g sengaja 'ketemu' di kwitang. harganya cuma 5 ribu :) kisah nyata para peneliti yang disandera d papua oleh org2 tak bertanggung jawab (yang berniat memerdekakan papua dengan cara yang tidak semestinya)
Ambillah waktu untuk berpikir, karena itulah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk membaca, karena itulah sumber hikmat.
Ambillah waktu untuk bermain, karena itulah rahasia untuk tetap muda.
Ambillah waktu untuk berdiam, karena itulah kesempatan untuk mencari Allah.
Ambillah waktu untuk mengasihi dan dikasihi, karena itulah anugerah Allah yang terbesar.
Ambillah waktu untuk tertawa, karena itulah musik untuk jiwamu.
Ambillah waktu untuk bersahabat, karena itulah jalan kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk berdoa, karena itulah kekuatan terbesar di permukaan bumi ini.
Tapi sayang, orang-orang modern selalu berkata: “Maaf saya sibuk, tidak ada waktu.” Dan, itulah tragedi.
==================
Sejumlah peneliti, yang mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan kehidupan masyarakat, menjadi sandera selama 130 hari di Mapnduma, Papua. Hidup dalam ketidakpastian. Kekurangan makanan dalam kebebasan mereka yang terenggut. Dipindah-pindahkan dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk menghindari pelacakan. Mencekam!!!.
Dinda dan Navy, dua dari para sandera tersebut adalah sepasang kekasih. Setelah menjadi sandera, mereka berniat akan mempercepat rencana pernikahan mereka jika nanti sudah dibebaskan. Tapi perundingan pembebasan sandera selalu berakhir buntu.
Tragis!!! Dinda harus menyaksikan Navy tewas dibantai para penyandera. Dia juga harus menyaksikan Matheis, sandera yang lain, dipanah, dikapak, dan diparang. Lari!!! Itulah pilihan terakhir untuk menyelamatkan diri.
Beruntung!!! Dinda dan beberapa sandera lainnya berhasil melarikan diri ketika para pembunuh mengarahkan kapaknya untuk menjadikan mereka sebagai korban berikutnya.
Beruntung!!! Mereka bertemu dengan sepasukan tentara yang memang ditugaskan melacak dan menyelamatkan mereka.
Mereka sudah mengambil waktu untuk berpikir, membaca, bermain, berdiam, mengasihi dan dikasihi, tertawa, bersahabat, serta berdoa. Mereka masih tetap mengalami tragedi.
Ketika kita terlalu sibuk untuk bisa mengambil waktu untuk hal-hal tersebut, adakah yang lebih seram dari sebuah tragedi yang mungkin akan kita alami???
sebelumnya, aku tertarik untuk melihat detail drama penyanderaan ini karena browsing-browsing di internet. kupikir, wah, buku yang menegangkan nih!
tapi setelah dapat bukunya dan membacanya, ternyata kisah ini tidak setegang itu. pihak penyandera (OPM), meskipun sosok idealis yang menjengkelkan, ternyata bukanlah orang-orang yang mengerikan. beberapa kekonyolan mereka malah bikin aku kadang ketawa geli.
tapi aku suka novel/memoar ini. aku salut dengan adinda (salah satu sandera) yang meski trauma tapi tetap bisa menyusun fakta demi fakta dengan detail seperti ini. salut juga buat ray rizal (dan istrinya yang meneruskan penulisan buku ini) yang bisa menyusun kejadian demi kejadian secara runut dan enak dibaca.