“Panglima-panglima medan perang, raja, serta adipati adalah jago-jago perang, pendekar dalam seni menyebar maut. Mungkin itu nasib lelaki. Tetapi kita kaum perempuan, Lusiku sayang, kita punya keunggulan lain: mengandung, menyusui, mengemban, dan memekarkan kehidupan. Rahim kita serba menerima. Tetapi juga serba memberi. Payudara perempuan adalah buah yang membanggakan kaum kita, Lusi. Sumber pancuran kehidupan dan kesayangan. Bukan senjata. Bukan racun kepongahan.”
*
Lusi Lindri, anak Genduk Duku dipilih menjadi anggota Trinisat Kenya—pasukan pengawal Sunan Amangkurat I. Lusi Lindri menjalani kehidupan penuh warna di balik dinding-dinding istana yang menyimpan ribuan rahasia dan intrik-intrik jahat. Sebagai istri perwira mata-mata Mataram, ia tahu banyak... Bahkan terlalu banyak... Semakin lama nuraninya semakin terusik melihat kezaliman junjungannya. Tiada pilihan lain! Bulat sudah tekadnya, baginya lebih baik mati sebagai pemberontak penentang kezaliman daripada hidup nyaman bergelimang kemewahan.
Lusi Lindri merupakan novel ketiga dari Trilogi Rara Mendut, mahakarya Y.B. Mangunwijaya. Sebuah narasi yang tidak hanya mengisahkan tumpang tindih hidup manusia, juga dengan apik menyinggung sejarah Tanah Jawa, keberanian perempuan, dan protes atas ketidakadilan.
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya was an architect, writer, Catholic priest, and activist. Romo Mangun (Father Mangun) was publicly known by his novel "Burung-Burung Manyar" which was awarded Ramon Magsaysay Award for South-East Asia Writings on 1996.
Not only active in the fiction genre, Romo Mangun also wrote many non-fiction and architectural works such as "Sastra dan Religiositas" [tr.: Literature and Religiosity] which won The Best Non-Fiction prize in 1982.
Bibliography: * Balada Becak, novel, 1985 * Balada dara-dara Mendut, novel, 1993 * Burung-Burung Rantau, novel, 1992 * Burung-Burung Manyar, novel, 1981 * Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987 * Durga Umayi, novel, 1985 * Esei-esei orang Republik, 1987 * Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980 * Gereja Diaspora, 1999 * Gerundelan Orang Republik, 1995 * Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983 * Impian Dari Yogyakarta, 2003 * Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000 * Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999 * Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999 * Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999 * Menuju Indonesia Serba Baru, 1998 * Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998 * Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999 * Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999 * Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986 * Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999 * Politik Hati Nurani * Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978 * Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern * Ragawidya, 1986 * Romo Rahadi, novel, 1981 (he used alias as Y. Wastu Wijaya) * Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri, novel trilogi, 1983-1987 * Rumah Bambu, 2000 * Sastra dan Religiositas, 1982 * Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999 * Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001 * Spiritualitas Baru * Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999 * Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994 * Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988
Perjalanan panjang dari trilogi Rara Mendut yang menceritakan Dinasti Mataram hingga runtuhnya raja terakhir dengan piawai Romo Mangunwijaya mengemasnya.
Perjalanan yang berdarah-darah dilalui oleh Mendut, Duku, dan Lusi dalam seri ini. Kisah yang penuh dengan pesan dari hal terkecil dari kehidupan ningrat dan rakyat, serta sindiran pula bagi kaum penguasa yang zalim dalam pelaksanaan tugasnya.
Lumayan lama sebenarnya serial ini tak terbaca, namun seiring halaman satu dan seterusnya, buku ini semakin menarik saya untuk melanjutkan membaca karena penasaran yang teramat bagaimana nasib si Mangkurat, apakah sama dengan sumber berbeda yang saya baca atau tidak. Dan ternyata tidak sama. Kecewa sebenarnya.
Namun kesampingkan tokoh yang satu itu, tak ada habisnya membahas keburukannya sedangkan kebaikan, pesan, dan contoh baik dari dialog, narasi, serta tokoh lainnya pun dapat diambil untuk kebaikan pembaca.
Awalnya saya kira buku ketiga ini akan menceritakan tentang penghidupan seorang perempuan saja, seperti di kedua buku sebelumnya. Ternyata saya membaca alur cerita yang sangat di luar ekspektasi saya.
Kalau sebagian orang menggaungkan membaca bukunya George Orwell yang 1984 untuk memahami apa yang sedang terjadi di negara sakit ini, maka menurutku Lusi Lindri adalah alternatif lain untuk itu. Kisah Lusi Lindri bukan hanya tentang dia sebagai perempuan, tapi juga tentang bagaimana perlahan sebuah kerajaan menjadi kelam. Para pemimpin yang tidak peduli rakyat selain pajak-pajaknya, raja yang hidup dalam dunianya sendiri karena terlalu takut menghadapi realita yang terjadi di luar istananya, nyawa manusia yang dinilai sangat murah, hingga rakyat yang tidak pernah menikmati hasil dari pajak yang mereka beri ke istana. Terlalu familiar. Terlalu dekat dengan nadi saya sebagai warga negara.
Karakter Lusi Lindri (anak dari Genduk Duku) dan ceritanya yang dipilih menjadi Trinisat Kenya (pasukan pengawal) ini menarik. Namun ternyata tetap aku lost interest di tengah jalan, karena alurnya yang lambat dan narasinya sering membuat gagal fokus. I hope it’s just me, but I guess this whole series isn’t for me.
"...tetapi wanita bukan cuma sawah-sawah dan pria bukan cuma lumbung benih...penyatuan panjalu dan pawestri punya makna yang lebih dalam dan lebih serasi dengan martabat kemanusiaan kita...sebab bila soalnya hanya bersetubuh saja, monyet dan babi pun bisa..." - Pangeran Selarong -
Buku Lusi lindri merupakan buku ketiga dari trilogi Roro Mendut masih berpusat pada era kerajaan mataram. Namun berbeda dengan dua pendahulunya, yakni buku Rara Mendut dan juga genduk duku yang berpusat pada era pemerintahan raja hanyakrakusuma maka di buku ketiga ini di era pemerintahan raja Mangkurat. Raja Mangkurat diceritakan sangat berbeda dengan ayahnya, dia lebih suka menghabisi nyawa orang yang tidak disukainya dan juga menghabisi seluruh keturunan dari orang yang tidak disukainya tersebut. Orang pertama yang ingin dia singkirkan dari muka bumi ini adalah tumenggung Wiraguna, seseorang yang telah membunuh tejarukmi, seorang wanita yang sangat dikasihi nya. Kegilaan raja ini ternyata tidak sampai disitu saja dia juga membunuh banyak santri karena dianggap bisa berpeluang untuk mengkudeta dirinya dari singgasana nya. Bahkan yang paling gila dari semua kegilaannya adalah tidur dengan mayat istrinya, yang merupakan seorang istri dari dalang yang telah dilenyapkan nya juga, betul-betul raja yang edan. Cerita tentang Lusi lindri sendiri menurut saya kurang dieksplor oleh Romo Mangun, saya rasa hanya sebagai pelengkap cerita. Saya pikir dulu sebelum membaca bukunya, tokoh Lusi adalah tokoh sentralnya, tapi ternyata saya salah besar, tokoh utama sebenarnya adalah si pangeran jibus yang sekarang bergelar mangkurat. Saya kurang suka adanya tokoh Hans ( si bule Londo holan ) gak begitu ngefek gitu ke cerita buku ini, gak berdampak apapun, dan malah membuat saya agak risih dengan percintaan Lusi lindri dan hans yang merupakan pengagum seks bebas ( menurut pandangan saya lho ). Saya sangat menyukai tokoh peparing, dan sayang sungguh sayang kenapa di cerita ini dia harus duda beranak satu, sedikit mengecewakan. Mungkin untuk itulah dihadirkan tokoh Hans ya, karena status peparing yang juga adalah maaf, bekas orang sehingga Lusi pun dibuat seakan-akan juga maaf bekas orang juga. Kenapa saya memberikan 🌟 4? Karena jujur saya sedikit bosan membacanya, penjelasan nya terlalu detail dan kadang bikin menguap saking ngantuknya. Dan saya paling gak mudeng dan pusing di bagian dalang ( suami yang dibunuh Mangkurat ) menceritakan tentang tokoh pewayangan, asli bikin pusing dah. Tapi sebenarnya selebihnya saya suka kok karya sastra ini, ceritanya sangat penuh intrik dan juga susah sekali ketebak. Di ending buku terasa sangat sedih ketika sebuah kerajaan hancur, rasanya itu sangat lara, walaupun itu sebenarnya karma 😟
This entire review has been hidden because of spoilers.
Lusi adalah remaja yang masuk dalam trinisat kenya, atau pasukan pengawal raja di kerajaan Mataram. Lusi yang pandai berkuda, menjadi sosok yang istimewa dan dilirik untuk menjalankan misi rahasia kanjeng ratu. Buku setebal 369 halaman ini kemudian mengeksplor petualangan Lusi dari yang hidup di kerajaan, cinta pertamanya, misi-misinya dia, lalu ke desa, berkeluarga, namun tetap memiliki ketertarikan untuk mengikuti perkembangan kerajaan Mataram.
Cukup lamaaa buat saya menyelesaikan buku ini. Mungkin karena alur yang lambat, atau klimaks cerita yang naik turun, atau cara penulisan, atau mungkin memang saya saja yang sedang tidak fokus.
Yang membuat saya bertahan, karena latar belakang sejarah di dalamnya. Sepertinya ini buku pertama yang saya baca yang menceritakan situasi Indonesia di kerajaan Mataram (yang wilayahnya sedang saya tinggali sekarang) di tahun 1647-1670an. Di mana saat itu, kerajaan ini masih sangat berkuasa, dan wilayahnya belum direbut Belanda. Asyik juga membaca beberapa tradisi kerajaan, yang memperlakukan raja lebih dari Tuhan. Ketidakadilan kepada masyarakat kecil juga terangkum di sini.
Mungkin yang menonjol di sini adalah, sudut pandang laki-laki dalam menulis cerita tentang perempuan. Percakapan antara kanjeng ratu dan Lusi, atau lusi dan ibunya, menurut saya kurang mendalam. Rasanya banyak terputar di kewajiban Lusi untuk melayani kerajaan, setia kepada suami, maupun ekspektasi untuk perempuan. Beda sekali ketika penulis mendeskripsikan Pangeran Selarong, yang digambarkan gila namun berprinsip. Terasa luwes ketika membaca selorohan si pangeran, atau cara pangeran mengagumi perempuan, yang selalu menekankan fisiknya saja.
Tetap ini pengalaman pembaca yang baru.
Saat sudah beli, saya baru sadar kalau ini buku ketiga dari trilogi Rara Mendut. Namun, bisa dibaca terpisah. Setelah selesai membaca, belum ada keinginan untuk saya mencari dua buku sebelumnya.
Pengarang di buku ketiga ini, lebih fokus pada jatuh jatuhnya, bukan bangunnya, Mataram di bawah Amangkurat I. Jika di dua buku sebelumnya kisah Mataram menjadi latar belakang cerita Rara Mendut dan Genduk Duku maka jalan hidup Lusi Lindri di buku ketiga seperti diselip-selipkan ke cerita Mataram di bawah kuasa Jibus. Sebenarnya aku mulai ngga sreg sejak di buku Genduk Duku, Duku suka rela begitu saja menyerahkan Lusi kepada Nyai Pinundi, istri utama Tumenggung Singaranu. Duku menyelamatkan Arumardi tapi menyerahkan Lusi begitu saja ke kandang macan, ah kandang manusia, yang lebih ganas daripada macan itu? Seaman-amannya Puri Jagaraga, toh masih di lingkungan istana Jibus itu juga? Cerita Amangkurat I sangat aneh. Saking anehnya hingga pengarang lebih mementingkan bercerita soal Amangkurat I (dan Pangeran Selarong, bintang terang di buku ini) daripada tokoh perempuan yang menjadi judul buku ini. Orang yang dikenang dalam sejarah itu kalau ga agung sekalian seperti ayah Amangkurat I ya bejat sekalian seperti dia itu. Sebejat-bejat seperti apa, Mataram tetap mempesona di kalangan tertentu sehingga pemimpin daerah Tegal sempat berniat mengganti nama daerahnya dengan tambahan Hadiningrat agar terasa ikatan batiniah dengan kerajaan asal orang yang dimakamkan di wilayahnya. Sunan Tegalwangi, duh sewangi apa ya? Sebaliknya, wilayah Kedu selalu dipuja-puji penulis, wkwkwk, dengan kemandirian sikapnya, kebanggaannya tidak menempatkan diri di bawah Mataram. Jika prajurit dikirimkan untuk membantu Mataram maka itu karena kehendak mereka sendiri, bukan paksaan Mataram. Sampai sedikit risih karena hal itu diulang lagi dan lagi oleh penulis. Bahkan di buku yang saat ini sedang kubaca, Durga Umayi, nama Kedu tetap diangkat mewangi wkwk.
Lusi Lindri merupakan sekuel terakhir (ke-3) dalam Trilogi Roro Mendut karya Y.B Mangunwijaya. Dalam buku ke-3 ini mengisahkan tentang Lusi Lindri dalam menjalani takdir hidupnya yang penuh dengan halang rintang. Dipilih menjadi pasukan Trinisat Kenya tidak menjadikannya selalu taat pada sang Raja yang lalim. Bersama suaminya Peparing, ia terus berusaha menjadi benar dan membela kaum cilik.
Tidak seperti dua buku sebelumnya, kisah Lusi Lindri dibuat lebih kompleks dan tidak melulu berlatarkan puri dan istana. Bisa jadi karena banyaknya pemberontakan yang ada sehingga alurnya terkesan melompat-lompat. Namun hal yang saya sukai dari novel ini adalah gambaran yang cukup realistis dari sebuah jaman dimana hari-hari diisi teror bukan dari penjajah namun dari sang raja yang tidak ingin dipandang lemah oleh warganya.
Hal lain yang saya sukai adalah bagiamana penulis mengakhiri kisah Nyi Duku dengan syahdu, seolah tugasnya telah rampung, ia melepas duniawinya dipelukan sang anak kesayangannya Lusi Lindri.
Lusi Lindri ini seakan semua keburukan dan kekejaman akhirnya menemukan akhirnya. Suasana di akhir pemerintahan Mataram bener-bener bikin geleng kepala. Raja yang lalim memperbudak rakyat akhirnya tumbang juga di tangan anak-anak dan panglima yang dipercaya. Memang bener sih yang menghancurkan kerajaan yg jaya itu Harta Tahta Wanita. Perang saudara dan pemberontakan tak terhindarkan karena ambisi ingin berkuasa di atas segala tanpa melihat nasib rakyat jelata. Penutup yang cukup damai karena Lusi dan suaminya tidak ikut berperang tetapi hanya memgawasi saja. Hidup tanpa dendam nyatanya memang lebih membahagiakan.
Tidak berbeda dengan 2 buku seri yang sama sebelumnya, di buku ini romo mangun mengajak kita untuk berpikir dan merasakan seperi tokoh yang digambarkan. Perjuangan dan kegigihan, tetapi banyak dibatasi keadaan, kebiasaan dan kepercayaan yang banyak memepengaruhi cara bertindak dan nasib setiap tokoh. Tiga tokoh di 3 trilogi buku ini menarik juga karena peran masing-masing tokoh yg berbeda. Roro Mendut yang merupakan kalangan teratas, Genduk Duku yang merupakan pelayan Roro Mendut, Lusi Lindri yang meruapakan pengawal raja yang akhirnya mengundurkan diri
Good story, but I hardly keep up with how Romo Mangun tell the story. It's hard for me to imagine how the story goes. But this book has succeed in presenting the the Mataram kingdom that contribute in shaping the current Javanese culture and civilisation as well.
Nice way to close the trilogy. Personally my favourite is still the first one but Lusi itself is a charming, independent woman which has more "freedom" compared to Mendut & Duku. Romo Mangun is THE man.
Walaupun agak bingung di beberapa tempat karena belum baca prekuelnya, tapi saya menikmati kisah hidup seorang Lusi Lindri, berlatarkan keadaan Mataram yang saat itu carut-marut dipimpin Amangkurat. Buku ini membuat saya bertanya-tanya, dan penasaran dengan fakta-fakta yang tentu saja tersembunyi dari textbook sejarah SMA. Seumur hidup saya sekolah, pelajaran Sejarah dirasa cukup menyenangkan. Banyak cerita hebat meski tidak mendetail dan luwes. Sampai sebelum membaca buku ini, saya tidak pernah tahu jika Mataram pernah dipimpin raja yang sebegitu lalim~dan ternyata istana raja isinya sepuluhribu perempuan~lagi~pengawal yang paling inti di lingkungan istana adalah 30 Pasukan Perawan~. Tugasnya menjaga dan menjadi tameng utama Raja. Mereka lah yang selalu berada paling dekat dengan Raja, dimanapun ia berada.
Saya baru engeh, kalau jaman dulu, nyawa sebegitu murah. Pengecut banget kalo kata saya.
Di sini juga, saya mendapat pengetahuan, bahwa Belanda sangat menghargai warga negaranya dari dulu. Mereka rela melakukan apapun, bersusah-susah negosiasi hanya untuk membebaskan para tawanan berkebangsaan Holand di Mataram. Sedangkan Mataram (saat itu) tidak peduli rakyatnya harus mati dan terhina di Betawi. Bahkan di negeri mataram sendiri, nyawa bangsawan sebegitu murah, apalagi rakyat jelata.
Novel ini menceritakan segala sejarah mataram saat itu, dari sudut kehidupan Lusi Lindri, yang pernah hidup di istana, menjadi salah seorang Trinisat Kenya. Kemudian melarikan diri, menjadi rakyat biasa, menjadi ibu, hampir mempunyai ayah tiri lagi tetapi mati, telah mempunyai 5 orang anak yang salah satunya adalah anak tiri, dan semuanya . yang paling saya suka di sini adalah tokoh calon-ayah-tiri Lusi yang sinting tapi baik hati. Suasana novel yang banyak murungnya karena suasana setting yang memang murung, kadang membuat ngekek karena Pangeran Gemblung yang satu ini. Apakah dia benar-benar ada? Kapan-kapan saya pengen ke Ullen Sentalu buat nanyain dia ah, hehehe.
Saya nemu buku ini di perpustakaan sekolah terbitan tahun 1987, dan hanya nemu satu dari trilogi karangan Romo Mangun ini. Saya jadi penasaran dengan prekuelnya yang bercerita sejarah juga lewat kehidupan Ibu Lusi, Nyi Duku. Semoga berkesempatan baca deh, ada yang punya? :D
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kamu ingat pelajaran sejarah kerajaan di Indonesia waktu sekolah? Saya tidak begitu ingat detailnya, tapi semenjak VOC disebut-sebut di buku kedua, perasaan saya mulai tidak enak. Dan buku ketiga ini semakin menjadi. Pertanda kekuasaan kerajaan-kerajaan mulai melemah. Meski kemunduran Mataram ya karena dari dalam juga sebetulnya.
Lusi Lindri, anak Genduk Duku, tetap lebih menyenangi kehidupan istana dan ibu kota meski keluarganya sudah muak. Parasnya yang manis—meski berbadan kekar untuk standard masyarakat Jawa saat itu—digabung dengan perangainya yang pemberani, menjadi kesukaan kraton bahkan sampai ibu ratu. Sampai-sampai dimasukkan menjadi Trinisat Kenya, salah satu dari tiga puluh perawan yang bertugas mengawal Susuhunan. Pasukan elit yang dapat menghukum langsung rakyat yang sembrono. Dari bocah tengil kesukaan warga puri, menjadi gadis menarik hati yang berontak, digunakan sebagai mata-mata dan alat dalam intrik rumit politik kraton, hingga menjadi pelarian dan kembali menjadi rakyat biasa, Lusi Lindri menjadi cerita paling dalam kehidupan kraton.
Rentang yang lebih panjang dari dua buku sebelumnya, cerita penuh aksi dan darah (mudah sekali membunuh satu klan di zaman itu), semakin menegangkan. Politik dan intrik dalam kerajaan semakin terkuak jelas. Tapi juga semakin menyakitkan karena tahu kejayaan Mataram semakin padam.
Saya semakin ingin tahu sefiksi apa kisah-kisah dalam kratonnya. Kalau betul, bagaimana tanggapan kraton Jogja tentang novel ini. Ah, trilogi yang luar biasa. Rama Mangun luar biasa.
Buku ke-3 dari trilogi ini menggambarkan generasi ke-2 setelah era Rara Mendut. Aku menyukai sisi sejarah buku ini yang sarat dengan isu emansipasi wanita. Jujur setelah membaca 3 buku ini, aku bersyukur banget tidak di lahirkan di jaman Rara Mendut, Genduk Duku dan Lusi Lindri. Di sini kita akan di suguhi kembali intrik politik kalangan penguasa yang super menjijikan. Beberapa bahkan hanya berawal dari nafsu seks belaka. Agak miris melihat hidup tenang kaum rakyat biasa seperti Lusi dan orang tuanya yang porak poranda karena mereka terseret dalam politik yang memanas di kalangan atas.
Yang unik di sini, batasan golongan rakyat dan priyayi sebenarnya tipis karena seorang rakya jelata pun bisa menjadi priyayi yang di hormati saat mereka masuk istana. Jadi jangan heran kalau tiap tokoh rakyat di sini bisa diurut-urutkan punya nenek moyang priyayi, atau bahkan sebaliknya. Buku ke-3 ini agak liar alurnya, aku berusaha keras memahami alur kejadian sejarah seputar masa kekuasaan Amangkurat I dan semua skandalnya, kedatangan VOC dan persahabatan mereka dari balik kisah-kisah yang diceritakan dalam sastra Jawa yang puitis. Endingnya agak menggantung karena tidak di jelaskan bagaimana nasib Lusi dan suaminya setelah kematian Genduk Duku.
Seri ke 3 dari trilogi Roro Mendut versi asli, cetakan tahun 1994. Saya dapat buku ini hadiah dari seorang teman januari lalu. Saya paling suka dengan seri yang terakhir ini. Lusi Lindri anak Genduk Duku dikisahkan menjadi pasukan Trinisat Kenya (pasukan elit khusus wanita pengawal Amangkurat). Dia bersuamikan seorang mata-mata Mataram untuk Batavia.
Buku ini lebih dinamis dari dua buku sebelumnya (Roro Mendut dan Genduk Duku). Meski unsur percintaan masih bertebaran, tapi dunia kemiliteran dan spionase membuat buku ini jadi lebih menarik. Menantang dan mencabik-cabik saraf penasaran. Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah kehalusan Romo Mangun mengisahkan adengan (maaf) ranjang. Meski yang paling panas sekalipun (Lusi Lindri dan Hans) disajikan dengan sangat halus, menggunakan bahasa kiasaan yang kaya makna. Menggetarkan dalam porsi yang secukupnya.
Saya belajar banyak kosakata baru dalam buku ini. Dari awal hingga akhir buku ini juga mengupas intisari Kama-Ratih yang lumayan detil ehem… *merona*. Salut pada teman yang berhasil menebak selera saya dengan menghadiahkan buku ini. Terima kasih teman, kau tahu yang aku mau ;)
Novel Lusi Lindri milik saya adalah cetakan pertama, edisi November tahun 1987, meskipun tentu saja saya tidak membelinya pada tahun itu juga. Buku ini saya temukan 5 tahun lalu di sebuah toko buku tua, rak paling atas, nyaris tak tersentuh tangan pembeli (dan mungkin juga penjualnya) karena terlihat dari kulit luarnya yang tertutup oleh debu tebal.
Seri ketiga dari trilogi karya Y.B.Mangunwijaya ini berkisah tentang perjalanan seorang srikandi. Dibumbui dengan problema hidup yang dihadapinya dan adanya berbagai macam karakter yang ditambahkan didalamnya menjadikan kisah ini terasa hidup. Karena novel ini adalah novel trilogi, ada baiknya membaca keseluruhan seri untuk memahami jalan cerita yang berusaha disampaikan.
Ini dia pamungkasnya karya trilogi dari YB.Mangunwijaya.. Agak susah n lama bgt nemunya...
Lusi Lindri ini ceritanya adl anaknya Genduk Duku, "asisten"nya Roro Mendut dulu.. perempuan2 hebat di jamannya, karena berpendirian teguh n ga mo tunduk gitu aja n dijajah oleh laki2, apalagi yg punya kuasa seperti Tumenggung Wiraguna yg gampang kesengsem sama perempuan cantik..
the last character from the Tetralogy. Lusi had the most better situation than Mendut or her mother. Got a power and a brain.. she was looked more honored than 2 other types of woman from the Tetralogy, the closest with my behavior, somehow inspiring.