Dalam doa yang diajarkan Yesus Kristus, baris "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" didahului oleh -dan tak terlepas dari- baris "datanglah kerajaan-Mu." Nyatalah bahwa kehendak Allah terhubung erat dengan kerajaan Allah. Karena Allah itu raja, Ia punya kehendak yang harus terjadi di seluruh wilayah kedaulatan-Nya, yang mencakup surga dan bumi.
Dalam Di Bumi Seperti di Surga #3, S.P. Tumanggor memberi dimensi "ningrat" -dimensi kerajaan Allah- kepada gagasan bahwa kehendak Allah mencakup berbagai bidang kehidupan di bumi dan bahwa kita selaku umat Allah harus ikut serta dalam penjadian kehendak Allah di bumi, di berbagai bidang kehidupan. Tumanggor membukakan wawasan agung Alkitab bahwa Kerajaan Allah dan kemesiasan Yesus kena-mengena dengan keberadaan dan keberdayaan umat Allah, para pengikut Kristus, di dunia.
Buku berisi ide-ide segar dan alkitabiah ini layak ditelaah oleh setiap orang Kristen yang mengabdi kepada Allah dan Mesias-Nya serta yang berdoa agar Kerajaan-Nya datang dan kehendak-Nya jadi di bumi seperti di surga.
Sam Tumanggor sebagai penulis trilogi buku Di Bumi Seperti Di Surga mengupas secara mendalam namun tetap mudah untuk dicerna makna dari frase doa Bapa kami yang Yesus ajarkan "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga".
Kita perlu tunduk kepada kehendak Allah (Sang Raja) karena meskipun kita diangkat menjadi anak-anak Sang Raja, kita tetaplah hamba-hamba Sang Raja. Kita adalah anak merangkap hamba Sang Raja. Dengan sikap seperti ini, maka berkat-berkat milik zaman yang akan datang, milik Kerajaan Allah, diungkapkan Alkitab sebagai sesuatu yang sudah kita terima di zaman ini dan juga zaman yang akan datang (zaman kebangkitan).
Yesus dengan berbagai gelarnya di Alkitab : Kristus, Anak Daud, Anak Allah, Anak Manusia, Tuan/Tuhan, Raja Natal, adalah raja. Banyak orang Kristen yang tersandung pada pengenalan Yesus sebagai juruselamat saja, padahal Dia sesungguhnya adalah raja. Kita harus merendahkan diri dan meninggikan Kristus Yesus - Raja Yesus, sebagaimana layaknya abdi yang telah diselamatkan dan ditebus oleh Sang Raja.
Jantung ajaran Yesus adalah mengenai Injil Kerajaan Allah, yaitu kabar baik tentang pemerintahan Allah sebagai raja atas segala sesuatu atau tentang kerajaan tempat Allah memerintah atas segala sesuatu. Namun injil seringkali disalahpahami sebagai keselamatan saja, "Injil Keselamatan" jadi menggusur "Injil Kerajaan Allah". Injil Kerajaan Allah sesungguhnya juga mencakup Injil Keselamatan, tidak hanya keselamatan pribadi, namun selamat untuk kemuliaan Allah.
Yesus memberikan amanat pemuridan di Matius 28:19-20a untuk memuridkan semua bangsa karena Yesus sudah meraja, dan Kerajaan Allah sudah datang sewaktu Yesus datang, dan karena Kerajaan Allah datang untuk memulihkan dunia dan manusia yang adalah wakil Allah di dunia, maka manusia dipanggil untuk menjadi warganya. Caranya adalah dengan menjadi pengikut atau murid Yesus, Raja Agung merangkap Guru Agung.
Sebagai umat yang berdoa "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga", kita perlu menyadari bahwa Kerajaan Allah memang "belum tapi sudah" datang. Kerajaan Allah "belum" datang, sehingga peperangan belum usai dan yang salah sering tampak jaya. Tapi Kerajaan Allah pun "sudah" datang karena Yesus sudah mati untuk mengalahkan ilah zaman ini (Ibr 2:14) dan untuk mempersatukan bumi dan surga (Ef 1:9). Dengan demikian kita tidak ekstrem ke satu sisi.
Kita dapat seimbang antara ketakwaan dan kecendekiaan. Seperti Daniel yang berbakti kepada Allah dan yang menguasai bidang keilmuan/keahlian yang dijatahkan Allah baginya. Di bidang itu ia melakukan pekerjaan baik, bukan hanya untuk melayani Kerajaan Babel dan Kerajaan Media-Persia tapi juga, lebih besar lagi, untuk melayani Kerajaan Allah. Daniel bekerja sambil tekun beribadah "tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya" (Dan 6:11).
Sambil menghidupi keduanya itu, ketakwaan dan kecendekiaan, hendaklah kita ingat akan imbauan penulis Surat Ibrani, "Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan." (Ibrani 12:1-2a).
Dalam melakukan semuanya ini, kita juga belajar adanya realitas perpecahan Gereja di tengah ideal kesatuan Gereja. Ini adalah fakta paradoks yang menarik dan ada pelajaran besar yang bisa kita petik darinya demi kesatuan Korps Kristus selaku pelaksana kehendak Allah di bumi. Kita harus memahaminya dengan pendekatan Kristen doang yang idealis-realitis. Mari kita menjadi orang Kristen yang sejati bukan anggota sekte yang mana pun.
Itulah sebagian dari hikmah-hikmah yang saya petik dari buku dBSdS 3. Saya menganjurkan orang-orang Kristen yang mau mengerti dan mengalami frasa "di bumi seperti di surga" juga untuk semua orang yang mau mengamalkan surga di bumi untuk membaca buku ini.
Buku ketiga dan terakhir dari Trilogi Di Bumi Seperti di Surga ini mengupas aspek yang unik dari frasa "datanglah Kerajaan-Mu" yang di dalam doa Bapa Kami muncul persis sebelum "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga."
Di bukunya yang ke-11 ini, Sam Tumanggor mengangkat aspek penting yang saya (dan mungkin banyak orang Kristen lain) abaikan dalam kekristenan, yakni ke-raja-an Kristus. Sudah lama saya tahu dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja, namun saya baru mendapatkan gambaran secara jelas setelah membaca buku ini.
Yesus adalah Raja. Ia adalah terutama Raja, bukan terutama Juruselamat ataupun Penebus. Hal ini mungkin kontroversial, namun hal ini dipaparkan secara eksplisit dalam Alkitab. Saya baru tahu bahwa ternyata gelar "Mesias" artinya adalah raja! (Selama ini saya pikir, dan saya yakin banyak orang Kristen, memahami bahwa artinya adalah "juruselamat".)
Yesus adalah Raja dan ketika Yesus hidup di dunia inti dari ajaran-Nya adalah "Kerajaan Allah". Namun agaknya Gereja sekarang jarang membahas inti ajaran Yesus sendiri. Kalaupun ada bahasannya sering diarahkan kepada pengabaran Injil demi konversi belaka. Padahal Kerajaan Allah bukan hanya bicara "sorga" atau "hidup kekal" kelak. Orang Kristen bertugas untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia, bukan hanya untuk membawa sebanyak-banyaknya orang ke "surga."
Buku ini juga mengupas isu yang penting mengenai makna Injil. Seringkali orang Kristen menganggap bahwa Injil hanyalah bicara tentang keselamatan, padahal tidak hanya itu. Sam, meminjam dari Scot McKnight, menganalogikan keseluruhan Injil Kerajaan Allah sebagai "helikopter" dan penebusan, iman, dan keselamatan sebagai "baling-baling". Kita tidak bisa terbang tanpa baling-baling, tapi baling-baling itu saja bukanlah helikopter itu sendiri.
Lalu apa itu Injil Kerajaan Allah? Dari pengamatannya kepada Alkitab, Sam mengargumenkan bahwa Injil Kerajaan Allah adalah kabar baik bahwa dunia ini akan dipulihkan dari segala cacat cela dan kefasikan, dalam segala bidang kehidupan di bumi.
Dengan pemahaman itu, "melebarkan Kerajaan Allah" berarti orang Kristen, sebagai abdi raja, harus menjadikan kehendak Allah jadi dalam segala bidang kehidupan. Dan senjata orang Kristen untuk melakukan itu adalah perbuatan baik. Gambaran Kerajaan Allah ini memberikan gambaran penting dan berimbang terhadap makna "perbuatan baik" yang harus dikerjakan orang Kristen.
Dan semua itu harus dilakukan sebagai sebuah kesatuan Korps Kristus (yakni Tubuh Kristus). Orang Kristen sayangnya lebih suka mengedepankan perbedaan dan terpecah-pecah dibanding bersatu padu di dunia untuk "melebarkan Kerajaan Allah" dengan perbuatan baik. Sayang sekali bahwa akhirnya banyak orang Kristen gagal untuk saling menguatkan dan memperlengkapi demi jadinya kehendak Allah di bumi seperti di surga.
Semua kajian tentang Kerajaan Allah ini disusun penulis dengan gaya yang sederhana, jelas, dan mudah dimengerti. Bab-babnya juga dipenuhi gambaran dan cuplikan-cuplikan dari berbagai hal di dunia yang memperkaya kajian dari buku ini secara indah.
Saya menganjurkan buku ini untuk dibaca oleh setiap orang Kristen agar dapat benar-benar menghidupi doa "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga."
Pencerahan total. Inilah kesan saya selama membaca Buku DBSdS#3. Saya banyak dicerahakan ihwal kekeristenan yang selama ini ternyata masih "dangkal". Contohnya pemahaman tentang makna Mesias, gelar bagi Yesus. Sebelum baca buku ini, saya hanya memahami gelar tersebut sebatas Yesus sebagai Juruselamat. Buku ini mencerahkan saya bahwa Mesia adalah gelar Raja. Yesus datang ke dunia sebagai Raja guna menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Makna yg sangat dalam bila kt bandingkan dengan pemahaman saya selama ini bahwa Yesus ke dunia hanya untuk menyelematkan dunia.
Pemahaman ini membawa saya kepada pemahaman lebih dalam tentang konsep "belum tapi sudah" yang selama ini tidak pernah saya dapatkan dari gereja atau komunitas pelayanan saya. Sang penulis, Bg Sam Tumanggor, memaparkan konsep--yang mungkin bagi saya atau sebagian besar orang adalah baru--dengan runtut dan sederhana sehingga mudah dipahami pembaca. Itu terlihat dari bagaimana penulis memilih kata-kata yang tepat dan lazim di telinga pembaca. Contoh: cicipan. Kedatangan Yesus dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah adalah menghadirkan "cicipan" dari Kerajaan Allah yang kelak saat kedatangan Yesus kedua kalinya cicipan itu akan disempurnakan. Kerajaan Allah itu memang belum (sepenuhnya) datang tapi cicipan-nya sudah datang. Inilah makna dari "belum tapi sudah".
Pemahamaan terhadap konsep ini berdampak pada peran kita sebagai orang yang percaya kepada Sang Raja (Yesus) yaitu kita dipanggil untuk meneruskan cicipan tersebut di zaman kita saat ini lewat keahlian (spesialisasi) kita yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Contoh: seorang guru dengan keahliannya mengajar akan berupaya untuk melakukan hal-hal baik seperti memberikan pendidikan yang terbaik dan profesional kepada para muridnya. Atau seorang ahli tambang, dengan keahliannya dalam pertambangan akan berupaya mengelola sumber daya mineral dengan cara yang tepat sehingga diperoleh hasil tambang tanpa memberikan dampak terhadap lingkungan.
Sebenarnya masih banyak hal baik dari buku DBsdS#3 yang mencerahkan saya selain hal-hal di atas dan ingin saya bagikan. Kawan2 pasti penasaran. Nah, daripada penasaran, kawan2 bisa menemukannya secara langsung dengan membaca bukunya. Para pembaca pasti akan mendapatkan banyak berkat seperti yang saya sudah bagikan di atas. Jika tertarik pada bukunya, kawan2 bisa memesannya kepada saya dengan mengirimkan pesan ke 08562035331 (WA).
Buku DBSDS #3 memberikan "kacamata" baru yang membuatku bisa memandang lebih luas terkait konsep kekristenan --khususnya tentang gagasan mewujudkan kehendak Allah di bumi seperti di surga.
Membaca buku ini sama dengan merubuhkan "tembok" yang udah dibangun kokoh dalam pikiran. Kadang, muncul pertanyaan, "Masa sih?" Apa benar ya?" Namun, penulis punya cara unik untuk menjawab keraguan itu. Penulis tidak sekadar menyodorkan ide/pencerahan, namun juga menyajikan argumentasi yg bernas dan didasarkan pd alkitab, melengkapi dengan berbagai analogi dan contoh nyata, sekaligus menambahkan kutipan puisi dan lagu yang membuat pesan lebih kuat dan mengena.
Melalui buku ini, saya yang awalnya sekadar tahu tentang Doa Bapa Kami, akhirnya menemukan makna besar tentang kehendak Allah. Sebelumnya, saya hanya memahami Yesus sebagai Juruselamat, akhirnya jadi belajar tentang ke-Raja-an Yesus. Sebelumnya, memandang tinggi tentang Amanat Agung, jadi lebih memahami bahwa bukan itu perintah yg teragung/terutama, melainkan perintah untuk mengasihi Allah dan sesama. Sebelumnya menganggap pekerjaan hanya berdampak di dunia, ternyata pekerjaan apapun yang didasari oleh kasih bernilai kekal, karena kasih itu sendiri. Dan masih banyak pencerahan lainnya yang dapat ditemukan dalam buku ini.
Saya menganjurkan buku ini untuk dibaca dan dijadikan bahan diskusi, baik mahasiswa maupun alumni Kristen. Selamat membaca dan bersiaplah terkesima!
Setelah membaca Buku Di Bumi Seperti Di Surga #3 (DBSDS3) baru tersadar: apa yang selama ini seakan kita anggap sudah "tahu," ternyata tidak seperti itu saja adanya.
Ya, DBSDS3 menguraikan betapa pengajaran, tren atau gaya hidup kekristenan sekarang cenderung menunjuk Kristus sebagai Juruselamat saja, tetapi abai untuk mengunjukkan bahwa ternyata Dia juga adalah Sang Raja. Ternyata Raja diatas segala Raja bukannya hanya lagu-lagu atau puisi-puisi kristiani! Melainkan itu adalah mandat dan kekuasaan Kristus sebenar-benarnya. Kristus adalah terutama Raja.
Betapa indah setelah membaca DBSDS3 juga kita akan mendengar betapa seharusnya kita mengabarkan mengenai Injil Kerajaan Allah. Dan Injil Kerajaan Allah adalah apa yang menjadi tugas utama untuk dikabarkan ke dunia. Bahwa kabar baik adalah mencakup keseluruhan: mengajak umat untuk percaya kepada Dia dan juga menunjukkan tanda-tanda Kerajaan Allah sudah hadir di bumi ini melalui kuasa (utk mengusir roh2 jahat, menyembuhkan sakit penyakit) dan tak kurang dari itu juga menunjukkan pekerjaan baik di segala bidang karya dan pekerjaan kita. Hanya dengan begitu umat Nasrani akan berdaya dan mendatangkan Kerajaan Allah, Di Bumi Seperti Di Surga!
Di buku #3 ini, kita diajak kembali untuk berpikir kritis atas segala pengajaran yang kita terima. Mari kembali ke Alkitab dan tulus menerima, menghormati, menghargai perbedaan yang ada, namun memiliki semangat Korps Kristen dalam satu tubuh Kristus.
Satu hal yang benar menegur saya adalah tentang ke-Raja-an Yesus yang sering terlupa. ‘Baling-baling’ adalah bagian dari ‘helikopter’. Keselamatan adalah bagian dari misi Kerajaan/pemerintahan Yesus. Yesus datang bukan semata-mata untuk menyelamatkan namun juga memerintah sebagai raja.
Oleh karena itu sebagai ‘pionNya’, saya punya tugas untuk terlibat dalam misi kerajaan di bidang yang saya mampu.
‘Karena begitu besar kasih Allah akan DUNIA ini..’. Dunia bukan hanya tentang manusia, tapi juga ciptaan lainnya.
Kerajaan Sorga. Inilah titik tekan dari buku ini yang menjadikannya menarik untuk dibaca. Menarik karena pengajaran tentang hal ini sunyi atau bahkan bisa dibilang ditinggalkan oleh mimbar-mimbar gereja. Padahal, Yesus sendiri berulang-ulang bicara soal hal ini dan Alkitab mengindikasikan murid-murid berulang-ulang salah memahaminya.
Dengan membaca buku ini, kita diajak mengunjungi ulang pemahaman kita tentang Kerajaan Sorga, sembari sedikit menggeser cara pandang kita--apabila kurang pas--pada Alkitab. Siapa tahu setelah membaca buku ini, kita bisa melihat Alkitab dengan lebih luas, kaya, dan berwarna-warni.
Kalimat-kalimat yang dipakai mudah dipahami, dengan informasi tambahan dan contoh-contoh yang menarik.
Buku ini banyak sekali membuka pemahaman-pemahaman yang rasanya jarang pernah dibahas/disinggung di gereja/ibadah atauapun persekutuan mahasiswa. Banyak ajaran yang dulu rasanya benar tapi ternyata bisa keliru setelah melihat kembali buku ini dan Alkitab. Cara Bg Sam menganalisa dan menulis pengembangan ide dari "Doa Bapa Kami" bisa berkembang menjadi pemahaman-pemahaman yag dalam dan sangat bernas ini sungguh patut diacungi jempol. Tulisannya dilengkapi juga dengan kutipan argumen-argumen dari tokoh-tokoh Kristen dari beragam aliran.
Saya semakin dikuatkan/diberikan semangat untuk melakukan Kehendak Allah lewat perbuatan baik (bahkan harus berinovasi) di bidang yang saya geluti saat ini yaitu bidang pendidikan.
Buku ini bagus sekali dibaca lebih banyak orang lagi agar pikirannya terbuka tentang Kerajaan Allah dan Kehendak Allah.
Doa Bapa Kami yang sering kulantunkan ternyata memiliki banyak makna yang belum kugali sebelumnya. Melalui buku ini, aku belajar banyak mengenai Kerajaan Allah yang bukan hanya ada di surga, tapi hadir juga di bumi.