Selama berada di Syria, Fahmi tidak pernah absen mengikuti acara ritual Asura yang dirayakan orang-orang Syiah di Masjid Sayyidah Zaenab, pinggiran kota Damaskus. Sekalipun bukan Syiah dan selalu mengutuk perayaan yang berdarah-darah itu, Fahmi selalu mengelilingi masjid yang luas di acara puncak pada pagi buta 10 Muharram. Ternyata di pagi buta kali itu, pemuda Indonesia itu terpaksa mengantar anak muda dari Afghanistan yang tak dia kenal ke rumah sakit. Fahmi pun harus menandatangani surat persetujuan untuk tindakan operasi atas nama keluarga Adzim, anak muda itu. Darah pun dia sumbangkan.
Perkenalan tak sengaja antara Fahmi dan Fatma, kakak kandung Adzim, menyeret mereka berdua ke dalam kisah cinta heroik nan berliku. Syekh Munir, tokoh Syiah asal Pakistan, ingin menjadikan Fatma sebagai istri mudanya. Segala cara Syekh Munir lakukan untuk menghalang-halangi hubungan Fatma dan Fahmi. Tak kenal menyerah, Fahmi pun mengerahkan berbagai upaya untuk mendapatkan Fatma. Karbala, tempat yang menjadi roh kehidupan Fatma, dimintakan sebagai maskawinnya. Karena bagi Fatma, Karbala adalah air mata, juga muara dari segenap cinta.
Kudu hati-hati kalau baca buku ini. . Kurasa penulisnya cukup berani ya mengangkat tema cerita berlatar sejarah Islam seperti ini. . Cerita cintanya sederhana. Fahmi, mahasiswa Indonesia jatuh cinta pada Fatma. Yang tak biasa adalah pertemuan keduanya. Fahmi ketemu Fatma di RS, saat menolong Adzim adik Fatma pada Ritual Karbala. Apa itu Ritual Karbala? Pembukanya aja sudah bikin tanda tanya kan.. . Saya pembaca awam akhirnya googling sana sini untuk mencari informasi tambahan: mahzab, Syiah, suku Hazara, tata cara sholat, 12 Imam besar, doa-doa, hingga nikah mut’ah. Tak hanya itu, melalui buku ini saya jadi turut merenungkan hak-hak perempuan dalam Syiah. Jika pernikahan saja harus sesuai kehendak Imam, mencintai jadi tak semudah rakyat biasa. . Terlepas dari sesuai atau tidaknya dengan aqidah kita, buku ini lumayan gampang dinikmati. Alurnya maju mundur dan ada beberapa bab yang mengisahkan perjuangan Fatma melarikan diri dari tempat asalnya hingga sampai di Damaskus. Yep, kekuatan novel ini memang terletak pada unsur sejarah dan setting tempatnya: situasi perang Taliban di Kabul, orang-orang Pashtun di Afghanistan, dsb. Deskripsinya ditulis detail, yang bakal bikin kita berempati sama nasib Fatma. . Meski tema yang diangkat cukup sensitif, tokoh Fahmi tercipta untuk menjadi penengah diantara ketegangan keyakinan. “Bukan sunni atau syiah, tapi Islam” adalah kalimat yang dilontarkannya berkali-kali. Perdebatan soal benar tidaknya aqidah Syiah, tokoh Fahmi meminta kita mengutamakan nurani terlebih dahulu saat menolong seseorang. Urusan keyakinan? Janganlah menjadi sekat yang membatasi kita dalam berbuat baik. . Jadi saya pilih buku ini sebagai pembuka di awal Ramadhan. Buku ini menjadi media perkenalan pertama dengan silsilah keluarga Nabi hingga sejarah perpecahannya. Namun saran saya tetap barengi dengan membaca literatur yang valid. Agar kita mempunyai pondasi dalam bersikap, sebelum menerima ajaran Syiah yang mungkin masih minor di masyarakat.
Baru kali ini baca novel yang diselipkan cerita sejarah didalamnya. Waktu awal baca masih kerasa bosan, karena belum muncul konfliknya. Rasanya nano-nano waktu baca ini.Ada senang sedihnya.Gaya kepenulisannya juga aku suka. Nambah ilmu baru tentang peristiwa Karbala serta bagaimana perebutan kekuasaan setelah nabi Muhammad SAW meninggal dunia.
Novel ini mengenalkanku sedikit tentang Damaskus Syria, Afganistan dan juga Karbala. Hanya sedikit akrena fokus ceritanya memang bukan tentang tempat-tempat itu. Tapi bukan berarti ketiga tempat itu tidak penting sama sekali, malah sangat penting khususnya Karbala.
Bercerita tentang Fahmi, mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Damaskus dan jatuh cinta pada perempuan Afganistan. Berawal dari Fahmi yang menonton perayaan Asyura di Masjid Sayyidah Zaenab, dan ketika itu Fahmi dipertemukan dengan Adzim, remaja yang ikut dalam perayaan Asyura. Adzim yang terluka dilarikan kerumah sakit dan Fahmi yang berada di dekat Adzim otomatis menolong remaja itu hingga menemani sampai rumah sakit. Adzim yang harus operasi dan Fahmi yang berakhir menjadi walinya. Karena itu juga Fahmi dipertemukan dengan Fatma –perempuan Afganistan yang merupakan kakak Adzim. Fahmi yang awalnya mengecam Fatma karena beranggapan Fahma kakak yang kejam tapi berakhir mencintai Fatma setelah pertemuan-pertemuan mereka. Dibalut dengan cerita Karbala yang menyayat hati berlatar kota Damaskus dan juga cerita hidup Fatma di Afganistan sebagai salah satu korban perang di negara itu hingga membuat Fatma merasa sudah mati dan hanya raganya saja yang hidup dan merasa sangat terikat dengan Karlaba. Perjuangan cinta Fahmi untuk Fatma dan juga dibantu oleh teman-teman Fahmi yaitu Aqom, Hisyam, Nur Ani dan Firman.
Di beberapa bagian novel ini membahas tentang Islam Syiah yang berhubungan dengan tragedi di Karlaba, juga tentang perbedaan Sunni dan Syiah tapi tidak terlalu banyak. Dan apa yang paling aku ingat dari novel ini adalah ketika ceritanya tengah membahas pemerintahan Islam di zaman 4 sahabat Nabi, kalian akan dibawa melihat dari sudut pandang yang mungkin berbeda dari yang selama ini kalian tahu. Karena itu yang aku alami, mungkin juga karena aku kurang teralu mendalami tentang pemerintahan Islam dimasa sahabat jadi aku hanya tahu garis besarnya saja dan hanya tahu hal-hal yang memang diajarkan disekolah. Dari semua tokoh dan karakter yang ada di novel ini aku paling menyukai Nur Aini, sayangnya karakter Nur Aini kurang digali hanya ditampilkan sebagai sahabat dari karakter utama laki-laki yaitu Fahmi. Tapi tetap aku menyukai si kembar Siti Nurhalizah ini.