✨🌟 8.25 dari 10 bintang 🌟✨ Lumayan dapet nuansa yang ingin disampaikannya.
Kata kunci: kumpulan puisi, romansa, kehidupan
REVIEW Seseorang di Kaca adalah buku kumpulan puisi dengan tema seputar kehidupan dan hubungan romansa. Sudah lama aku ingin coba baca karya Theoresia Rumthe tapi sedang tidak mood untuk baca cinta-cintaan yang terlalu happy. Kumpulan puisi ini pas sekali untuk moodku saat ini.
Walaupun tentang romansa, puisi di buku ini bukan cinta-cintaan bucin tapi lebih bernada kesedihan dan penyesalan (?). Puisi-puisinya sendiri lugas dan sedikit bernada kelam. Background buku yang banyak hitam-hitam juga memperkuat nuansa puisinya. Puisi favoritku yaitu "Hujan dan Tumbuhan Mati".
mengapa kita tidak sering menyiram tumbuhan mati di dalam sini?
Aku menikmatinya. Kak Rumthe, selalu bisa mengajakku berpikir, mencari tahu makna, dan kembali membaca ulang. Aku tidak lelah. Karena puisi dan sajak ada yang cukup untuk dibaca tanpa harus dimengerti. Membuka dengan "Suatu hari di Sumopuro" • nama daerah yang berada di Salatiga, dan aku tahu Kak Rumthe banyak menghabiskan waktu di Salatiga— warung buka tidak, ya? 😌 "Sekuntum Bunga" favoritku, karena— dunia ini pandai menipu. Ibu berpesan sebelum mati: "Nak, jika patah, belajarlah membalut."
Theo dalam buku puisi setipis ini adalah Theo-kita-semua. Sampulnya hijau rumput basah, kertasnya gelap. Grain black & white-nya jelas sekali dimaksudkan untuk mendukung puisi-puisi selfie(sh) yang gelap. Betul, kok. Gelap adalah warna egois.
Tapi puisi Theo di sini gak gelap-gelap amat. Masih cukup terang untuk bernapas. Masih cukup riang untuk sebuah kesedihan (lagian, kesedihan gak selamanya pisau dapur. Ia mungkin bunga di taman atau satu pagi yang mulus).
Ngomong-ngomong, "Seseorang di Kaca" membuatku teringat pada lirik lagu ini:
tapi ibu rindu memang benar rindu harus dibayar tuntas seperti kuku panjang yang mesti dipangkas tiap kali hendak masuk kelas
Hehe. Aku gak tahu, sih, bagaimana bisa kita khusyuk memotong kuku, tapi seseorang itu muncul di kaca?
Bagian paling menarik dari sebuah puisi bukan hanya estetika yang keluar dari diksi yang eksesif. Terkadang dia hanya butuh diksi-diksi sederhana untuk merangkum isi dunia yang berantakan. Apalagi jika kumpulan puisi tersebut tidak hanya bicara soal kisah-kasih, tapi juga menyelip kecil soal kehidupan, dan dikemas dengan bentuk-bentuk cantik. Theoresia Rumthe dan penerbitan memiliki kerja sama yang bagus dalam membuat puisi, tidak hanya sebatas rasa dalam kata, juga memberi efek performa seni yang dibuat dalam bentuk tatanan kata. Buku ini adalah seni yang manis dan sederhana, dengan tema ringan, namun tetap membuat pembaca bertanya-tanya apa maksud dari si penulis itu sendiri.
Untuk saya pribadi, saya suka puisi berjudul Pekarangan, dan saya mungkin akan kembali tandang untuk membaca kumpulan puisi yang beliau tulis.
Ini merupakan bait yang paling kusuka dalam buku ini, that's bener-bener berimpact rasanya, bener-bener bisa menyentuh relung hatiku yang akhir-akhir ini suka baca buku puisi (lagi) . Buku ini isinya bertemakan agak gelap seperti kesedihan, amarah dan penyeselan, tetapi uniknya semuanya justru disampaikan dengan kata-kata yang umum ditemui sehari-hari sehingga nggak terlalu sulit untuk aku dapat menikmati setiap keping kata-katanya. Namun, di beberapa bagian aku juga merasa agak kurang “eehhh” ketika membacanya, mungkin aku masih belum terbiasa sahaja dengan puisi-puisi karya Theoresia Rumthe. Puisi yang paling kusukai pada buku ini berjudul “Hujan dan Sebuah Ingat”.
Membaca kumpulan puisi ini membuatku rindu untuk mengonversi perasaan tak sampai dengan menulis puisi—yang biasanya kulakukan jika perasaan itu hadir.
Dari interpretasiku, puisi pembuka yang berjudul “Suatu Hari Di Sumopuro” adalah puisi yang membahas ketimpangan sosial sekaligus kritik.
Sisanya adalah puisi-puisi cinta dan rindu tak sampai pada seseorang dalam bentuk yang lugas dan nelangsa. Siapa pun yang mengalaminya mungkin akan terasa relevan.
Puisi kesukaanku adalah “Jika Aku Mati” yang menggambarkan bagaimana kematian diri kita harus dirayakan oleh orang yang kita sayangi karena kita tahu bahwa cinta yang sebenarnya adalah melihat seseorang yang kita sayang menderita.
Puisi-puisi yang ditulis Ibu Theoresia sangat khas sekali, yakni rima yang tak beraturan. Kesan yang tertangkap dalam beberapa puisi juga menampilkan suatu keadaan sederhana: batal mandi, rutinitas pagi ibu dan anak, menyaksikan orang terkasih di pagi hari. Diksi yang dipakai juga sederhana, sesederhana satu larik kalimat yang membekas di ingatan, "Nak, jika patah, belajarlah membalut" dan satu bait yang membuat saya tertegun "Sayangku, jika ada satu waktu di mana aku menyesalinya, barangkali itu adalah: mengapa kita tidak sering menyiram tumbuhan mati di dalam sini?"
aku baru pertama kali baca buku yang ditulis Theoresia Rumthe. uda baca pagi sama sore ini, baca dua kali, dan pelan-pelan. kirain bakal horor banget isinya, ilustrasinya juga serba hitam, tapi ternyata ga serem sihhh untuk isi puisinya pas pertama kali baca, aku cuma bingung gitu. hah heh hah heh pokoknya, akhirnya aku ulang baca sekali lagi dan agak nangkep maksudnya. menurutku ini puisinya nanggung, kesannya masih raw gitu
Karena ternyata mendapatkan buku Rumthe di ipusnas tidaklah sesulit yang saya bayangkan saya memutuskan membaca semuanya. Mumpung gratis 😌. Buku Rumthe ini berkisah tentang keseharian dari beemimpi, tidur sampai bangun disamping seorang kekasih. Saya suka larik-lariknya yang tajam dan jujur. Seakan dia memperoleh kebebasan menyebutkan apa saja tanpa takut apa-ap. Apakah ini yang disebut kemerdekaan sejati.
Seseorang di kaca menjadi buku puisi yang paling tipis yang pernah saya baca, dan saya pun sangat menikmati semua puisi di dalamnya, namun sayangnya tidak ada puisi yang benar-benar membekas di benak saya. Bahasanya tetap apik seperti karya bu Theo yang lainnya. Salah satu yang jadi bagian favoritku :
"Sayangku jika ada satu waktu dimana aku menyesalinya, barangkali itu adalah :
Mengapa kita tidak sering menyiram tumbuhan mati di dalam sini?"
Aku sudah lama tidak membaca buku puisi, dan karangan Mba Theoresia menjadi buku puisi pertama yang aku baca setelah sekian lama.
Puisi-puisinya sederhana tapi dikemas dengan pilihan kata yang indah. Meski ada beberapa bait yang tidak bisa aku maknakan sebagai apa. Namun dengan membaca kata-perkatanya begitu tenang. Apalagi dua puisi bagian akhir.
Buku ketiga yang saya baca dari seri Selfie(sh). Saya harus bilang, maaf Kak Rumthe, kali ini saya gak bisa menikmati bukumu ini.
Biasanya buku puisinya selalu enak dibaca, saya salah satu penyuka Rumthe, tapi kali ini saya gak melihat sesuatu yang menarik dalam puisi-puisi di dalam buku ini. Entah mungkin karena (terasa) terburu-buru kah membuatnya atau karena bingung buku tipis ini mau ditulisi apaan. Soalnya buku puisi terakhirnya baru saja terbit.
Buku puisi ini berada dalam satu bendel kumpulan puisi "Selfie(sh)"
Meskipun tidak sekuat buku puisi karya Rumthe yang lain, setidaknya masih ada tulisan Rumthe dalam bundel puisi Selfie(sh). Kurang lebih tema yang diangkat juga masih sama. Masih berkisah mengenai percintaan dua insan manusia. Dan harus aku akui, belum meninggalkan kesan untuk para pembacanya. Di sini tulisannya agak hambar.
Ini tulisan Rumthe pertama yang saya baca. Pada beberapa puisi pertama saya mengalami kebingungan karena menceritakan hal yang berbeda dan terasa seperti membaca buku oret-oret seseorang, personal tapi terlalu mentah. Setengah buku ke belakang, saya terhibur sekali dengan nuansa kenakalan yang begitu halus.