What do you think?
Rate this book


344 pages, Paperback
First published February 3, 2020
"Bisa berbahagia nyatanya belum tentu bisa didapatkan dengan "digenapi" orang lain. Bahagia harusnya datang dari diri sendiri."


Diputusin kekasih setelah tiga belas tahun pacaran adalah bencana besar bagi Gala Nareswara. Hidupnya mendadak berubah 180 derajat dengan status barunya sebagai jomblo di usia 29. Kesialan lain menimpanya saat ia terancam dilangkahi sang adik yang kebelet nikah. Bersama ketiga sahabatnya, Nandi, Sidney, dan Detira, perburuan jodoh pun dimulai. Ia bertekad pantang lajang sebelum umur kepala tiga. Akankah Gala akhirnya menemukan pria idaman yang tepat untuk dinikahi dan menggenapi hari-hari ganjilnya?
Gala sebagai karakter utama tampil begitu memikat dengan pesonanya yang kuat. Ia berbeda dari kebanyakan perempuan. Sifatnya yang paling menonjol adalah kepercayaan dirinya yang supertinggi. Ia rapuh di dalam, tetapi tetap menjunjung tinggi harga diri. Dalam mengambil keputusan, ia lebih sering mengandalkan logika. Dia kuat, dia berani menertawakan kondisinya yang benar-benar kusut. Jangan ditanya seberapa dalam aku jatuh cinta dengan tokoh ini. Mungkin perasaan aneh yang muncul adalah ketika dia rasanya dengan gampang bilang pria yang ditemui ganteng, hampir semuanya dibilang ganteng. Lalu, terlalu banyak kebetulan-kebetulan.
Ketiga sahabat Gala pun muncul dengan porsi yang pas. Berkat tiga tokoh ini (Nandi, Sidney, dan Detira), Gala masih bisa berdiri tegak menghadapi hari. Mereka banyak memberi petuah atau wejangan soal asmara, yang kadang tepat kadang bikin geleng-geleng kepala. Nandi banyak memberi petuah dari sudut pandang cowok, sementara Sidney dan Detira yang telah menikah memberi wejangan berdasarkan pengalaman.
Tokoh-tokoh yang ada di sini tidak ada yang sia-sia, bahkan cowok ganteng yang nitip obat dari Malaysia itu BOOM! Kocak banget. Dari sekian banyak pria A+ yang ditemui Gala setelah putus, Aiman yang paling mencuri perhatiannya. Aku kurang suka dengan Aiman (dan semua interaksinya dengan Gala), tetapi aku punya firasat Gala akan berakhir dengannya.
Buku ini akan selesai dibaca sekali duduk jika Bara tidak drama, melepas Gala (yang hampir sempurna) hanya karena mimpi tidak cocok, lalu setelah dia tunangan dan melihat Gala dengan orang lain bertekad untuk merebut hati Gala kembali. Namun, Gala jauh lebih pintar dari Bara, kenangan selama tiga belas tahun gak mempan!
Tema cerita dan permasalahan yang diangkat penulis lebih berat dari Resign! (rasanya buku ini lebih dewasa). Tema seperti ini terasa dekat dan relate bagi kebanyakan orang, mengingat budaya masyarakat lokal yang kepo dan gemar mengurusi hidup orang lain. Kupikir inilah isu yang ingin diangkat penulis. Kisah ini dituturkan dengan gaya bahasa yang mudah sekali dipahami dengan gaya penulisan khas Almira Bastari, lugas dan ngena. Dia mahir menyelipkan humor-humor nendang yang cocok dengan seleraku. Alur penyampaiannya juga sangat enak untuk diikuti. Elemen yang khas dari buku-buku Almira adalah judul bab dan kalimat singkat di bawahnya yang sesuatu banget. Sekarang ini, standar metropop bagus bagiku adalah yang seperti tulisan Almira ini.
Tidak seperti buku Almira sebelumnya yang bisa kutebak jalan ceritanya, membaca buku ini membuatku menerka-nerka akan dibawa ke mana ceritanya dan bagaimana ending-nya. Penasaran apakah Gala berakhir dengan orang yang sama atau orang yang baru. Momen terbaik saat membaca buku ini adalah pada saat memasuki babak terakhir. Ending-nya serius bagus! Tebakanku salah tetapi aku malah suka. Tidak sepenuhnya happy ending tapi terasa nyenengin! Aku bangga sama Gala. Pengembangan karakternya bagus, dari yang memendam apa-apa sendiri, terlalu tunduk dan patuh pada kekasih, ngebet jungkir balik cari jodoh, hingga ikhlas dan menikmati jalan hidupnya. Gala harus berterima kasih pada Bara, karenanya ia mendapat sesuatu yang jauh lebih berharga. Serius, Gala ini terlalu bagus untuk jadi pendamping semua tokoh pria dalam cerita ini. Buku ini terasa sekali metropopnya, kisah seorang wanita mapan ibukota dengan segala keribetannya. Aku puas dengan epilog-nya dan gak kuduga ceritanya bisa diselesaikan seperti ini. Aku kepikiran, buku ini dibuka dengan putusnya Gala dan Bara dan harusnya ditutup dengan Bara ketemu Gala (yang jauh lebih baik dari saat bersamanya) secara tidak sengaja. Dengan kata lain, aku suka melihat Bara menyesal. Namun, ending versi Almira juga masih kuterima dengan senang. Tidak adanya rasa bosan yang muncul ketika membaca dan eksekusinya yang juara membuatku memberi rating lima bintang untuk buku ini. Buku ini cocok dibaca siapa saja, baik kamu yang sedang sibuk cari jodoh karena usia gak lagi muda maupun kamu yang hobi banget nanya-nanya “kapan nikah?”
“Aku dan Bara tumbuh bersama, dewasa berdampingan. Tidak pernah terbayang di dalam benak bahwa kami akan berakhir dengan orang lain.”
“Tiga belas tahun, berakhir dengan terima kasih. Seperti penutup kertas bon rumah makan padang.”