Buku ini menghadirkan cerita-cerita menarik tentang Ibu Ainun Habibie yang jarang kita temui. Secara hangat, buku ini mengajak pembaca untuk meminta lagi kenangan-kenangan mengenai segala hal tentang Ibu Ainun lewat foto, komentar para tokoh, dan juga catatan-catatan terpilih dari orang-orang yang mengenal Ibu Ainun. Sebab, kami sadar bahwa ilham cinta dan juga keteladanan sebagai perempuan seutuhnya yang diwariskan oleh Ibu Ainun seharusnya terus menjadi inspirasi yang akan menguatkan cinta dan mengharmoniskan hubungan seluruh keluarga di Indonesia.
Sederhana dan begitu menginspirasi. Beliau seorang pahlawan di balik layar yang rela berkorban demi apa pun, termasuk keluarganya. Dalam satu keluarga tidak boleh ada dua nakhoda, ujarnya. Yang paling berkesan, tidak akan lenyap dari benak saya kalimat beliau yang dikutip dari halaman 39, “Buat apa tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi?”
Semoga buku ini bisa jadi bukti, bahwa perempuan Indonesia tidak kekurangan representasi perempuan hebat ditengah derasnya arus konten media sosial saat ini —yang kadang membuat kita sebagai perempuan Indonesia kebingungan untuk mencari contoh dalam proses penemuan jati diri.
Buku ini isinya ringkas, dan bisa dibaca sekali duduk. Isinya juga terdiri dari foto-foto Ibu Ainun dan Pak Habibie (semoga Allah merahmati keduanya selalu) yang kebanyakan posenya adalah Pak Habibie merangkul Ibu Ainun dalam suasana acara apapun. Lalu kutipan-kutipan kesan dari orang-orang yang dulunya dekat dengan keduanya.
Maka dari buku yang ringkas ini, aku ingin membuat catatan yang semoga bisa membawa banyak ingatan baik untuk hari-hari setelah ini. Ibu Hasri Ainun Besari dulunya seorang mahasiswa terbaik fakultas kedokteran UI, setelah menikah, memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang mana segala ilmu, waktu, tenaga, dan kasih sayangnya beliau dedikasikan untuk keluarga. Beliau bangga menjadi sosok di balik layar dalam kiprah suaminya. Dan Pak Habibie pun bangga tiap kali bercerita bahwa dibalik kesuksesannya, ada Ibu Ainun yang selalu jadi penopangnya.
Ibu Ainun memilih untuk tidak ikut campur pada urusan pekerjaan suaminya, di beberapa persoalan beliau hanya memberi nasihat dan masukan tanpa ikut campur tangan lebih jauh, karena keputusan akhir banyaknya selalu ada pada Pak Habibie sendiri.
Disamping kontribusi aktif beliau di organisasi-oganisasi kemanusiaan, memastikan rumah nyaman untuk bekerja dan berkumpul dengan keluarga, mendidik anak-anak, menyiapkan makanan yang sehat adalah prioritas beliau setelah menikah. Beliau selalu berusaha sabar dalam menemani masa-masa sulit Pak Habibie semasa hidup di Jerman atau semasa menjadi presiden RI.
Cerita tentang Pak Habibie dan Bu Ainun selalu khas dengan romantisme yang berkelas. [Tetapi apa yang melandasi pernikahan mereka yang begitu 'menyatu'? Tidak lain kerena keinginan untuk berbagai dengan tulus. Itulah yang pernah dikatakan Ainun (kepada Pak Habibie), "the big you and the small i" memberikan gambaran antara ia dan suaminya bahwa suamilah yang diutamakan dan ia hanya di belakang layar.](Hlm. 46) Tidak boleh ada dua nahkoda dalam satu kapal, kata Bu Ainun.
Karir dokternya beliau tukar dengan menjadi partner hidupnya orang hebat yang menghargai dedikasinya dengan sepenuh hati, pertukaran sepadan yang sama-sama istimewa. Semoga Allah menempatkan Bu Ainun dan Pak Habibie di tempat terbaik di akhirat sana. Amiiin.