Dalam keseharian kita kerap berhadapan dengan bermacam orang, mulai dari orang-orang yang menyenangkan sampai orang-orang yang paling menyebalkan, yaitu orang-orang yang kurang ngaca, kurang piknik, dan kurang ajar. Tingkah mereka sering membuat kita sakit hati, perut mual, bahkan sampai serangan jantung.
Mereka merasa dirinya paling benar, paling pintar, paling suci, padahal ngaji saja tidak, salat tidak, puasa tidak—apalagi sedekah dan bayar zakat—kencing pun masih jarang cebok. Yang tidak sependapat dengan mereka dituduh kafir ahli neraka. Padahal, orang-orang yang mereka tuding bodoh, sesat, dan kafir itu justru lebih taat, lebih hebat, berilmu tinggi, dan tidak pernah meninggalkan salat.
Berbagai peristiwa menyebalkan semacam itu disikapi S.J. Tsurayya dengan semburan cas cis cus humoris, blakblakan, dan ala seenak perutnya sendiri. Gaya mengumpatnya sangat unik, bisa lemah-lembut, pedas, nakal, bahkan agak kurang ajar. Tapi itulah kejujuran, kecerdasan, dan kebijakannya dalam menghadapi ragam persoalan dunia yang dipenuhi orang-orang dengan urat kepala terpalang.
Selain menunjukkan bagaimana seni menghadapi orang-orang menyebalkan, hakikat buku ini adalah untuk memperluas pandangan pembaca, menjadikan diri lebih terbuka dan lebih berguna. Tidak sekadar umbaran realitas, tapi juga menjabarkan bagaimana seseorang harus bersikap, berperilaku, dan bertindak agar menjadi manusia yang bisa bahagia dan tidak kedaluwarsa.
Buku gurauan yang sangat tidak sesuai dengan ekspetasi saya saat melihat sinopsis dan membaca sekilas buku ini. Penulis merupakan seorang wanita rumah tangga yang memiliki indekos untuk mahasiswa asing yang dimana termasuk orang dengan pendidikan yang cukup tinggi. Namun pembahasan yang dibawakan sangat vulgar mengenai lelucon kewanitaan/kepriaan, hikmah yang diambil sebetulnya ada namun terlalu banyak hiburan-hiburan yang kurang penting. lalu juga sebagian besar bagiannya tidak terlalu berhubungan, mirip seperti komik strip namun ini adalah versi buku.
Awalnya, kukira buku fiksi ini akan memberikan gambaran dan tips menjadi manusia yang "tidak kadaluarsa", yang selalu mengupgrade diri dengan perkembangan dan open-minded terhadap isu kekinian. Ternyata, buku yang bergenre "kumpulan cerita" ini adalah kumpulan tulisan yang berisikan pemikiran penulis terhadap pengalaman kesehariannya dengan latar seorang host family, lulusan pondok, pendidik hingga ibu/istri/anak/menantu.
Berdasarkan review goodreads lain, terdapat beberapa pembaca yang kurang nyaman dengan gaya kepenulisan penulis, yang menurutku jika bisa diibaratkan seperti ibu-ibu tetangga yang ngecemes nyablak dan frontal tapi yang dikatakan ada benarnya 😅 Setiap cerita tersusun dari pragraf-paragraf pendek (2-3 kalimat) yang sedikit banyak membantuku lebih mudah membacanya.
Overall, cukup menikmati buku ini. Rasanya seperti nongkrong di depan rumah dengan ibu-ibu tetangga sambil membincangkan obrolan bersosial, pendidikan, agama dan keluarga. Asik dan tanpa filter (omongannya) 😜
Pertama kali lihat judulnya langsung penasaran. Apa sih maksudnya? Coba melihat sedikit preview di Gramedia Digital, langsung berkata dalam hati "Wow. Apaan nih? Gila! Haha. Oke, Saya bakal baca buku ini."
Di tiap halamannya menyimpan cerita yang kadang nyeleneh tapi berisi. Gimana ya jelasinnya, pokoknya kayak nano-nano gitu. Apalagi bahasa yang terkadang "nakal" membuat saya kaget dan setiap kalimat itu frontal sekali. Jadi, saya harus menyiapkan diri dahulu setiap baca buku ini.
Rasanya nggak rela buku ini sudah selesai dibaca. Kadang saya bacanya dihemat-hemat biar nggak keburu selesai. Sungguh buku ini menarik sekali.
Jujur, buku ini sangat ringan banget. Bacanya udah kayak makan kerupuk; renyah, ringan, gurih dan enak. Gaya bahasanya mengalir dan tak membosankan. Lewat renungan yang kocak, agak vulgar dan terkadang bikin kita merenung, saya mendapatkan banyak pelajaran dari Mbak S.J Tsurayya.
Meski dalam beberapa hal saya tidak sepakat dengan opini dan pemikiran penulis, tapi terlepas dari semua itu saya suka gaga tuturnya. Makanya saya nggak ragu ngasih lima bintang di goodreads.
ekspektasi saya ini akan berisi petuah serta tips dan trik menghadapi manusia yang menyebalkan. ternyata isinya sungguh berupa sambat, misuh, saru, haru. berasa baca status temen pesbuk. dan temen pesbuk saya dikit.
Isi buku kok ga sesuai sinopsisnya ya, di sinopsis kan ditulis tips2 menghadapi orang yang menjengkelkan, tapi isinya tentang kehidupan sehari2 penulis, pandangan beliau tentang agama, keyakinan dan budaya, merasa tertipu aku.