Suatu hari di hari Jumat yang hujan, saya bermaksud membuat langganan Gramdig saya tidak sia-sia. Maka saya mencari-cari buku untuk dibaca. Waktu itu nggak pengin baca buku yang berat-berat, jadi akhirnya mencari buku yang ringan dan nggak mikir. Entah bagaimana, saya tiba di buku ini.
Padahal ya, cerita di buku ini tuh tipikal cerita novel yang paling saya benci.
Yup, saya sangat tidak suka baca cerita prahara rumah tangga yang menye-menye, terutama yang laki-lakinya berengsek dan perempuannya cengeng. Nambah-nambahin dosa mengumpat aja. :'))))
Secara objektif, terlepas dari selera pribadi, cerita di novel ini nggak seburuk itu sih sebetulnya. Cara penceritaannya ringan, khas cerita Wattpad yang pastinya mudah dipahami banyak kalangan. Emosinya lumayan dapet, konsistensi detail ceritanya juga lumayan okelah walaupun masih ada bolong-bolongnya. Pesan-pesan moralnya juga banyak, meskipun lugas banget (dalam bentuk literally ceramah). Karena ini novel Islami .... Nggak pada tempatnya untuk memprotes hal itu.
Tapi yaaa karena ini novel Islami juga, saya agak nggak sreg di beberapa hal. Misalnya di bab pertama, ketika dituliskan bahwa Tari masih bimbang mau lanjut nikah atau enggak setelah istikhoroh. I was like, hello, Tari? Kebimbanganmu itu JAWABAN, kaliii. Udah liat juga kan sikap Bian-nya kayak gitu. Habis itu kamunya tetap nekat nikah sama dia padahal tanda-tanda-Nya udah jelas, yaaa pernikahannya jadi kayak gitu, kan?
(Sorry I just can't help. Untuk masalah-masalah kayak gini, saya yakin petunjuk-Nya selalu jelas. Hamba-hamba-Nya aja yang kadang mengabaikan karena ingin mengikuti kecondongan hatinya sendiri.)
Jadilah sebenarnya saya sudah agak euh sejak bab pertama. Tapi saya berhasil lanjut sampai akhir, karena tentu saja seperti kebanyakan cerita model ini di platform-platform, ada magnet entah apa yang membuat kita stick to it until the last page. Meskipun yaaa penuh makian terlontar gegara karakter-karakternya, tindakan yang mereka ambil, juga alur ceritanya yang penuh kesalahpahaman dan tarik ulur. Siapa pun yang mau baca ini harus nyiapin hati dulu soalnya bakal emosi jiwa beneran deh. :))))
Oya, hal lain yang bikin saya agak zzz dengan novel ini: kenapa nama-nama tokohnya kayak... nggak kreatif, sih? ^^;; Mirip-mirip, pula. Sarah-Sari. Bian-Tian. Gitu deh.
Anyway, sepanjang membaca, saya beneran ngebayangin Tari itu Indah Permatasari dan Bian itu Refal Hady hahaha. Padahal nonton filmnya juga belum.