For centuries, reports of man-eating tigers in Indonesia, Malaysia, and Singapore have circulated, shrouded in myth and anecdote. This fascinating book documents the "big cat"–human relationship in this area during its 350-year colonial period, re-creating a world in which people feared tigers but often came into contact with them, because these fierce predators prefer habitats created by human interference. Peter Boomgaard shows how people and tigers adapted to each other's behavior, each transmitting this learning from one generation to the next. He discusses the origins of stories and rituals about tigers and explains how cultural biases of Europeans and class differences among indigenous populations affected attitudes toward the tigers. He provides figures on their populations in different eras and analyzes the factors contributing to their present status as an endangered species. Interweaving stories about Malay kings, colonial rulers, tiger charmers, and bounty hunters with facts about tigers and their way of life, the book is an engrossing combination of environmental and micro history.
Peter Boomgaard was trained as an economic and social historian and obtained his PhD from the Vrije Universiteit, Amsterdam in 1987. He was Senior Researcher at the Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), Leiden, and Professor (Emeritus) of Economic and Environmental History of Southeast Asia at the University of Amsterdam.
This was a great book, and an excellent pioneering text on how to do environmental/animal history about SEA. Though confined largely to colonial sources, Boomgaard does a credible job of "reading against the grain" to guess plausibly at local perspectives and tiger behaviour.
I just wish Boomgaard had consulted the British Colonial Office records and British Malayan newspapers for his discussion on Malaya.
The segments examining Java and Sumatra read as pretty well-developed to my unfamiliar eye, because of his use of Dutch govt records, govt gazettes, and newspapers.
By contrast, the segments on Malaya are relatively anemic because he doesn't seem to accord them the same degree of research detail - the only govt records he seems to have consulted seems to be Blue Book statistics, and even then it's not clear if he has looked at the relevant years.
Overall: a very memorable read. I especially enjoyed the pictures in the book. Especially the ones of the weretigers.
Buku berbahasa Inggris pertama yang saya niatkan untuk menandaskannya. Semula, saya sudah pernah mencoba berbagai buku berbahasa asing, meski kemampuan saya berbahasa Inggris masih sangat terbata-bata dan sangat sering keliru. Saya menyukai tema boga (makanan, kuliner), lingkungan, alam, dsb. yang sayangnya, saya tidak menemukan banyak rujukan dalam khazanah di Indonesia.
Saya berniat untuk mengulas buku apik ini tiap bab, begitu saya rampung membaca. Seperti yang saya lakukan kali ini, saya mengulas bab pertama buku ini: pendahuluan. Seperti bab pendahuluan dalam buku-buku nonfiksi lain yang lazim berisi fondasi dasar buku, metode yang digunakan, atau kritik terhadap karya-karya bertopik sama yang pernah terbit. Saya suka bab pertama tiap buku, terlebih metode. Sebab, dari situ kita jadi tahu bangunan dasar sebuah buku.
Bab pertama buku Peter Boomgaard (1946-2017) juga begitu amat menarik. Berikut beberapa hal yang menjadi butir-butir saya.
Pertama, pada akhir bab pertama dia mengakhiri dengan kalimat bahwa Macan tidak selalu berarti buruk bagi manusia yang tinggal di kawasan Asia Tenggara. Ini menyiratkan bahwa pandangannya bukan seperti kebanyakan orang Barat lain, atau juga para pribumi yang menganggap bahwa Macan lekat dengan marabahaya. Saya teringat sewaktu kecil Bapak kerap menakut-nakuti saya dengan keberadaan gogor di hutan. Gogor merupakan sebutan untuk anak Macan. Di Jawa, nyaris tiap hewan ketika masih kecil memiliki namanya sendiri, seperti Anjing ketika kecil memiliki nama Kirik, cempe untuk Kambing, Bledug untuk Gajah, dll.
Apa yang Boomgaard paparkan di dalam Frontier of Fear itu tak ubahnya adalah pernyataanya yang juga bertalian dengan metode yang ia gunakan. Penjelasannya sebagai berikut.
Telah lama dunia sejarah kita bersifat sangat antroposentris. Bahkan, yang lebih parah, sejarah telah diokupasi oleh kekuasaan, kekuasaan manusia tentu saja. Tepat seperti adagium bahwa "sejarah ditulis oleh para pemenang." Sejarah dari proses demikian telah menyampingkan segalah ha yang dipandang minoritas dari sejarah--dan hewan masuk dalam minoritas ini. Buku Boomgard ini tidak bermaksud demikian, tetapi dia menjelajah ke dalam dunia yang ia sebut liar. Bayangkan, buku Frontier of Fear ini menyembul dari pekat rimba! Muncul dari daerah yang sama sekali tak terpetakan, keliaran!
Kata Boomgaard, ia mau tak mau harus turut menyertakan hal gaib. Sebab, Macan di beberapa daerah amat lekat dengan kisah mistis.