Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sang Keris

Rate this book
Kejayaan hanya bisa diraih dengan ilmu, perang, dan laku batin. Sedangkan kematian adalah jalan yang harus ditempuh dengan terhormat. Matilah dengan keris tertancap di dadamu sebagai seorang ksatria, bukan mati dengan tombak tertancap di punggungmu karena lari dari medan laga. Peradaban telah banyak berkisah tentang kekuasaan. Kekuasaan melahirkan para manusia pinilih, dan manusia pinilih selalu menggenggam sebuah pusaka.

Inilah novel pemenang kedua sayembara menulis paling prestisius. Cerita sebuah keris sekaligus rentetan sejarah sebuah bangsa. Sebuah keris yang merekam jejak masa lampau, saksi atas banyak peristiwa penting, dan sebuah ramalan akan Indonesia di masa depan.

***

“Novel beralur non-linier ini memecah dirinya dalam banyak bab panjang dan pendek, beberapa dapat berdiri sebagai cerita tersendiri ... memperlihatkan keberanian untuk menguji-coba bentuk dan isi.”
—Pertanggungjawaban Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019

Sang Keris karya Panji Sukma akan dibaca, dicerna, dan dinikmati masyarakat secara luas, akan masuk pada kelompok novel unggulan Indonesia.”
—Ahmad Tohari

“Pembaca akan dihantarkan dalam alur cerita dan ruang kosmis, serta tanpa sadar dituntun masuk dalam ruang kedalaman semadi.”
—Basuki Teguh Yuwono

110 pages, Paperback

First published February 17, 2020

51 people are currently reading
402 people want to read

About the author

Panji Sukma

3 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
48 (16%)
4 stars
96 (33%)
3 stars
124 (43%)
2 stars
14 (4%)
1 star
6 (2%)
Displaying 1 - 30 of 88 reviews
Profile Image for Agung Djokotritanto.
12 reviews6 followers
Read
September 18, 2022
Saya tulis sedikit ulasan novel ini dengan rasa dari pembacaan saya pribadi (subjektif) ini sebagai pembaca biasa.Novel tipis ini tergeletak lama di atas meja kerja saya. Berbulan-bulan saya enggan membukanya.

Sebagai orang Jawa, saya sendiri merasa ingin tahu novel-novel berlatar Indonesia di luar budaya Jawa. Orang Jawa (baca penduduk yang berasal dari Pulau Jawa) sudah terlalu banyak. Ceritanya pun sudah terlalu banyak. Dan menghadapi salah satu novel pemenang DKJ 2019 ini, masih saja ada terselip novel berlatar budaya Jawa. Tak kurang-kurangnya cerita fiksi berlatar budaya Jawa yang menghadirkan keris. Waktu itu saya masih enggan membukanya, meski hanya sehalaman. Saya pikir, dan semoga tidak membuat gusar yang lain, pribadi saya bertanya: Indonesia ini bukan hanya Jawa, kan, ya?

Akhirnya sebelum genap dua tahun, saya membacanya. Dan saya menyatakan novel tipis ini memang layak jadi pemenang. Novel ini mengadu keberanian untuk main bentuk. Ceritanya non linear, dibagi ke dalam sejumlah bab yang membentuk sebuah cerita sangat pendek, cerita pendek, dan cerpen agak panjang. Pengunaan sudut pandang orang kedua tunggal (kau) cukup membantu perwatakan ceritanya; sang keris.

Baiklah. Mau tema Jawa, apa non Jawa, saya buang prasangka kesukuan. Naskah Sang Keris pasti sudah membuat juri kepincut (saya pakai istilah Jawa). Saya tidak mencurigai, saat juri membaca naskah etnografis bertema (dari) Indonesia Timur, mungkin masih perlu pengujian atas mutu penulisan, kebaruan tema, dan kesegaran bentuk. Saya berharap, di sayembara DKJ mendatang, muncul naskah-naskah bertema Indonesia Timur yang mampu membuat hati juri tersemai bahagia. Dengan ringan hati saya menyatakan apresiasi yang tinggi pada novel. Novel ini segar, bermutu sastra, dan ditulis dengan baik.

Tapi saya tetap enggan memberinya bintang.
Profile Image for Hasan Fahri Pamona.
19 reviews6 followers
April 12, 2020
Novel ini tidak jelek. Tentu doooongg... kan menang sayembara. Apalagi DKJ.

Novel ini sangat unik. Menurut saya inilah yang membuat saya dan (mungkin) ketiga juri sayembara tsb jatuh hati. Kelebihannya ya itu: Unik.


Seperti komentar juri sayembara itu, singkatnya cerpen, eh maksud saya novel ini menawarkan sesuatu yang berbeda.

Salah satu ciri khas sayembara dan lomba adalah menentukan pemenang dari sekian banyak naskah yang tergolong baik, menawarkan kebaruan ini itu dan bagus lhah pokoknya ya. Tapi ada lagi yang khas yaitu, juri pasti ingin ketiga (atau katakanlah) yang menang punya perbedaan. Antara pemenang ada pembedanya. Ada variasi. Tidak semua tema etnografis. Gak boleh semuanya yang realis, harus ada yang aneh barang satu. Kalau bisa bentuknya tidak dalam satu genre. Naskah dari tema yang jarang digarap kalau bisa ada. Dan dsb dan dst. Selalu seperti ini.


Jadi mungkin saja di antara naskah yang tidak menang ada yang benar-benar baik dan lebih baik dari salah satu pemenang. Tapi mungkin saja mereka tidak unik.


Cerpen, eh maksudnya novel ini begitu ringkas. Pikiran saya sejak semula membuka buku ini seperti bukan novel. Benar. Ini bukan novel biasa. Novel ringkas, dengan puluhan tokoh, variasi jumlah halaman dalam setiap bab yang ektrem (sekaligus ada yg sangat minim, ada juga yang ekstra panjang), dan juga rentang waktu yang sangat luas.


Jadi wahay para pencari kemenangan dalam sayembara novel, berbuatlah yang melenceng. Semakin unik dan ceng melenceng akan menarik. Semakin aneh dan ajib akan menjadi pembeda. Tentu dengan bahasa yang enak. Novel, ini benar bukan cerpen ya, ditulis dengan bahasa yang kokoh. Menurut saya inilah kelebihannya.

Soal singkat atau panjang ukuran jumlah halaman, bukan jadi soal. Novel ini punya hoki. Barangkali karena tema keris? Ah, mitos! Tapi benar, novel singkat yang dalam setengah buku begitu kedodoran ini, punya keistimewaan yang mutlak: kalimat-kalimatnya begitu harum.
Profile Image for Khaira.
34 reviews19 followers
April 25, 2020
Buku ini termasuk novella kali ya, karna terlalu panjang kalau dikategorikan sebagai cerpen dan terlalu singkat untuk dikatakan novel (tapi di sini aku sebut novel aja karna lebih akrab di telinga).

Ceritanya unik, ini pertama kalinya aku baca novel yang ceritanya memakai sudut pandang sebuah benda, alih-alih manusia. Novel ini bercerita tentang sebilah keris, Kanjeng Kyai Karonsih, yang menjadi saksi pergantian kekuasaan dari masa ke masa di nusantara, mulai dari zaman kerajaan Hindu, Budha, Islam sampai era kemerdekaan.

Ceritanya melesat dalam waktu yg sangat cepat dan memiliki tokoh yang terbilang banyak untuk novel yang hanya memiliki 110 halaman. Belum lagi alur yang digunakan tidak linier, cukup bikin aku bingung sehingga kurang bisa menikmati jalan ceritanya. Namun secara ide, novel ini memang benar-benar unik dan baru.

Jujur, selain karna keunikannya tersebut, aku tertarik baca novel ini juga karna predikatnya sebagai pemenang kedua sayembara novel DKJ. Penasaran aja, novel yang menang sayembara DKJ itu kayak gimana.
Profile Image for Sads.
68 reviews6 followers
January 18, 2023
Penggunaan sudut pandang sebuah keris, sekaligus penggunaan sudut pandang orang kedua adalah keterangan yang tidak diberitahukan oleh ulasan lain.

Kau sempat heran saat menelusuri sekilas dari 60 ulasan yang ada, sebuah kata sifat berulang kali muncul tanpa ada keterangan atau petunjuk lebih mengenai apa yang membuat buku ini ‘unik’. Kau pun tertarik untuk tampil beda dari pendahulumu, pemberi ulasan buku ini. Berbekal catatan kecil yang dibuat selama rentang waktu membaca bukunya, kau mulai menuliskan ulasan dengan mengimitasi gaya cerita di buku tersebut. Sesuatu yang pernah kau lakukan sebelumnya pada buku Kita Pergi Hari Ini.

Rekomendasi buku ini muncul ketika kau gagal meminjam buku Animal Farm di iPusnas. Judulnya terdengar familiar, dan memang belum lama buku ini lewat di linimasa mu, buku peraih juara 2 di Sayembara Novel DKJ. Cukup mengagetkan untukmu saat melihat jumlah halaman yang terhitung tipis, jauh lebih cocok untuk jadi novela daripada novel. Keherananmu kembali terpantik karena tidak adanya antrian untuk membaca buku ini di iPusnas. Tapi apa pedulimu, kau anggap sebuah keberuntungan untuk dapat membaca buku pemenang sayembara tanpa ribet.

Seratusan halaman lebih sedikit kau habiskan dalam waktu kurang dari sehari. Sesuai dengan intuisimu, buku dengan premis macam epos, tidak akan mampu membuatmu menyelesaikannya dan merasa penuh. Memang itulah yang terjadi. Dengan kronologi alur cerita lintas-masa, karakter-karakter selalu bertambah hampir di tiap bab nya. Mau sepadat apapun isi buku ini dibuat, karena hanya memiliki seratusan halaman. Ceritanya memberi kesan bahwa ia tidak selesai.

'Show, don't tell'—'tunjukkan, jangan katakan', merupakan aspek penting untuk mengikat imajinasi dalam bacaan fiksi. Lakukan kebalikannya, maka kau hanya akan mendapati kalimat deskriptif, menghambarkan gambaranmu atas adegan-adegan dalam cerita, penyakit ini sering kau temui dalam kisah-kisah pendekar Jawa. Kisah dalam buku ini pun tidak luput dari kekurangan tersebut.

Dalam beberapa bab, dikisahkan sesosok sakti dengan ilmu kanuragan setelah mempelajari ajian dan serat-serat kitab kuno, manghapal jurus dan mantra. Tak pernah diberi tahu apa yang sebenarnya dipelajari. Tak juga ditunjukkan distingsi kentara antara kebijaksanaan sang pendekar dibanding orang-orang biasa di sekitarnya. Kesaktian dan kewaskitaannya, selalu saja disampaikan dengan variasi kata sifat; ditakuti seluruh pendekar, terdengar sampai kerajaan seberang, pendekar perang tanding, memiliki kemampuan luar biasa mampu melumat habis musuh-musuhnya.


Kenakalan dan keangkuhan pikiranmu tanpa diminta akan berkomentar. Sering kau mengolok-olok bagian itu. “oh ya, Pendekar pilih tanding, ya? Kenalkan namaku Sastro Norener Akathokan, pembaca pilih buku. Kemampuanku melumat buku-buku sebanding menakutkannya dengan kemampuan orang perancis melumat bibir.’


Dengan lancar kau menuliskan hal-hal tidak menyenangkan dari buku ini. Sepantasnya untukmu menuliskan kehebatannya juga. Keunggulannya adalah perubahan nada penulisan yang mampu memberikan gambaran lingkup latar waktu; zaman kerajaan, zaman wiracarita pewayangan, zaman kemerdekaan indonesa, sampai ke zaman sekarang, masing-masing memiliki ciri pembeda yang bisa dirasakan saat membacanya.

Pembendaharaan kata yang dimiliki penulisnya pun sangat luas, dan kelihaiannya mengolah kata sangat mengesankanmu. Dapat diterka bahwa penulis buku adalah orang yang sangat familiar dan telah lama mendalami kesastraan terkait kisah-kisah Jawa. Pujian pada penulis untuk bab Matah, terdecak kagum kau dibuatnya saat membaca bab itu. Bukan perkara sepele untuk menerjemahkan fenomena sosial masa kini, fakboy, ke dalam latar waktu jawa kuno.


Cocok untuk pembaca; yang penasaran dengan juara-juara sayembara novel DKJ, yang suka membaca buku tipis dengan pengaruh kuat budaya Jawa.
Tidak cocok untuk pembaca; yang sudah bosan dengan kisah-kisah kuno berlatar Jawa, yang mengharapkan sebuah epos atau penceritaan ulang pewayangan, yang memiliki cerita utuh.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews40 followers
March 11, 2020
Novel yang terdiri 110 halaman ini terdapat banyak sekali tokoh. Setting waktunya pun melesap dengan cepat dari era Majapahit lalu Mataram kemudian era kolonial dan abad 21. Pembaca harus benar-benar teliti untuk bisa menikmatinya.

Bab-bab di dalamnya pendek-pendek ada yang terdiri dari 2 hingga 17 halaman. Tokoh-tokoh dalam tiap babnya pun berbeda-beda, kecuali sang keris itu sendiri yang berpindah-pindah tangan dari masa ke masa.

Saya sendiri menikmati ceritanya di awal, namun di sepertiga akhir novel, saya kehilangan kontrol karena tokoh-tokoh baru bermunculan dan tidak bisa menghubungkan dengan bab sebelumnya. Terlebih lagi, wawasan sejarah saya yang kurang membuat saya kebingungan meletakkan kejadian demi kejadian dalam lini waktu.
Profile Image for Adham Fusama.
Author 9 books72 followers
August 5, 2020
Hmmm bagaimana ya, saya ingin sekali menyukai cerita ini, tapi saya merasa buku ini hanya seperti "ringkasan" cerita yang ditulis dengan bagus. Untuk sebuah buku yang premisnya luar biasa, ketebalan 110 halaman itu jelas tak cukup untuk menampungnya. Ceritanya bergerak seperti angin lalu yang bahkan tidak cukup kuat untuk membuat pembaca terhanyut.

Waktu mendengar pengumuman juri DKJ, yang muncul di pikiran saya adalah sebuah novel epik, yang mungkin bisa jadi the next Raden Mandasia atau Kitab Omong Kosong. Tapi pas tahu bukunya tipis, harapan itu lenyap dengan segera.

Terus terang, ceritanya bagus sekali. Hanya saja, sebagai pembaca, saya merasa frustrasi karena ingin sekali mendapatkan pengalaman membaca yang nendang, dengan jelajah cerita yang mendalam, atau setidaknya mumpuni. Sungguh sangat disayangkan. 2,5.
Profile Image for Yuniar Ardhist.
146 reviews18 followers
February 27, 2023
Untuk pembaca yang bukan dari Jawa, mungkin akan punya “keterasingan” dari penamaan tokoh-tokoh di buku ini. Meski demikian, bisa jadi juga akan terbiasa ketika sudah membaca lebih jauh.

Ceritanya semacam gabungan cerita sejarah, fantasi, pewayangan, dengan alur yang tidak linier. Sebenarnya menarik, tapi saya kurang bisa menikmatinya. 1 bintang lebih banyak untuk konsep penulisannya. Mungkin tidak mudah untuk mengalirkan ide dengan gaya penulisan seperti ini. Hanya saja, memang saya kurang bisa menikmatinya. Terlebih karena sebagian fokus saya terpecah dengan penamaan tokoh yang membuat saya harus mengingat-ingat siapa, apa perannya, di antara alur cerita.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
March 1, 2020
Bagian paling keren menurut saya adalah Arya Matah jatuh hati denga sang prameswari.
Profile Image for fara.
280 reviews42 followers
August 19, 2022
Rampung dalam sekali duduk. Membaca Sang Keris seperti diajak berpetualang melintasi zaman, dengan latar peristiwa dan tokoh yang berbeda-beda. Bersama keris, benda mati yang menjadi pusat semesta novel (atau novela?) ini, kita diperlihatkan oleh bagaimana leluhur kita memperlakukannya. Meskipun pergantian sudut pandangnya agak membingungkan dan saya bukan penggemar sejarah Jawa, Sang Keris menawarkan pengetahuan soal keadaan Pulau Jawa di masa silam dan realisme magis yang kental. Unik juga sih, karena kita ditempatkan pada posisi benda mati. Vibesnya sama seperti ketika membaca tulisan Sujiwo Tejo atau mendengarkan dongeng-dongeng orang tua untuk pengantar tidur.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
November 26, 2025
Saya tidak paham apa tujuan substansial penulis membeberkan banyak kisah dalam “novel” ini—kalaupun ini pantas disebut novel—karena tampaknya terlalu banyak sub-plot yang ingin dihadirkan. Masalahnya, setiap jalinan sub-plotnya hampir tak terkoneksi satu sama lain, dan tak ada kausalitasnya. Atau, jangan-jangan penulis tadinya meniatkan ini sebagai kumpulan cerpen dengan benang merah karakter utama Sang Keris? Walaupun di sisi lain, sulit juga untuk menafsirkan beberapa fragmen ceritanya sebagai cerpen karena ada saja bagian cerita yang diselesaikan tanpa suatu konklusi berarti.

Sebagai sebuah cerita non-linear, sebetulnya ini adalah kisah yang menarik, terutama dengan keputusan kreatif penulis untuk memilih sudat pandang bercerita orang kedua—dengan narator yang seolah-olah sedang berbicara langsung pada sebilah keris. Kita pun tentu sepakat kalau Panji Sukma adalah pencerita yang baik.

Sebagai penulis yang sedari kecil sudah aktif di sanggar seni budaya, jelas ia punya kapasitas mustahak untuk menuliskan sejarah tentang keris atau pengetahuan umum tentang kultur kerajaan Jawa. Justru yang jadi pertanyaan, adalah cara ia menghadirkan kisah Sang Keris kepada pembaca. Potongan-potongan cerita, yang kadang terlalu pendek dan kadang kelewat panjang, malah membuat ceritanya secara keseluruhan sangat berjarak dengan pembaca.

Kalau boleh disimpulkan, novel ini adalah kisah tentang perjalanan spiritual. Perjalanannya siapa? Hanya orang-orang terpilih yang mampu menjawabnya.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
September 27, 2023
Konon, setiap penguasa, pemimpin, atau orang berpengaruh selalu memiliki pusaka yang menjadi "pegangan" mereka. Tidak hanya sebgai senjata, pusaka ini adalah penguat pamor, penambah kesaktian, sekaligus pelindung diri. Diceritakan, bahkan tokoh-tokoh ini hanya bisa tumpas ketika pusaka telah lepas darinya.

Buku yang kumpulan cerita "era Nusantara" ini berisi kisah sambung menyambung dari beragam tokoh yang berbeda, mulai dari zaman kerajaan kuno hingga ke era modern. Seperti yang tercermin dalam sampulnya, tiga zaman besar melintas di buku ini: kerajaan kuno nusantara, era kolonial, dan paska Indonesia merdeka. Setiap cerita punya satu pusaka yang sepertinya dialihkan dari satu masa ke masa berikutnya.

Bagian paling menarik ada di bab-bab terakhir. Ada banyak tema dan istilah Jawa yang dipaparkan, salah satunya membaca sengkalan atau penulisan angka tahun dalam bentuk kalimat. Penulis juga sedikit menunjukkan cara membaca sengkalan. Salah satunya, sengkalan tentang kapan datangnya Ratu Adil yang sepertinya akan berbarengan dengan satu hajatan besar di negeri ini: "Catur kembar sunyi ganda"
Profile Image for Kirana.
95 reviews8 followers
April 8, 2021
Mmm . . . Awal-awal baca saya menikmati ceritanya, tapi lama-lama saya bingung ini cerita mau dibawa ke mana . . .
Jadi, ini cerita dari sudut pandang keris. Iya, keris yang benda tajam yang katanya sakti itu. Saya langsung lihat lagi covernya dan berekspektasi bahwa cerita ini tentang perjalanan keris dari zaman raja-raja sampai era Ir. Soekarno.
Sebenarnya tebakan saya benar, tapi maaf banget alurnya bikin saya pusing :( Saya mikirnya alurnya maju gitu, urut. Alur maju mundur seperti ini kayaknya memang nggak cocok buat saya.
Overall, ceritanya unik. Banyak kata-kata dalam bhs. Jawa yang nggak familiar (menurut saya). Tapi di bawahnya ada footnotenya, jadi kalau kalian ada yang ga paham bisa baca di footnotenya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fatih Hayatul.
30 reviews
December 17, 2022
Sebagai pribumi yang tak memiliki darah Jawa, saya terkesan dengan penuturan Penulis dalam membimbing pembacanya memasuki sebuah realitas baru yang dibentuk seperti labirin tanpa ujung. Kisah Sang Keris sebagai sudut pandang objek mati dalam mengarungi sejarah bisa diceritakan dengan narasi yang menarik dengan kosakata yang kaya akan pengetahuan baru.

Mungkin secara perpindahan bab ke bab yang dimaksudkan menjadi potongan puzzle masih kurang tersampaikan dengan jelas. Mungkin juga ini karena terlalu banyaknya karakter dengan nama-nama yang kurang bersahabat untuk saya dan tentu referensi saya dalam kisah Jawa kuno yang masih terbilang minim membuat jahitan bab ke babnya serasa mentah dan asal lempar.
Profile Image for Safar Nurhan.
Author 4 books3 followers
Read
July 9, 2020
Halaman 1—18, menggunakan sudut pandang kedua. Habis itu, muncul lagi sudut pandang kedua di pertengahan cerita. Lalu, sudut pandang kedua kembali hadir di akhir cerita, kau (Sang Keris) hilang dari museum.
Profile Image for Panca Erlangga.
116 reviews2 followers
August 5, 2020
Dari paruh pertengahan sampai paruh akhir, Sang Keris seperti kehilangan arah untuk bercerita dan kedodoran. Memang, buku ini cukup tipis, tapi perjalanan keris dan perpindahannya dari masa ke masa membuat banyak karakter yang hanya sepintas muncul begitu saja.
Profile Image for Rurrareuh.
31 reviews1 follower
September 26, 2024
Buku ganteng tapi bingung. Bab-babnya ini saling berkaitan, tapi buat ngaitinnya ini bingung. Alur waktunya acak-acakan gini ni yang bikin bingung. Tapi buku ini beneran ganteng deh.
Profile Image for Nabilah S.
173 reviews1 follower
September 13, 2025
Tidak mengerti sama sekali. Sedih banget. Alurnya kacau, gatau apa keterkaitan antara part satu dan lainnya. Endingnya pun terasa janggal.
Profile Image for Rafli.
102 reviews42 followers
January 28, 2021
aku memutuskan untuk membaca buku ini karena buku ini mendapat juara kedua dalam sayembara novel DKJ 2019 juga buku ini masuk 10 besar buku sastra pilihan tempo. buku ini bisa dibaca di iPusnas secara gratis. dengan tebalnya yang hanya 110 halaman, buku ini menceritakan perjalanan sebuah keris dari masa lampau hingga masa kini. keris yang merekam jejak masa lampau, menjadi saksi sejarah atas banyak peristiwa penting. buku ini terdiri dari banyak bagian, yang setiap bagiannya bisa membentuk satu kisah sendiri. satu bab rasanya seperti kepingan puzzle. buku ini memiliki alur non-linier, alurnya tidak urut, tidak biasa dan rumit. aku masih belum familiar dengan alur seperti ini dan setelah membacanya pun aku masih kesusahan untuk menyusun kepingan-kepingan puzzle-nya. dua bab pertama, ceritanya sungguh enak untuk diikuti. tapi, aku mulai kehilangan arah setelahnya. dari asmaradana hingga talidarma. setelah dibuat cukup nyaman dengan kisah arya matah dan nyai karonsih, pembaca dipaksa untuk mengikuti kisah yang lain. alasan lain buku ini susah untuk dinikmati adalah tokohnya yang sangat banyak, juga karena aku terlalu buta sama sejarah. aku kira dari awal sampai akhir, buku ini ditulis dengan sudut pandang sang keris, tapi ternyata tidak. hal yang paling aku suka dari buku ini adalah narasinya yang sungguh indah, kokoh, dan terasa mahal. gaya penulisan yang benar-benar membuatku puas. menurutku, buku ini bagus meskipun kisahnya membingungkan.
Profile Image for Cel.
62 reviews2 followers
January 13, 2024
Pertama kali baca buku dari sudut pandang sebuah keris.

Bagus guys, sangat terasa sekali Jawanya, kental dengan sejarah-sejarah kerajaan, legenda, tentang keris dan lain-lain. Walaupun dominan narasi (beneran banyak banget), tapi diksinya cantik.

Bukunya keren, tapi aku nggak paham. Karena aku yang kurang konsentrasi waktu bacanya atau gimana, tapi kadang aku nggak menemukan korelasi antara satu bab dan bab lainnya jadi bingung tapi bagus (aku tau pasti ada walaupun secara tersirat tapi aku nggak nangkep).

Dan diakhir dibikin goosebumps.
30 reviews3 followers
June 14, 2021
Pernah nonton sinetron Indosiar? Bisa jadi Sang Keris ini versi novelnya, hanya saja beribu lipat lebih baik, bermoral, berbudaya, enggak dungu sama sekali, dan tentu saja; keren.

Melalui sudut pandang keris bernama Kyai Karonsih, kita akan dibawa dari masa ke masa secara bergilir, menyesuaikan waktu tuan dari Sang Keris ini hidup. Tuan favoritku Arya Matah, btw.

Sejak Mahabharata, aku memang tertarik dengan novel-novel bermuatan budaya Indonesia, macem gini. Apalagi kalau ditambah unsur magis, mwa💋👌puas bacanya. Aku setuju dengan klaim pertanggungjawaban dari Dewan Kesenian Jakarta (penyelenggara lomba yang akhirnya memutuskan novel ini untuk duduk di kursi pemenang kedua 2019), bahwa Panji Sukma membawakan suasana melalui diksi-diksinya secara tepat, lengkap dengan bobot tulisan yang agaknya penuh prinsip ini, kayak campuran ketuhanan dan kejawen. Meskipun aku belum paham-paham betul tentang apa sih sebetulnya pesan tersembuyi yang mau disampaikan, sampai aku tergoda untuk baca lagi di lain kesempatan. Mungkin.

Banyak sekali tanda-tanda yang membuka diri untuk dikaji, bahasan kebudayaannya pun mengerucut. Sehingga bisa dibilang novel ini cocok untuk yang mau meneliti dalam ranah semiotika atau sosiologi.

Untuk kamu yang orang Jawa, mungkin paham banyak kali ya soal apa bahasan sebetulnya dari novel ini. Mulai dari filosofi keris, hierarki kerajaan, kepercayaan kejawen, aji-ajian, sampai konsep yang menyentuh prinsip hidup dan ketuhanan. Banyak istilah Jawa yang bikin aku kewalahan, padahal udah diberi catatan kaki.

Buatku, Sang Keris menyenangkan untuk dibaca. Dan aku enggak keberatan untuk membaca ulang pada kesempatan mendatang.
Profile Image for Andris Sambung.
39 reviews3 followers
March 2, 2020
Sang Keris dengan penceritaan yang tidak biasa, menjadi sebuah angin baru untuk memasuki buku-buku sejenis jikapun ada dikemudian hari. Sebagai sebuah buku yang menjadikan tradisi sebagai latarnya tentu sangat menarik jika novel ini bisa lebih panjang lagi. Namun disamping itu, buku ini menawarkan sesuatu yang baru, untuk dapat menjadi pilihan dari cerita-cerita sejenis yang terkadang tidak menawarkan hal yang menarik. melihat kepiawaan penulis dalam membangun cerita tampaknya biku baru tak lama lagi akan segera terbit. Semoga
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
November 16, 2020

“Tentu kau mengerti, hal paling menyedihkan adalah dihilangkan dari sejarah, tak ada yang tahu kalau kau pernah ada, sekelam apa pun kisahmu.”


“Apakah di zamanmu masih ada yang sudi menerima peran seperti aku? Bukan tentangku yang aku khawatirkan, sebab kisahku sudah berlalu. Melainkan tentangmu, tentang kalian, zaman ini, tidak ada yang menjamin jika kebeneran yang akan mengalahkan keangkaramurkaan, kecuali jika terlahir kembali Sang Ratu Adil.”


“Peradaban telah banyak berkisah tentang kekuasaan. Kekuasaan melahirkan para manusia pinilih, dan manusia pinilih selalu menggenggam sebuah pusaka. Jika mata lahirmu buta, kau butuh berpegang pada tongkat agar dapat sampai ke tujuan. Namun tongkat tidak memberitahu ke mana tujuanmu. Maka tapakilah jalan sunyi agar mata batinmu tak ikut buta seperti mata lahirmu, kau butuh berpegang pada sebuah pusaka yang pernah mengantar orang-orang meraih kejayaan jauh sebelum kau lahir.”


Akhirnya selesai juga. Butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikan buku yang memiliki ketebelan 110 halaman ini. Mereka—Para Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019—menyebut buku ini sebagai novel dengan alur non-linier.

Ini adalah kali pertama aku baca novel seperti ini. Entahlah aku lebih suka menyebutkan novel ini sebagai buku yang berisi beberapa ringkasan cerita. Sebab tiap bab-nya menyuguhkan cerita yang berbeda dengan Tokoh yang berbeda pula. Ada banyak sekali karakter Tokoh yang di hadirkan dalam buku ini.

Kalau ditanya apakah aku bisa menikmati buku ini? Aku akan menjawab iya sekaligus tidak. Iya, karena aku suka dengan cerita di beberapa bab. Terus terang, ceritanya bagus.

Tidak, karena aku merasa tidak puas. Cerita yang disuguhkan kurang panjang, kurang dalam. Sungguh aku merasa frustasi. Di saat aku sudah masuk di bab awal, 'Museum’ dan ‘Arya Matah’, tiba-tiba cerita berubah haluan. Berasa diputus cinta pas lagi sayang-sayangnya...

Aku sih berharap, penulis akan membuat versi panjang dari salah satu cerita di bab yang ada dalam buku ini. Entah itu mengambil bab ‘Arya Matah’, atau bab ‘Sang Penyambung’. Yang jelas isinya berfokus dengan Tokoh tertentu saja. Sungguh aku sangat berharap sekali.

Jadi, buat kalian yang bertanya, bercerita tentang apa buku ini..? Singkatnya seperti ini, buku ‘Sang Keris’, berkisah tentang perjalanan sebilah keris: Kyai Kanjeng Karonsih, yang menembus ruang dan waktu, dari masa lampau hingga masa sekarang. Yang berpindah kepemilikan, dari satu tangan ke tangan yang lain.

Dimulai dari awal kelahiran si keris tersebut, bagaimana si keris sampai pada pemilik pertama, kedua dan seterusnya. Dan bagaiamana ia—si keris—menjadi penyebab terjadinya sebuah tragedi, dan bagaimana ia menjadi saksi perjalan sejarah negeri ini.

Oke, cukup segini dulu review dariku. Semoga kalian suka dengan review ini. Dan, aku berharap sekali, bahwa review-ku ini bisa menjadi alasan bagi kalian untuk segera membaca buku ini.
Selamat membaca... 😉
Profile Image for Clavis Horti.
125 reviews1 follower
August 6, 2023
Sang Keris karya Panji Sukma menghadirkan intisari dari penelitian mendalam yang diwujudkan dalam penceritaan yang begitu khas. Seperti hutan lebat dengan beragam pohon yang terhubung erat, buku ini terdiri dari bab-bab yang saling berkaitan, membentuk lanskap yang sungguh unik. Tidak hanya kejutan cerita yang muncul di akhir, tetapi juga sensasi misteri yang tiba-tiba menghampiri di setiap halaman, menambah daya tarik tersendiri.

Berpelukan dengan perjalanan melintasi berbagai masa, buku ini mengajak kita untuk menjelajahi berbagai era, mulai dari masa kerajaan hingga zaman modern. Setiap pergeseran dalam alur cerita memberikan sentuhan yang menarik dan memikat, tempat di mana percampuran budaya, sejarah, unsur mistis, dan elemen pewayangan menyatu harmonis, memberikan kekayaan pada setiap segmen cerita. Ini merupakan ekspedisi yang mengundang pembaca untuk merasakan kedalaman dan keanekaragaman dunia yang dihidupkan di halaman-halaman buku ini.

Tidak hanya itu, pendekatan sudut pandang yang menghadirkan kejutan seakan muncul dari karakter-karakter yang tidak terduga, memberikan nuansa yang benar-benar istimewa pada karya ini. Ketika meresapi setiap halaman, saya merasa terpesona oleh gaya penceritaan yang luar biasa, meskipun terkadang membutuhkan konsentrasi lebih. Magnet dari buku ini memang tak terbantahkan, dengan alur yang segar dan plot yang selalu menyajikan kejutan tanpa henti.

Selain itu, terdapat kutipan yang menarik hati dalam buku ini, "Apakah di zamanmu masih ada yang sudi menerima peran seperti aku? Bukan tentangku yang aku khawatirkan, sebab kisahku sudah berlalu. Melainkan tentangmu, tentang kalian, tentang zaman ini.” Kutipan ini dengan sempurna mencerminkan inti dari buku, mengajak pembaca untuk merenungkan peran individu dan tindakan mereka dalam konteks zaman yang sedang dijalani.

Dengan jangkauan waktu yang merentang jauh, Sang Keris telah membawa kita menjelajahi liku-liku sejarah, mengarungi lautan masa yang penuh dengan kejutan. Melalui perspektif yang tak terduga, buku ini memimpin kita mengikuti jejak-jejak sejarah yang jarang tersentuh, seolah membawa sepotong masa lalu yang terlupakan. Di dalamnya, budaya dan sejarah bersatu dalam harmoni yang menggetarkan, membangkitkan rasa ingin tahu dan kagum terhadap perjalanan yang tak pernah surut. Petualangan ini tidak hanya meninggalkan jejak di halaman-halaman buku, tetapi juga membentuk kenangan yang abadi, menghubungkan kita dengan kisah-kisah dari masa lalu. Akhirnya, kehadiran Sang Keris tidak akan pernah terlupakan, membawa kita menjelajahi rahasia-rahasia yang memikat.
Profile Image for Vincent Arkayudha.
11 reviews
September 17, 2025
Judul: Sang Keris
Penulis: Panji Sukma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2020
Ketebalan: 110 halaman

Sejujurnya, saya tidak paham, apa yang mau diceritakan dalam novel ini walau bab pembukaannya lumayan page turning. Plot yang tidak linear dan begitu banyaknya nama tokoh membuat saya kesulitan untuk memahami dan menikmati alur ceritanya. Ditambah, mencari keterkaitan antarbab membuat saya semakin mumet. Rasanya seperti mencari jerami di antara tumpukan jarum. Sulit dan memusingkan. Alah. Tapi, setidaknya, dengan membaca sampai selesai, daftar buku yang sudah saya baca tahun ini bertambah. Ha-ha-ha.

Ah, mungkin itu akibat ekspektasi saya yang terlalu tinggi terhadap novel yang meraih peringkat kedua pada Sayembara DKJ 2019 ini.

Dikutip dari halaman yang memuat pertanggungjawaban juri sayembara, katanya, novel "Sang Keris" bertokoh sebilah keris, Kanjeng Kyai Karonsih, sebagai pengelana waktu yang berpindah-pindah tangan melintasi sejarah Indonesia. Sejak kelahiran mistikalnya di kahyangan dalam kosmologi Jawa, turun menitis ke masa kerajaan Jawa kuno, Hindu-Buddha, kemudian era pengujung kejayaan Majapahit, masuknya Islam, hingga zaman modern.

Dari penjelasannya itu, emang menarik, mewah, megah, epik, dan penuh warna sejarah. Namun, pengalaman yang saya dapat setelah membaca justru berbeda: alurnya membingungkan, tokohnya sangat banyak, dan keterkaitannya samar. Jadi, alih-alih tenggelam dalam arus cerita, saya malah merasa tersedot dalam pusaran yang membingungkan.

Mungkin Sang Keris akan lebih cocok untuk pembaca yang memang tertarik pada kosmologi Jawa, sejarah nusantara, atau tradisi keris. Bagi saya, buku ini lebih terasa sebagai karya eksperimental yang menguji batas kesabaran pembaca.

"Kalau bikin mumet, kenapa membaca sampai selesai?"

Alasannya cuma satu: penasaran. Saya ingin tahu, petualangan sebuah keris yang sudah melintasi banyak zaman, sampai ke tangan Soekarno. Itu saja. Namun, ketika sudah tiba di bab yang saya nantikan, saya sedikit kecewa. Tidak ada hal istimewa, hanya diceritakan bahwa keris itulah yang membuat sang Proklamator itu memiliki kharisma tinggi (ini juga alasan dia bisa mudah gaet cewek cakep), itu pun hanya satu bab. Untungnya, keterbacaan novel ini cukup bagus walau beberapa kali harus berhenti membaca untuk mengecek catatan kaki.

Yah, memang buku ini kaya akan ilmu dalam budaya Jawa dan sejarah para raja-raja di sana. Deskripsi adegan pertarungannya pun terasa nyata. But, this is not my cup of tea.

Profile Image for Kreta Amura.
12 reviews
July 21, 2020
Review ini bisa dibaca lengkap di : http://www.kretaamura.com/resensi-nov...

Selain dari alur dan latar yang random banget, pake banget. Salah satu hal menarik yang akan anda temukan dalam buku ini adalah sudut pandang penulisan. Terkadang menggunakan sudut pandang orang pertama, kedua, ketiga, atau entah ke berapa lagi. Bagi sebagian orang, hal tersebut memang mengganggu. Tapi menurut saya, hal tersebut sah-sah saja. Jika disusun menggunakan alur yang biasa, serta disampaikan dengan jenis narasi yang sudut pandangnya tunggal, cerita Sang Keris akan sangat membosankan. Dalam hal ini, Panji Sukma berhasil menyampaikan sesuatu yang sesungguhnya sederhana menjadi menarik di mata pembaca.

Meskipun tipis, novel ini tergolong rumit. Tapi bukan berarti buruk. Karena sebagian manusia, seperti saya, justru lebih menyukai sesuatu yang rumit untuk dipikirkan, hahah. Tentu saja, buku ini tidak cocok untuk dibaca dengan santuy atau tanpa beban. Terkadang, anda harus membalik dua bab sebelumnya, karena akhirnya berhasil menemukan benang merah yang sengaja disembunyikan oleh penulis. Jadi bagi anda yang merasa buku ini ringan karena tipis, mening urungkan niat untuk membelinya kalau tidak ingin kecewa. Tapi kalau ingin menantang diri sendiri, juga tidak mengapa. Tidak butuh waktu yang lama juga untuk menamatkan buku ini, mungkin satu-dua hari-an. Hitung-hitung latihan.
Penokohan

Saya tidak akan banyak bicara tentang penokohan, karena memang ini bukanlah novel yang melibatkan beberapa tokoh yang selalu muncul dari bab pertama hingga akhir. Lagi pula, tokoh utamanya pun sesungguhnya benda mati. Saya rasa penulis sudah cukup menempatkan masing-masing tokoh pada porsinya.

Untuk buku yang sangat tipis namun terlalu padat ini, saya hanya akan memberikan nilai 4/5 Secara pribadi, saya suka dengan konten yang ada di dalamnya. Tapi secara objektif bisa saya katakan, bahwa buku ini tidak bisa dinikmati oleh semua kalangan, khususnya orang-orang awam tanpa bekal pengetahuan yang mumpuni tentang sejarah.
Profile Image for Mangku Parasdyo.
83 reviews5 followers
August 28, 2021
Cerita dalam buku ini menarik, sebab pembacanya diajak melewati berbagai zaman. Penceritaan memakai sudut pandang sebuah keris, bukan keris sembarangan tentunya. Efek dari penggunaan sudut pandang ini adalah fleksibilitasnya mengarungi waktu yang panjang mulai dari masa kerajaan hingga indonesia modern. Kurasa ini lebih menarik ketimbang penceritaan sejarah yang biasanya diperoleh dari sebuah tulisan perjalanan atau dokumen tua, pemilihan keris sebagai pencerita juga menarik dan sebab keris pusaka memang dipercaya sebagai benda tempat bersemayamnya roh sakti, sehingga memungkinan memiliki karakter.

Cerita disajikan secara meliuk-liuk bak bentuk keris. Agak sulit menebak jalan ceritanya mau dibawa kemana dan bagaimana lompatan cerita dari masa ke masa ini berkelindan satu sama lain. Walaupun aku orang jawa, tidak semua kisah yang ada dibuku dapat kupahami dengan baik, hanya ada beberapa pernah kuingat dipelajari pada saat pelajaran bahasa jawa, mungkin karena di sekolah dulu yang kuplejari lebih yang banyak membahas kraton jogja karena sekolahku di jogja. Penulis sendiri besar dan tinggal di Solo, jadi eksposurenya terhadap sejarah jawa dari sisi kraton surakarta lebih kuat. Kurasa bagi yang paham kebudayaan jawa terutama surakarta akan lebih mudah menarik benang merah dari potongan berbagai kisah/tokoh yang ada dibuku ini.

Cerita jawa menurut pendapatku banyak didominasi kisah from zero to hero, dari berandalan/bromocorah yang kemudian menjadi pemimpin, meskipun berbagai kisah penghianatannya selalu puitik dan lebih menarik untukku. Banyak trivia menarik tentang jawa yang muncul di buku ini, salah satunya adalah Madiun.

Kekurangan dari buku ini adalah minimnya punchline yang nendang sebagai awal atau akhir bab, kurasa itu sebabnya banyak yang merasa ceritanya bisa lebih panjang, padahal mungkin orang-orang penasaran saja mana ini punchline nya kok gak ada dan kurang berasa, dengan mengharapkan cerita yang lebih panjang mereka berharap bisa menemukan hal itu.
Profile Image for Blank.
127 reviews4 followers
July 10, 2020

apa jadinya kalo kamu adalah sebuah keris ? dan bukan keris biasa, tapi keris yang sakti mandraguna dan menjadi saksi bisu kejatuhan dan kebangkitan berbagai negara maupun kerajaan ?


kira - kira, begitulah premis awal Sang Keris ini. Kita diajak mengikuti kisah sebuah keris bernama Kanjeng Kyai Karonsih, sebuah keris yang ditempa dengan besi khusus dan menerima dhuwung milik Maha Empu Jati Kusuma dengan nama sama.


salah satu hal yang membuat aku tertarik untuk baca buku ini karena membahas sejarah Jawa yang terkenal mistis dan sakti itu. Dan walaupun sudah ada beberapa buku dengan tema yang sama, menurutku yang menarik adalah karena pembaca mengikuti sudut pandang sebuah ( atau seorang ? ) keris.


Saat baca buku ini, rasanya kaya baca kumpulan cerpen yang ceritanya tidak sengaja saling menyambung. Alurnya secara keseluruhan disampaikan melalui beberapa penggalan kisah yang kalau ditilik akan tampak bersambung, kekurangannya, bentuk seperti ini membuat alur utama menjadi rancu dan butuh beberapa saat untuk melihat hubungan antara penggalan cerita yang sedang dibaca dengan alur utama.


aksinya sebenarnya seru, dilengkapi dengan jurus - jurus sakti khas orang - orang lama di negara kita. Tapi, entah kenapa, imajinasiku malah membayangkan aksi - aksi tersebut menjadi.... layaknya film - film aksi yang ada di Ind*s*ar, sialan !


karakter di buku ini ada banyak, terlalu banyak malah. Beberapa diambil dari kisah - kisah kuno Jawa, beberapa yang lain diambil dari Mahabharata dan sisanya ada yang diambil dari cerita Indonesia modern. Karena karakternya yang banyak, membuatku rada lupa beberapa nama karakter dan bikin tokoh - tokohnya bagaikan orang lewat dipinggir jalan, sama sekali tidak berkesan.


In short, walaupun ada beberapa kekurangan, buku ini menurutku masih lumayan. Mungkin beberapa orang akan suka tipe buku yang membahas sejarah Jawa dengan sudut pandang unik seperti ini.

22 reviews
May 15, 2020
Tertarik baca buku ini karena ada embel-embel juara dua lomba sastra kenamaan, padahal saya hampir sama sekali tak punya pengetahuan dan minat pada budaya Jawa, apalagi soal keris, makanya mesti sedikit berusaha untuk mengikuti peristilahan (bahkan saya baca kata per kata baris syair berbahasa Jawa) yang walaupun dilengkapi dengan catatan kaki, tetap terasa njlimet di mata halak Batak ini.

Tapi dengan menyebut kalau buku ini saya mulai baca tanpa putus sekitar jam 11 malam dan tuntas jam 4 subuh esoknya (subuh yang sama saat mengetik ulasan ini), sudah cukup jadi pernyataan kalau novel tipis ini menurut saya lebih afdhol dimulai, lalu segera tuntaskan. Jangan dicicil.

Lagi pula gaya berceritanya lumayan enak kok, walau tak linear, lompat ke zaman sana, lalu ke zaman sini.
Dari masa kerjaan Majapahit, ke Demak, sampai peristiwa Rengasdengklok-nya Soekarno hingga Solo abad ke-21.

Yang kurang.. mungkin karakter Kanjeng Kyai Karonsih, Sang Keris, yang harusnya bisa lebih digali lagi. Entah saya yang terlewat atau memang tujuan si penulis, tapi beberapa karakter juga seperti tanpa kejelasan, misalnya tokoh Arya Matah. Juga pria yang gagal bunuh diri karena ditolong lumba-lumba lalu terdampar di pulau mirip surga.

Oh iya, karena sarat konsep budaya dan peristiwa sejarah, saran saya novel ini akan lebih jelas dipahami kalau dibaca lebih dari sekali.
Sayangnya, saya tak mau mengikuti saran saya sendiri. Cukup sekali dan terima kasih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 88 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.