Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kejatuhan dan Hati

Rate this book
Kejatuhan dan Hati oleh S. Rukiah adalah salah satu kelas klasik revolusi Indonesia yang kurang dikenal dan bisa dibilang tulisan prosa terkuat oleh seorang penulis wanita Indonesia sebelum tahun 1970an. Kisah Rukiah tentang pengalaman wanita kelas menengah muda dengan kekasihnya, keluarganya, dan perjuangan untuk kemerdekaan menipu dalam kesederhanaannya dan melalui Jatuh dan Hati Rukiah menyajikan sebuah gagasan yang langka dan bijaksana tentang gagasan dan emosi orang muda yang memiliki satu kaki dalam revolusi demi kepentingannya sendiri dan kaki lainnya dalam revolusi sebagai cerminan krisis pribadi.

Novel ini menggambarkan dan menjalin cerita tentang nasib individu dan riwayat keluarga yang lebih dipercaya daripada pekerjaan lainnya pada masanya. Rukiah adalah satu dari sedikit penulis Indonesia yang telah melihat dampak negatif revolusi Indonesia terhadap kehidupan dan hubungan.

102 pages, Paperback

4 people are currently reading
33 people want to read

About the author

S. Rukiah

5 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (19%)
4 stars
12 (46%)
3 stars
8 (30%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Isma.
43 reviews2 followers
April 16, 2022
Buku ini saya beli setelah membaca buku "Kiri Asia Tenggara" beberapa hari yang laku, yang salah satu tulisannya membahas buku S. Rukiah yang dianggap sebagai generasi pertama perempuan yang menerbitkan karya sastra pasca-perang. Makasi buat Mas Bilven dan kawan-kawan Ultimus telah mereproduksi ulang buku yang bagi saya pelik ini.

Jujur, jika saya membaca buku ini saat SMP/SMA, mungkin saya akan ngantuk. Karena saya saat itu masih lholak-lholok akan ideologi, dan hanya mengetahui paham yang paling settle adalah Pancasila sebagaimana diajarkan oleh pelajaran PPKN. Mungkin sama ngantuknya seperti dulu SMA saya baca "Jalan Tak Ada Ujung" - Mochtar Lubis. Dan membacanya saat ini lebih tepat karena seperangkat modal pengetahuan terkait a-b-c ideologi, silang interteks, dan konteks zaman pasca-merdeka lebih saya pahami.

Buku ini ditulis dengan nilai lebih pada pergulatan pikiran antar tokoh yang tergambar melalui dialog-dialog yang tajam dan padat. Sebuah keluaraga di mana si ibu menjadi penguasa atas tiga anak gadisnya: Dini, Lina, dan Susi. Dini anak pertama yang susah diatur, pemberontak, dan berjiwa bebas. Dini paling dibenci ibu hingga dia memutuskan untuk minggat dari rumah.

Lina, anak kedua yang penurut, lembut, dan paling disayang oleh ibunya. Dan anak ketiga Susi, si narator, gabungan antara karakter Dini dan Lina. Rukiah memperlihatkan jika tokoh Susi inilah yang justru hidup dengan semua pengalaman yang dikecapnya, hingga dia bertemu dengan Lukman, pejuang kiri, revolusioner, dan memegang teguh komunisme.

Dalam buku ini S. Rukiah mendobrak nilai-nilai lama orang tua (si ibu), nilai-nilai umum, nilai-nilai kolot, dengan paham internasional yang berkembang, yang membela mereka yang tertindas, proletar, dan anti-imperial. Melihat karakter Lukman, Rukiah menulis, "....masih ada di dunia ini sebagian orang-universal yg tidak menyerahkan hidupnya kepada kepuasan nafsu individu sebagaimana yang dikehendaki dan dicita2kan manusia umum." Ajaran yang menganggap jika bermain-main akan univeral-universalan tidak membawa manfaat sedikit juga pada rakyat.

Rukiah mengkritik juga moralitas borjuis sebagaimana yang dikatakannya, "Sebab sebagian besar dari angkatan pejuang kita, terdiri dari kader-kader intelek setengah matang, dengan pandangan hidupnya borjuis kecil. Elan evolusionernya adalah heroisme antik, heorisme feodal."
Profile Image for ukuklele.
463 reviews20 followers
September 26, 2024
Pertama kali saya membaca karya S. Rukiah sekitar 1,5 tahun lalu, yaitu 2 sajak dan 1 cerpennya dalam antologi prosa dan puisi yang disusun HB Jassin, Gema Tanah Air (selanjutnya GTA). Untuk sajak, skip, karena saya masih perlu banyak belajar untuk dapat mengapresiasi karya dalam bentuk ini; hanya tercatat ungkapannya yang saya tangkap dari "Pulasan Hidup", yaitu make up sama dengan memalsu diri. Untuk cerpennya, "Cakap Angin dengan Warna Hijau Muda" (1950), secara plot/karakter mungkin tidak kuat amat, tapi gayanya mengesankan. Walau terbitnya sudah lebih dari setengah abad lalu, oleh penulis yang seusia dengan almarhum kakek (dari pihak ibu) saya, gayanya itu terasa fresh seakan-akan disuarakan oleh gadis kiwari yang terlalu banyak membaca ini-itu lagi mampu mengungkapkannya kembali secara puitis, dengan tetap menyertakan elemen wishful thinking.

Pada tahun yang sama, yaitu 1950, rupanya Rukiah juga menerbitkan novel pertamanya, yaitu Kejatuhan dan Hati (selanjutnya KdH). Novel ini saya baca lebih karena "tugas" (atas permintaan seseorang), dan ndilalah kebetulan ternyata isinya berkaitan dengan novel lain yang sudah jalan dua bulan ini saya baca (sampai waktu menulis ini belum juga tamat), yaitu The Good Terrorist oleh Doris Lessing. KdH juga mengingatkan pada dua buku lain yang saya sudah tamatkan yaitu Larasati dan Leila Khaled: Icon of Palestinian Liberation . Karena itu, catatan pembacaan ini mau saya buat menurut kaitan dengan karya-karya lain tersebut.

dengan "Cakap Angin dengan Warna Hijau Muda" (selanjutnya CAdWHM)

Dalam pengantar tim editor KdH, disebutkan bahwa karya-karya Rukiah dalam GTA sempat dicabut dari edisi yang terbit pasca 1965. Dalam edisi yang saya baca di Ipusnas, tampak karya-karya itu telah kembali dimasukkan. Membaca catatan pembacaan saya waktu itu, rupanya antara CAdWHM dan KdH ada kesamaan. Seperti telah disebutkan sebelumnya: penulisnya sama, tahun terbitnya sama, gayanya pun sama kuatnya; selain hal-hal itu, baik CAdWHM maupun KdH sama-sama menyampaikan pandangan tentang revolusi, mengkritisi betapa setelah merdeka pun tetap terjadi penjajahan yang pelakunya bangsa sendiri, juga dibungkus dalam percakapan dengan sesosok pemuda/lawan jenis (yang serta merta menimbulkan kesan ke arah romance padahal tidak mesti). Ada warna yang diulang-ulang penyebutannya: di KdH merah yang kiranya melambangkan komunisme, di cerpen ini hijau yang entah mewakili apakah?

dengan The Good Terrorist (selanjutnya TGT)

Baik KdH maupun TGT sama-sama menyampaikan sudut pandang seorang perempuan di sarang komunis, sama-sama ditulis oleh pengarang perempuan. Kalau KdH berlatarkan Indonesia antara 1945-1950 (masa revolusi), TGT Inggris 1980-an (masa pemerintahan Thatcher). Yang tertangkap oleh saya pribadi, perempuan dalam dua novel ini memiliki pandangan yang sama-sama berpusat pada rumah, keluarga, dan kebersamaan dengan pasangan. KdH dimulai dengan menceritakan situasi sebuah keluarga, di mana sosok perempuan lain yang notabene ibu menjadi penguasa yang menolakkan si tokoh utama perempuan dari rumah untuk beberapa lama, bertekad menjadi perempuan yang keras hati, tetapi malah jatuh lagi dalam pelukan seorang lelaki komunis, yang belum mampu bertanggung jawab sebab lebih mementingkan perjuangan di luar sana, sehingga si tokoh utama pun kembali ke rumah, kepada ibu, menikahi lelaki lain yang lebih menjamin, melahirkan anak, berkeluarga selayaknya. Dalam TGT, si tokoh utama perempuan membenahi sebuah rumah terbengkalai yang dijadikan naungan oleh sekelompok aktivis komunis, tetapi sewaktu-waktu ia masih kembali kepada orang tuanya yang borjuis karena berbagai hal, dan kerap kali merasa diabaikan oleh pasangannya yang lebih suka berkeliaran di luar sana untuk berdemonstrasi, menginap di bui, menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok lain, dsb.

Memang perempuan itu bermacam-macam jenisnya. Baik KdH maupun TGT sama-sama menampilkan tokoh-tokoh perempuan lain dengan karakter yang berbeda-beda--tipe-tipe yang kiranya bisa kita temukan dari masa ke masa, di mana-mana. Saya pribadi secara kasar mungkin hampir-hampir sejenis dengan tokoh dalam KdH dan TGT, yang di satu sisi tahu akan kepentingan-kepentingan di luar sana, di sisi lain tertambat hatinya pada soal-soal domestik.

dengan Larasati

S. Rukiah dan Pramoedya Ananta Toer boleh dibilang seangkatan atau segenerasi, sama-sama lahir pada 1920-an (tepatnya 1927 dan 1925). Keduanya sama-sama menulis novel pendek dengan tokoh utama perempuan dalam latar revolusi Indonesia. Namun, sehebat-hebatnya Pramoedya Ananta Toer sebagai sastrawan, dalam menampilkan sudut pandang perempuan, sudah pasti kalah autentik dengan S. Rukiah yang perempuan tulen. Larasati begitu teguh prorevolusi, dia pun dibikin untuk menyenangkan sebanyak-banyaknya lelaki dari semua bangsa. Susi dalam KdH sebentar mencela revolusi sebentar prokomunisme, lelaki yang mendekat kepadanya cukup 3 orang saja (Rustam, Par, Lukman, tiap-tiapnya diceritakan dalam kegalauan berhalaman-halaman). KdH memotret sifat-sifat perempuan yang lebih realistis dan sejujur-jujurnya, saya tak menyangkal itu :p

dengan Leila Khaled: Icon of Palestinian Liberation

Dalam buku ini, diceritakan bahwa Leila pernah menikah dengan sesama pejuang kiri tetapi tidak bertahan karena pergerakan yang tidak memungkinkan mereka bersama. Susi dan Lukman dalam KdH, dalam lingkungan laskar pinggir kota beraliran kiri, pun tidak dapat bertahan dalam situasi yang belum mapan.

___

Dalam pertemuan Klub Buku Laswi (25/09/2024), saya merasa beruntung secara tak dinyana bakal berbagi pembacaan dengan Bung Bilven (ikut cara Kang Deni Lawang Buku menyebutnya) dari Ultimus yang telah menerbitkan ulang KdH. Beliau menceritakan proses penerbitan buku ini, mulai dari bagaimana naskah yang masih dalam ejaan lama sampai ke tangannya sampai ke upaya-upaya membangkitkan kembali nama S. Rukiah setelah ditenggelamkan sekian lama akibat keterlibatannya dalam organisasi tertentu (kalau googling dengan kata kunci judul novel ini dan/atau nama penulisnya, keluar banyak tulisan yang merekam tentang hal itu). Mungkin saya bias ketika cenderung menyorot pernyataan-pernyataan dalam KdH yang tampak antirevolusi/probelanda (dan mengaitkannya dengan kebutuhan akan status quo atau situasi yang mapan/stabil dalam berkeluarga, yang pada akhirnya dipentingkan oleh si tokoh utama), sedang Bung Bilven menerangkan bahwa penulis hanya memotret sikap-sikap di seputarnya kala bergabung dengan palang merah dst. Boleh dikata bahwa KdH memang suatu fiksi autobiografis, malah suatu ramalan yang kemudian betulan terjadi mengingat kisah hidup Rukiah selanjutnya yang akibat pergolakan politik terpaksa berpisah dari pasangan untuk selama-lamanya dan mengambil jalan praktis untuk menghidupi anak(-anaknya), persis yang dialami Susi, tokoh karangannya sendiri.
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
December 15, 2020
** spoiler alert **
Sebuah pembahasan tentang cinta, kesombongan masa muda, ideologi vs nilai-nilai masyarakat. Yang pertama terpikir, apa bisa ya ada ibu yang menuntut wujud pembalasan cinta ibu adalah benda-benda. Kalau menuntut status tertentu di masyarakat mungkin ya. Tapi klo ngasih benda-benda kok gimana gitu. Entahlah. Mungkin itu dari sudut pandang Susi aja. Sebenarnya si ibu pun ga segitunya minta benda-benda mungkin. Buktinya waktu Susi pulang, ibu pun berangsur pulih. Berarti kepulangan putrinya yang didamba, toh Susi ga bawa oleh-oleh apa-apa dari medan laga. Si ibu itu gimana ya, sampai tua pun tidak bisa menghargai suaminya. Sedangkan Lina si tengah yang paling patuh pada kehendak ibu pun akhirnya belajar menghargai Jono suaminya. Mungkin ngeliat ibunya segitunya itu Lina jadi belajar rendah hati.
Dini yang pembangkang, ok. Dia konsisten hidup untuk dirinya sendiri. Lina ok. Akhirnya dia menjadi ibu yang baik. Susi? Susi yang lembut itu terlalu penakut. Terlalu pengecut. Dia selalu lari dari suara hatinya. Dari Rustam dia lari. Dari ibunya dia lari. Dari tempat yang lebih nyaman dia lari. Dia hanya mau marah merah. Merah yang melembut saat bertemu dengan lelaki idola, hedew. Dari tuntutan adat di masyarakat dia lari. Dari pertanggungjawaban pun dia lari. Dia hanya mau membenci semuanya. Menjadi korban dari semuanya: revolusi, kemerdekaan Sukarno, komunisme, Rustam, ibu, Lukman, teman-temannya yang menurutnya jadi sinis, dari rasa bersalahnya sendiri yang enggak mau mengakui anak itu anak siapa?
Tapi Lukman itu juga ga tanggung jawab juga sih wkwk, kesel aku. Aktivis idola macam apa dia itu, jatuh cinta lalu menyalahkan perempuan yang dicintainya karena merusak konsentrasinya dalam melakukan pergerakan. Lah udah tau dia ditarget pemerintah, ya berani-beraninya menjalankan asmara sampai puncaknya di bulan merah. Hhh, kzl.
Terpujilah Jono, dan Par (entah siapa nama panjangnya) yang lurus (dan bertanggung jawab).
Profile Image for Prahasti.
147 reviews14 followers
July 1, 2020
Kejatuhan dan Hati.
Sewaktu memperhatikan sampul novel ini (menurut saya sampulnya bisa dibuat lebih menarik, atau memang ini disesuaikan dengan waktu awal diterbitkan? saya tidak tahu), sempat berpikir, apakah gambar tentara itu adalah tokoh Lukman? Rasanya kurang cocok saja :D
Kadang saya memperhatikan hal-hal kurang penting, tapi penting juga sih karena saya kadang terpengaruh pas membaca dialog-dialog tokohnya :D :D

Tokoh utamanya bernama Susi, seorang gadis yang ingin menemukan jati dirinya, pergi dari rumah lalu ikut dengan pasukan gerilyawan sayap kiri. Di sana dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Lukman dan mereka jatuh cinta.

Kejatuhan dan Hati bukan cerita cinta biasa, percakapan antara Susi dengan Lukman bukan hanya percakapan orang yang sedang jatuh cinta, mereka membicarakan ideologi, keyakinan, paham perjuangan.

Akan ditemukan banyak narasi tentang pilihan ideologi Lukman yaitu komunisme. Juga narasi kegundahan Susi untuk hidup dengan aturan (yang selalu disebut sebagai aturan-aturan manusia) atau mengikuti ideologi Lukman.

Mengenai kisah cintanya sendiri, akhir yang diberikan cukup realistis. Tidak semua keinginan hati dapat terpenuhi.

Oh iya, sempat beberapa kali berhenti ketika membaca kalimat-kalimat dalam novel ini, bukan apa-apa, hanya saja karena ini karya lawas, penulisannya pun sesuai dengan zamannya, jadi saya harus mencerna dulu apa yang dimaksud dari kalimat yang mereka sampaikan.
Profile Image for Maudy.
140 reviews4 followers
August 23, 2023
buku S. Rukiah pertama yg aku baca hasil rekomendasi dari Bapak penjual buku lama di Jalan Laswi ^_^ setelah tanya-tanya tentang selera buku & penulis lama Indonesia, disarankan beberapa buku yang punya 'energi' yang mirip. dan ini bisa dibilang sangat tepat sasaran.
Profile Image for Astrid.
93 reviews6 followers
November 29, 2021
S. Rukiah adalah salah satu penulis perempuan brilian yang dilupakan dan karyanya disepelekan. Membaca ulang terbitan tahun 1950 di tahun 2021 dan pergulatan hati seorang perempuan, serta aktor-aktor di sekelilingnya di masa revolusi adalah sebuah refleksi mendalam S. Rukiah yang menyuarakan perspektif perempuan yang kuat sekaligus lembut, melampaui masanya. Pengamatan dan observasinya yang menyeluruh dalam narasi "Kejatuhan dan Hati" membuat karya ini sebagai sebuah karya yang penting dibaca untuk memahami kehidupan perempuan di masa perang revolusi.
Profile Image for Mina.
9 reviews
February 17, 2024
Penggunaan sudut pandang pertama dalam Kejatuhan dan Hati ternarasikan dengan baik sekali. Tuturan kata dan bahasa yang dipakai juga sangat manis, khas dengan tulisan pada tahun penulisan buku.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.