Barabas si terpidana mati sekonyong-konyong mendapatkan kebebasan lantaran masyarakat Roma lebih memilih menyalibkan Yesus. Penyamun yang dibesarkan secara liar itu tak pernah tahu Yesus-lah sosok yang akan mengubah jalan hidupnya, atau jalan kematiannya ke jalan hidup.
Bagaimana mungkin penjahat kawakan berjulukan Kalajengking Tampan bisa-bisanya melanjutkan hidup dengan menjadi pendoa? Bahkan mengagumi dan mewawancarai langsung Bunda Maria kemudian menuliskannya dengan penuh hormat.
Arswendo dengan bahasa sederhana menuliskan novel kehidupan Barabas secara lengkap sejak sebelum hari penyaliban itu hingga hari-hari akhirnya. Sangat asyik diikuti. Terbagi dalam bab-bab kecil yang terdiri atas beberapa paragraf pendek saja. Gaya penulisan yang menawan.
Terlebih sesungguhnya kisah Barabas sama sekali bukan cerita tentang agama tertentu. Melainkan tentang persaudaraan antarmanusia dan kepasrahan pada kasih Allah.
Seorang yang sangat terkenal di bidang jurnalistik, penulisan dan sinetron. Lahir di Solo 26 November 1948. Sempat kuliah di IKIP Solo selama beberapa bulan, lalu mengikuti program penulisan kreatif di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat (1979). Prestasinya sungguh luar biasa. Banyak karyanya yang telah disinetronkan dan mendapat penghargaan, di antaranya Keluarga Cemara dan Becak Emak, yang terpilih sebagai Pemenang Kedua Buku Remaja Yayasan Adikarya IKAPI 2002. Bahkan karena prestasinya pula, dia sempat masuk penjara selama lima tahun!
Kini ia mengelola penerbitan sendiri yang diberi nama Atmo Group. Ia tinggal di Jakarta dengan seorang istri yang itu-itu saja, tiga orang anak yang sudah dewasa, seorang cucu yang lucu, seekor anjing setia, ratusan lukisan buatan sendiri selama di penjara, serta sejumlah pengalaman indah yang masih akan dituliskan.
Awalnya tertarik baca ini karena ditulis oleh Arswendo dan kebetulan jumlah halamannya tidak terlalu banyak. Kukira ceritanya akan penuh konspirasi dan berteori ala-ala Da Vinci Code (jujur, aku tidak baca sinopsis atau mencari tahu review orang lain terlebih dahulu). Tapi ternyata, aku menemukan kehangatan yang rasanya seperti sedang membaca Alkitab dari sudut pandang Barabas.
Ketika membaca buku ini, aku seperti diingatkan oleh sosok Yesus Kristus yang amat penyayang. Paling tersentuh ketika Barabas berkata Yesus tersenyum dengan tubuh yang tinggal seonggok daging dan penuh luka juga lebam. Kata Barabas, senyum Yesus penuh kasih dan kehangatan and I have no doubt karena Dia memang seperti itu.
Aku memberi rating 4 karena gaya penceritaannya kurang cocok untukku. Jujur, aku lebih suka gaya penulisan Leila S. Chudori dan Eka Kurniawan yang banyak mengandung kalimat panjang. Tapi aku senang banget karena terdiri atas banyak bab yang setiap babnya paling banyak empat halaman karena membuatku antusias dengan kelanjutan ceritanya sekaligus tidak membuatku malas membaca.
Speechless, jarang aku bisa bertekun baca buku dengan tema-tema spiritualitas. Tapi setelah baca novel karangan Bapak Arswendo ini membuat saya ingin membaca buku tentang agama minimal sekali dalam setahun saat masa Prapaskah. Buku ini dirasa pas untuk dibaca karena saat ini masa Prapaskah umat Katolik, dimana masa yang tepat untuk menilik hati dan iman, apakah sudah semakin baik atau malah semakin jauh dari Tuhan.
Buku ini aku yakin bukan buku tentang agama tertentu, walau memang latar penulisannya tentang tokoh agama Katolik.
Karena Barabas ini adalah kita semua, manusia biasa yang mungkin berkali-kali Tuhan selamatkan dari maut, namun kadang kita tetap berkeras hati. Namun Barabas mengajarkan kita untuk menjadi lemah lembut dan semakin mencontoh teladan Tuhan Yesus yang penuh kasih. Barabas bisa kapan saja kembali menjadi pemberontak dan keras kepada Roma, namun teladan hidup Tuhan Yesus, dikelilingi oleh Para Rasul merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik.
Walau konsekuensinya mungkin kita akan diremehkan dan tidak dipandang orang, bahkan dalam buku ini dia dibuang jauh dari Yahudi. Justru dia mampu melihat sisi baik dari segala peristiwa, membuka kesempatan baginya untuk memperkenalkan Tuhan Yesus bagi banyak orang.
Pertanyaannya, jika kita sebagai Barabas, mampukah kita bercakap-cakap dengan Bunda Maria? cukup kuatkah kita? #recommendedtoread
Kalau nonton Passion of the Christ, (jika tidak salah ingat), tokoh Barabas digambarkan seorang penyamun yang beringas, tertawa lebar ketika dia dibebaskan, karena ditukar dengan Yesus.
Arswendo menuntun kita untuk mempelajari si tokoh Barabas terpidana mati ini, yang kemudian menjadi pendoa. Berbeda sekali dengan Barabas di film tadi. Penggambaran mengenai proses pengadilan, dikurung di ruangan bawah tanah tanpa sinar matahari, proses penyiksaan yang dihadapi, kesempatan untuk mendapat permintaan terakhir digambarkan dengan jelas. Setelah itu, bagaimana Barabas bisa masuk ke kelompok pendoa lainnya juga diceritakan. Pemikiran Barabas juga dieksplor di sini.
Menarik karena Barabas (seingat saya ya), tidak banyak disebutkan di Alkitab. Sehingga menyenangkan membaca perspektif baru ini.
Kenapa semua terjadi dan kualami? Ketahuilah dan sadarilah, itu yang kukatakan pada diriku, aku dicipta sebagai hamba, agar semua kehendak-Nya terjadi.
Membaca buku ini seperti membaca dokumentasi perjalan di masa setelah kematian Kristus, namun dari sudut pandang Barabas yang merupakan orang diluar murid Yesus. Bagaimana dia menekankan kesaksian dan pencatatan, agar apa yang dinyatakan atau terjadi saat itu, bisa diketahui oleh orang banyak di kemudian hari.
Barabas yang dulunya senggol bacok, mulai mengenal bahwa ajaran Yesus yang diikutinya adalah tentang "kasih". Ketekunan dan kesabarannya menjelaskan dan menyebarkan ajaran Kristus benar-benar membuat mataku terbuka akan sudut pandang yang lain.
Buku yang sangat sederhana namun menggugah hati. Disusun dengan bab-bab pendek tentang kisah hidup Barabas mulai dari sebelum ia mengenal Yesus, bersanding dengan Yesus untuk dihakimi di hadapan Pilatus yang kemudian dibebaskan oleh rakyat, mengenal kasih Yesus dan menyebarkan cinta kasih-Nya. Character development yang disusun menarik sekali tapi tetap realistis. Tidak terlalu memuja dan tetap manusiawi. Alhasil jadi bisa memosisikan diri di sepatu Barabas dan belajar banyak dari kisahnya. Kisah universal yang menguatkan dan mengajarkan cinta, perdamaian bagi manusia. Sebuah karya penutup yang indah dari alm. Arswendo Atmowiloto.
"'Jangan membenci. Jangan pernah memulai dengan kebencian. Itu jalan seat yang tak membawamu ke jalan yang wajar. "Jika kamu membenci seseorang, atau sesuatu, kamu sebenarnya sedang membenci dirimu sendiri. Sedan menyakiti dirimu sendiri. Kamu menyiksa dirimu sendiri. “Kalau kamu membenci, hentikan sekarang juga”
Barabas, sebuah nama yang muncul dalam sebuah kisah penting kekristenan namun tidak pernah disebut lagi setelahnya. Atau memang saya saja yang terlalu ignorant? Tapi bisa jadi inilah kekurangan orang yang grow up dengan kisah-kisah itu. I took it for granted. Jadi, terima kasih kepada alm. Arswendo Atmowiloto, saya jadi dapat gambaran yang lebih utuh tentang sosok Yesus Barabas, si Kalajengking Tampan, tokoh kelompok Zealot, pemberontak terhadap penindasan Romawi yang mendapat kesempatan hidup melalui peristiwa penyaliban Kristus.
Membaca Barabas: Diuji Segala Sisi memberikan persepesi baru nan segar. Ditilik dari aksinya, Barabas memang seorang penjahat, perampok, pembunuh. Namun jika dilihat dari tujuannya dan dari sisi mana, saya yakin ada kelompok atau golongan masyarakat yang mengamini aksinya melawan Romawi. Tapi terlepas dari kejahatan yang dilakukannya, yang menarik adalah perjumpaannya dengan Yesus Kristus dan pengaruhnya dalam kehidupan Barabas setelahnya.
Tak kalah menggelitik adalah kisah Barabas yang diselesaikan oleh alm. Arswendo dalam keadaan sakit. Saya sempat bertanya-tanya, kenapa Barabas? Tapi tanpa bermaksud cocokologi, ada satu potong Mazmur yang terus diulang terutama ketika Barabas menunggu eksekusi dalam penjara di awal kisah, dan mendapat jawab di akhir cerita, “Dapatkah kasihMu diberitakan dalam kubur?” Mungkin baik juga jika pertanyaan Barabas ini menjadi pertanyaan kita juga.
Jika saya membacanya dalam keadaan tidak diuji segala sisi, saya akan memberinya 4 bintang. Tapi saya pernah mengalami keadaan sedemikian rupa sehingga buku ini kurang lebih memberikan saya suatu pengalaman membaca yang tidak hanya sekadar bacaan sekilas, tapi juga ada sangkut pautnya dengan kehidupan yang saya jalani sehingga sangat berkesan dan memberikan kekuatan untuk lebih berserah kepadaNya.