Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kentut Kosmopolitan

Rate this book
Jakarta ibukota yang tak lebih dari kampung besar nan sontoloyo ini, berisi kentut jutaan orang. Termasuk didalamnya adalah kentut gagasan, kentut harapan, dan kentut keputusasaan. Maka apalah artinya sebuah kentut tambahan ditengah kentut jutaan Homo Jakartensis, manusia Jakarta, yang menghidupi dan dihidupkan kentut?
Buku Kentut Kosmopolitan ini, yang menjelajah dari kentut ke kentut, bukan sembarang kentut, karena justru merupakan "kentut pembongkaran" atas kentut-kentut itu sendiri. Nah : Bang-bang-tut!Siapa yang kentut?

296 pages, Paperback

First published August 1, 2008

10 people are currently reading
79 people want to read

About the author

Seno Gumira Ajidarma

101 books843 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
26 (22%)
4 stars
44 (38%)
3 stars
41 (35%)
2 stars
3 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books111 followers
January 18, 2026
Esai-esai ringan yang ditulis oleh SGA dalam buku ini ternyata tetap relevan meskipun sudah ditulis dalam rentang tahun 2004 hingga 2020. Kehidupan Jakarta, yang dijadikan tema sentral buku ini pun masih tampak tak banyak perubahan, kecuali perkembangan teknologinya—misalnya di beberapa esai, SGA masih menyebut tren pesan instan lewat SMS dan BBM.

Dalam tiap tulisannya, SGA mengajak pembaca merefleksikan kembali pengalaman hidup di kota metropolis seperti Jakarta (mengandaikan kita tinggal di sana), yang digambarkan bisa membuat manusia modern (Homo Jakartensis) kehilangan makna hidup karena kesibukan pekerjaan atau sekadar kehabisan waktu di perjalanan.

“Kosmopolitanisme Jakarta sangat semu, hanya bertahan pada enclave Segitiga Emas, itu pun di celah-celahnya penuh gang dengan Homo Jakartensis yang kehidupannya mengenaskan, ibarat penyanyi malam dengan parfum Calvin Klein tapi kamar indekosan berdinding tripleksnya hanya bisa dicapai ojek.”

Sebetulnya begitu banyak sentilan menarik yang dapat diulas dari kumpulan esai ini, tapi akan cukup panjang jika disebutkan satu per satu. Maka, agar lebih singkat, saya akan menyebut beberapa judul esai favorit sesuai kronologi tahun penulisannya:
– Kentut Kosmopolitan
– Mie Atjeh
– Flu Ikan! Flu Sayur! Flu Udara!
– Masih Sekitar Toilet
– Tsunamilogi & Gempaniora
– Sensualitas dalam Konstruksi
– Standar Bencana?
– Musim Hujan Telah Tiba
– Kalau Tak Utuh
– Kode Indonesia
– Luwak, Monyet, dan Kita
– Golongan Sepeda Motor
Profile Image for Wildan Firdausi.
4 reviews3 followers
January 10, 2023
Kentut Kosmopolitan, 1-10 Januari 2023

Buku pertama yang saya baca dengan ‘utuh’ di tahun 2023. Butuh sepuluh hari untuk menamatkan buku ini, di samping ‘tutur kata’ yang disajikan lebih dapat dipahami, tapi perlu waktu untuk memahami setiap ‘gelitikan’ yang diselipkan.

Ya, seperti buku-buku karya karya Seno Gumira Ajidarma (SGA), “Kentut Kosmopolitan” ini menyajikan beragam ‘obrolan urban’ yang sering ditemui oleh Homo Jakartensis (sebutan bagi ‘spesies’ yang tinggal di Jakarta) dalam keseharian mereka. Sebut saja, salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh SGA adalah mengapa Jakarta menjadi tujuan bagi kebanyakan orang untuk sekedar menghidupi kehidupan mereka? Orang Bandung, sejuk kala hujan, tapi kenapa orang-orang kota sejuk itu memilih untuk pergi ke Jakarta? Ada apa di Jakarta?

Jawabannya tak lain terdapat dalam kepala mereka sendiri. Maksudnya, bagaimana seseorang mengembangkan imajinasi tentang kesuksesan—umumnya perkara uang---adalah bagaimana sebenarnya konstruksi tentang Jakarta itu bekerja dalam kepala mereka. SGA mengutip Barthes dalam buku ini: Subjek yang membaca adalah subjek dengan pluralitas teks dalam dirinya. (h. 199, Hidup dalam Kepala)

Jakarta adalah teks tempat kita bertarung untuk memperjuangkan pembermaknaan kita. Begitu kiranya.

Dalam buku ini, SGA begitu paham betul bagaimana menyampaikan gejala-gejala budaya—yang ia sebut proses budaya dalam pembermaknaan—dengan sangat nyeletik dan nyentrik. Kata-kata yang njlimet dibikin olehnya mudah dipahami. Kebetulan, saya sendiri masih belum terbiasa membaca buku-buku yang ‘berat-berat’ sebelumnya. Mungkin ini salah satunya yang bikin saya betah membaca buku ini hingga ‘utuh’. :)

Selain tentang Jakarta dengan Homo Jakartensisnya, “Kentut Kosmopolitan” ini juga terdapat beberapa artikel yang seharusnya bisa berlaku bagi semua orang, termasuk orang yang belum mengenal Jakarta. Seperti di bagian ‘Kentut 2’, terdiri dari belasan artikel tentang Citra, Pandemi, Narsisme, hingga Rasisme Manusia yang biasa dilakukan terhadap hewan lebih-lebih Ayam. Semua hal yang diangkat dalam buku ini sangatlah bisa kita temui di sekitar kita, dan ini yang membuat buku ini bagus dikonsumsi untuk kita.

Terbagi menjadi dua bab, Kentut 1 adalah artikel-artikel yang pernah terbit pada 2004 -2007, sedangkan Kentut 2 terbit pada 2012-2020 (dan beberapa belum pernah dipublikasikan).

“Tidak bisakah umat manusia belajar untuk hidup dari sesuatu yang mereka perlukan untuk sekedar bertahan hidup?” (h. 209, Guru para Hominid)

Akhirnya, setelah sekian purna, saya kembali dengan semangat membaca yang sudah taklagi saya rasakan di tahun sebelumnya. Semoga tahun ini, geliat baca buku saya terus bertumbuh dan bertahan. Yang terpenting saya bisa menikmati ‘keutuhan membaca’ (seperti yang saya beri tanda di awal catatan ini) di tengah hidup yang tak pernah ada yang ‘utuh’, padahal keutuhan; yakni menghayati, mengalami, atau menikmati secara utuh adalah bentuk dari suatu kepuasan spiritual kita. (h. 218, Kalau Tak Utuh)

Selamat menikmati! :)
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,110 reviews19 followers
December 14, 2022
Sebelumnya, saya sudah membaca 'Affair' yang bisa dibilang berisi kritikan Seno terhadap gaya hidup orang-orang di Jakarta atau yang berkaitan dengan kota tersebut. Namun, di buku ini, ia lebih menonjolkan tentang arti tanda dan makna tentang hal-hal yang berhubungan dengan Jakarta. Sebagai manusia yang bekerja di Jakarta, esai-esai di sini membuat saya "nyambung" dan jadi ikut berpikir tentang makna yang ada di sana.
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews6 followers
December 25, 2012
65 catatan apik soal Homo Jakartensis yang mencoba bertahan hidup ditengah kemelut kosmopolitanisme Jakarta. Riuh rendah hegemoni wacana hingga realitas tersamarkan seperti kentut yang tak berbentuk namun terasa wujudnya.

Lewat tulisan-tulisan khasnya, SGA menelaah segenap persoalan Homo Jakartensis baik dalam pergulatan antar wacana, hegemoni kelas, hingga perlawanan kelas terpinggirkan. Semua disajikan dalam bahasa filsafat yang populis. Walau mungkin saja beberapa dari kita masih mengernyitkan kening untuk memahami konteks-konteks pemikiran SGA.

SGA membongkar Jakarta lebih dalam dari sudut pandangnya. Kaya akan pengalaman sebagai wartawan dan tukang potret menambah semarak khazanah pengetahuan kita tentang Jakarta. Bahkan sangat dimungkinkan, Kentut Kosmopolitan turut merekonstruksi imaji kita tentang Jakarta. Dekonstruksi semacam itu bisa diterima karena berangkat dari satu realitas objektif tentang Jakarta.

So, siapa suruh datang Jakarta?
Profile Image for Steven S.
718 reviews66 followers
February 2, 2022
Kumpulan esai terbaru SGA ini akhirnya kukelarkan di awal tahun 2022.

Bila tidak dikebut, entah kapan selesainya, karena bacanya ku irit-irit.

Di awal hingga sepertiga terakhir sangat seru untuk membaca esai penulis. Meski di beberapa bagian (hanya 1-2 lah) ketika SGA membahas simbol dan uraian yang njlimet, akan saya baca lewat saja.
Diterbitkan 2020, tapi dihabiskan di 2022. Hitung-hitung lama juga ya.

Tak perlu ragu untuk meminang buku ini karena selain esai-esai di masa lampau, terdapat beberapa tambahan esai paling akhir milik penulis.

Tulisan paling keingat dari semuanya adalah "Ekonomi Sambal Terasi" (Obrolan Sukab)

Direkomendasikan untuk penikmat buku SGA, pembaca esai, hingga pembaca umum yang pengin membaca obrolan urban yang ditulis "Crispy" oleh SGA.
Profile Image for Bimana Novantara.
288 reviews29 followers
October 6, 2021
Baca buku ini sambil membayangkan penulisnya membacakan tulisannya ini dengan gaya ngomongnya yang agak slengean tapi dengan logat Jawa yang kental itu. Kenikmatan menyimak amatan dan komentarnya atas berbagai fenomena di Jakarta yang disokong teori-teori cultural studies jadi lebih maksimal.
Profile Image for Nanas Firmansyah.
74 reviews11 followers
March 20, 2021
ini mirip dengan buku-buku sebelumnya. sebagai sekuel dari Affair, saya rasa kentut kosmopolitan lebih segar 'sedikit' daripada yang Affair.
Profile Image for Dannyart.
90 reviews3 followers
April 29, 2022
Salah satu penulis dengan gaya penulisan yang saya kagumi. Kemasannya berat tapi kalau paham intinya sebenarnya sederhana. Topiknya sederhana. Perihal ringan di sekitar Jakarta. Terlebih saya tinggal di Jakarta jadi mungkin lebih relate lagi.

"Situs perjuangan ideologis" "wacana kelas dominan" "pembermaknaan" "hegemoni" "Homo Jakartanesis", sequel Affair ini penuh dengan karakteristik SGA dengan kata-kata di atas misalnya. Diksi SGA memang kaya sekali, sangat terlihat dalam esai-esai di Kentut Kosmopolitan ini. Distingtif dan sarat.

Meskipun kadang pusing bacanya, paling hanya 2-3 esai yang saya skimming karena kurang nyambung dengan bahasannya. Tapi puluhan esai lainnya selalu menarik dan mengajak otak berpikir.
Profile Image for Wahyudha.
456 reviews1 follower
February 16, 2024
Ini lebih baik dari tiada ojek di paris.
Kolom pemikiran SGA lebih banyak related dan universal meskipun subjek pada buku ini orang-orang Jakarta.

SGA ini mahir memperhatikan, mencerna perhatian, bergumul dengannya dan jadilah komentarnya. Ia kayak tak bisa diam saat bersinggungan dengan dunianya.

Perihal kingkong dikandangin saja bisa jadi topik manusia tahu segala yang beradab tapi malah banyak melakukan perbuatan biadab. (Bagian favorit saya,btw). Lagi di MrT yang ramai, melintas di tol, sampai lagi jongkok aja kayaknya bakal jadi sebuah tulisaaaan.
Profile Image for Bukanrastaman.
31 reviews1 follower
June 1, 2025
Membaca buku ini di tahun 2025, walau ada kisah usang tapi sebenernya menarik disimak. Satu buku berisi kumpulan cerita
Profile Image for Ali.
Author 10 books10 followers
June 30, 2013
Dilahap selang-seling, buku ini bikin senyum-senyum simpul. Maklum, 65 esai di buku ini seperti mewakili diri sendiri sebagai kaum urban di Jakarta.

Kentut Kosmopolitan sendiri adalah salah satu esai yang akhirnya dijadikan judul buku ini. SGA memaparkan bahwa kentut adalah kebebasan berekspresi, selama tidak dilakukan dalam ritus yang bersifat sakral, kentut sewajarnya bukanlah sebuah aib. Biarkan saja pejabat yang lagi pidato kentut, penyanyi yang sedang ikutan kontes biarkan saja kentut, atau tamu-tamu Istana Negara juga dipersilahkan untuk kentut.

Kentut mungkin melanggar kesopanan, tapi dia juga sesungguhnya tidak dianjurkan untuk ditahan-tahan jika ingin kita tetap sehat. Menahan kentut hakikatnya melawan hukum alam. Lucu juga jika konflik kesopanan dan kesehatan akhirnya harus diatasi dengan kebohongan ala dagang sapi.

Maka tak heran, tokoh sekaliber Semar Badranaya menjadikan kentut sebagai senjata andalan untuk melawan musuhnya. Konon, kentut adalah simbolisasi kejujuran dan kepolosan. Bukankah kita lahir pun dalam keadaan polos dan tak tahu apa-apa?

Selain Kentut Kosmopolitan, salah satu esai yang lumayan menohok adalah 'Menjadi Tua di Jakarta'. Disini SGA mengajukan pertanyaan yang bikin saya sedikit bengong, "Siapkah Anda menjadi tua di kota seperti Jakarta?"
Profile Image for Annisa Pratyasto.
46 reviews8 followers
June 30, 2015
Homo Jakartensis, demikian SGA menyebut warga Jakarta, memang penuh dengan segala perilaku yang unik, yang mungkin tidak dapat ditemui di kota-kota lain Indonesia. SGA di beberapa kolomnya pun menyorot perilaku homo jakartensis yang mabuk akan kerja, prinsip mereka berlalu lintas, sistem media, cara berbusana dan bahkan cara mereka (kami) mencari kesenangan.
Yang paling menampar saya dari kumpulan kolom ini mungkin kolom "Meditasi Gambir", karena (mungkin) saya pernah di posisi yang diceritakan SGA, memupuk impian indah untuk berkarir sukses di ibukota dibalik gerbong kereta, saat senja sehabis pulang melamar kerja. Saat itu, Jakarta memang nampak indah, sungguh. HAHAHA.

Jakarta oh Jakarta!
Kota yang diciptakan dengan seribu macam tafsir ini, memang kota yang paling asyik untuk diobrolin *)!

*) kalau memang tak percaya, lihat saja berita nasional (mayoritas isinya berita di Jakarta, kan?)
Profile Image for Fibrina  Damayanthi.
121 reviews2 followers
October 11, 2008
Sebenernya ini sama aja kayak buku SGA yang Obrolan Tentang Jakarta. Essay gitu deh modelnya, tapi yang ini ulasannya lebih banyak. Tapi gue lebih senang yang Obrolan Tentang Jakarta lho, lebih lucu. Yang ini lebih serius
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
June 13, 2012
Lebih berat ketimbang yang affair. Seno banyak membahas tentang tanda dan pembebanan makna dari banyak hal disini. Jadinya aku ya banyak ndak mudengnya. Tapi tetap saja isinya menohok ^_^
Profile Image for heri.
296 reviews
September 2, 2013
tulisan-tulisan SGA berisi tentang kondisi-kondisi sosial terutama yang terjadi pada masyarakat jakarta. cukup bagus, meskipun ada beberapa yang membuat kening berkerut. keren.
3 reviews1 follower
January 18, 2009
esei-esei yang posmo. seru. menyenangkan. padat. kritis. i love sga.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews