Jump to ratings and reviews
Rate this book

Gitarku: Hidupku, Kekasihku

Rate this book
Dewa Budjana, salah satu gitaris papan atas Indonesia, berbagi pengalaman musikal dan ilmu dalam dunia pergitaran. Pembaca bisa menyimak filosofi gitaris yang telah menelurkan 4 album solo dan 16 album bersama GIGI ini dalam bermain gitar. Kelihaiannya menggerayangi fret gitar tak perlu diragukan lagi. Balawan, rekannya di grup Trisum berkomentar "Dia gitaris yang diberkati dengan talenta bagus, kadang progresi sesulit apa pun dia selalu bisa berimprovisasi tanpa beban." Tidak hanya itu, ia secara sukarela membongkar "dapurnya" yang selama ini diselimuti "Dia pakai efek apa ya?" "Set amplinya kayak apa?" "Gitar apa lagi tuh yang dia pake?" Pertanyaan-pertanyaan semacam ini lazim muncul di benak fans GIGI maupun Budjana karena, seperti yang diakui Tohpati, gitaris kelahiran Sumba ini adalah "jagonya soal alat dan sound".


****


"Yang paling istimewa dari buku ini adalah pemaparan teknik-teknik permainan gitar, di mana Budjana berbagi rahasia di balik penciptaan dan permainan musiknya, lengkap dengan tipsnya. Ini karya langka yang dibutuhkan penikmat musik dan khususnya musisi muda Indonesia dalam pengembangan teknik permainan gitarnya." (Addie MS)


"Buku yang penuh passion. Terasa sekali cinta Budjana pada musik dan apa yang musik telah berikan pada hidupnya... patut dibaca tidak hanya oleh mereka yang mencintai musik, tapi untuk semua yang mengerti arti sebuah dedikasi." (Mira Lesmana)

124 pages, Paperback

First published December 1, 2007

4 people are currently reading
82 people want to read

About the author

Dewa Budjana

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (44%)
4 stars
6 (22%)
3 stars
5 (18%)
2 stars
2 (7%)
1 star
2 (7%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Pirhot.
26 reviews4 followers
July 14, 2009
Saya telah menjadi penggemar I Gde Dewa Budjana, yang akrab dipanggil Budjana semenjak kelas 2 SMP. Pada saat itu saya melihat album solo Budjana yang bertajuk Nusa Damai pada toko kaset di pasar dekat rumah. Album itu sangat membuka wawasan telinga saya yang sebelumnya hanya dicekoki musik punk rock dan hip-metal, sekaligus menyemangati saya untuk semakin menekuni instrumen gitar. Album itu memang sangat berkesan, karena ketika saya melihat penampilan Budjana sebagai gitaris GIGI, saya berpendapat tidak ada yang istimewa dari seorang Budjana, dan album Nusa Damai membalikkan opini saya 180 derajat. Saya pun menjadi pembaca rutin dari Klinik Gitar yang diasuh oleh Budjana dalam sebuah tabloid musik MUMU (yang hingga saat ini tidak ada penerusnya).

Album-album berikutnya dari Budjana terus saya ikuti, dan tentunya saya sarankan untuk dikoleksi bagi mereka yang mencintai musik dan musikus Indonesia. Ketika Budjana mengeluarkan bukunya yang berjudul “Gitarku : Hidupku Kekasihku”, saya tidak langsung membelinya, karena entah kenapa saya selalu enggan untuk membelinya, meski keuangan tak menjadi masalah. Di Gramedia Fair minggu lalu, saya menemukan buku itu sebagai bagian dari deretan diskon, dan saya langsung membelinya.

Sekedar intermezzo, semenjak saya menekuni musik, khususnya instrumen gitar, saya tidak pernah menemukan produk buku maupun video karya musikus lokal yang layak untuk dikonsumsi. Yang saya lihat hanyalah buku-buku yang menghimpun berbagai macam kord (padahal saya dapat dengan mudah menemukannya di internet), ataupun trik-trik untuk bermain gitar dengan instan (padahal tidak ada itu yang namanya belajar gitar secara instan). Akhirnya saya pun berpaling pada produk-produk karya musikus asing, yang menurut saya memberikan informasi yang jauh lebih bermanfaat, baik itu melalui buku-buku ataupun video-video. Pesimisme inilah yang sedikit banyak mempengaruhi saya untuk menunda pembelian buku+video karya Budjana pada awalnya. Namun pembelian buku Budjana ini menghilangkan pesimisme saya, dan saya justru menyesal tidak membelinya semenjak dulu.

Buku ini memberikan informasi yang sangat menyeluruh tentang Budjana, mulai dari keputusanya untuk menekuni instrumen gitar, awal kariernya di berbagai grup musik, hingga akhirnya berlabuh di GIGI hingga saat ini sekaligus menjalani proyek solo albumnya. Tetapi bagian yang menjadi favorit saya adalah “Gitarku” dan “Musikku” (keduanya berkaitan dengan DVD yang menjadi tambahan). Pada bagian “Gitarku”, Budjana menjelaskan bagaimana setting gitar dan efek yang dia pakai ketika konser bersama GIGI ataupun ketika memainkan karya-karya solonya. Penjelasan ini memberikan sebuah wawasan baru bagi saya, setelah bertahun-tahun hanya bermain dengan sistem “todong”, dan paling canggih hanya menggunakan sebuah multi-effects yang langsung masuk ke amplifier ataupun mixer. Memang saya pernah membaca liputan mengenai gitaris di berbagai majalan dan tabloid, yang sekaligus mendeskripsikan setting gitar yang dipakai. Namun dengan adanya bonus DVD dalam buku ini, setting gitar Budjana yang digambarkan dalam buku itu menjadi lebih jelas. Saya mengetahui bagaimana sistem rack berfungsi untuk menghasilkan suara yang khas, dan tentunya hardware-hardware tambahan yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas suara gitar. Saya pun mengetahui alasan-alasan mengapa Budjana memilih gitar dengan merek ataupun model tertentu. Meski tidak semua gitar yang ada di buku ditampilkan pada DVD, namun gitar-gitar yang paling sering Budjana gunakan tetap muncul di video. Sedangkan dalam bagian “Musikku”, Budjana menjelaskan bagaimana setting gitar dan efek digunakan dalam karya-karyanya, baik di GIGI maupun album solo. Saya akhirnya mengerti, bagaimana Budjana dapat menghasilkan sound gitar yang khas dan sulit ditiru.

Tidaklah berlebihan apabila pujian-pujian dilayangkan oleh berbagai gitaris untuk Budjana dan buku ini. Buku ini memang telah memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi dunia musik Indonesia, karena kualitasnya yang tidak kalah dengan karya impor. Buku ini juga menepis pendapat musikus seperti saya, yang menganggap buku gitar karya musikus Indonesia hanya cocok untuk menjadi pengganjal lemari yang goyang.

Kalau anda mengaku musikus/gitaris ataupun hanya sekedar menjadi penikmat dari GIGI dan karya solo Budjana, buku+DVD ini menjadi karya yang layak untuk dikoleksi.
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
January 23, 2012
Mencoba menemukan filsafat dalam bermusik dari seorang Dewa Gitar Indonesia. inilah catatan lengkap dari si Kolumnis Dadakan.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Seorang musisi sejatinya hanyalah seorang yang berkarya dengan memainkan alat musik sepenuh jiwanya. Dengan musiknya, ia mencoba menembus celah-celah sepi dalam jiwa manusia. Menyelami kemudian menemukan rumah dimana ia akan terus berkarya dalam melodi dan simfoni. Ia akan terus hidup dalam pengembaraan karena baginya musik adalah horison tanpa batas. Ia tidak akan pernah berhenti karena hidupnya telah diabdikan untuk penciptaan-penciptaan yang kelak akan mengekalkan namanya.

Sangat jarang sekali musisi di Indonesia yang mau menulis buku. Apalagi, bila itu menyangkut rahasia dibalik penciptaan dan permainan musiknya. Kalau hanya sekedar biografi rasanya sudah banyak musisi yang melakukannya. Namun, sepanjang menyangkut hal-hal detail dalam permainan dan penguasaan alat musik masih sangat terbatas sekali. Dewa Budjana melakukan hal ini dengan sangat berhasil. Selain mampu bercerita tentang pengalaman musik, ia juga menulis beberapa komposisi yang ia ciptakan bersama GIGI maupun album solo. Budjana juga membagi tips-tips dalam bermain gitar dan membuat set-up gitar untuk keperluan panggung. Lengkap dengan diagram dan skema koneksi gitar, efek, dan amplifier.

Membuka halaman pertama dari lembaran cover buku sudah terasa aroma magis emosional. Sebuah potret halaman buku agenda kerja ayahanda Dewa Budjana yang memaparkan detail situasi kelahiran gitaris yang bernama lengkap I Gede Dewa Budjana ini. Dalam konteks penciptaan karya, hal ini merupakan sebuah prelude (pembukaan) yang menandakan awal kelahiran. Selain sebagai pengantar memasuki ranah biografis personal penulisnya. Dalam buku ini, Budjana seolah ingin menceritakan seluruh pengalaman yang telah ia alami sebagai musisi. Baik itu dalam konteks GIGI maupun sebagai personal Budjana seorang.

Siapa mengira bahwa Dewa Budjana, satu gitaris terbaik di Tanah Air Indonesia ini dulunya belajar bermain gitar dari seorang kuli bangunan yang tinggal di dekat tempat tinggalnmya di Klungkung, Bali. Sejak memainkan lagu pertamanya “Hilangnya Seorang Gadis” yang dipopulerkan oleh Deddy Dores, Budjana kemudian jatuh cinta pada instrumen yang kemudian mengantarkan dirinya pada takdir: menjadi gitaris papan atas Indonesia.

Seperti halnya banyak gitaris besar lainnya, perjalanan hidup Budjana tidaklah pendek dan selalu mulus. Budjana tidak dilahirkan dari keluarga musisi dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang musik. Rasa ingin tahu yang besar dan passion terhadap musik, utamanya gitar, tidak pernah surut dan inilah yang menjadi faktor penentu dalam pencarian jati dirinya.

Perjalanan dengan band pertamanya Squirrel hanyalah batu loncatan bagi kegemilangan yang akan segera diraihnya. Pada 1994 Budjana bertemu empat seniman musik berbakat, Armand Maulana, Ronald, Baron Arafat, dan Thomas Ramdan yang kemudian membentuk GIGI. Bersama GIGI semua pengalaman bermusik Budjana semakin terasah mengingat usia GIGI yang semakin matang. Lengkap dengan pasang surut kehidupan bermusik. Sebut saja ketika Baron memutuskan untuk keluar dari GIGI karena akan melanjutkan sekolah. Belum lagi, ketika Thomas mengaku kecanduan narkoba hingga memutuskan untuk keluar. Penjualan album “2 x 2” yang tidak sesuai harapan. Hingga, ketika Budi (drummer) memutuskan juga untuk keluar karena sudah tidak cocok lagi dengan musik GIGI.

Tidak hanya lantas puas dengan segala pencapaian bersama GIGI, Budjana pun berusaha untuk menyalurkan ide-ide musiknya lewat album solo. Kalau lagu-lagu di GIGI adalah hasil pengamatan dan pengalaman hidup, maka lagu-lagu di album solo lebih merupakan hasil perenungan. Visi musik yang bagaikan sebuah kehidupan spiritual bagi Budjana mendorongnya untuk menelurkan beberapa buah album bernafaskan religi. Pembuatan album solo ini merupakan suatu bentuk pencarian dan eksplorasi wilayah-wilayah baru dalam khasanah musik serius Indonesia. Semua digarap dengan penuh dedikasi dan totalitas sehingga musik yang dihasilkan pun musik yang bagus dan dapat diterima publik penikmatnya.

Bagi Dewa Budjana, gitar tidak hanya sekedar instrumen musik. Gitar adalah hidup dan kekasih sekaligus sakral. Gitar adalah alat mencari kepuasan lahir batin dengan berkarya lewat musik. Melalui gitar, Budjana mencapai Tri Hita Karana (Hubungan dengan Tuhan, Hubungan dengan sesama, dan Hubungan dengan alam). Gitar juga adalah titian yang menghubungkan Budjana dengan dunia tempat mengejawantahkan mimpi. Dunia yang masih kental warna tradisi dan budayanya, dengan dunia di luar sana. Lewat gitar, Budjana menunjukkan pada dunia kekayaan budaya dan musik negerinya, Indonesia. Gitar pula yang mengantarkan Budjana pada GIGI. Rumah dan alamat Budjana yang sangat penting. Bersama GIGI, Budjana melewati beberapa periode musik dan berhasil mengekspresikan diri.


Pharmindo, 23 Januari 2012
Profile Image for Andriana Ari.
2 reviews1 follower
May 30, 2015
gitaris yang satu ini memang tak pernah berhenti berkarya,setelah menelurkan beberapa album solo di susul beberapa karya tulisannya yang selalu memberikan esensi yang menarik tentang pandangannya terhadap seni yang begitu kaya,buku yang enak dibaca baik di kalangan musisi ataupun umum,yang pasti buku ini menjadi salah satu kitab suci yang sering saya kaji untuk mengeksplorasi permainan gitar dan mengasah sensitifitas dalam bermusik saya..thanks mas Budj sudah mau berbagi ilmu nya :)
Profile Image for Irwan.
Author 8 books122 followers
October 13, 2008
dah baca bagian teksnya. musiknya menyusul pelan-pelan sejalan dengan belajarku yang cukup tertatih-tatih :-)

Dewa Budjana memang musisi yang memberi inspirasi...
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.