“𝐊𝐞𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡𝐮𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡𝐦𝐮 𝐍𝐝𝐮𝐤, 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐜𝐮𝐦𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐣𝐚,” - 𝐡𝐥𝐦. 𝟓𝟗
Buku "Sewu Dino" termasuk karya yang ditulis oleh Simpleman yang terlebih dulu melejit lewat "KKN di Desa Penari". Sejujurnya, aku termasuk orang yang tidak antusias di antara banyaknya keriuhan terhadapnya. Tapi, sewaktu mencari film horor Indonesia, barulah aku menemukan "Sewu Dino". Meski ada beberapa hal yang terasa ganjil, potensi plotnya buatku menarik: bagaimana sebuah "kelompok keluarga besar" saling bertikai satu sama lain dengan masing-masing memiliki pegangan gaib. Tentu saja, sebagai "sosok besar" dengan sekian pengikut dan bawahan, pertikaian tersebut berdampak tak hanya pada orang yang terlibat, tapi korban menyebar ke segala arah (walau mirisnya tak semua turut serta secara sadar).
Aku tertarik bagaimana pihak Atmojo merahasiakan sebagian besar intrik keluarga mereka terhadap Sri. Ini berkaitan dengan potensi ceritanya di buku-buku selanjutnya. Bagaimana jika apa yang ada di buku pertama ini hanya secuil dari yang terjadi dan buku selanjutnya menunjukkan kegelapan yang semakin gila? Tapi, aku tidak menyimpulkan buku ini sebagai salah satu fiksi horor favoritku. Cukup memberi harapan, tapi eksekusinya bergantung bagaimana nanti. Setidaknya, dari mengikuti "Sewu Dino" di thread X, filmnya, dan buku ini, aku terdorong memiliki lanjutannya: "Janur Ireng" dan "Ranjat Kembang". Tinggal baca.
"Sewu Dino" sebagai pembuka untuk mengenal intrik besar tersebut menceritakan tentang Sri Rahayu. Ia melamar pekerjaan di rumah keluarga Atmojo demi menghidupi diri dan ayahnya. Semula, ia mengira pekerjaannya hanya sebagai asisten rumah tangga pada umumnya. Namun, ia dan dua kandidat lainnya diberi tugas untuk menjaga cucu kepala keluarga, Dela Atmojo. Risiko menanti Sri karena Dela ternyata terkena santet yang hampir menghabisi nyawa seluruh anggota keluarga Atmojo, santet Sewu Dino.
Intrik dalam buku ini dikenalkan oleh pihak yang sama sekali tidak tahu-menahu. Aku merasa miris ketika "keluarga besar" yang amat dikenal dengan kehidupan melimpah dan memiliki pengaruh kuat justru "ribut sendiri" dan mengambil korban-korban yang terhimpit keadaan. Meski dikatakan "setiap orang punya pilihan", sebagian orang menghadapi dua jalan yang sama mematikannya. Orang tersebut seringkali memilih dampak yang tak langsung dirasakan alias berharap sedikit penundaan. Dalam hal ini, pendorong utama dari beberapa pihak untuk melayani "keluarga besar" itu adalah faktor ekonomi.
Selain itu, mereka pun menunjukkan intelektualitas yang tidak kritis sehingga cenderung tidak berpikir panjang terhadap situasi "mencurigakan" yang terpampang di depan mata. Jadi, dalam buku ini terbagi antara orang yang menghalalkan segala cara demi harta dan kekuasaan, masa bodoh demi bertahan hidup, hingga kurang bernalar pada pilihannya. Seolah, keadaan ini menunjukkan rumus kebutuhan di mana urusan darurat seperti "urusan perut" selalu menjadi prioritas dipenuhi sebelum kebutuhan lainnya, misal keamanan.
Kondisi Sri dapat menjadi cerminan bagaimana selain kesenjangan yang menonjol antara mereka yang berkecukupan dan berkekurangan dari segi ekonomi, pun terlihat dari segi pendidikan. Hal itu bisa jadi menciptakan kemiskinan struktural seperti Sri dengan pendidikan tamatan SD, Sri terbatasi untuk mendapat pekerjaan yang lebih layak.
Menarik, buku ini menciptakan makhluk gaib bernama Sengarturih dan Banarogoh sebagai momok menakutkan yang meneror para tokoh. Novel ini tidak menggunakan makhluk yang umum seperti kuntilanak, genderuwo, dan seterusnya. Di kepalaku, ibarat pembuatan ikon sendiri walau aku agak terbayang Sengarturih yang berwujud seperti Kuyang (beda juga sih).
Buatku, "Tokoh Jahat" dalam buku ini memberi gambaran sosok yang memesona nan menakutkan meski hanya muncul sesekali dalam buku. Aku cukup antusias beraharap dia muncul lagi di buku selanjutnya. Imajinasi bagaimana ia akan menunjukkan dirinya apa adanya, lebih lepas, lebih jahat tanpa saringan, hehe. Meski tetap memohon agar ditulis secara manusiawi. Selain itu, ada salah satu tokoh yang berpotensi lainnya meski sayangnya dibuat lebih lemah di film. Untungnya, aku coba baca bukunya. Tipe yang terlihat halus, tapi jangan-jangan bisa lebih mengancam.
Sayangnya, buku ini setangkapku lebih banyak menggunakan deskripsi langsung dalam mengutarakan karakter tokohnya sehingga kurang menyenangkan bagi mereka yang suka membaca nuansa secara detail misal deskripsi mimik wajah untuk mengetahui pikiran tokoh. Bagaimana wajah mereka yang terlihat takut? terlihat marah? tegang? Jadi, daripada langsung dikatakan "ia takut", mungkin menarik ketika penulis mengungkapkan bagaimana tubuh dan muka tokoh menunjukkan ketakutan itu.