Kamu merasa takut akan sesuatu, tapi pada saat bersamaan, semesta ternyata memberikan jawaban atas ketakutanmu itu dengan hadirnya seorang teman. Yang tanpa diminta, tanpa disuruh, melakukan “tugasnya” dengan sangat baik. Hingga dirasa, semuanya lebih dari sekadar teman. Hingga lambat laun percaya bahwa dia adalah sosok yang tepat. Tapi, bukankah semua sudah ada waktunya? Kehadirannya, termasuk kepergiannya? Di situlah waktu terus berjalan, dan kita tetap membuat cerita yang tak tahu kapan berakhirnya. Kita dan waktu. Tentang indahnya “rasa”. Tentang menyayangi yang masih ada. Tentang mengikhlaskan yang sudah pergi. Juga tentang merawat ingatan itu sendiri.
Actually I want to give this book just one star but I'm feeling generous. However, the amount of "galau" contained in the pages of this book made me want to drink lots and lots of booze until I cannot feel anything anymore.
visual 5/5 content 3/5 konten buku ini akan lebih mengena untuk orang yang baru saja putus cinta, kehilangan seorang teman dan terperangkap dalam kenangan. isinya akan sangat pas menggambarkan fase depresi dari 5 stages of grief.