Aku tidak pernah merasakan perasaan semacam ini. Ada rasa hangat yang menjalar di dadaku ketika tangan Gio terulur mengacak rambutku. Tidak ada yang pernah memberitahuku bahwa seseorang bisa membuatmu merasakan kehangatan semacam ini.
Nyaris setahun aku memercayai omongan Mama, bersikap seolah aku membenci orang lain meskipun sebenarnya aku hanya membenci diriku sendiri. Sejak kapan aku menjadi seseorang yang lebih baik, seseorang yang bisa tersenyum dan percaya pada orang asing?
Banyak menulis romansa remaja hingga dewasa muda. Kegiatan kesukaan selain menulis antara lain travelling, doodling, fotografi, dan journalling.
Buku: 1. Rekindled; Tentang Diri dan Bagaimana Ia Kembali (Penerbit Laksana, 2020) 2. Phone's Reminiscence (Grasindo, 2018) 3. Somewhere Called Home (DivaPress, 2016) 4. Hello After Goodbye (Grasindo, 2015)
Jika ditanya cerita apa yang pasti ringan, tapi tetap menyenangkan, jawabnya adalah cerita teenlit. Di mana kisah remaja akan selalu berhasil membangkitkan mood baca yang kacau balau. Cerita yang biasanya berpusar pada sekolah, keluarga dan persahabatan akan membawa nostalgia bagi para pembaca yang sudah dewasa. Namun mungkin karena saking banyaknya cerita remaja yang hampir mirip dan monoton akan menimbulkan sedikit rasa jenuh. Penulis harus pintar memasukkan unsur dan isu yang menarik untuk membedakan ceritanya dengan cerita remaja lainnya. Rekindled merupakan salah satu novel teenlit dengan isu yang menarik. Tak hanya itu sampul bukunya pun terlihat manis dan menggemaskan. Ilustrasi sepasang remaja dengan seragam SMA yang saling melirik terlihat artistik dan unik. Apalagi latar kelas dengan papan tulis di belakangnya semakin menegaskan cerita remajanya.
Masih sama seperti novel remaja kebanyakan, Rekindled membahas kehidupan remaja yang tidak jauh dari sekolah, keluarga dan sahabat. Hanya saja Rekindled memiliki tema dengan isu yang memang sedang hangat diperbincangkan, yaitu penindasan dan kesehatan mental. Bagaimana isu ini dibalut ke dalam jalinan cerita remaja yang sebenarnya ringan, namun di saat bersamaan terasa serius dan menguras emosi. Kania yang mengalami penindasan harus mengalami trauma hingga membuatnya menjadi antisiosial. Untungnya muncul Gio yang berusaha untuk membantu Kania agar bisa terlepas dari luka di masa lalunya. Rekindled menjadi cerita remaja yang cukup kelam, karena penulis lebih mengeksplor emosi Kania dan Gio yang memiliki pengalam akan perisakan. Akibat dari perisakan itu pula hadir penyakit mental yang membuat ceritanya semakin dalam dan menghanyutkan. Namun, meskipun terkesan membahas hal yang serius, tapi penulis mengemasnya dengan ringan dan sederhana.
Dua tokoh utama dalam ceritanya adalah Kania dan Gio. Tokoh Kania merupakan seorang gadis remaja yang pemalu, penakut dan tertutup. Bahkan Kania bisa disebut antisiosial akibat trauma dan luka di masa lalunya. Mama Kania sendiri memperlakukan Kania dengan sangat protektif semenjak kejadian tersebut. Maka tidak heran jika Kania memiliki kepribadian yang sulit untuk dimengerti oleh kebanyakan orang. Sedangkan tokoh Gio adalah remaja yang tergolong nakal dan badung, tapi sangat perhatian terhadap orang yang disayanginya. Maka saat melihat Kania memiliki nasib yang hampir sama dengan kakaknya, Galih, Gio pun merasakan simpati terhadapnya. Gio kembali teringat penderitaan yang dialami oleh Galih, sehingga bisa ikut memahami apa yang dirasakan oleh Kania. Tokoh-tokoh pendukung yang ikut meramaikan cerita tidak terlalu banyak, seperti Dika, Tari, Bunda, Galih dan Kak Laras. Peran tokoh pendukungnya mungkin bisa dibilang tidak terlalu signifikan, tapi tetap memiliki peran penting di dalamnya. Menurut saya karakter kedua tokoh sentralnya sudah kuat dan terasa. Namun, sayangnya masa lalu Kania yang menyebabkan trauma tidak terlalu secara jelas diceritakan. Padahal jika ada satu bab yang menceritakan itu semua secara singkat mungkin rasa empati saya terhadap Kania mungkin bisa lebih dalam lagi.
Alur ceritanya berjalan perlahan dan secara bertahap. Penulis memperlihatkan bagaimana kondisi Kania yang memiliki luka dan trauma hingga munculnya kehadiran Gio di dalam kehidupannya. Meskipun di awal terasa cukup hambar, tapi untungnya semakin menuju akhir ceritanya berkembang dengan cukup baik. Gaya bahasa dan bercerita penulis ringan dan sederhana khas novel remaja kebanyakan. Dengan sekali duduk saja kita bisa langsung menamatkan ceritanya. Latar tempat seperti sekolah, ruang kelas, rumah, mal dan sebagainya diperlihatkan dengan cukup baik. Sehingga atmosfer cerita remajanya terasa. Terakhir sudut pandang orang pertama yang digunakan lewat tokoh Kania dan Gio juga cukup tersampaikan pada pembaca. Baik secara emosional dan psikologi kita bisa ikut merasakannya.
Konflik batin dan psikis yang dialamai oleh Kania sangat menarik untuk diikuti. Bagaimana luka di masa lalunya mengakibatkan trauma yang menghambatnya untuk bersosialisasi. Dalam pikiran Kania semua orang berpotensi menyebabkan luka yang sama terhadap dirinya. Maka tak heran jika Kania membangun tembok tinggi antara dirinya dan teman-temannya di sekolah. Ditambah perlindungan dari Mama-nya semakin menegaskan keyakinan Kania. Namun, di sini untungnya ada sosok Gio yang bisa dibilang hadir untuk menjadi pelindung sekaligus "pahlawan" yang menyelamatkan Kania dari keterpurukannya. Yang saya suka dari konfliknya adalah minim romansa dan hanya berfokus pada kondisi mental Kania beserta hubungannya dengan Gio dan Mama-nya. Gejolak batin dan emosi yang Kania tunjukkan bisa saya rasakan, karena saya pribadi pun pernah berada di posisi Kania.
Semoga saja setelah membaca buku ini akan semakin banyak orang yang bisa sadar akan kesehatan mental dan perisakan. Di mana dua hal tersebut secara langsung memang saling berkaitan. Korban perisakan biasanya akan mengalami trauma yang memengaruhi kesehatan mental mereka. Rekindled cukup berhasil membawa dua isu yang sedang hangat ini ke dalam ceritanya. Eksekusi yang dibuat penulis tidaklah rumit, malah sangat ringan dan dapat dibaca oleh siapa saja. Dua hal yang paling saya suka dalam ceritanya adalah fokus penulis pada isu kesehatan mental dan bahaya perisakan, serta peran lingkungan dalam dua permasalahan tersebut. Narasi yang ditulis mungkin kebanyakan hanya akan lebih berfokus pada Kania dan Gio. Efeknya pembaca akan lebih memahami sisi dari kedua tokohnya akan masalah yang mereka hadapi. Kekurangan dari novel ini mungkin terletak pada kurang digalinya kejadian di masa lalu yang membuat Kania trauma dan sangat sedikitnya peran Papa Kania dalam jalan ceritanya. Selebihnya saya menikmatinya setiap jalinan cerita yang disajikan dengan rasa pahit dan manis yang bisa dinikmati.
Rekindled merupakan novel ketiga Mala yang kubaca. Setelah membaca novel Rekindled ini aku bisa bilang tulisan Mala semakin rapi dan matang. Aku suka bagaimana Mala mengeksekusi kisah Kania dan Gio.
Isu yang diangkat pun cukup sensitif dan Mala cukup berhasil menyajikan isu dengan gaya bahasa yang ringan dan tidak terkesan menggurui.
Aku suka bagaimana Mala mengenalkanku dengan Gio dan Kania, pemilihan sudut pandang baik dari sisi Gio maupun Kania, membuatku lebih mudah merasa dekat dengan keduanya, bisa memahami apa yang mereka rasakan dan pikirkan.
Diceritakan dari sudut pandang Kania dan Gio, 2 orang yang pernah dekat dengan kata "perundungan/perisakan" itu sendiri, membuatku seakan bisa memahami situasi mereka. Aku bisa memahami kenapa Kania begitu anti sosial dan mudah panik. Bagaimana Gio menjadi selalu ingin melindungi Kania ...
Yang kusuka, Mala menulisnya dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, khas remaja banget. Semua tereksekusi dengan cukup baik, walaupun aku merasa masa lalu Kania kurang dieksplor disini. Hanya diceritakan sedikit demi sedikit saja.
Aku begitu penasaran dengan masa lalu Kania, sayangnya tidak terlalu banyak dibahas. Hal yang berbeda dengan masa lalu Gio. Alasan mengapa Gio begitu peduli dengan Kania.
Aku pun cukup dikejutkan dengan "sesuatu" menjelang akhir, itu menjadi jawaban alasan kenapa mereka begitu mudah dekat 😊
Dan ada bagian yang sedikit membingungkanku soal Galih, karena dari interaksi Kania dan Gio di 2 waktu, seakan Kania menanyakan hal yang sama
Aku tidak akan membocorkan lebih jauh kisah mereka, karena aku ingin kamu membacanya sendiri. Yang jelas, novel ini mengajarkanku untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Jangan sampai kata-kata maupun perbuatan kita malah menyakiti orang lain, apalagi kalau sampai malah menjurus ke perbuatan-perbuatan seperti menindas dll.
Pertama, aku mau menilai dari covernya. Aku pribadi kurang suka dengan ilustrasinya, bayangan wajah Gio dan Kania nggak seperti itu, hehe. Kalau font nya suka, timbul gitu.
Melihat konfliknya menurutku kurang wah. Pas baca, kayak datar-datar aja, meskipun ada masa saat Kania terpuruk, Kania ingat masa lalunya, Gio ingat kakaknya dll tapi kurang bikin gregett.
Ini tentang Kania yang memiliki masalah bersosialisasi dan trauma masa lalunya karena pem-bully-an. Gio datang sebagai teman yang ingin membantu Kania, karena Gio tahu perasaan Kania ketika sesak bertemu orang banyak.
POV yang digunakan berganti antara sudut pandang Kania dan Gio. Dan ada beberapa kalimat yang rujukannya salah. Harusnya memakai 'ku', tapi malah memakai 'nya'. Terus alurnya kurang mulus, pergantian tempat kurang dijelaskan dengan detail. Karakter Gio kurang cocok menurutku. Bayangan seorang Gio yang membantu Kania itu baik, bukan nakal, hehehe.
Tapi suka kok selama baca, meskipun sempet nggak nyaman sama rujukan kalimatnya. Meski kisah Gio dan Kania datar, tapi banyak banget pelajaran yang bisa diambil. Salah satunya, meski kita memang takut terjadi sesuatu pada anak, tapi kita juga harus mikirin apakah anak kita bahagia dengan aturan kita? Atau malah tersiksa? Terkadang trauma terhadap sesuatu itu cara mengatasinya harus keluar dari zona nyaman itu sendiri.
Selama baca, aku jadi mikir. Apa iya ada anak seperti Kania? Kalau iya, kasihan sekali ... Sulit berkomunikasi, selalu berpikiran buruk pada seseorang, hidupnya dikekang sang mama. Kasihan ... Jangan pernah ada Kania yang lain.
📕 Aku suka topik yang dibahas di novel ini, tentang bahaya perisakan yang dapat menyebabkan trauma berkepanjangan.
Keberanian penulis untuk menulis topik seperti ini perlu diacungi jempol karena perisakan adalah kasus yang sering terjadi di sekolah serta kasus yang dapat membahayakan psikologis seseorang, namun sayangnya kasus ini jarang terekspos. Semoga dengan membaca novel ini dan novel serupa lainnya, rasa empati dapat tumbuh di hati para remaja, orang tua dan guru-guru. . 📕 Aku juga suka topik tentang bagaimana seorang korban perisakan untuk berusaha bangkit dan berusaha mandiri.
Meskipun kesulitan, Kania dan Gio dapat membuktikan bahwa membela diri ketika dirisak itu sebuah keharusan, memperbaiki diri dan merasa bebas dari bayang-bayang masa lalu itu patut untuk dicoba. . 📕 Novel ini juga seolah mewakilkan gambaran yang terjadi di masyarakat seperti minimnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya peran psikolog dalam mengatasi trauma. Orang yang pergi ke psikolog biasa dikatai gila padahal belum tentu. . 📕 Aku suka cara penulisan novel ini karena mudah dicerna, tidak kaku dan mengalir begitu saja. Meskipun memuat unsur yang sensitif/sedikit berat, novel ini tetap menarik dibaca dan tetap tidak menghilangkan ciri khas novel remaja. Sayangnya, bagian masa lalu Kania sedikit sekali terekspos, sehingga aku hanya bisa menebak saja bagaimana kejadiannya . 📕 Novel ini mengingatkan kita bahwa kita perlu memperlakukan orang dengan baik, perlu mengenal teman-teman kita, serta perlu untuk saling memahami. Tak boleh kasar dan tak boleh diam ketika dirisak.