Jump to ratings and reviews
Rate this book

Enigma Wajah Orang Lain: Menggali Pemikiran Emmanuel Levinas

Rate this book
Mengapa manusia tega saling bantai demi ideologi dan ajaran tertentu? Di manakah rasa kemanusiaannya? Apa yang dilihat oleh para algojo ini dalam diri para korbannya? Tidakkah mereka sadar bahwa yang mereka bantai juga manusia sama seperti mereka? Mengapa manusia lain dipandang begitu rendah dan dianggap “lain” (other) begitu saja? Apakah dasar keberlainan (otherness) ini?

Bagi Emmanuel Levinas, etika pertama-tama bukan menyangkut teori mengenai baik-buruknya tindakan tertentu; bukan juga apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan sebagai manusia. Etika merupakan relasi yang lahir dari pertemuan konkret dengan orang lain yang memiliki wajah. Sebagai jejak Yang-Tak-Terbatas (the Infinite), wajah orang lain tidak akan dapat dibunuh atau dihancurkan. Relasi etis terjadi ketika saya merasa terusik oleh kehadiran wajah orang lain yang menantang orientasi egoistik hidup saya atau mengusik kenyamanan dan kebebasan saya.
Buku ini menawarkan cara memandang dan berinteraksi dengan manusia lain yang berbeda dengan kebiasaan sehari-hari. Bukan gagasan atau pikiran kita mengenai orang lain itu yang menentukan, tetapi pertemuan sejati dengan orang lainlah yang patut kita alami.

Unknown Binding

First published January 1, 2012

11 people are currently reading
67 people want to read

About the author

Thomas Hidya Tjaya

7 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
23 (30%)
4 stars
29 (38%)
3 stars
21 (28%)
2 stars
2 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Kristoporus Primeloka.
116 reviews6 followers
April 13, 2018
Saya tertarik membaca buku ini karena ada konsep liyan (the other). Menurut Levinas, liyan atau disebut di buku ini disebut yang-lain merupakan sesuatu di luar yang mengusik ( secara tidak langsung dapat juga dikatakan mengkondisikan) dalam perjumpaannya dengan 'aku'. Ketika 'aku' terusik oleh kehadiran liyan, maka saat itulah terjadi peristiwa etis. Menurutnya peristiwa etis inilah dasar dari segala filsafat, karena 'aku' mulai mau membuka diri, mempertanyakan relasinya dengan liyan.

Oke sejauh itu saya masih paham, tapi kemudian menjadi tidak paham ketika Levinas mulai menggunakan perangkat berupa sensibilitas yang menurutnya melampaui kesadaran ketika 'aku' mempertanyakan liyan. Artinya 'aku' bukan sedang memikirkan liyan itu, tapi 'aku' sedang merasakan tersentuh oleh liyan itu. Nah, mulai absurd kan? Bagaimana mekanisme seseorang bisa merasa tersentuh oleh seseorang yang lain? Levinas kemudian melanjutkannya dengan perangkat yang lebih absurd lagi, yaitu 'aku' harus bisa menuju transenden, keluar dari ke-'aku'-annya. Wah, bisa gila nih lama-lama... jadi lebih baik saya cukupkan saja sampai di sini.

Yang penting saya sudah menangkap, bahwa realita memang terutama tidak terbentuk karena manusia itu berpikir , tapi karena ia dikondisikan oleh yang-lain atau liyan atau the other .
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
April 12, 2020
Buku ini merupakan ringkasan pemikiran Emmanuel Levinas, seorang filsuf Perancis yang memiliki pengalaman buruk dengan genosida. Levinas mempertanyakan tentang mengapa manusia tega membantai sesamanya demi ideologi dan ajaran tertentu? Di manakah rasa kemanusiaannya? Apa sebetulnya yang dilihat para algojo ini dalam diri para korbannya? Ancaman? Musuh? Sesuatu yang harus disingkirkan dan dibasmi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntun Levinas merumuskan apa yang disebut enigma wajah orang lain.

Di dalam buku ini, Thomas Hidya Tjaya menerangkan dengan sangat runut mengenai latar belakang pemikiran Levinas, istilah-istilah filsafat yang dipakai, dan kemudian menyimpulkan dengan seksama teori tersebut dengan contoh fenomena. Buku ini sangatlah cocok bagi orang yang belum pernah membaca buku filsafat seperti saya.

Sebelumnya, saya merasa buku filsafat itu terlalu “di awang-awang” dengan istilah dan penjelasan yang rumit. Setelah membaca ini, saya menjadi mengerti bahwa istilah tersebut adalah upaya efektif untuk menjelaskan suatu hal agar tidak terlalu bertele-tele. Buku ini adalah buku pertama saya dari beberapa judul Seni Pemikiran KPG. Bermodalkan pemahaman buku pertama, saya siap untuk melanjutkan petualangan membaca seri Seni Pemikiran selanjutnya. Yuhuu.
8 reviews
May 25, 2023
Sama sekali tidak mudah untuk dipahami. Namun setelah diresapi, makna buku ini sebetulnya mengajarkan kita untuk menghargai setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan. Manusia dalam buku ini digambarkan sebagai jejak Yang-Tak-Terbatas sehingga apabila kita mau menghilangkan segala prasangka terhadap manusia lain sama saja dengan kita mengakui keagungan Tuhan yang telah menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing. Tidak ada manusia yang tidak berharga, yang membuat seorang manusia buruk adalah gagasan kita sendiri sebab kita tidak mengetahui dan enggan membuka diri terhadap wajah asli orang lain.
Profile Image for Surya Ds.
39 reviews6 followers
April 26, 2022
Nggak bisa dibilang buku untuk pemula. Aku rasa setidaknya harus sedikit paham fenomenologi dan idealisme transdental untuk bisa mengikuti pembahasan buku ini dengan lancar. Tapi mantaplah kurang dari 200 halaman bisa ngerangkum pemikiran Levinas!

Btw, epilognya terbaik~ *chef kiss*
2 reviews
April 17, 2025
sebuah kesimpulan pribadi dari buku ini
"ada dan yang lain, orang pertama dan orang ketiga, jadikan yang lain menjadi yang ada, dan jadikan orang ketiga menjadi orang pertama".
Profile Image for Yavie Aditya.
2 reviews
July 13, 2017
Buku yang menarik, Dalam buku Enigma Wajah Orang Lain Levinas menjelaskan tentang kesadaran dan wajah. Beberapa tema dalam buku ini berkaitan dengan relasi subjek objek. Seperti contoh yang dikemukakan oleh Levianas bahwa manusia mengungkapkan dirinya berbeda pada saat ada wajah orang lain atau tidak ada wajah orang lain. Wajah yang dimaksud disini bukanlah wajah muka yang terdiri mata pipi hidung mata dan kening. Atau permukaan kepala bagian depan. Akan tetapi wajah adalah kehadiran kesadaran orang lain. Manusia akan merasa perlu menampakkan dirinya yang berbeda bila ada wajah orang lain. eksistensialisme Levinas ini menganggap kesadaran lain membuat diri menampakkan sesuatu yang lain pula. Akan tetapi Levinas tidak menafikan bahwa orang lain adalah sebab kejatuhan dirinya.
Profile Image for franky franky.
21 reviews14 followers
September 19, 2019
Paling suka pas penjelasan dr tokoh novel All quiet on the western front karya erich maria.Ketika sang tokoh utama bertemu dengan musuh perangnya yg sekarat dlm parit berjarak beberapa meter saja dgn dirinya. Sang tokoh utama merasakan ancaman yg seakan-akan nyata.Membayangkan bagaimana ia akan mati jika tidak membunuh lawannya.Lalu di dasari ketakutan tersebut ,sang tokoh utama membunuh lawan perangnya yg sdh sekarat tsb.

Pikirnya " Untuk pertama kalinya aku membunih dengan tanganku sendiri, org yg aku lihat dr dekat, yg kematiannya adl akibat perbuatanku.Setiap usahanya utk menarik nafas membuat hatiku semakin terasa kosong.Orang sekarat ini memiliki waktu yg tersedia baginya ,IA MEMILIKI PISAU TAK KELIHATAN YG DIPAKAINYA UTK MENUSUKKU,WAKTU,DAN PIKIRANKU."

Sesudah serdadu musuh meninggal, saar ia tinggal sebuah jasad saja, kemanusiaannya mulai menampakkan diri kpd tokoh utama.Barulah wajah orang lain dibiarkan memperlihatkan diri apa adanya.

Dalam hatinya sang toko utama mengatakan lagi " Sebelumnya kamu hanyalah sebuah gagasan saja bagiku, sebuah abstraksi yg hidup dlm kepalaku dan menuntut jawaban yg sesuai.ABSTRAKSI ITULAH YG KU TUSUK DENGAN PISAUKU.Tetapi sekarang , untuk pertama kalinya, aku melihatmu sbg manusia spt aku.Sebelumnya aku hanya melihat granatmu,bayonetmu,dan senapanmu.Kini aku melihat istrimu,wajahmu, dan persaudaraan kita."

Reka adegan dl novel tersebut sangat mencerminkan pandangan levinas ttg apa itu "yang etis".Sang tokoh berhasil menyadari imanesi nya saat dipertemukan dengan "Yang lain".Walaupun sudah terlambat.Levinas menganggap "Yang lain di dalam yang sama".Melampaui yang ada.Yang lain sudah menjadi hakikat subjektivitas manusia bahkan sebelum ia dilahirkan.Tanggung jawab terhadap Yang Lain ekuivalen dengan tannggung jawab "Yang tak terbatas".Tetapi ia menekankan untuk membedakan yang ilahi dan yang tak terbatas.Yang tak terbatas merupakan kebenaran intersubjektif antar manusia , ia tidak ingin membawanya ke ranah teologi ttp tetap di ranah filsafat.
Profile Image for Nisrina.
48 reviews14 followers
May 1, 2015
After re-read over and over since I never reached the last page, finally I could literally read it. This topic is somehow interesting -- the first philosophical book I'd ever bought.
More serious review? May be on blogpost :p
Profile Image for Ade Maria.
7 reviews1 follower
April 18, 2015
pemikiran Emmanuel Levinas yang ditulis oleh Thomas Hidya ini telah membuka jalan pemahaman filsafat, khususnya etika; atau yang lebih tepatnya menurut Levinas disebut sebagai Yang Etis (The Ethical).
Profile Image for Tedi Irawan.
47 reviews
October 31, 2015
Buku yang sangat filosofis selalu jadi favorit saya. 5 bintang untuk buku ini karena sudah memberi saya harapan serta pandangan bahwa tren selanjutnya dalam kepemimpinan adalah tentang transendensi. Bacaan wajib untuk memperkaya keahlian interpersonal. Keren!
Displaying 1 - 11 of 11 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.