Jump to ratings and reviews
Rate this book

Susah Payah Mati di Malam Hari Susah Payah Hidup di Siang Hari

Rate this book
Hanya ingin scrolling di balik selfie(sh) sampai menjadi kutu.

30 pages, Paperback

First published July 1, 2019

4 people are currently reading
82 people want to read

About the author

Lala Bohang

13 books188 followers
Lala Bohang lahir di Makassar dan merupakan lulusan jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan yang bekerja sebagai perupa, penulis, dan kurator untuk label buku Pear Press. Sejak tahun 2009 ia telah berpartisipasi pada beberapa pameran kelompok di dalam dan luar negeri. Tahun 2016 Lala mulai mempublikasikan buku trilogi berjudul The Book of Forbidden Feelings (2016), The Book of Invisible Questions (2017), dan The Book of Imaginary Beliefs (2019).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
36 (15%)
4 stars
53 (22%)
3 stars
104 (44%)
2 stars
28 (12%)
1 star
11 (4%)
Displaying 1 - 30 of 62 reviews
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
December 29, 2019
Saya bisa menangkap satir yang ingin diungkapkan Lala Bohang dalam buku ini: tentang kegelisahan wanita urban dengan segala problematika kehidupannya, baik itu permasalahan percintaan, bobot tubuh yang kadang nggak sinkron dengan keinginan untuk makan, cicilan, pekerjaan, yah begitu-begitu lah. Kalau sudah sumpek dengan segala macam permasalahan itu, kadang suka terpikir jalan pintas, yang di sini diwakili oleh keinginan untuk mati. Yah, tapi toh pada akhirnya, kehidupan harus terus berjalan, siklus hari Senin sampai Minggu akan terus berulang dan perempuan kembali berjuang dengan kehidupannya lagi. Ini tuh mengingatkanku pada awal-awal masa kuliah yang kita sering banget terucap, "Mending aku nikah ajalah ya daripada kuliah gini amat tugasnya." Nah, kesannya mirip. Kayak mencari jalan pintas paling gampang tapi toh ujung-ujungnya tetap berjuang. Karena hidup itu perjuangan. Hidup itu pilihan seperti kita yang memilih makan apa hari ini?

Di sisi lain paradoks ingin-mati-tapi-ingin-hidup ini saya justru melihat betapa keinginan untuk tetap melanjutkan hidup sangat besar. Bahwa perempuan bukan makhluk lemah, bahwa ketika dia patah hati, kau tak perlu senja-senjaan atau hujan-hujanan sebagai pelipur laranya. Kasih aja tahu aci panas sama cabe rawit perempuan akan kembali bahagia. Di tengah problematika hidupnya, perempuan masih sanggup masak, melakukan banyak hal, menjadi ini itu dalam setiap siklus rutinitasnya yang barangkali membosankan di saat-saat tertentu. Entahlah, aneh bukan?

Barangkali yang kau tangkap dari buku ini berbeda denganku. Tidak masalah. Setiap orang punya interpretasi masing-masing terhadap sesuatu. Hanya saja, saya menangkap kegelisahan itu, kegelisahan yang barangkali pernah lewat dalam pikiran perempuan mana pun. Membaca buku ini adalah salah satu cara menertawakan hidup dengan cara yang elegan.

Profile Image for hana.
42 reviews
August 2, 2021
banyak yang bilang sulit dimengerti. BUT I FELT THIS IN MY BONE. keliatan absurd, tapi buatku menggambarkan kehidupan yang gitu gitu aja, seputar mati, bangun terus memusingkan diri, mikirin makan apa, mati lagi. kurang dari 30 halaman tapi aku kesulitan baca ini, sedih dan depressing banget rasanya.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
April 8, 2022
Pertama kali membaca tulisan (puisi) Lala Bohang. Siapa bilang ini absurd? Ini realistis. Menu makan pagi-siang-malam Senin sampai Minggu beserta jenis-jenis kesedihan dan keinginan bunuh diri yang telah ada pada diri kita semua. Hari Senin Lala tidur dengan ayam geprek level 5, hari Selasa makan pisang dan bersyukur belum mati dengan perut isi geprek, hari Rabu menyegarkan lipatan mata, lipatan tubuh, dan kesedihan dengan ketimun, hari Kamis no healthy-edgy-aesthetic food!, hari Jumat masih mencoba kenyang, hari Sabtu tidak ada menu, hari Minggu mati.

Binte.
Profile Image for Menyojakata.
195 reviews7 followers
February 17, 2022
Sekumpulan puisi dengan analogi yang absurd, tapi jika ditilik lebih dalam, sarat sindiran dan protes terhadap hidup. It reminds me about hustle culture. Dibagi menjadi tujuh sub judul berdasarkan hari, penulis konsisten menceritakan keseharian 'perempuan' dan makanan. Some lines hit close to home eventho this book doesn't leave a huge impression on me.
Profile Image for Juwita.
337 reviews5 followers
March 28, 2023
Wanita dan segala keinginannya 😆
Wanita pengen kurus tapi mau makan enak
Wanita pengen langsing tapi malas gerak
Profile Image for Gian Nash.
19 reviews
June 19, 2025
Halamannya tak banyak hanya sekitar 25 halaman. Buku ini berisi cerita seorang perempuan yang memiliki rasa ingin mati & tetap menjalankan hidup di siang hari seperti judulnya. Bentuknya puisi yang runut dari Senin hingga minggu, berisi makanan yang dikonsumsi pada pagi, siang dan malam dengan porsinya juga.

Gua mendapat sudut pandang baru dari buku ini. Bukankah kita juga selalu ingin mati? oh lu mungkin ngga, namun hidup dengan gitu-gitu aja kan?
Profile Image for Zah.
68 reviews6 followers
Read
June 13, 2021
finished but i think i have to read it once again to fully comprehend.
Profile Image for Ammar.
40 reviews5 followers
June 18, 2023
Kumpulan menu makanan sehari-hari untuk menghadapi hidup yang susah payah mati di malam hari dan bangun hanya untuk hidup susah payah di siang hari
Profile Image for Siraa.
260 reviews3 followers
January 11, 2022
Saya tidak tahu kalau Lala Bohang adalah seorang penulis se Provokatif ini. Pada hari senin dia akan mengajari tentang menu makan malam. Lalu hari selasa mengajak kita makan pisang guna menyibukkn diri sejenak dari ramainya sosial media. Rabu, membeli ketimun dengan tabungan agar tetap punya wajah cantik. Mencari senja dan hujan di hari kamis, mati kekenyangan pada hari jumat, bunuh diri pada hari sabtu dan akhirnya merefleksinya pada hari minggu. Puisinya tegas dan miris tentang kehidupan yang tidak lebih daripada makan dan tidur tanpa ada nilai berarti dibaliknya. Sebuah realita yang menyedihkan mengingat banyak orang menertawakan kehidupan tapi tidak bisa hidup dengan bahagia diatasnya.
Profile Image for Nike Andaru.
1,653 reviews112 followers
August 1, 2019
151 - 2019

Buku kelima seri Selfie(sh) yang saya baca. Ini juga buku pertama Lala Bohang dalam bahasa Indonesia nampaknya yang saya baca.

Saya gak ngerti ini bukunya mau dibilang apa?
Atau mungkin saya aja yang gak nyampe mikirnya mungkin.

Puisi berbalut resep masak seminggu kah?
Atau menu makanan dalam seminggu yang dibalut puisi? Sungguh, diulang baca juga belum saya paham isinya buku ini.

Dari lima buku seri Selfie(sh) buku ini yang menurut saya paling gak bisa saya nikmati. Maafkan saya Mbak Lala.
Profile Image for Febrynanda Chika.
18 reviews
March 18, 2022
dunno how to feel or think about this book. menyelesaikan buku ini hanya karena cenderung tipis bukunya. ini buku tentang apa sebenarnya? bingung saya juga. entah padanan katanya yang asing atau karena terlalu banyak informasi yang ingin ditulis, jd terkesan bertele2 dan 'ramai'. bising istilahnya. saya ga suka buku yang bising. mungkin orang lain suka. ya sudahlah. its just not for me, i guess. (padahal dulu pernah intip yang book of forbidden feelings dan bagus, malah pernah ada satu halaman yg saya tulis di buku harian saking bagusnya)
Profile Image for Lisna Atmadiardjo.
146 reviews24 followers
August 28, 2019
Ceritakan kisah tentang kematian, jangan lupa tambahkan unsur makanan, maka saya berbahagia membacanya. Sungguh lucu, sungguh menghibur, walau saya sadar kadang selera humor saya bisa begitu kelam.

1 sdm kewarasan yang pura-pura akan senantiasa saya tambahkan dalam menu makan malam.

(2/5 dari seri Selfie(sh))
Profile Image for Ann.
87 reviews17 followers
January 1, 2021
Niat hati mengawali tahun dengan bacaan yang ringan dan bertemulah dengan Susah Payah Mati di Malam Hari Susah Payah Hidup di Siang Hari.

Di antara aktivitas mencuci, perempuan sering tersesat saat menyusun prioritas. Mencuci atau bernapas?


Seperti kutipan itulah, buku yang terdiri dari 7 tulisan pendek menggambarkan kegelisahan pikiran Perempuan dibalik rutinitas kehidupan mundane-nya, setiap hari. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, Minggu. Menggambarkan bagaimana Perempuan berkeinginan untuk bertahan hidup namun juga berkeinginan untuk mati. Untuk lepas dari insekuritas, cicilan, rasa kecewa, harapan, dan lainnya sebab jika ia mati ia tak perlu mengurus semua yang busuk lagi.

Sang Perempuan tidak hanya sarapan dengan satu porsi pisang namun juga dengan satu porsi rasa tidak percaya diri. Makan siang dengan porsi tabungan yg menipis. Makan malam dengan 5 sendok makan kesepian yang abadi. Sang Perempuan mengingatkan saya bahwa perempuan maupun manusia pada umunya memanglah kompleks. Semoga para perempuan di luar sana diberikan kekuatan untuk menjalani hidup.


Saya suka metafora yang dituliskan Lala. Beberapa yang terbaik menurut saya:

Ketimun digadang-gadang sebagai pahlawan yang sanggup mengobati semua luka, baik jiwa maupun raga.

Sudah lama perempuan mengerti kalau hujan tidak punya kuasa untuk menyembuhkan dan senja hanyalah rutinitas langit yang tidak berniat menghibur siapa pun.

Bagaimana jika tubuh menyerah lebih dulu sebelum pemiliknya menyerah kepada tubuh? Sungguh menjengkelkan. Seperti kedatangan hal-hal yang tidak diinginkan lalu di hari kemudian terkuak kalau ternyata hal-hal tersebut tidak pernah menginginkan untuk datang.

Perempuan berhenti mengeluh di usia 30 tahun kecuali kepada yang disayang tanpa perlu pura-pura peduli. Jika perempuan tidak mengeluh padamu berarti sosokmu di antara ada dan tiada.

Cobalah pahami sedikit, langit dan laut tidak pernah berbagi warna biru yang sama walaupun terlihat serupa.
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
January 5, 2021
Sebuah karya Lala Bohang yang lagi-lagi unik sekali. Melalui hanya sejumlah 30 halaman dalam buku ini, kita disuguhi puisi-puisi kontemporernya yang berani: menulis tentang perempuan, hidup dan mati, menu-menu makanan (yang banyak sekali) dan bunuh diri. Kali ini, tak terlalu banyak ilustrasi dari Lala Bohang, tapi tetap menarik di hati. Membaca puisi-puisi Lala Bohang, selalu sanggup membuat pembaca terkesima dan rasanya kembali waras lagi. Sangat direkomendasi.


Perempuan mati tidak perlu mengurus yang busuk.

Bangun, hidup untuk mengurus semua yang busuk.


(Lala Bohang, halaman 7)
Profile Image for Nellaneva Nellaneva.
Author 7 books159 followers
February 5, 2021
Merasa paling 'relate' dengan buku ini dibanding buku-buku Selfie(sh) yang lain. Sebut saja karena pilihan-pilihan kata seperti:

'obrolan tengah malam yang semakin dikenang semakin terasa fiksi,'
'wajah yang ingin ditiduri hanya ketika hari telah melewati tengah malam,'
dan 'Perempuan hampir orgasme membayangkan caesar salad tidak akan langsung merokok atau menengok gawai setelah mencapai gunung meletus.' :))

Walau makin ke belakang semakin terasa membingungkan, buku ini tetap memuaskan (dan bikin lapar).
Profile Image for Pris.
451 reviews38 followers
May 6, 2021
Kesan yang aku tangkap sesungguhnya relatable, tentang perempuan modern usia produktif (?) yang capek menghadapi tekanan hidup sehari-hari, tetapi sekali-kali menemukan secuil penghiburan pada makanan =")) I mean, rasanya kayak kadang-kadang udah capek banget idup ga sih, tapi kalau mati nanti nggak bisa makan indomie lagi, dong (....)

Kepikiran aja idenya. However sajak-sajak yang terbaca di sini cukup muram dan berat. Untuk orang yang memiliki eating disorder atau semacamnya, tema makanan dalam buku ini mungkin bisa jadi trigger?
Profile Image for Devi N..
51 reviews1 follower
December 24, 2021
Lima bintang kuberikan untuk Lala 🔥 Lala menuliskan tiga hal utama—perempuan, kematian, dan rutinitas (makanan). Lala mengajakku merasakan kehidupan seminggu seorang perempuan yang gitu-gitu aja; tapi selalu memikirkan menu sarapan yang beranekaragam. Seorang perempuan yang selalu bersusah payah untuk mati di malam hari dan (ternyata) hidup (lebih) susah payah di siang hari. Terima kasih Lala untuk perspektif ini.

Dan terima kasih resep Binte-nya. Akan ku coba, sepertinya lezat 🤤
Profile Image for lita.
14 reviews4 followers
February 20, 2022
4/5 !

pertama kali membaca karya bahasa indonesia mba lala bohang. menurutku puisi-puisi ini sangat absurd, ada beberapa bagian yang kadang aku mengerti tapi kadang tidak mengerti sama sekali. namun rasanya lucu saja kala melihat menu makan dan resep masakan tiap hari di buku ini.

hari favoritku di buku ini ada pada bagian hari jumat! penggalan yang sangat kuingat itu "kamis sudah mulai bosan bunuh diri karena tidak ada yang baru dari kematian"
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books105 followers
February 18, 2024
Tidak susah menikmati buku ini, seharusnya, seandainya kita pernah didesak pikiran perihal apakah kalau tidak makan kita akan mati atau makan justru membuat kita mendekati kematian itu sendiri.

Apa pun itu, laki-laki ingin segera makan Binde, bahkan suatu hari ingin menjajal resepnya, sepertinya cukup mudah diolah, tetapi mungkin lebih mudah mencari resto yang menjual caesar salad, jadi laki-laki tidak mesti susah payah lagi?
Profile Image for asih simanis.
212 reviews138 followers
December 25, 2020
The idea that Lala tried to convey in this book, and the motive through which she tried to do it, is interesting. But I guess she is still experimenting with the form and the ideas, and at least in this book, she has yet to reach her final form. Would be gladly looking forward to a more mature form of what she offered through this book though. Let’s see.
Profile Image for Sylwty.
72 reviews
September 17, 2021
Sarapan:
memakai alas bedak / latihan basa-basi / suka yang mahal / ingin bangun siang / perencana keuangan / senyum depan kamera / mengisi galon air / opname otak / nasi goreng ikan asin
~Lala Bohang

Kumpulan puisi yang absurd namun sebenarnya menampilkan makna terdalam dari seorang wanita. Aku merasa puisi di atas sebagai wujud lain dari perempuan.
Profile Image for Siti Nurkayatun.
22 reviews3 followers
February 1, 2022
Konsepnya unik. Konsep puisi seperti ini termasuk hal baru bagi saya. Mungkin karena belum terbiasa membaca bentuk puisi begini, saya kurang bisa menikmatinya. Namun saya merasakan kalimat-kalimatnya yang kuat.

Menyoal perempuan dan makanan. Di sini saya menangkap bahwa 'makanan' bagi perempuan bisa jadi suatu solusi atau justru problematika.
1 review
February 11, 2024
Bacaan singkat yang menarik! Buku ini seperti menuliskan kehidupan perempuan dari sisi yang anti-mainstream dan walaupun terbilang abstrak tapi secara menyeluruh saya pribadi bisa sangat related dengan tulisan-tulisan di dalamnya. Seperti refleksi melihat diri sendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Profile Image for Agoes.
517 reviews37 followers
May 25, 2020
Nggak ngerti dan sangat pendek, tidak banyak yang bisa dinikmati. Saya baca buku ini karena bisa diakses di Gramedia Digital saja. Kok bisa ini diterbitkan oleh Gramedia ya? Apakah memang sudah ada pasarnya sendiri?
Profile Image for Sarah.
87 reviews
August 25, 2021
Cuma 30 halaman. Pertama kali bacanya agak buru - buru dan gak ngerti maksudnya gimana sih. Terus baca ulang pelan - pelan dan baru ngeh. Tulisannya satir bngt. Lucu iya, depressing juga iya. Awalnya ngerasa kata2 nya random tp banyak kata2 yg quotable ternyata. Keren kok. Terus sejak baca buku ini jadi "terinspirasi" kenapa harus mikirin masalah kalo kita bisa mikirin makanan aja, ntar juga ujung2nya mati😂
Profile Image for Salsabila A.
2 reviews
January 12, 2022
Buku yang bisa habis dibaca dalam sekali duduk, sepertinya sarat makna meski sangat absurd dan unik. Yang aku tangkap, setiap menu makan pagi, siang, malam. Selalu ada porsi rasa kekhawatiran dan kegelisahan perempuan.
Profile Image for fathiya harumi.
3 reviews
July 11, 2022
it hits u precisely right where it hurts, thanks to the very relatable narrative (terlebih lagi bagian yang menyangkut makanan haha) apa ya kalo bisa dibilang seru untuk dipahami, in a way where u find urself linger in every of those pages
Profile Image for Dzakiyyah Islami.
6 reviews
November 10, 2023
Buku ini sangat sangat relate dengan kehidupannnn! Pasti dalam kehidupan kita ada satu titik pengen mati tapi itu semua hanya pikiran belaka, jadi kita tetap menjalani hidup sambil pusing mikir mau makan siang apa. Karena pengen mati = pengen hidup
Profile Image for Cipcip.
18 reviews
November 29, 2023
Gue juga relate sama beberapa narasi di sini, ingin mati tapi masih kepikiran dosa-dosa (ingin makan geprek level 3 tiap hari). Absurd dan penuh tutorial penyajian makanan enak, tapi sebenarnya menyinggung isu perempuan metropolitan.
Displaying 1 - 30 of 62 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.