Sebagai sebuah buku ensiklopedi ilmu pengetahuan, buku terbitan tahun 1979 (cetul 1982) ini tentu sudah tidak up to date. Dalam rentang masa hampir 40 tahun semenjak terbit, tentu sudah muncul banyak penemuan dan informasi baru terkait evolusi. Tetapi selebihnya, buku ini ditulis dengan bagus, diterjemahkan dengan baik sekali, dan dilengkapi ilustrasi serta foto-foto ala National Geographic. Penggarapannya yang serius bisa dilihat pada barisan buku referensi di bagian daftar pustaka. Proses penerjemahannya pun berkonsultasi dengan para dokter ahli. Format hard cover dengan jilid yang kuat, sampai puluhan tahun buku ini masih bertahan dan tidak lepas jilidnya. Buku-buku ensiklopedi terbitan lama memang digarap dengan maksimal.
Saya suka dengan terjemahannya yang minim sekali menyerap kata asing. Semua fauna dan flora diterjemahkan atau diusahakan dicarikan padanannya dalam versi bahasa Indonesianya, dan itu kenangan banget (bengkarung, kaktus pir, burung peniru, angsa batu, prenjak, burung punjung, dan ercis). Mengingatkan saya pada buku-buku tahun 80-an yang tidak terbeli tapi hanya bisa meminjamnya secara antri di taman bacaan tahun 1990an wkwwk.
Terkait evolusi, ada satu nama yang langsung muncul di benak saya: Charles Darwin. Bagian awal buku ini mengisahkan ulang bagaimana Darwin sampai pada penciptaan teori evolusi mulai dari masa mudanya hingga ekspedisinya ke Kepulauan Galapagos. Dari buku ini saya tahu kalau Alfred Russel Wallace juga telah menghasilkan simpulan yang sama dengan Darwin setelah ekspedisinya ke Kepulauan Nusantara. Dikisahkan, Wallace duluan yang menemukan teori ini dan Darwin mengakuinya, tetapi keduanya bersahabat jadi ya begitulah.
Salah satu yang menarik adalah bab tentang pewarisan gen. Pembahasan tentang Gregor Johann Mendel dalam uji cobanya menggunakan biji ercis sungguh luar biasa. Ketekunan dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan ternyata tidak berbalas. Dunia baru mengetahui betapa pentingnya temuan Mendel belasan tahun setelah beliau wafat. Dituturkan dengan bahasa yang nyaris seperti bercerita, membuat kisah orang hebat ini lebih mudah diikuti.
Sepertinya harus mulai mengumpulkan seri Pustaka Alam edisi LIFE ini lagi, untuk kepentingan menimbun, eh koleksi tentu saja.