Pada awalnya saya tertarik mengulas buku ini karena saya pernah membaca buku Ivan Lanin yang berjudul “Xenoglosofilia – Kenapa Harus Nginggris?”. Buku tersebut menekankan pada permasalahan orang Indonesia yang lebih senang menggunakan istilah bahasa Inggris padahal sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Di dalam bukunya, Ivan Lanin juga mengutarakan pendapatnya untuk istilah-istilah baru terutama istilah yang berkaitan dengan Teknologi Informasi.
Seperti buku Xenoglosofilia, buku Ajaib, Istimewa, Kacau juga ditulis untuk menjawab permasalahan yang sama. Perbedaannya adalah buku ini ditulis dari perspektif orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Indonesia. André Möller lahir di Swedia dan ia jatuh cinta pada bahasa Indonesia karena ‘ketidaksengajaan’, yaitu pada saat pesawatnya harus transit di Bali dalam perjalanannya ke Australia. Sejak saat itu, ia mempelajari bahasa Indonesia hingga kini sering menulis kolom bahasa di surat kabar dan pernah menerbitkan kamus Swedia-Indonesia.
Menurut pandangan saya, buku ini ringan dan mudah dibaca oleh segala kalangan. Seperti judulnya, buku ini ditulis berdasarkan susunan abjad, dari “A” yang diwakilkan oleh kata “Aneh dan Ajaib” hingga “Z” yang diwakilkan oleh kata “Zakiah”. Setiap kata tersebut merepresentasikan sifat bahasa Indonesia. Misalnya, pada saat pembahasan di huruf “C” mengenai "Cukup", penulis menyampaikan bahwa bahasa Indonesia sebenarnya bisa memenuhi segala kebutuhan bahasa yang muncul dalam kehidupan modern. Bayangkan kita baru tiba di hotel, pasti kata pertama yang kita akan sampaikan adalah check-in, padahal ada istilah bahasa Indonesia untuk hal ini: lapor masuk, begitu pula dengan check-out: lapor keluar. Di edisi terakhir Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada lebih dari 110.000 kata berbahasa Indonesia, maka jangan salahkan bahasa Indonesia kalau kita tidak bisa menemukan kata yang tepat.
Hal menarik yang saya temukan dalam buku ini adalah penulis tidak segan menceritakan kesulitannya saat mempelajari bahasa Indonesia. Bagi kita yang sudah belajar bahasa Indonesia dari kecil, pasti tidak akan merasa aneh dengan pengulangan atau reduplikasi kata. Akan tetapi, hal ini menjadi tantangan bagi orang asing. Misalnya, buku-buku merupakan bentuk jamak dari buku, tapi kalau kata mata diulang menjadi mata-mata maka artinya menjadi berbeda.
Selama saya membaca buku ini, saya jadi merasa malu dengan pengetahuan saya mengenai bahasa Indonesia. Setelah membaca buku ini, saya menjadi termotivasi untuk menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar (semoga ulasan buku ini sudah memenuhi kriteria). Selain itu, saya juga kagum dengan rasa nasionalisme yang terus disampaikan oleh penulis dalam buku ini. Kalau orang asing saja begitu cinta dengan bahasa Indonesia, kenapa kita tidak bangga menggunakan bahasa sendiri?
Sebagai penutup, berikut saya kutip beberapa garis merah yang disampaikan oleh penulis:
1. Bahasa Indonesia yang kita pakai dan cintai ini adalah bahasa yang mencukupi (hampir) segala kebutuhan para penuturnya.
2. Pentingnya bahasa Indonesia untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan ini berlaku pada zaman dulu, zaman sekarang, dan zaman nanti.
3. Pentingnya menanamkan pada anak-anak bahwa bahasa Indonesia ini keren dan seru.
(Ulasan ini ditulis dalam rangka Readathon #14)