Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hope

Rate this book
Apa pun akan Anna lakukan demi Bintang, mantan tunangannya yang sekarat. Bahkan meski dia harus berhadapan dengan Herr Gregoire yang galak dan arogan, satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Bintang. Anna berhenti dari pekerjaan, menguras tabungan, dan jauh-jauh datang ke Austria bukan untuk gagal.

Perjalanannya berawal dan berakhir di Luftschloss Hostel, yang berarti istana di atas awan. Nama yang ironis, karena penginapan klasik yang cantik itu kini sudah bobrok dan tidak terawat. Sama kontradiktifnya dengan kemungkinan akhir yang akan dia dapatkan dari perjalanannya ke Vienna: keindahan romansa atau malah harapan yang muluk dan mustahil terwujud.

Berhasilkah perjuangan Anna demi mendapatkan kembali Bintang-nya?

204 pages, Paperback

First published January 1, 2020

3 people are currently reading
53 people want to read

About the author

Prisca Primasari

37 books678 followers
English Literature graduate. A sleeping witch who loves pastel goth, sugar, spice, and everything nice.

Her hobbies are writing, traveling, reading all kinda literary works, watching movies and anime, and listening to music.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (18%)
4 stars
43 (53%)
3 stars
22 (27%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 33 reviews
Profile Image for Autmn Reader.
889 reviews93 followers
August 3, 2020
Actual rating 4,5 🌟

Kapan deh terakhir kali aku baca novel sehari bisa dua buku gini? Mungkin karena novel ini kebilang tipis juga sih. 197 halaman buat ceritanya aja. Seneng banget karena 2 novel yang kubaca ini dua-duanya seru.

Ceritanya masih khas Mbak Prisca yang sendu dan magical. Menyayat hati juga (bikin aku berkaca-kaca di beberapa bagian). Dari semua part di buku ini, yang paling kusuka itu parti pas Terry ngobrol sama Bintang pertama kali. Rasanya heartwarming banget. Deskripsi tempatnya juga kerasa lebih real dan kerasa aja dingin sama sendunya tone ceritanya. Semua tokoh di sini juga aku suka, rada gak suka sama Herr Gregoire.

Sayangnya ceritanya pacing-nya rada kecepetan di bagian akhir. Mungkin karena emang tipis juga, tapi rada kayak dipaksa buat selesai lebih cepat. Sebenernya aku juga suka endingnya walaupun pacing-nya kecepetan. Cuman kurang nendang aja rasanya. Maksudnya waktu 20 tahun itu cukup lama untuk bisa kembali seperti semula.

Jujur aja, aku rada emosi juga sama Herr Gregoire, awalnya, sih. Walaupun tetep rada kesel tapi ya gimana ya kan hatinya sakit banget kayaknya.

Dan yups, cerita Mbak Prisca emang gak pernah mengecewakan sih sejauh ini. Ehe.

Semangat terus, Mbak buat bikin cerita-cerita baru. 💜
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews242 followers
April 8, 2020
Sudah lama banget aku nggak baca tulisan Kak Prisca... sempat deg2an takut nggak cocok ternyata aku masih bisa mengikuti ceritanya ☺️ ceritanya termasuk ringan dan hangat gt buatku.... seperti waktu baca Priceless Moment ☺️ aku suka Bintang dan Anna 🥰 meskipun mereka pake saya-kamu tapi pas gitu seperti liat Rezza-Bunga di film Habibie & Ainun 🥰 bacanya pake instrumen piano biar lebih kena sama ceritanya dan settingnya ☺️
Profile Image for Lelita P..
633 reviews58 followers
February 2, 2020
Buku ini saya selesaikan dalam satu hari saja. Khas Mbak Prisca dengan elemen-elemen yang biasa ada dalam tulisannya, dan gayanya yang lembut, manis, mendayu-dayu, indah, fragile (?). Suka latar Austria-nya ... terasa riil (barangkali karena tempat-tempat di sini hasil firsthand experience). Saya nggak pernah kepikiran pengin pergi ke Austria, tapi setelah baca ini kok rasanya jadi pengin ke sana. xD

Tapi entah kenapa ... saya merasa ada sesuatu yang off dari novel ini--yang berbeda dengan novel-novel Mbak Prisca yang lain. Mungkin karena bukunya tipis dan menyebabkan alurnya ... somehow menjadi terlalu cepat? Entahlah ya. Saya agak kurang sreg aja gitu di bagian menjelang ending, karena penceritaannya jadi terasa "sepintas lalu" saja. Paham sih, bahwa sebenarnya itu bukan masalah yang besar-besar amat karena toh inti ceritanya sudah selesai ... tapi jadi kayak antiklimaks aja gitu buat saya. Selebihnya okelah--sebagaimana yang Mbak Prisca tulis sendiri di catatan perjalanan, novel ini masih berbicara seputar mimpi dan mengandung unsur magical realism, jadi ya wajar kalau karakter-karakternya akhirnya berhasil mencapai mimpinya masing-masing dengan ending yang indah.

Namun saya juga nggak terlalu simpati dengan karakter-karakternya--mungkin karena sudah terlalu hafal dengan formula karakter Mbak Prisca, jadinya so so aja dan tidak merasa Anna dkk istimewa atau terlalu memorable sebagaimana karakter-karakter Mbak Prisca di novel lain. Dan ... ini agak bias sebenarnya, tapi jujur saya cukup lelah dengan premis "abandoned child who forgives his estranged parents" di novel-novel Mbak Prisca. Bukan, bukannya saya merasa premis itu nggak realistis--cuma mungkin gegara hati saya keras, campuran pengalaman pribadi juga, jadi saya merasa agak meh gitu. (Kayaknya hal ini pernah saya bahas juga di review saya untuk Love Theft atau Lovely Heist.) Ngerti sih bahwa yang berusaha ditunjukkan di sini adalah bahwa those estranged parents punya alasan (indah/sendu/baik) kenapa mereka meninggalkan anaknya dan si anak mestinya mencoba melihat dari sudut pandang ortunya juga ... cuma ya ... jujur aja, kenyataannya tidak sesederhana itu. Makanya saya jadi susah banget menerima apa yang disajikan karena pernah berhadapan dengan kenyataan pahit sendiri. My bad, tentu saja--tidak ada yang salah sama sekali dengan novel yang berusaha menunjukkan betapa indahnya memaafkan, memberikan kesempatan kedua, dan memperbaiki hubungan yang rusak. Cuma ya ... jadi nggak beresonansi dengan saya pribadi.

Overall novel ini ringan dan manis. Untuk sebuah sicklit, menurut saya novel ini cerah sekali dan pengambilan sudut pandangnya yang berbeda (bukan langsung dari sudut pandang si sakit) memberikan sentuhan yang positif dan menyenangkan. Sebagaimana judulnya, novel ini memberikan kita hope yang sangat besar. Dan terlepas dari segala bias pribadi, novel ini tetap menghangatkan dan menginspirasi--serta tentunya, indah.
Profile Image for Stella_bee.
496 reviews18 followers
February 6, 2020
Sudah agak lama sejak saya terakhir membaca karya Prisca.. Seperti biasa novel ini sarat dengan elemen-elemen khas Prisca: klasik, gloomy, suram namun juga menghangatkan hati di saat yang bersamaan
Mungkin karena novel ini tipis jadi masih berasa kurang, kesan yang didapat setelah menyelesaikan halaman terakhir belum membekas... favoritku dari Prisca sejauh ini masih Purple Eyes, Paris:Aline dan French Pink :)
Profile Image for Yoyovochka.
313 reviews7 followers
Read
April 18, 2023
Sesungguhnya saya bingung mau kasih peringkat berapa karena saya suka, tetapi masih ada yang kurang di sini. Ide ceritanya Kak Prisca selalu bagus, selalu hangat. Tetapi bagi saya masih kurang panjang nih sehingga emosi para tokohnya kurang dikuras sampai habis. Meski begitu, buat saya pribadi cocoklah buku-buku dengan halaman yang panjangnya nggak sadis. Dan Kak Prisca dalam hal ini selalu pas, nggak kelewat panjang dan kelewat pendek. Cumaaaa ini pendek sekaliii. Kan pengin tahu gt misalnya gimana nasib Terry sama Gerda gt, atau sedikit bahas masa lalu Bintang dan Anna juga nggak apa-apa. Latarnya bagus, di Wina. Kayaknya penulis suka sama Wina dan saya sebaliknya, benci banget sama kota ini wkwkw untungnya yang diambil settingnya itu di Ottakring, bukan pusat kota yang bikin saya trauma ke sana :D

Profile Image for Ayu.
73 reviews4 followers
September 11, 2024
Review lengkap akan aku up di akun bookstagramku @booksfairy__
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
June 24, 2020
3.5🌟

"Aku tidak bisa membencinya karena aku hanya mengingat kenangan menyenangkan tentangnya. Sampai sekecil-kecilnya." - Hal. 100⁣

Berbeda dengan Kessa yang memulai patah hati dan menyembuhkan dengan travelling. Nah kalau Anna dia harus berjuang demi mantan tunangannya ini. Ya dia ingin membantu Bintang untuk bisa sembuh.⁣

Anna pun harus pergi ke Wina. Meski dia harus menguras tabungannya, demi orang yang disayang nggak masalah. Di Wina pun, awalnya terasa berat. Di mulai dengan hostel yang beda banget sama iklan di web-nya. Tapi di sini juga akhirnya dia bisa mendapat info.⁣

Dan perjuangan demi membuat Bintang sembuh ini nggak mudah juga. Orang yang harus Anna temui ini susah banget buat dijangkau, ya dia langsung memberi jarak dan dingin. Usaha Anna harus lebih giat lagi, di saat Anna lagi berusaha mencari cara. Kondisi Bintang dinyatakan drop. Untuk seseorang yang dicintai, perjuangan seberat apa pun bakalan dilakuin karena begitulah cinta.⁣

Aku suka gaya bercerita penulis yang menarik, apalagi setting tempatnya berada di Wina, Austria. Penggambaran settingnya detail dan bagus, aku bisa membayangkan tempat-tempat yang dijelajahi Anna. ⁣

Tema yang diangkatnya ini bertema sicklit, yang bercerita tentang mimpi, realisme magis, kehilangan, kesendirian, dan penantian yang begitu panjang. ⁣

Karakter tokohnya, aku suka sama Anna dan Bintang. Anna orang yang tangguh, mandiri dan berjuang demi orang yang dicintainya. Kalau Bintang, kasian juga sih jadi dia ini apalagi masa lalunya menyedihkan, untung saja dia kuat. Sempet dibuat kesel juga sih sama Herr Gregoire ini, tapi ya ternyata emang ada sesuatu dari sikapnya yang begitu. Karakternya menurutku konsisten dan porsi tokoh lainnya pas.⁣

Di sini diceritakan dengan memakai sudut pandang orang ketiga, penulis menceritakan perasaan tokohnya dengan baik. Meski peranan Bintang di sini cukup sedikit, tapi sedih aja denger cerita dia itu 😭.⁣

Gaya bahasa digunakannya baku, karena setting di luar tapi tetep enak buat diikuti kok. Bacanya itu mengalir aja, tahu-tahu udah mau beres.⁣

Alurnya maju mundur, isinya padat dan jelas menurutku. Meski di akhir aku merasa kayak terburu-buru gitu.⁣

Interaksi antartokohnya ini hangat dan seru, kusuka juga dialog-dialog yang bikin ngena ke hati. Meski emang agak kaku, tapi chemistry Bintang - Anna ini dapet feelnya. Gemes aja gitu.⁣

Dan untuk konfliknya emang lebih ke konflik keluarga Bintang ya. Anna membantu Bintang untuk bisa menyelesaikan masa lalu yang masih mengganjal. Juga untuk meyakinkan Bintang, nggak ada harapan yang sia-sia kalau kita berjuang. Ah ngena banget konfliknya ini, bikin sedih dan kasian 😭😭😭. Eksekusinya apik dan baik, endingnya sukaaa 🥰🥰🥰.⁣
Profile Image for Bila.
315 reviews22 followers
July 21, 2020
My least favorite diantara buku-buku kak Prisca yang lainnya.

Memang ada rasa hangat seperti biasanya, tapi kehangatannya paling ga berasa, mungkin karena, kalau kata review yang lain sih ini buku sick-lit, dan aku baru pertama kali membacanya ya jadi agak beda gitu.

Selain itu, buku ini konfliknya kerasa agak buru-buru - tau-tau selesai aja? Hmm? - dan kurang "challenging" sehingga feel-nya (lagi-lagi) kurang berasa. Kurang nendang.

Begitu pula tokoh-tokohnya, memang semua tokoh penting tidak menunjukkan kriteria sebagai tokoh yang tidak kusukai, tapi karena lagi-lagi masalah feel, dia jadinya agak, gimana ya, hambar.

Lantas, kenapa masih kuberi rate 3? Simpel: gaya tulisnya masih terasa seperti kembali ke zona kenyamananku. Dan penerjemahan bahasa asing yang berkembang (jika aku bandingkan dengan Paris:Aline) dimana kata yang agak dasar pun tetap diterjemahkan. Kan asik sekalian belajar, hahaha.

Catatan: ada typo yang agak ngeselin walau ga penting. Mau bayar 500 tapi kenapa ngasihnya 5 lembar duit 500?
Profile Image for Amaya.
755 reviews58 followers
April 10, 2023
Actual rating: 3,5

Kesannya apa ya, agak setengah-setengah, sih. Nggak begitu berkesan, tapi nggak buruk juga. Eh, berkesan kan artinya bisa buruk sama baik, ya. Yah, intinya, nggak ada satu hal yang ninggalin kesan setelah selesai baca ini.

Soal deskripsi tempatnya aku suka karena nggak rumit. Khas travel-love gitu. Cuman kalau ditelaah lagi ini emang kental unsur keluarganya, ya. Terus tambahan unsur sicklit juga bikin mood cerita tambah sendu. Nggak bayangin ada di posisi Herr Gregoire. Pasti tersiksa banget.

Terus aku setuju sih sama reviu salah satu orang, ending-nya terlalu cepat. Ini tipe cerita yang penyelesaian tambahannya ada di bab terakhir. Tapi bisa maklum sih mengingat kalimat terakhir ceritanya nggak sampai di angka 200.

Seingatku nggak ada typo, sih, tapi entah kalau mataku luput. A heart warming story.
Profile Image for Ra..
123 reviews14 followers
February 22, 2024
Khas Prisca Primasari, berlatar di luar negeri yang bikin aku sebagai pembaca juga merasakan berada di tempat tersebut (sekaligus beneran pengen kesana 🥹)

Cerita dibuka dengan kesan yang cukup misterius dan berasa horor dikit, jadi inget perasaan pas awal baca Paris: Aline. Tapi itu cuma ada di awal cerita doang.

Karena ini penulis yang bagiku sudah gak perlu diragukan lagi, ceritanya page turner dan (as always) ada sentuhan magis meskipun tidak ada unsur fantasi dalam cerita. Kayaknya ini juga termasuk khas Prisca Primasari deh 🥹🫶 Atau mungkin karena latarnya di luar negeri ini yang bagiku asing dan berasa tidak nyata karena belum pernah kesana 😂😭

Selain page turner, surprisingly ceritanya bagiku juga ada trope found family yang bikin cerita jadi heartwarming 🥹🤍

Mood: Mysterious, Emotional, Lighthearted
Profile Image for Ainu Athifah.
195 reviews
May 30, 2020
Sudah lama tidak membaca karya Kak Prisca dan setelah membaca ini, masih seperti khas Kak Prisca, setiap ceritanya memiliki kehangatan sendiri. Not as good as her other books, but it's still enjoyable.

3.5 untuk kali ini.
Profile Image for Kartika Nurfadhilah.
159 reviews21 followers
April 8, 2020
Thanks to the self quarantine during the pandemic, I able to finish this book in just one seating.

Cerita di awali oleh kedatangan Anna di sebuah hostel bernama Luftschloss yang terletak di daerah urban Austria. Kedatangan Anna dari Indonesia ke Austria bukanlah untuk berplesir atau menuntut ilmu, melainkan bertemu dengan mantan pianis Herr Gregoire. Gadis itu percaya hanya pria dengan wajah yang tampak angkuh dan tidak berperasaan tersebut merupakan jalannya untuk menyelamatkan mantan tunangannya, Bintang.

*

"Terkadang, Bintang tidak memahami orang-orang yang sengaja membaca cerita-cerita sedih atau menonton film sendu hanya agar bisa menangis. Apakah mereka begitu kekurangan peristiwa sedih dalam hidup mereka sehingga mencari-cari gantinya dalam bentuk fiksi? Atau sebaliknya--mereka sudah mengalami begitu banyak peristiwa sedih, dan ingin melihat orang lain mengalami hal yang sama."--halaman 143

Rasanya sudah lama tidak menyelesaikan buku fiksi hanya dalam sekali waktu baca--beneran. Atau bisa juga karena selama ini saya selalu membeli buku nonfiksi jadi tumpukan buku yang tersedia hanyalah buku nonfiksi. Selama ini saya menikmati fiksi melalui platform Wattpad dan cukup genre fanfiksinya Jungri. Lalu, saat berkunjung ke toko buku lokal saya melihat buku ini di barisan New Arrival dengan penulis yang familiar. Hampir semua bacaan penulis sudah saya baca jadi tidak heran kalau langsung membawanya ke kasir untuk dibayar.

Prisca Primasari dan Windry Ramadhina adalah dua penulis yang buku-bukunya tidak boleh saya lewatkan. Keduanya memiliki pemilihan genre penulisan yang sama hanya saja vibes penulisan yang berbeda, karena Prisca cenderung gloomy, dark, dan misterius--in a good way; seems like fairy tale stories kalau Windry lebih ke arah mysterius in realistis way.

Memang katanya cinta itu bisa membuatmu melakukan hal di luar batas perkiraanmu, seperti Anna yang rela menghabiskan tabungan dari pekerjaannya sebagai desainer kemudian pergi ke Negeri-Antah-Berantah untuk menyelamatkan Bintang.

Bagian awal buku--seperti biasa akan terasa lambat kemudian di pertengahan bab akan terasa cepat hingga akhirnya sudah sampai di bagian epilog. Alur yang digunakan adalah maju-mundur.
Topik yang selalu ditekankan Kak Prisca adalah kebaikan dan keikhalasan, terutama untuk mempercayai hal yang dinamai keajaiban.

Bagaimana caranya seseorang bisa bertahan ketika kegagalan dan perasaan dikhianati dan dibuang tidak tersisa sedikit pun? Hanya ada hati yang besar untuk menerimanya dan memaafkan.

" Terkadang satu-satunya jalan yang sanggup diambil orang yang terluka adalah pergi."--halaman 117.

Sekali lagi ,buku ini memang cocok untuk orang yang butuh penyegaran pikiran dari alur yang tidak terlalu kompleks--tapi tapi, buku ini sudah bisa membuat air mata menetes kok :"(

Profile Image for Lila Cyclist.
857 reviews71 followers
August 23, 2021
Sudah lama saya mengidamkan baca satu lagi karya dari Prisca Primasari, entah itu buku baru atau lama, pokoknya apa saja. Saya merindukan kehangatan yang biasa ada di novel-novelnya. Akhirnya keinginan saya terobati dengan adanya diskon di aplikasi Rakata. 10 ribu saja. Aseeekkkk....

Sayangnya, saya kurang mendapatkan feel hangat yang biasa saya rasakan di novel-novel sebelumnya. Mungkin karena kurang nyamannya saya membaca menggunakan aplikasi lumayan baru ini. Well, sebenarnya saya sudah cukup lama memiliki aplikasi ini hanya baru sekali ini saya akhirnya menyelesaikan satu buku di app ini.

Tema sicklit sebenarnya cukup sering saya temukan di novel, bahkan yang sudah pernah dijadikan versi layar lebarnya. Tapi ternyata bagi si penulis, ini adalah yang pertama tema sicklit yang ditulisnya. Oh, baiklah.

Anna harus pergi ke Austria demi Bintang, sang mantan kekasihnya. Bintang mengidap gagal ginjal parah yang harus segera mendapatkan transplantasi ginjal demi hidup lebih lama. Kenapa ke Austria? Golongan darah Bintang termasuk langka hingga si pendonor pun harus spesial. Di Austria, Bintang memiliki ayah yang telah meninggalkannya selama puluhan tahun dan menikah lagi serta memiliki anak, Terry.

Perjalanan Anna ke Austria membawanya ke sebuah hostel bobrok yang terlihat berhantu. Karena uang muka yang tak bisa ditarik kembali, Anna tak bisa pindah penginapan. Namun justru hostel bobrok ini yang membuatnya bertemu dengan orang yang ingin dia temui, ayah Bintang.

Apakah kemudian ayah Bintang langsung bersedia mendonorkan ginjalnya? Ada lika-liku yang harus dilalui Anna sebelum mendapatkan tujuan utamanya berkunjung ke negeri bang dingin itu.

Satu lagi hal yang membuat saya kurang nyaman membaca ini adalah banyaknya bahasa Jerman yang terselip disana sini sementara terjemahan ada di bagian akhir bab. Yah, gimana lagi, bahasa Jerman memang sangat sangat bahasa asing buat saya. Jadi kebayang kan? Judul bab yang menggunakan bahasa Jerman sementara terjemahannya di beberapa lembar setelahnya. Sistem baca Rakata juga kurang nyaman dengan harus pencet ke bab untuk maju ke bab berikutnya. Saya sering lupa saya sedang baca di bab berapa, dengan judul bahasa Jerman itu tadi. Ngga jarang saya nge-klik bab yang sama untuk kemudian balik lagi ke daftar bab dan klik bab berikutnya. Hadeeehhhh.... Saya ngga bisa membayangkan kalo nanti saya baca novel setebal novel Dan Brown. 😖😖😖

Overall, novel ini lumayan mengobati rasa rindu saya pada tulisan Prisca Primasari. Lagi ngincer Kastil dan Air mancur apa itu di play book. Nunggu diskon hahaha...
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
July 3, 2020
3.5/5 star

Sejak pertama kali berkenalan dengan tulisan Kak Prisca melalui Eclair, aku jatuh cinta dengan tulisannya. Tulisan Kak Prisca itu seperti candu, sehingga saat tahu novel Hope ini terbit aku sudah memasukkannya sebagai salah satu novel wajib kubaca.

Bagaimana setelah selesai membacanya?

Sejak membaca halaman awal, aku tak berhenti membaca. Aku begitu penasaran dengan Anna dan perjalanannya. Siapa Herr Gregoire dan kenapa Anna jauh-jauh berangkat sendirian ke Wina? .

Tulisan Kak Prisca masih dengan sentuhan-sentuhan khasnya. Yang sudah pernah membaca tulisannya pasti tahu apa yang kumaksud.

Aku suka bagaimana Kak Prisca membangun sosok Anna, interaksinya dengan Terry, Gerda dan Herr Gregoire. Bagaimana setting Luftschloss Hostel begitu hidup, walau awalnya "terkesan" tidak terawat.

Kisah bergulir lancar dan mengalir, tidak terlalu banyak hal mengejutkan dalam novel ini. Menuju ending, aku penasaran bagaimana kisah ini akan diakhiri dan alhamdulilah sesuai ekspektasiku.

Secara keseluruhan, aku suka dengan novel ini dan sekali lagi jatuh cinta dengan tulisan Kak Prisca.

Seperti taglinenya "Sekalipun harapan itu begitu jauh, aku akan terus berusaha menggapainya." Karena novel ini mengajarkanku tentang harapan semustahil apapun itu terdengar. .
Profile Image for Naza N.
359 reviews10 followers
February 8, 2020
Baca buku ini jadi pengin pergi ke Austria, hehe.

Aku salut dengan Kak Prisca yang mampu menuangkan berbagai macam emosi dalam novel yang jumlah halamannya bahkan nggak mencapai angka 200 ini (yah, meskipun sebetulnya saya berharap ini akan lebih panjang sedikit macam Love Theft). Alurnya sedang dan mengalir lancar seperti air di pipa Wavin. Nuansa khas Austria benar-benar terasa di sini. Aku jadi bertanya-tanya apa Luftschloss Hostel itu benar-benar ada (dan rasanya pengin kerja di sana aja, kayaknya nyaman dan menyenangkan. Hahaha).

Aku selalu menyukai cara Kak Prisca menggambarkan masing-masing tokohnya. Tiap tokoh memiliki keunikan serta keanggunannya tersendiri. Meski menurutku tengilnya Terry kurang nampak sedikit.

Dan yang terpenting, aku suka dengan perasaan hangat yang hinggap di hati setiap selesai baca novel Kak Prisca. Rasanya seperti minum teh hangat di tengah hujan deras, sembari menutupi kaki dengan selimut lembut. ❤️

Great job, Kak Prisca. Selalu menunggu karya-karyamu yang lain. 👏
Profile Image for Afifah Shafa.
61 reviews3 followers
January 22, 2021
Sebagai orang yang emosinya lagi nggak stabil dan lumayan kesepian, saya kelewat relate sama Herr Grégoire maupun Bintang.

Sekali lagi, dengan latar luar negeri, saya terpukau sama gaya penulisan Kak Prisca Primasari. Vibes Hope ini persis dengan Evergreen, tapi yang Evergreen mungkin lebih self-centric daripada yang ini.

Awalnya saya kira saya akan sedikit terganggu dengan deskripsi tokoh Bintang. Gimana bentuknya manusia blasteran Korea, Eropa, dan Indonesia? Saya nggak kebayang sama sekali. Lama-lama saya mulai mencocokkan karakter dia dengan tokoh Nathan di webtoon Tweening. Sepertinya persis. Visualisasinya jadi lebih smooth di otak saya.

Plotnya nggak tertebak. Saya heran dan terkagum di saat bersamaan karena Kak Prisca berhasil mengupas konfliknya dengan sangat perlahan.

Mungkin, yang kurang dari novel ini hanya detail-detailnya. Terlalu singkat untuk kisah yang mengaduk emosi. Saya merasa membutuhkan lebih banyak adegan terperinci, tapi nggak masalah. Overall, Hope ini oke banget :)
Profile Image for Sho Pim.
30 reviews
May 27, 2021
Hope - Harapan

Saya berkali-kali menunda untuk membaca sekalipun saya sangat tertarik. Menemukan kata sekarat di dalam blurb-nya berhasil membuat saya maju mundur, menebak isi buku lantas terlalu takut untuk menghadapi gelombang kesedihan yang saya prediksi akan ditawarkan.

Ketika akhirnya saya memutuskan untuk membaca, saya justru malah beberapa kali merenung tentang judulnya.

Belakangan saya lebih sensitif terhadap judul novel. Selama membaca saya selalu bertanya-tanya di bagian mana dari novel sehingga penulisnya memutuskan untuk memberi judul, dalam kasus kali ini, Hope atau harapan.

Saya mulai bertanya-tanya tentang arti dari sebuah harapan dan membaca novel ini membuat saya merasakan betapa hangatnya rasa harapan tersebut.

Emosi di dalam novel ini tersalurkan dengan indah melalui rajutan-rajutan unsur instrinsik yang indah dan rapi. Saya dibuat senang, nyaman, ketakutan, perih, dan lega secara bergantian.

Satu-satunya penyesalan saya adalah menunda-nunda untuk membaca karena ketakutan dengan kata sekarat di blurb.
Profile Image for Sania Yuningsih.
16 reviews
January 10, 2022
📚Review by Sania
---------------------------------------------------
"Terkadang, untuk menyelamatkan orang yang kau cintai kau harus menjadi orang asing." (Hal 163)
--------------------------------------------------
🗼 Seperti judulnya, 'Hope'. Ini bukan hanya tentang harapan Anna, tapi ini juga tentang mantan tunangan Anna, Bintang.

🗼Novel ini banyak menceritakan tentang kehidupan dan perjuangan Anna di Austria yang ingin mewujudkan harapannya dan Bintang menjadi kenyataan. Perjuangan Anna dalam cerita ini sangat terasa.

🗼Karena ini novel berlatarkan suasana Luar negeri didalamnya juga banyak banget tempat-tempat yang diceritakan sehingga aku merasa kalau aku pergi ke Austria bersama Anna.

🗼Ada sedikit kejutan-kejutan yang lumayan bikin aku menganga. Alurnya maju dan mundur, jadi semua yang bikin aku bertanya-tanya sudah terjawab semua di akhir cerita.
Profile Image for Ali Fiana.
3 reviews1 follower
January 18, 2020
Dari catatan perjalanan, saya baru tahu apa yang ingin disampaikan Prisca dalam setiap tulisannya. Dan, sebelum saya tahu tentang itu, semua tulisan Prisca sudah menyampaikan apa yang ia inginkan. Great! Termasuk karya yang satu ini yang tanpa pikir panjang saya ikut POnya. Magis dan tidak membosankan. Selalu ada hal baru yang disampaikan oleh Prisca. Saya suka bagaimana cara Anna menanti, lembut namun pasti.
Profile Image for Dinur A..
260 reviews97 followers
March 8, 2020
3,5. Cukup mengobati kerinduan akan tulisan Prisca Primasari yg satu spektrum dgn buku-buku beliau terdahulu sebelum seri Love Theft (yg saya nggak begitu suka itu, hehe). Bisa dibilang Hope ini lumayan mengingatkan sama Heartwarming Chocolate dan Paris; simple, lugas, magis, & emosional, sangat khas Prisca Primasari.
Profile Image for anggiareads.
51 reviews44 followers
December 1, 2020
Seperti judulnya "Hope". Begitulah harapan, terjadi dengan begitu banyak kebetulan.. Sesuatu yg gak disangka2 tiba2 terjadi.. Yg terpenting, teruslah berharap. Teruslah berusaha untuk menggapai harapan itu.. Semoga tidak sia-sia. Inti novelnya sih begitu menurutku. Cerita yang manis, penuh harapan 🥰
Profile Image for Finesta Biyantika.
354 reviews
January 9, 2021
Kurasa emang Mbak Prisca ini jagonya bikin yang dingin-dingin jadi hangat. Serius. Selalu heartwarming❤ Kalau diingat-ingat, kayanya karya Mbak Prisca tipenya memang seperti ini ya. Latarnya terasa dingin, tapi tingkah laku karakternya membuatnya jadi hangat. Salah satu auto-buy aku.
Profile Image for Nathania.
118 reviews20 followers
June 11, 2021
⭐⭐⭐⭐
Baca gratis di aplikasi Rakata semalam yey
Udh lama gak baca buku kak Prisca.
Ceritanya cukup hangat berlatar belakang Kota Wina ❤️

Tema cinta sekaligus perjuangan demi kekasih tercinta, kisah keluarga juga yg kelam namun berakhir bahagia 😁👍
1 review
Read
March 4, 2020
good
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lia Agustin.
77 reviews14 followers
March 28, 2020
Nggak pernah nggak takjub dengan karyanya kak Prisca! Sukaaak banget :))
Profile Image for Raya.
222 reviews19 followers
November 5, 2020
Huhu baca ini tuh mengingatkan kembali kenapa aku sukaaaaaaa sekali dengan buku-bukunya Kak Prisca. Heartwarming banget, bacanya bikin seneng.
Displaying 1 - 30 of 33 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.