidikan yang sejalan dengan bahasan, sehingga porsi uraian tak dibiarkan sekadar di permukaan, tapi juga cukup mendalam bagi awam. Penulis membedah depresi sebagai bahasan dengan menganalisisnya dari berbagai sudut pandang. Bagaimana ciri-ciri depresi, siapa saja yang bisa terjangkit, faktor apa yang menyebabkannya, dan bagaimana menyikapinya.

Pengalaman penulis yang pernah bergulat dengan depresi juga membuat uraian ini terhindar dari kesan "ceramah". Saya perlu mengapresiasi keberanian penulis untuk membuka diri dan mengurai panjang lebar pengalaman tak mengenakkan yang ia alami untuk bisa dimaknai pembaca. Hasilnya, buku ini menjadi tak sekadar buku how to, tapi juga buku yang mengirimkan emosi pada pembaca, terutama bagi yang pernah atau sedang mengidap depresi.

Menjaga keseimbangan jiwa di masa-masa ini saya rasa sudah menjadi sebuah keterampilan hidup yang perlu diketahui. Pembahasan-pembahasan yang tak lagi eksklusif di ruang konsultasi akan menjadikan isu ini berkembang dan memberi kesadaran-kesadaran baru pada publik.
Profile Image for Fathiyah Azizah.
110 reviews34 followers
April 6, 2020
Berbicara tentang depresi, tak sedikit orang langsung menghakimi bahwa yang bersangkutan terlalu berlebihan, kurang perhatian bahkan lemah iman. Padahal "Setiap orang lahir dengan kerentanan dan ketangguhan mental yang berbeda. Kita tidak bisa memilih seperti apa kerentanan dan ketangguhan yang kita inginkan." (21)

Penderita depresi itu sama seperti penderita asma/alergi, mereka tak bisa memilih. 

Pikiran orang depresi seperti benang kusut, puzzle yang tak pernah lengkap, dan labirin tanpa jalan keluar. Mereka mengalami sedih yang tak berkesudahan, lalu pikiran mereka selalu mempertanyakannya. Setiap pengalaman dianalisis, setiap memori diingat sebagai luka, setiap kenangan dianggap sebagai duka. Mereka membungkus diri dengan kesedihan dan memenjarakan pikiran dalam kegelapan.

Bedanya Kesedihan dengan depresi penyebabnya jelas dan nampak di wajah kesedihannya.
Depresi: biasanya orang bisa menutupi dengan keceriaan. Reaksi sedih mendalam tanpa peristiwa yang spesifik.
 Depresi tidak jelas, bisa disebabkan sesuatu hal di waktu kemarin atau bertahun-tahun yang lalu atau permasalahan yang sederhana.

Permasalahannya bukanlah karena masalah sederhana atau masalah yang sudah lama, namun, depresi adalah keadaan ketika kita tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaan.

Lalu apa penyebab depresi dan penyakit mental lain? Menurut penulis, jika dijawab karena ketidakseimbangan kimiawi dalam otak itu sangatlah sederhana. Ada banyak faktor penyebabnya. Di buku ini dijabarkan secara gamblang, gen, lingkungan, otak, pencernaan, spiritual, luka masa kecil, pendidikan, pengetahuan, dll. Penulis tidak menyarankan obat anti-depresan, dari riset ilmiah yang ditampilkan ada banyak dampak negatif. 

Pengobatan penulis, lebih condong terapi ke psikolog (mencari akar masalah, menerima depresi dan memaafkan orang-orang yang berkontribusi terhadap depresi) dan latihan mindfullness, loving kindness meditation.

Nah kali ini, aku mau mencoba mengungkapkan pendapatku. Ada yang mengganjal tentang paradigma penulis mengenai agama di bab akhir. Penjabaranku beda konteks dengan penghakiman lemah iman loh ya. 


"Ada anggapan bahwa orang yang tidak dekat dengan Tuhan akan rentan mengalami depresi. Padahal, tidak sedikit juga orang beragama yang malah menumpuk rasa bersalah karena merasa dirinya pendosa, jarang ibadah, dan akan dihukum Tuhan sebab sering melupakan-Nya." (227)
Jika diselisik lebih mendalam, hubungan antaraagama dan depresi ibarat dua sisi koin. Orang yang beragama memiliki persepsi yang baik tentang Tuhan, maka secara psikologis ia akan memiliki ketentraman hati. Persepsi positif yang bisa diberikan agama antara lain Tuhan sangat baik, Tuhan selalu mencintai umat-nya, dan cinta kasih Tuhan kepada manusia sangat besar.
Namun, orang yang beragama juga bisa memiliki persepsi negatif tentang Tuhan. Salah satu persepsi negatif itu adalah segala bencana terjadi karena Tuhan marah kepada hamba-Nya. Semua dosa manusia akan dicatat dan diganjar dengan siksa kubur dan neraka. Persepsi negatif seperti itu menghasilkan perasaan takut dan bersalah hingga membuat semua orang tersiksa. (228)


Kalau Islam, kita yakin akan Nash Qur'an


Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-an'am 82)


(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra'd 28)



Yang jadi masalah, mengapa orang beragama, malah menumpuk rasa bersalah???

karena tidak seimbang 3 pilar rukun ibadah. Apa itu? Cinta, harap dan takut. Ya jelas lah takut saja akan menyebabkan tekanan, depresi, putus asa, dan merasa bersalah berkepanjangan.


Kalau dianalogikan, ketiga pilar ini dalam ibadah bagaikan kedudukan seekor burung, rasa takut dan harap sebagai kedua sayapnya yang harus seimbang dan rasa cinta sebagai kepalanya yang merupakan pokok kehidupannya.

jika seorang hamba mencintai Allah, maka dia akan rela untuk melakukan seluruh hal yang diperintahkan dan menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya tersebut. Cinta kepada Alloh juga mengharuskan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Alloh.
Dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Alloh semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang juga dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat.
Rasa harap inilah yang dapat mendorong seseorang untuk tetap terus berusaha untuk taat, meskipun sesekali dia terjatuh ke dalam kemaksiatan namun dia tidak putus asa untuk terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi hamba yang taat.


Jika terkumpul 3 hal, in syaa Allah akan merasakan kelezatan ibadah.


Setiap hari saya mencoba semakin mendalami agama, tetapi ternyata dari sudut pandang yang keliru. Sering kali ketika kita mendiskusikan agama, muncul pembahasan agama lain dengan cara yang kurang baik sehingga seakan-akan menjadi penganut keyakinan lain adalah salah dan Tuhan adalah penghukum. (236)


“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3).


“Sungguh, telah kafir orang yang menyatakan Allah adalah al-Masih ibnu Maryam.” (al-Maidah: 17)


“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)


Pernyataan Regis menyinggung konsep wala' wal bara'. Sedihnya, dari aqidah itu, yang tak mau mengakui kebebaran agama lain dianggap anti-toleransi. Padahal islam agama yang paling toleransi. Siapa yang mengganggu kafir dzimmi, otomatis ia mengganggu Allah. Islam menjamin hak keamanan penganut lain. Kalau mau belajar shirah, sudah banyak bukti bahwa islam itu toleran. Ya benci, benci pada kekafirannya, bukan pada orangnya. Belajarlah adabul mufrad.


Kini saya tak lagi melihat bahwa Tuhan sesosok zat yang berada di atas sana, yang bisa marah kala manusia berbuat jahat, dan bisa bahagia ketika umat-Nya beribadah. 238


Apakah Allah terkadang marah dalam Qur'an? Tentu saja.

Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak". Maryam : 88

Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, Maryam : 90


Ya Allah marah, itu hak Allah, tapi tak serta merta kita juga ikut marah. Rasulullah sudah mencontohkan, ketika Nasrani mengunjungi Rasulullah di masjid Nabawi, Rasulullah menerima mereka. Allah punya hak untuk marah, tapi Rasulullah punya tugas berdakwah dengan cinta.
Membenci karena Allah, kepada orang kafir kita tak membenci orangnya, tapi kekafirannya. Kita kepada orangnya harus berakhlak baik.


Sekarang saya beriman kepada-Nya tanpa rasa takut yang mencekam, tanpa meminta hadiah seperti surga atau demi menjauhi neraka. Saya beriman kepada Tuhan karena saya mencintai-Nya dan saya ingin selalu berada di jalan-Nya karena jalan itu penuh keindahan dan ketentraman. (238)


Yang memerintahkan untuk berharap surga siapa? Yang memerintahkan kita untuk takut siapa? Allah kan, lebih tahu mana manusia atau Allah?

Mengapa penulis sampai berani memutuskan? Ternyata, sedari kecil ada "trauma agama", seharusnya ada tahapan penanaman iman pada anak. Sedang penulis, masa kecil hanya dijejali ibadah ini itu, hafalan banyak2, ancaman dosa dan neraka. Awal penanaman ditumbuhkan cintanya pada Allah, banyak mengenalkan kebaikan-kebaikan Allah. Lalu berlanjut ke syariat dimana mulai dikenalkan hukum-hukum islam. Ketika anak sudah tumbuh cintanya, in syaa Allah dia siap menerima beban syariat.


Ketika mendengar ujaran pemuka agama, mereka tidak langsung menelan ujaran tersebut bulat-bulat. Mereka akan berpikir teramat mendalam lalu mengecek ayat yang digunakan pemuka agama itu. Selanjutnya mereka akan memaknai sejarah di balik ayat tersebut, mempertanyakan relevansi ayat tersebut dengan keadaan masa kini, atau memikirkan cara interpretasi yang tepat untuk kehidupan sekarang. ia akan sangat gelisah jika ujaran pemuka agama itu mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan. (233)

Interpretasi suatu ilmu agama apalagi aqidah, tidak sembarangan orang loh ya, ada ilmu dan orangnya juga harus jelas sanad keilmuannya. 


Dan terakhir 

Depresi sebuah gejala tercerabutnya diri manusia dari kesejatiannya. 241

Apa sejatinya manusia itu?

Kalau kita dari kacamata Islam, jelas sebagai hamba dan khalifah, ada peran yang Allah amanahkan bagi kita. Di sinilah tugas utama kita, mencari peran apa sebenarnya kita diciptakan, Allah menciptakan sesuatu hal tidak ada yang sia-sia. kalau Victor Frankl bilang mencari makna, kalau orang jepang mencari ikigai. 


Wallahhua'lam..
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
December 26, 2019
Buku ini benar-benar menelanjangi saya, menghadapkan saya kembali pada monster yang telah lama saya kubur dalam palung tergelap dalam diri. Sebenarnya saya tak tahu menahu apa depresi itu sebenarnya, seperti apa ciri-cirinya, dan apa yang dilakukan oleh orang-orang depresi. Saya kira saya hanya membual bahwa saya mengalami depresi ke teman-teman saya. Saya mengalami tekanan mental setelah putus cinta, karir yang menurun, kegagalan dalam tes, dan kehilangan sosok ibu. Dari situ saya cenderung mempertanyakan hal-hal mendasar seperti apakah Tuhan ada? Mengapa saya harus beragama? dsb. Perilaku pun semakin tak karuan, sering menyendiri, berpikir bunuh diri dsb. Tetapi dalam hati kecil saya sebenarnya menolak dikatakan saya depresi. Kata depresi bagi saya merujuk pada orng tak waras. Sedngkan saya masih menjalani hidup dengan normal. Setelah membaca ini, semua yang saya lakukan dan pikirkan selama beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa saya BENAR-BENAR depresi.

Tak hanya memaparkan depresi dari segi ilmiah, buku ini juga menawarkan solusi bagaimana menghadapinya. Dan yang terpenting, karena penulis juga merupakan seorang penyintas depresi, cerita-cerita personal turut memberikan gambaran seperti apa depresi sebenarnya. Sangat berbeda dengan Reasons to Stay Alivenya Matt Haig yang bagi saya terkesan tidak jujur mengungkapkan alasan dia depresi padahal dia memiliki keluarga dan kekasih yang membantunya dalam segala hal.

Apakah buku ini akan membantu saya melewati hari-hari ke depannya? Saya tidak tahu. Yang pasti saya menangis dan benar-benar terguncang setelah menyelesaikannya. Terima kasih, Regis. Terima kasih telah berbagi. Ini sungguh indah.
Profile Image for Aisha Baisa.
52 reviews16 followers
December 5, 2019
i've been dealing with depression myself, and this book relate to me soo much. its not a glorifying depression or whatsoever, but more of self reflection and self-healing kind of book. which the kind of book i need the most. this book can also be a guide book for those of you whom never experience depression but wanting to know more about the topic, and be emphatic to those who's affected.

but, what i love the most about this book is the 'personal touch' -the personal reflection by the author of his own story dealing with depression. Definitely the best non-fiction book ive read this year, so far.
Profile Image for Claudia Anastasia.
49 reviews5 followers
January 13, 2021
Buku yang benar-benar memperkenalkan kepada saya mengenai depresi secara jelas dan utuh.

Flashback ke sekitar akhir 2016-2017, saya juga pernah merasa memiliki gejala depresi, meskipun saya tidak ke psikolog, tapi saya merasakan beberapa gejala seperti depressed mood, insomnia, mudah lelah yang bahkan membuat saya tidak masuk kuliah selama hampir 2 minggu lebih dan hilang dari kontak teman saya selama periode desember ke maret (saat libur semester). Trigger yang paling nyata saat itu adalah saat ibu saya dipanggil Tuhan yang membuat saya merasa kekosongan yang amat dalam dan merasa tidak punya arah.

Puji Tuhan saya bisa melalui fase itu dengan baik meskipun sampai saat ini saya tidak benar-benar tahu apakah hal yang saya alami merupakan depresi atau bukan.

Setelah membaca buku ini, saya bisa lebih memahami apa itu depresi dan betapa depresi adalah sesuatu yang harus dipandang serius dan bukan sebuah aib seperti stigma yang selama ini ada dalam masyarakat. Pemaparan penulis mengenai depresi dan keterkaitannya dengan luka serta gaya hidup modern juga membuat saya tertarik untuk merefleksikan diri dan mungkin kedepannya berusaha memahami apa yang sempat terjadi pada saya di akhir 2016 dan sempat juga muncul beberapa kali.

Penulis juga memaparkan depresi dan kaitannya dengan biologis manusia, genetik, bahkan hubungan dengan alam, sehingga menjadikan depresi sebuah keadaan yang kompleks, bukan sekedar “akibat jauh dari Tuhan”.

Gaya penulisan terasa sangat personal karena berdasarkan pengalaman pribadi penulis namun disertai penelitian pendukung yang menjadi referensi. Meskipun begitu hal ini membuat saya lebih penasaran terhadap teori yg dipaparkan karena bagaimanapun penelitian yang dilampirkan adalah penelitian yang mendukung pengalaman dan perspektif penulis, sehingga menarik untuk membaca studi pembanding lainnya dan buku-buku referensi yang dikutip.

Secara keseluruhan, saya menyukai buku ini karena mampu memberikan pemahaman secara sederhana mengenai depresi terutama bagi masyarakat umum sehingga kita bisa lebih memandang depresi sebagai sebuah bagian dari hidup bukan sesuatu yang tabu atau memalukan.

4.5/5⭐️
Profile Image for Agoes.
514 reviews37 followers
February 1, 2020
It’s a good book with a lot references from other articles and scientific journals.

However I felt that this is 80% just a compilation of articles that I could’ve read on the internet. The other 20% is his own experience of struggling with his depression. I started the book expecting that there’s about 50% new content made from empirical experience as a academician/scientist or client’s tale taken from the eye of a clinician, just like Yalom’s book.

I felt that what he does is translating articles and compiling them into topics. It might be related that the writer is still very young and doesn’t have enough empirical experience other than his own mental illness. The writer is doing a good job on compiling topics related to depression though.

Therefore I give this 3 star out of 5.

further reviews on my blog:
https://katasiagoes.wordpress.com/202...
Profile Image for Fadila setsuji hirazawa.
350 reviews4 followers
April 13, 2022
... Depresi membawa seseorang ke palung terdalam kehidupan, dan pada saat yang bersamaan, depresi mengajak seseorang melihat monster yang bersemayam dalam dirinya... (Hal.256)
.
.
.
🌿 Loving the Wounded Soul merupakan buku pengembangan diri oleh kak Regis Machdy, co-founder PijarPsikologi dan seorang yang memiliki pengalaman dengan depresi. Pertama kali membaca buku ini,saya merasa seperti menemukan bacaan yang berkaitan dengan pelajaran semasa kuliah dengan bahasa yang membumi ❤

🌿 Buku ini menurut saya termasuk lengkap untuk sebuah buku berbahasa Indonesia yang membahas tentang satu tema yakni depresi.Penjelasan yang dimulai dari kesehatan mental yang membahas stress dan depresi,ciri-ciri depresi,faktor biologis dan psikologisnya, bahkan sampai pada satu bab yang saya suka yaitu higher meaning. Dari satu tema besar bisa menghasilkan bahasan sebanyak ini.😊🙏

🌿 Membaca buku ini membuat saya merenung,bahwa depresi yang menjadi momok menakutkan,apabila orang yang mengalami kemudian berani mengambil langkah mendatangi pakar professional kejiwaan, bukan tidak mungkin merekalah yang justru peka dengan kondisi orang lain yang mungkin membutuhkan dukungan.

🌿 Salah satu buku pengembangan diri yang menurut saya bisa jadi referensi dalam perkuliahan maupun untuk memperkaya pengetahuan terkait depresi,karena bahasa yang digunakan kak Regis begitu mudah dicerna. Juga,buku ini dilengkapi daftar pustaka dari riset ilmiah yang menjadi acuan untuk buku ini.

Ingin sekali menuangkan banyak hal yang saya dapat dari buku ini,namun karena keterbatasan jumlah kata jadi saya ingin menulis: Kalian harus baca buku ini🙏
Profile Image for Dhilaah.
69 reviews9 followers
August 5, 2021
Buku self help yang sudah saya baca kebanyakan adalah buku terjemahan dari author luar negeri. Adanya buku genre self-help karya penulis dalam negeri yang disampaikan secara ringan membahas mental illness, membuka dan mendekatkan pembaca Indonesia dengan mental illness literacy, dimana sampai saat ini masyarakat Indonesia masih dirasa abai terhadap kesehatan jiwa juga masih berstigma negatif terhadap penyintas.

Memang penulis menjelaskan pada bagian awal bahwa buku ini adalah kombinasi konsep psikologi ilmiah dan cerita personal penulis sebagai penyintas depresi. Tapi menurut saya bagian cerita pengalaman penulis ketika mengalami depresinya lebih mendominasi isi buku.

Saat membaca buku ini mungkin karena kondisi fisik dan psikis sedang dalam keadaan baik, terasa kurang feelnya. Tapi mungkin saat suasana hati sedang kurang baik, buku ini mungkin bisa jadi penolong. At least, untuk saat ini buku ini membantu saya untuk lebih peka membaca gejala stress dan depresi pada diri sendiri ataupun orang di lingkungan sekitar.
Profile Image for Riza.
169 reviews7 followers
January 22, 2022
Saya sangat menikmati membaca buku ini. Disini penulis menulis pengalamannya sebagai orang yg pernah mengalami depresi dan juga seorang akademisi di bidang psikologi. Jadi banyak pengetahuan terkait depresi yg penulis masukkan ke buku ini dan menambah pengetahuan saya bahwa depresi itu bisa menyerang siapa saja dan itu juga ada hubungannya dengan faktor gen. Dan lebih menariknya lagi penulis memberikan referensi dari artikel2 dan jurnal ilmiah untuk mendukung argumen beliau.
Profile Image for Novita Dwi Riyanti .
149 reviews4 followers
July 6, 2020
Buku non-fiksi pertama yg aku baca dan di beberapa bab sukses buat air mata ini mengalir tanpa disadari.

Sebagai pembaca, sangat teredukasi mengenai isu kesehatan mental yang dibahas. Mulai dari betapa kompleksnya depresi, gejala yang dirasakan serta faktor pencetus dari depresi itu sendiri. Kemudian bagaimana membedakan stres. Yang ternyata baru aku ketahui ada stres positif dan negatif.

Banyak hal yg bisa diambil dari buku ini salah satunya ialah iman yang menumbuhkan harapan pada diri seseorang. Lalu dari harapan itulah orang memiliki kebahagiaan kecil yang bisa membawanya pada perbaikan-perbaikan emosi negatif. Semua itu berdasarkan literatur ilmiah dan dikombi dg pengalaman depresi penulis. Walau begitu bahasa yg digunakan masih bisa dipahami oleh masyarakat awam, termasuk aku yg notabennya tidak punya latar belakang psikologi.

Buku ini tidak hanya menjadi pedoman bagi orang yg mengalami depresi tapi juga penting bagi siapapun yg ingin menemukan makna sejati kehidupan.
Berharap buku ini bisa menepis stigma negatif masyarakat terhadap depresi dan lebih banyak lagi buku yg membahasa isu kesehatan mental lainnya &tentunya dikemas dlm bahasa yg mudah dipahami oleh semua orang.
Profile Image for Milda Gisma (Millyreads).
44 reviews10 followers
June 23, 2021
Jujur bacanya nyaman banget buat aku pribadi.
karena buku ini menjelaskan apa sih penyebab-penyebab stress, dari mana dia bermula, jenis-jenis depresi itu sendiri serta pengaruh lingkungan kita.

Kalau mau tau banyak hal tentang depresi, buku ini ngebantu banget.
Profile Image for tianiita.
118 reviews33 followers
December 30, 2019
Penutup akhir tahun yang bittersweet

Depresi memang tidak pandang bulu. Siapa pun bisa kena depresi, baik tua, muda, pria, wanita, miskin, kaya. Bagi sebagian besar masyarakat kita masih tabu dengan kata depresi. Stigma yang masih melekat yaitu depresi terjadi karena orangnya lemah, tidak kuat iman, kurang beribadah, dan caper. Padahal saat depresi mental orang tersebut amat rapuh, sekecil apapun perkataan yang negatif akan menimbulkan luka dan itu bisa butuh waktu yang lama untuk disembuhkan.

Buku ini membahas hal-hal tentang depresi melalui pendekatan psikologi. Saya sangat senang membaca ini saat saya juga sudah melalui masa kelam itu. Sedikit banyak jadi teringat, bahkan jujur saya sempat terbawa arus jadi ingat masa lalu sampai nangis. Jika saja banyak yang membaca buku ini, pemahaman tentang depresi akan lebih luas dan sadar betapa pentingnya kesehatan mental seseorang. Bahwa orang yang sedang depresi sangat sentimentil dan penyebabnya sangat beragam. Kekurangannya hanya beberapa typo yang cukup mengganggu, semoga di edisi selanjutnya bisa diperbaiki. Cover buku ini serius, cantik sekali. Penjelasannya juga runut dan tutur bahasanya sangat pas. Bisa baca via premium subscription di gramedia digital.
Profile Image for Latifah Rizky.
116 reviews11 followers
December 16, 2021
Judul bukunya tender banget, ya? Surprisingly, despite sounding tender, it has a solid explanation about depression supported with data and statistics.

Penulis yang juga mengalami depresi menjelaskan dengan compact mengenai segala hal tentang depresi; apa itu depresi, datangnya dari mana, ngobatinnya gimana, sejarahnya gimana, faktor apa saja yang mempengaruhi, dengan bahasa yang lugas dan runtut.

Nggak muter-muter dan sangat mudah dimengerti. Lebih jauh lagi, relatabilitynya luar biasa, mengingat penulis juga orang Indonesia (karena buku yang membahas depresi mungkin banyak buku dari luar negeri, mengingat depresi adalah penyakit yang konon berasal dari Barat) yang kaya akan berbagai budaya dan kepercayaan.

I know review ini wordy banget, tapi ya memang sepenting itu semua bahasannya, buku ini mencakup berbagai macam hal tentang depresi yang ringkas, padat, serta nggak bertele-tele.

Buku ini harus dibaca paling nggak sekali untuk membuka pikiranmu akan depresi, untuk memahami nggak semua hal sejelas hitam dan putih, dan untuk mengasah empati serta kepedulianmu dengan sesama manusia. Pada akhirnya, urusan kepala dan hati harus seimbang kan?
Profile Image for Ainay.
418 reviews77 followers
December 22, 2019
Ah, bagus banget! 4.5🌟 Aku mulai tertarik dengan isu kesehatan mental setelah salah seorang teman curhat bahwa ia adalah penyintas, yang pernah nyaris meninggal di kamar apartemennya. Dari situ aku mulai paham bahwa depresi tidak sama dengan stress akibat kebanyakan tugas.

Kemudian, ketertarikanku berlanjut pada buku-buku yang mengangkat isu kesehatan mental. Termasuk salah satunya Reasons to Stay Alive, yang ditulis oleh penyintas depresi/gangguan kecemasan. Buku ini kurang lebih sama dengan itu, hanya saja lebih kompleks karena memberikan pengantar-pengantar tentang depresi dan menggambarkan jenis-jenis depresi.

Istimewanya buku ini adalah, kita dikenalkan pada berbagai situasi(?) depresi berikut dengan selipan pengalaman penulis dan orang-orang di sekitarnya yang merupakan penyintas. Ditulis berdasarkan kajian-kajian ilmiah, secara mengejutkan buku ini sangat mudah dibaca karena gaya penulisannya sangat ringan dan mengalir.
Profile Image for Irma Setiani.
82 reviews10 followers
September 3, 2020
Buat aku yang belum banyak pengetahuan tentang kesehatan mental, buku ini membuatku makin kenal isu kesehatan mental. Enak banget dibaca karena penulisannya nggak ribet. Sampe gak kerasa bacanya udah kelar😁
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
January 31, 2020
22 - 2020

Baca buku ini dimulai sejak Oktober 2019 dicicil dan baru selesai. Sengaja pelan-pelan biar bisa dirasakan, dimengerti lalu kesalip banyak buku-buku ringan lainnya juga deh. Ini tipe buku yang saya gak rela cepet-cepet kelar baca gitu.

Regis Machdy, si penulis buku ini adalah seorang psikolog lulusan universitas terbaik di Indonesia, belum lagi dia juga ambil master global mental health di Inggris, siapa yang nyangka kalo yang nulis ini pernah merasa ingin bunuh diri berkali-kali? Merasa depresi bahkan saat ia tengah bersekolah soal mental health. Cerita ini saja sebenarnya menarik, tapi buku ini lebih jauh dari itu semua tentang depresi dikupas satu demi satu dan ditulis dengan apik.

Buku-buku fiksi dan non fiksi soal mental illness sedang banyak ditulis di beberapa tahun terakhir ini. Jujur saja, saya suka. Psikologi manusia adalah hal yang tak terbatas jika diceritakan, ada banyak hal yang bisa ditelisik lebih dalam. Hebat para penulis fiksi bisa mengembangkan cerita-cerita tentang hal tersebut.

Dalam buku ini Regis tak cuma bercerita tentang dirinya, tapi depresi itu sendiri diceritakan secara lebih detil. Apa itu depresi, ciri-cirinya gimana, bagaimana bisa terjadi, faktor apa saja yang membuatnya tumbuh dan berkembang sampai ke hubungannya dengan agama dan spiritualitas. Semuanya ditulis menurut saya lengkap dengan sumber referensi dan juga cerita Regis sendiri. Saya cukup merasa buku ini komplit karena bagi saya yang bukan lulusan psikologi sangat terbantu untuk memahami depresi ini. Walau dipenuhi dengan istilah-istilah dalam psikologi, tapi semua diberi keterangannya kok yang mudah kita mengerti.

Depresi tidak sesederhana merasa ingin mati, bunuh diri. Baik untuk kita memahaminya, agar siapapun yang merasa depresi, bisa belajar untuk memahami dirinya sendiri juga baik untuk membantu yang lainnya.

"Kita paham bahwa menyayangi diri sendiri bukanlah pekerjaan egois.
Menjaga apa yang kita makan dan menjaga suasana hati adalah wujud kasih nyata kita terhadap diri sendiri sekaligus jutaan mikroba di dalam tubuh."


Profile Image for Ardina Alth Mora.
489 reviews16 followers
April 4, 2020
Loving the Wounded Soul - Regis Machdy
Rate : 4.5/5💫
Hal: 287 hal.
.
📚 Mental illness akhir- akhir ini menjadi sorotan dan kesadaran masyarakat akan hal ini juga meningkat. Terutama di Indonesia yg berkaitan dengan namanya kesehatan mental itu sudah lebih peduli, lebih mencoba belajar memahami bagaimana kondisi demikian.
.
📚Jujur buku ini udah beberap bulan yg lalu belinya. Tapi, baru di April 2020 aku benar-benar bacanya. Dari sini aku banyak tau istilah-istilah yg berkaitan dengan kesehatan mental dan Mental illness. Mulai yg namanya gejala stres, depresi dan sebagainnya, mengenali gejala pada diri sendiri, orang lain dan sebab kenapa demikian. Dan yg paling aku senang baca buku ini, penyampaiannya mudah sekali dipahami, dan seperti sharing malah saat bacanya.
.
📚Penulis juga menjelaskan bahwa depresi bisa datang kesiapa saja, faktornya darimana saja. Di tambah kisah orang” yg pernah mengalami depresi dan bagaimana bisa sembuh. Bahkan buku ini cukup membantu menjelaskan beberapa hal yg perna atau pun sedang aku alami. Contohnya, Insomnia, migrain, otot bahu/leher tegang dan lain” ternyata adalah gejala stres tubuh dan prilaku. Gejala ini dulu sering kita anggp normal” saja pada hal itu sudah gejala stres.
.
📚Bahkan Highly Sensitive Person juga dijelaskan penulis. Dan pertanyaan untuk mengidentifikasi HSP juga dilampirkan. Entah karena aku jarang sekali membaca buku yg berkaitan dengan kesehatan mental/ mental illness tidak tau juga, hanya saja baru kali ini HSP dibahas dan dijelaskan dengan cukup mudah dipahami. Pada hal ya dulu aku sering beranggapan kalau buku yg berhubungan dengan mental illness, kesehatan mental dan sejenisnya itu cukup berat untuk dibaca, ternyata tidak juga😁. Buku ini benar-benar rekomendasi untuk dibaca agar kita lebih peduli dan bisa memahami orang” sekitar kita yg mungkin saja mengalami masalah kesehatan mental.
Profile Image for svrhld.
106 reviews7 followers
April 8, 2021
Cover dan judulnya sedikit misleading ya sama apa yang ada di dalam buku ini. I knew nothing about this book, selain selalu muncul di base twitter. Kupikir isinya tentang cerita banyak orang terutama penyintas, dengan menggunakan sudut pandang Regis, tentang depresi itu sendiri. If you read enough books about self-help especially the one that centered on mental health, aku rasa buku ini gak cukup. Basic sekali. Aku justru lebih suka Yang Belum Usai. Menurut aku isi di buku ini terlalu subjektif. Terlalu banyak cerita dari Regis Machdy yang doesn't connect to me at all.
Profile Image for Shirley.
923 reviews80 followers
January 1, 2020
Oh wow i really like this book, it's been a long time since i read books from Indonesian author but I didn't hesitate to buy it when i see & read the description and i'm glad I did, It's a wonderful book.
In this book he shares his knowledge about depression and mental health from his experience, science, philosophy, and psychology journal/study and other books that relevant. I immensely like the style and flow of writing, it's humbling(?) if it's possible, it's like hearing story from friends of yours that you know for sure learn a lot about what he talked about before he said it to you.

I learned more about HSP, back then I wonder if I have HSP but i just shrugged it off and didn't think more about it but reading this book i feel like standing in front of mirror and someone explaining to me what i see, because i can resonated a lot with the explanation but i still have to see the psychologist to be sure. There's time where it feels like reading a simplified scientific journal without losing its essence. I agree with sooo many things in this book but there's some point that i get the point but not 100% agree because I personally think it goes where i think but it's not definite and i think it just me (and my HSP).

I'm glad that he feels better now and decided to make this book, thank you so much, I hope you keep getting better and i really hope you can achieve your dreams, hopefully soon.
Can't wait to read more books or journal from you.
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
March 29, 2020
Review lengkapnya bisa dibaca di sini

Hal yang aku suka saat membaca buku non fiksi adalah aku gak perlu baca semuanya sekaligus atau bahkan habis dalam sekali duduk. Karena tempo membaca buku ini yang lambat aku jadi punya jeda untuk lebih memahami setiap hal yang dibahas dalam buku ini. Sesuai judulnya, buku ini membahas segala hal tentang depresi. Regis Machdy membagikan ilmu dan pengalamannya dalam buku ini dalam dua peran, perannya sebagai akademisi psikologi dan perannya sebagai orang yang memiliki pengalaman hidup bersama depresi. Perannya sebagai akademisi psikologi membuat buku ini terasa seperti jurnal ilmiah yang ditulis dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami. Regis membahas depresi dari segala aspek biologis, psikologis, lingkungan, sampai dengan aspek spiritual. Pembahasannya diikuti dengan fakta, penelitian, dan berbagai kutipan dari jurnal ilmiah ataupun buku atau artikel lain dengan topik terkait. Hal ini jelas membantuku memahami depresi lebih dalam lagi. Depresi itu bukan cuma mitos, gaes. Semua hal ada penjelasannya.

Di satu sisi, aku salut dengan Regis yang berperan sebagai orang yang membagikan pengalaman hidupnya terkait dengan depresi yang sudah ia alami selama bertahun-tahun. Ia bahkan membagikan pengalamannya berjuang melawang ide untuk bunuh diri yang sudah ia pikirkan dari umur 12 tahun!!

Buku ini pun menurutku adalah buku yang cocok untuk dibaca oleh penyitas gangguan jiwa ataupun orang-orang awam. Karena buku ini menjelaskan depresi dengan sedemikian rupa dan menurutku bisa memberi cukup motivasi pada para penyitas untuk mencari pertolongan dari profesional jika keadaan mereka sudah dirasa perlu untuk ditangani, buku ini juga bisa membuat orang-orang dengan yang memiliki gejala yang sama tidak merasa sendirian. Setidaknya itulah yang aku alami, walau pada kenyataannya aku cukup lama juga membaca buku ini karena buku ini adalah salah satu buku yang terasa sangat personal bagiku. Membaca pengalaman Regis sebagai pengidap depresi menahun malah membuatku sedih sekaligus terharu dengan hal-hal yang pastinya berat sekali untuk ia jalani. Orang-orang awam perlu membaca buku ini karena buku ini juga berisi himbauan tentang bagaimana seharusnya orang dengan gangguan jiwa diperlakukan. Orang dengan gangguan jiwa bukanlah para pencari perhatian!! Stigma negatif masyarakat yang tidak tahu apa-apa hanya akan memperburuk kondisi mereka.

Aku harap, buku seperti ini akan semakin banyak beredar di masyarakat untuk menggaungkan masalah kesehatan mental dan meminimalisir stigma yang ada di masyarakat.
Profile Image for Nitaf.
144 reviews2 followers
November 1, 2023
Akhirnya ketemu buku self-help lain yang cocok: nggak judgemental dan juga nggak penuh motivasi klise. Buku ini recommended banget sih.

Sebelumnya agak underestimate karena skeptis sama isinya. Ternyata pembahasannya cukup melampaui ekspektasiku. Ini tipikal buku self-help yang lebih ngedeskripsiin beberapa fenomena terkait mental health secara saintifik sih, tapi aku suka karena isu yang dibahas lumayan variatif dan jarang diangkat di beberapa buku self-help lain yang kubaca.
Beberapa pembahasan favoritku itu hubungan "perut" dengan depresi, bagaimana konsep depresi "diimpor", terus bagaimana budaya Asia lebih familier dalam perannya memanifestasikan penyakit mental ke kondisi tubuh, dan terakhir, bagaimana ibu hamil bisa "mewariskan" permasalahan mental ke anaknya, bahkan sejak di kandungan.

Disajikan dengan pengalaman pribadi penulis dan bagaimana penulis bisa memvalidasi perasaan pembaca, bikin aku ngerasa dekat dan relate dengan pembahasan yang ada di buku ini.
Profile Image for melmarian.
401 reviews136 followers
April 23, 2020
3rd book read for #OWLsReadathon2020

I read this for Charms (Lumos Maxima-a book with a white cover) and turns out that this book really does shed light on mental illness, especially depression. It answers some big questions I've been having in my head for quite some time now: "Do I have depression?" "If I do, when should I see a psychiatrist?" Well-researched and scientific but also very personal. Kudos for the author for making this book very easy to digest. I feel like after reading this book I can immediately start to know myself and my body better than before, and also love myself more.
Furthermore, I feel like this book could really help save lives, including mine.
25 reviews4 followers
August 27, 2022
Buku ini membantu pembaca untuk dapat memahami depresi, dan bagaimana menyikapinya ketika kita mengenal orang dengan depresi. Buku ini mampu membumikan bahasa psikologi kedalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam.

Buku ini juga sangat apik menceritakan perspektif dari seorang lulusan psikologi dan penderita depresi. Dibahas juga faktor biopsikososial dan spiritual dari depresi itu sendiri.

Bagi saya buku ini adalah membuka perspektif dan pengatahuan lebih tentang depresi dan bagaimana menyikapi apabila saya mendengar atau bertemu dengan orang depresi.

Banyak pembelajaran hidup juga yang diceritakan penulis melalui buku ini.
Profile Image for bev.
47 reviews3 followers
February 15, 2022
Suka bgttttt sama buku yang ditulis kak Regis Machdy ini !!
buku nonfiksi rasa fiksi, ga bosen bacanya karena diselingi pengalaman pribadi si penulisnya. Kita jadi lebih paham berdasarkan kejadian empiris depresi itu seperti apa.

Isinya juga padat dan jelas sekali. Mulai dari pengertian depresi, berbagai faktor penyebab depresi, depresi secara medis, dll.

Dari buku ini juga aku bisa memaknai depresi sebagai hal yg baru. Bukan sekadar suatu “penyakit” atau “gangguan” mental, tapi sebuah “gejala”. Gejala yang berarti ada sesuatu yang salah dalam diri atau hidup kita. Dengan adanya gejala berupa depresi, manusia mendapat “peringatan dini” untuk segera mengatasi gejala itu.

Profile Image for Ayu.
343 reviews22 followers
December 31, 2019
Rasanya seperti mendengarkan temanmu kenapa ia akhirnya pergi ke psikiater, tanpa kesan menggurui sama sekali, tanpa terlalu sering mengingatkan untuk 'selalu berpikir positif' karena ia tahu betapa susahnya melakukan hal itu.
Gejala-gejala, faktor yang mendasari, bahkan tindakan yang harus dilakukan ketika temanmu relapsed dipaparkan dengan lengkap dan sangat mudah dipahami.
Profile Image for Esti Diah Purwitasari.
9 reviews
April 18, 2021
High salutation given to the writer... a 'major depression' survivor...
Segala yg dituliskan akan membuka mata awam bahwa Depresi adlh sebuah penyakit. Penyakit mental yg juga disertai symptom fisik.
He uses very simple language and easy to be understood...
Recommended for those who concern about Mental Health issues...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for D.
88 reviews1 follower
October 15, 2021
Ngobrolin tentang depresi secara medis, but in a heartwarming way. Mengoreksi kesalahpahaman aku soal depresi: penggunaan antidepresan, dan hal apa yang mempengaruhi depresi (ternyata jauh lebih kompleks). Kind of reminder to love myself, seeking for help, and have more empathy toward others.
Displaying 1 - 30 of 302 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.