Jump to ratings and reviews
Rate this book

Menjala Kunang-Kunang

Rate this book
Menjala Kunang-Kunang - PUISI

30 pages, Paperback

First published July 1, 2019

2 people are currently reading
40 people want to read

About the author

Ibe S. Palogai

10 books11 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (8%)
4 stars
28 (20%)
3 stars
73 (52%)
2 stars
23 (16%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 31 reviews
Profile Image for Febri Hasanah.
Author 1 book7 followers
December 31, 2024
apakah sebenarnya rahasia yang pedih kita pendam adalah kebohongan menyakitkan bagi orang lain?



karya pertamanya ibe yang saya tuntaskan. dua karya lain seperti biasa, belum tepat waktu untuk diselesaikan. namun impresi paling terasa adalah tulisan ibe dari ketiga bukunya yang saya miliki sangat berbeda. terasa perbedaan rasa dari puisi-puisi yang hadir dari ketiga buku tersebut saat membandingkan pengalaman membaca dua buku lainnya.

emosi dari buku ini lebih bisa saya tangkap dan (tentu saja) membekas di hati setelah saya baca. ada banyak yang ingin diungkapkan dalam puisi di dalam buku ini. tidak hanya tentang rahasia, namun juga perpisahan, pergulatan, dan cinta yang begitu besar. buku ini bisa menjadi jembatan untuk mengenal karya ibe yang lain bagi mereka yang penasaran ingin mengintip.
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
August 1, 2019
150 - 2019

Buku keempat seri Selfie(sh) sekaligus buku puisi kedua dari Ibe yang saya baca.
Saya lebih suka buku Struktur Cinta Yang Pudar daripada yang ini, walaupun ya masih bisa dinikmati walaupun rasanya nanggung bener, terbatas sama jumlah halaman kayaknya nih.

bulan pasrah kuyup dan kita bernaung pada cahayanya di pantai ini, siapa yang sulit kita tepuk, malam yang berlayar atau diri yang telah pada masing-masing.
Profile Image for Lisna Atmadiardjo.
146 reviews24 followers
August 28, 2019
Emosi yang terbangun bersama setiap lembar yang terbaca, puncaknya suaraku teredam isak, mulutku asin, air mengalir di kedua pipi. Sekarang aku percaya, terkadang untuk memahami puisi, yang diperlukan adalah perasaan yang tepat dari pengalaman yang nyata.

(3/5 dari seri Selfie(sh))
Profile Image for Sya-chan.
19 reviews
March 3, 2025
Akhirnya tuntaslah perjalananku di buku-buku rangkaian seri Selfie(sh). Buku ini adalah buku kelima pada seri Selfie(sh) sekaligus menjadi buku Ibe yang pertama yang aku nikmati dan aku baca.

“Aku ingin kegelapan menyembunyikan diriku
di dalam bara pelukannya, seperti kesendirian
yanh suka membayangkan tabiatnya adalah aku.” — hlm. 19

Saat pertama membaca buku ini aku merasa sedikit sulit untuk mengkoneksikan akal dan batinku pada puisi dalam buku ini. Namun, menuju pertengahan halaman, aku merasa dapat merasakan pesan-pesan yang ingin dituturkan oleh Ibe selaku penulis. Satu hal yang membuatku perlahan terkoneksi dengan buku ini adalah gaya penulisan, pemilihan diksi dan permainan kata yang digunakan sang penulis entah mengapa aku merasa seperti membaca tulisanku (puisiku) sendiri hahaha. Mungkin perasaan ini muncul karena aku terlalu hanyut dengan puisi yang ditetaskan oleh beliau (Ibe). Nantinya, mungkin aku akan mencoba untuk mengeksplorasi karya-karya Ibe yang lainnya (jujur saja aku puas dengan karyanya yang ini, tapi aku masih merasa kurang sahaja haha).

“bulan pasrah kuyup dan kita bernaung pada cahayanya
di pantai ini, siapa yang sulit kita tepuk, malam yang berlayar
atau diri yang telah pada masing-masing?” — hlm. 20
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
April 2, 2022
Buku kedua seri Selfie(sh) yang kubaca. Terasa nanggung. Tapi apa yang bisa kita minta lebih dari penyair? Sekalipun puisi mereka sepanjang sungai Nil, yang tersisa sebagian besar adalah pertanyaan.

sungai yang membelah hutan ini menyembunyikan kunang-kunang
di antara rumpun cempaka dan sulur-sulur pada batang kenari
angin alobar mendesir dan cahaya kuning menyisir ke arahmu.

tetapi hutan tak butuh bertemu dengan kata-kata dan hanya cahaya
kunang-kunang yang sanggup menerangkan kepada kenangan
o apa yang tak terucap 'kan tetap tak terucap.


Itu dua bait terakhirnya. Jika saat membacanya spotifyku tidak memutar Saturn milik Sleeping at Last, mungkin hambar saja hatiku.
Profile Image for Merenung.
29 reviews3 followers
August 27, 2022
Habis dalam sekali duduk. Bingung ini buku puisi atau cerpen, tp kayanya lebih ke puisi panjang (?) atau prosa (?). Suka banget sama diksinya. Kalau baca buku puisi para penyair cinta dan kehidupan gini tu rasanyaa .... agsjdkd (terkagum-kagum).

Bukunya tipis banget. Sepertinya buku ini saudaranya buku Dua Alasan untuk Tidak Jatuh Cinta-nya Faisal Oddang. Sama-sama tipis, punya tema selfie(sh) yg sama, dan visual cover yang mirip juga.
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
March 14, 2021
sepasang mantan kekasih duduk di kedai kopi ini lagi
tempat mereka pertama kali menggumuli rencana
ketika cinta masih mampu menegarkan keibaan.

mereka pernah memesan sepasang kopi dan menyusun masa depan
- memiliki apa di mana dan menjadi apa di waktu kapan
segala durasi selesai ditimbang-takar.

tetapi masa depan tak disusun seperti bata merah di perapian
mereka tak punya kayu-kayu yang mesti jadi abu
agar bata itu tumbuh menjadi rumah.

cangkir kopi telah lama dibersihkan ketika masa depan
memisahkan mereka, lalu mereka memesan lagi sepasang kopi
untuk merayakan perpisahan itu
Profile Image for Devi N..
49 reviews2 followers
December 26, 2021
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memaknai setiap kata yang diutarakan oleh penulis. Buku ini adalah yang pertama kubaca karya Ibe. Setiap katanya—mampu membawa rasa getir yang mendalam. Aku membacakan puisi ini dengan lantang dalam kamarku yang kecil; hingga di tengah-tengah bacaan ku menyela diri sendiri dan berucap; "Pedih banget sih, astaga." 😢
Profile Image for Romzul Falah.
7 reviews
April 8, 2023
aku hanya api yang belajar membakar diri sendiri
hingga akhirnya sadar, yang terbaik dari hidupku adalah abu
tanpa nama akhir.

hadiah terbaik yang bisa aku berikan kepada diriku sendiri
hanya kesendirian yang tak diintimidasi waktu
oleh kau yang meminta setiap detiknya.
Profile Image for Randa Muhammad.
96 reviews4 followers
September 23, 2020
beli bundel berisi 5 buku penulis, ini salah satunya. masih sulit dipahami bahasanya, tapi inilah puisi, bs bermain dgn kata dan bahasa. mgkn krna kita tak tau latar belakang penulisnya, jd sulit utk mengapresiasi karyanya
Profile Image for Ann.
62 reviews4 followers
January 1, 2022
buku ini menurutku baguss karna ada perpaduan diantara romansa dan melankolia yang menyatu secara engga lansgung... keren, agak speechless kok bisa ya? tapi begitulah si penulis menuliskan nya maha karya
Profile Image for Fira.
80 reviews1 follower
November 27, 2024
“kini aku hanya perantau yang merelakan sebagian dirinya
tertahan di masa lalu dan sebagian lain bergetar setiap kau bertanya
tentang kabar, tentang apa yang selalu ia bakar.”
— hlm. 21

Ooh nice one!
Profile Image for Ratih.
209 reviews17 followers
June 16, 2020
butuh wangsit buat bacanya tapi bagus banget 👍
Profile Image for Nura.
1,056 reviews30 followers
August 2, 2020
Tertarik baca karena judulnya. Buku pertama Ibe yang gw baca. Butuh perjuangan untuk mendedahnya agar bisa mengapresiasinya. Jadi inget Manurung-nya Oddang. Penasaran baca buku lainnya.
Profile Image for Alifa Imama.
133 reviews10 followers
December 24, 2020
Terlalu banyak penggunaan bahasa yang berulang untuk sebuah kumpulan puisi yang kecil
Profile Image for Lidia.
91 reviews
March 23, 2021
Menarik dibaca, tapi saya lebih suka buku Ibe yang "Struktur Cinta yang Pudar"
Profile Image for Andita.
308 reviews4 followers
December 11, 2023
tetapi masa depan tak disusun seperti bata merah di perapian
mereka tak punya kayu-kayu yang mesti jadi abu
agar bata itu tumbuh menjadi rumah.
Profile Image for yulian.
33 reviews2 followers
May 27, 2025
"Aku ingin kegelapan menyembunyikan diriku
di dalam bara pelukannya, seperti kesendirian
yang suka membayangkan tabiatnya adalah aku." hIm. 19
Profile Image for Shendi C.
Author 1 book
December 30, 2019
"Cinta adalah batu-batu basah yang kita asah menjadi kerikil tertatah di tangan waktu menjadi segenggam pasir dan kita tak lagi mampu memilikinya"

Puisi karya ibe s palogai ini tidak berjudul di tiap tiap puisinya atau menjala kunang kunang adalah satu kesatuan judul yang tak di rangkai ulang? Entahlah, namun puisi ini bagus untuk di nikmati, bara, laut, api, gelap dan cinta adalah bagian dari puisi ini.
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
December 29, 2019
tetapi masa depan tak disusun seperti bata nerah di perapian
mereka tak punya kayu-kayu yang mesti jadi abu
agar bata itu tumbuh menjadi rumah.

cangkir kopi telah lama dibersihkan ketika masa depan
memisahkan mereka, lalu mereka memesan lagi sepasang kopi
untuk merayakan perpisahan itu.
Profile Image for Andha Mohammad.
13 reviews
January 15, 2020
Buku tipis bersampul kuning ini, secara keseluruhan menggambarkan senja yang perlahan hilang dan pudar di balik kaki langit.

Mereka berjalan beriring dan saling bergandeng: ironi, getir, manis masa lalu dan masa depan, Ibe adalah seseorang yang terlahir dengan tangisan pertama yang berupa puisi.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
July 2, 2019
Hmm.. ada puisi yg diulang
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,963 followers
August 4, 2019
Buku puisi ini berada dalam satu bendel kumpulan puisi "Selfie(sh)"

Mungkin, karena tidak meninggalkan kesan yang dalam, aku sendiri lupa tentang apa buku ini berkisah.
Displaying 1 - 30 of 31 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.