Saya harus mengetik, harus bertahan dan hidup. Menulis adalah pekerjaan saya. Karena itu saya mencoba menulis menggunakan gajet, meskipun hanya dengan satu jari. Tangan kiri memegang gajet, jempol tangan kanan mengetik.
Rusdi Mathari menekuni profesi jurnalistik sejak 1990-an. Ia telah melanglang karier sebagai wartawan di Suara Pembaruan, lalu bekerja di InfoBank, detikcom, Pusat Data dan Analisa Tempo, dan Trust. Pada 1999, dia terpilih sebagai salah satu wartawan investigatif terbaik versi ISAI dan dikirim ke Bangkok untuk mengikuti crashprogram penulisan jurnalistik tentang HAM.
Saat ini, ia masih aktif menulis di beberapa media. Termasuk menulis catatan dan pengalamannya yang dimuat blog pribadinya maupun status-status di dinding Facebook-nya. Di blognya, kita akan menemukan banyak tulisan-tulisannya yang serius. Sedangkan di Facebook, kita menemukan tulisan-tulisan yang sederhana seputar keseharian, pada sosok yang dijumpai, imajinasi pada tempat-tempat yang jauh, juga corat-coret pendeknya atas satu isu yang menurutnya gatal untuk menuliskannya. Gaya menulis yang mudah dipahami dan sudut pandang yang menarik adalah ciri khas tulisan-tulisan nonfiksi Cak Rusdi.
(3.5) Sampai sekarang, ada dua tempat yang sangat saya hindari dalam hidup saya, yaitu rumah sakit dan pengadilan. Berurusan dengan aparat penegak hukum bagi saya sama buruknya dengan petugas medis. Jika bisa dihindari, lebih baik menghindar. "Seperti Roda Berputar" karya Rusdi Mathari ini bagi saya merupakan sebuah mimpi buruk, manifestasi dari kekhawatiran-kekhawatiran saya ketika berurusan dengan petugas medis. Kesulitan biaya, menanggung penyakit berat, dan harus bergantung pada BPJS tentu merupakan hal yang tidak ingin kita hadapi. Dengan kondisi semacam itu, Cak Rusdi menceritakan kisahnya saat di rumah sakit dengan detail tapi tetap humanis. Saya seolah bisa merasakan betul bagaimana kondisi rumah sakit yang kacau dan penuh dengan penderitaan. Sayang, Cak Rusdi sudah pergi sebelum menyelesaikan karya-karyanya yang lain. Meskipun begitu "Seperti Roda Berputar" tetaplah sebuah memoar singkat yang membekas, karena "kematian hanya bisa direnungkan oleh mereka yang masih hidup".
Berisi kumpulan cerita pribadi Cak Rusdi selama ia di rumah sakit yang penuh resah sebelum ia berpulang. Ia cerita tentang pengalamannya mengurusi birokrasi rumah sakit dengan BPJS, seorang teman yang membantunya berobat dan operasi, juga tentang seorang perempuan metal yang penuh semangat untuk sembuh dari penyakitnya.
A quick read. Sebuah saran: baca buku ini pada pagi hari sebelum beraktivitas. Luangkan maksimal satu jam waktu untuk melakukannya.
Cak Rusdi begitu hebat, decak saya dalam hati. Di tengah rasa sakitnya, di dalam lemah tubuhnya, ia masih berusaha untuk menulis, walaupun dengan satu ibu jari saja. Ia begitu sederhana menggambarkan imaji rumah sakit di mata seorang pasien; seorang yang sakit yang tak berdaya walaupun ingin.
Di tengah bab berjudul "Bye Bye, ICU, Bye...", saya berhenti dan menangis cukup kencang. Sesak sekali rasanya. Buku ini menyesakkan saya. Cak Rusdi bisa menuliskan betapa ngerinya berada di ruangan ICU dimana silih berganti pasien kritis datang, dan pergi tak kembali. Saya teringat hari-hari menemani Papa di ruang ICU, ruang terakhir untuknya bernapas. Sama seperti Cak Rusdi, Papa juga punya tumor, tapi letaknya di esofagus. Kata suster di ruang ICU, dia kehilangan kesadaran, tapi belum koma. Saya awam dengan istilah kedokteran, tetapi saya terus bertanya, bahkan sampai sekarang, apakah Papa merasakan sesuatu selama berbaring hampir 3 hari di sana? Apakah ia mendengar bagaimana pasien di sebelahnya dikejut jantung? Apakah ia mendengar saya bercerita? Apakah ia merasakan takut?
Saya tidak tahu. Sebab seperti kata Puthut EA dalam epilog buku ini, kematian hanya bisa direnungkan oleh mereka yang masih hidup. Saya pun hanya bisa menafsir kemungkinan-kemungkinan atas kepergian Papa. Namun, saya meyakini bahwa kini ia tak lagi merasakan sakit. Keyakinan itu yang juga saya miliki untuk Cak Rusdi.
Secara konsep, ini ya memang catatan harian. Memang tidak sengaja disusun menjadi kumpulan esai. Praktisnya, buku ini disusun agar orang-orang bisa mengenang alm. Cak Rusdi. Aku memang termasuk terlambat menyelami karyanya, tapi aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengenang.
Seperti judulnya, ini adalah tulisan-tulisan almarhum selama dirawat di rumah sakit, ditambah dengan cuplikan chat WhatsApp dari mbak Prima Sulistya. Aku bisa merasakan cinta kasih dari orang-orang sekitar almarhum, terbukti dari epilog pak Puthut EA dan isi chat mbak Prima. Isi tulisannya sendiri lebih menceritakan tentang pengalaman ketika ia berobat ke poliklinik, rawat inap, dokter dan perawat, serta rekan satu ruang perawatan yang berkesan baginya.
Satu hal yang menarik adalah bagaimana almarhum tetap bisa konsisten mengetik tulisan lewat gawai, bahkan sampai menceritakan secara lisan meski tengah digerayangi sakit. Cerita dari mulutnya ini kemudian dituliskan oleh rekannya karena semakin terbatasnya ruang gerak tangan almarhum Rusdi.
Kalau kalian mencari buku ini untuk bacaan, mungkin kesannya akan biasa saja. Lain cerita jika hendak menjadikannya bagian dari kenangan. Sebab itu buku ini hanya kuberikan nilai 3/5 meski sebenarnya aku menggolongkannya menjadi buku yang layak kukoleksi. Tentu harus ada aspek objektif yang kuutarakan, bukan hanya subjektif alias berdasarkan suka tidak suka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020
3,5 dari 5 bintang!
Buku ini buku terakhir dari total tiga buku karya Cak Rusdi yang saya beli sebelumnya dan telah diceritakan di review buku Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis
Kalau dua buku sebelumnya lebih ke religi dan fiksi buku yang ini adalah baru saya ketahui adalah karya terakhir yang ditulis oleh Cak Rusdi sebelum beliau berpulang di bulan Maret 2018. Buku ini menceritakan perjuangan Cak Rusdi di rumah sakit dan tetap mencoba menulis meskipun beratnya sakit di punggungnya.. (Bayangin lima ruas patah) :'( Hal yang paling membuat saya mengelus dada membaca bagaimana sistem BPJS di negara kita. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana pasien-pasien yang menunggu lama untuk mengantri dan juga membutuhkan jadwal operasi yang panjang antriannya.
Selain itu Cak Rusdi juga mengulas tentang salah satu pasien perempuan di kamarnya yang berusaha untuk pulih setelah pasca operasi. Buku ini membuat kita mengetahui sisi lain dari Rumah Sakit yang kita anggap horor karena berbau disinfektan dan obat-obatan.
Sedih banget mana disertain percakapan chat Cak Rusdi sama editornya disini juga :'(
Sakit. Siapa sih yang mau sakit ? Apalagi harus di rawat di Rumah Sakit, berhari-hari, berbulan-bulan, lama. Bahkan bila rumah sakit itu bagus, makanannya enak, pelayanannya ramah, Siapa sih yang mau sakit ? Saya rasa tidak ada.
"Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan dan mahal." -Rusdi Mathari
Demikian halnya dengan Cak Rusdi, di ujung usianya ia harus menerima bahwa ia mengidap penyakit parah. Beliau harus melalui berbagai proses penyembuhan, mulai dari alternatif, operasi, perawatan, biopsi, dll. Berbagai pengalaman beliau alami, dari ruwetnya pelayanan BPJS sampai banyaknya uluran tangan yang membantu beliau dalam kondisinya saat itu.
Tentang banyaknya uluran tangan yang di dapatnya, sebut saja itu daya dukung sosial. Aku memang tidak mengenal Cak Rusdi, hanya mengetahui lewat buku-buku karyanya. Tapi, melihat besarnya dukungan sosial yang beliau dapat, sepertinya banyak juga kesan baik yang beliau pernah lakukan kepada sesamanya. Banyak yang membantu beliau, membuatku bertanya pada diri, Seandainya ada pada posisi seperti itu, seberapa besar daya dukung sosial yang ku dapat ? Perbuatanku yang mana yang mendorong hal itu ? Merenung lagi.
Beberapa bulan lalu, kehidupan rasanya berlalu secepat kilat. Hamil, keguguran, pendarahan, dilarikan ke IGD dan sesaat kemudian dinyatakan darurat dan harus dioperasi malam itu juga. Saya merasa tidak berdaya ketika @muhammad_kk19 menyetujui tanpa berdiskusi, tapi saya yakin ia memilih keputusan yang terbaik dari yg paling baik.
Segala yang kita anggab baik-baik saja, mungkin sedang tidak baik-baik saja. Seperti tubuh yg terlihat sehat-sehat saja namun suatu waktu menunjukkan gejolak rasa sakit yg selama ini tidak pernah kita duga.
Buku yang mengisahkan tentang Cak Rusdi ini, tak pelak mengundang haru dan air mata. Saya tersenyum ketika membayangkan betapa kuat dan semangat seorang Rusdi Mathari.
Ia menulis dan terus menulis, karena itulah pekerjaannya. “Saya harus mengetik, harus bertahan dan hidup. Menulis adalah pekerjaan saya. Karena itu saya menulis menggunakan gajer, meskipun gNya dengan satu jari. Tangan kiri memegang gajet, jempot tangan kanan mengetik.” (Hal. 59)
Tak sedikit orang yg turut prihatin serta membantu keadaan Cak Rusdi di rawat di Rumah Sakit. Itu mengingatkan saya dengan pepatah “Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik.” Jika semasa hidup, semasa sehat kita berbuat baik dan gemar menolong orang lain, perlakuan itulah yg akan orang terapkan ketika kita dirundung kesulitan.
Saat mengetahui dirinya menderita tumor yang parah, Cak Rusdi telah berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk melakukan pengobatan. Kisahnya ia tuliskan dalam buku ini. Ia juga menceritakan bagaimana proses administrasi pasien BPJS yang yah sama-sama diketahui umumlah, bahwa mesti punya stok sabar melimpah dengan antrian yang tidak sedikit. Juga sepintas cerita tentang perawat, residen serta kisah2 para pasien yang berada dalam ruang perawatan kelas 2 BPJS.
Ada satu yang bikin penasaran, kenapa dokter bisa se frontal itu kepada pasien dan bertanya "Elu pengen mati?"
"Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal."
Buku pertama Cak Rusdi yang saya baca. Tp justru menceritakan kisah akhir perjuangan beliau yg sungguh mengharukan. Sepanjang buku saya menangis karena kisah Cak Rusdi yang penuh dengan perjuangan melawan penyakitnya, tetap menulis walau sedang sakit. Banyak pelajaran yang saya petik dari buku ini. Terutama nikmat kesehatan dan sudah seharusnya kita bersyukur atas apa apa yang kita rasakan sekarang. Selain ini buku ini jg mengajarkan saya bahwa menulis dan berkarya tidak mengenal situasi, selama tangan masih bisa mengetik dan pikiran masih sanggup merangkai kata dan berbagi pengalaman, maka tetaplah berkarya.
Buku yang ringkas tapi sarat dengan pengajaran. Membuat aku merenung dan mengingat kembali apa yang telah aku lakukan seumur hidupku. Apakah aku sudah cukup mensyukuri nikmat yang diberi pinjaman dari Yang Maha Kuasa? Apakah amalan ku telah cukup untuk aku bawa menghadapi Yang Maha Esa? Apakah peribadi ku disenangi rakan dan seteru sehingga mereka sanggup menyantuniku saat ku susah? Terima kasih Cak buat tulisan ini. Mengingatkan aku kembali akan ‘5 Perkara Sebelum 5 Perkara’.
1. Muda sebelum tua. 2. Kaya sebelum miskin. 3. Lapang sebelum sempit. 4. Sihat sebelum sakit. 5. Hidup sebelum mati.
Alfatihah Rusdi Mathari. Semoga ditempatkan dikalangan orang yang beriman.
Buku Cak Rusdi yang pertama saya baca, ternyata ini adalah buku terakhir beliau, walaupun ringkas, buku ini sangat terasa, bahkan saya hampir merasakan punggung dan leher beliau yang sakit dan seluruh kisahnya.
Pelajaran hidup manusia, kelahiran, petang kelam hujan badai, sampai akhir perjalanan hidup manusia.
Sampai di akhir hayat, beliau masih menyempatkan diri untuk menulis.
Salah satu quotes beliau yang paling ngena dan terngiang,
"Tapi, hidup manusia memang harus berakhir, demikian pula hidup saya. Tidakkah selain kelahiran, salah satu perayaan terbesar manusia adalah kematian?" - Cak Rusdi
"KEMATIAN hanya bisa direnungkan oleh mereka yang masih hidup" - Puthut EA
membaca buku ini menjadi satu refleksi sendiri bagi saya. sakit bisa jadi hal yang sangat personal maupun komunal. daya bertahan seperti apa yang harus kita bangun agar bisa bertahan seberapa lamapun dibutuhkan? apa pemantik yang bisa kita sisipkan untuk terus membakar api semangat untuk bertahan? apakah motivasi dari dalam cukup untuk bertahan? ataukah daya dukung pun memainkan peran yang sama besarnya dalam hal ini? memaknai salah satu paragraf yang dituliskan puthut ea pada bagian epilog, aku selalu kagum pada orang-orang yang diberkati kehidupan sosial yang berkelimpahan. hal baik apa yang dia kerjakan selama hidupnya hingga punya dukungan tak terhingga?
sebuah catatan rusdi mathari tentang betapa mahal dan kesepiannya menjadi sakit. apakah dana kita siap? asuransi kesehatan ada? kalau pun ada, sistem belum tentu memudahkan kita. bagaimana dengan support system yang kita miliki? sedikit banyak merenung tentang hal-hal itu ketika membaca buku ini. kalo bisa, ga ingin sakit. tapi namanya hidup, tidak mungkin tidak mengalami sakit. dan seperti kata rusdi, bahwa kematian adalah perayaan terbesar manusia setelah kelahiran. kita merasakan hidup, dan tidak akan keluar hidup-hidup dari dunia ini.
sebuah bacaan yang ringan. Cak Rusdi menceritakan kisahnya selama di rumah sakit. cerita kayak membawa kembali kebacaan "when breath become air". kisah dibuku ini menceritakan bagaimana cak rusdi sakit, pengurusan rumah sakit yang cukup berbelit karena cak rusdi pada saat itu menggunakan BPJS, teman yang menolongnya, dan juga pasien-pasien yang ada dirumah sakit.
"Bayangkanlah pd suatu ketika otot-otot ditubuhmu lenyap seperti ditiup angin. Bayangkanlah pada suatu ketika dirimu kehilangan daya hanya untuk memegang kapas" 😭
Allahu, sgt terkesan dgn karya Almarhum yg terakhir ini. Al-Fatihah buat Almarhum.
Kisah yang sangat menyentuh, mengenai akhir perjalanan kehidupan Cak Rusdi yg begitu cinta dengan membagikan ilmu lewat tulisan. Begitu sedih dikarenakan dapat mengetahui penulis hebat Indonesia melalui karya terakhirnya.
"Tidakkah selain kelahiran, salah satu perayaan terbesar manusia adalah kematian?" Untuk semua catatan di rumah sakit, terima kasih meski harus dilewati dengan susah payah, Cak Rusdi.
Cak Rusdi. Begitulah ia dipanggil. Saya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya di Mojok.co pada masa-masa awal situs itu berdiri, sekitar akhir 2014—ketika Mojok masih menerbitkan satu opini per harinya.
Bagi yang hanya mengenalnya lewat tulisan, kesan pertama yang muncul adalah bahwa ia seorang pencerita ulung. Tulisannya segar, mengalir, kritis, namun acap kali bisa pula jenaka. Kumpulan tulisannya dalam buku inilah salah satu buktinya.
Bayangkan saja, jika kita tak tahu bahwa ia menulis dari ranjang rumah sakit, mungkin kita akan mengira bahwa tulisan-tulisan ini lahir dalam kondisi yang lazim bagi seorang penulis—duduk di depan laptop, ditemani secangkir-dua cangkir kopi, dengan bara rokok yang nyaris tak pernah padam. Kenyataannya, situasinya justru bertolak belakang. Seperti yang ia ungkapkan sendiri dalam bukunya: “Menulis adalah pekerjaan saya. Karena itu saya mencoba menulis menggunakan gajet, meskipun hanya dengan satu jari. Tangan kiri memegang gajet, jempol tangan kanan mengetik."
Ya, Cak Rusdi adalah seorang pasien kanker tumor di punggung dan leher yang menghabiskan hampir satu tahun dirawat di rumah sakit, dan kemudian wafat tidak lama setelah itu. Jangan bayangkan ia bisa duduk dengan nyaman saat menulis buku ini. Faktanya, ia hanya bisa berbaring. Bahkan dua tulisan terakhir dalam buku ini bukan lagi ia ketik sendiri, melainkan ia ceritakan kepada Thohorin, penjaganya di ruang ICU, untuk kemudian ditulis.
Inilah yang membuat buku ini begitu kuat, layaknya sebuah kenang-kenangan dari orang yang akan pergi dengan tenang. Ini bukan kumpulan kisah yang berusaha memeras air mata atau meminta belas iba pembaca. Justru, di setiap lembarnya, Cak Rusdi hendak mengingatkan bahwa hidup adalah bara yang harus terus dijaga. Hingga saat ajal tiba, barulah ia boleh padam. Seperti yang ia pesankan di awal buku ini: "Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal."
Cukup sepanjang jarak Kebon Jeruk - Kampung Melayu untuk menyelesaikan buku kecil ini. Buku kecil yang semakin membuat sadar kalau kesehatan itu mahal. Salut kepada Cak Rusdi yang masih tetap menulis walau sedang sakit, menggunakan ponsel dan rutin mengirim tulisannya
Buku kecil ini membawa perasaan yang berbeda dari buku lain. Bagaimana tidak, Cak Rusdi seperti menceritakan sendiri detik-detik kematiannya. Di tengah hidupnya yang tak berdaya, Cak Rusdi masih menyempatkan untuk menulis. Ia tidak bisa tidak menulis. Ketika tak bisa menulis di depan laptop dengan duduk, ia mengetik dengan ponsel. Ketika jari-jarinya sudah tidak mampu digerakkan secara layak, ia hanya menggunakan jempolnya. Bahkan ketika ia benar-benar tak sanggup, ia minta ceritanya dituliskan orang lain.
“Saya harus mengetik, harus bertahan dan hidup.”
ulasan lebih panjang dan buku lainnya bisa dilihat di blog saya: lsmnbooks.wordpress.com
Membaca kisah nyata sepanjang 78 halaman membuat saya tidak berhenti merinding. Jantung berdegup kencang. Saya paling benci ketika harus berlama-lama di rumah sakit. Ada sesuatu hal (yang bisa saya sebut buruk) terjadi di situ. Jika Cak Rusdi menuliskan bahwa kematian hanya bisa direnungkan oleh orang-orang yang hidup, bisa jadi alasan terbesar saya membenci rumah sakit tidak lain karena saya menolak merenungkan kematian. Kematian siapa saja. Kematian saya, teman, bahkan orang tua.
Buku Rusdi Mathari yang pertama kali saya baca. Isinya kesedihan karena ditulis Cak Rusdi saat sedang sakit. Dari buku ini juga belajar lebih peka. Semoga saya tidak akan menjadi dokter yang bertanya "anda mau mati?" ke pasien sendiri.