Kita sudah cukup baik membuat orang mengira kita baik-baik saja. Sekarang saatnya jujur, yang kecewa, yang kelelahan, yang gak tahu kapan harus istirahat, kamu boleh marah, boleh menangis, boleh kalau ingin sendiri dulu. Boleh banget untuk perlu bantuan. Kamu gak harus terus baik-baik aja. Gapapa, gapapa, terima, akui, lepasin.
"... Jika kau tidak takut akan suara dalam kepalamu sendiri, maka kau tidak akan ketakutan oleh kritik yang ada di luar kepalamu." (Hal.186) . . . ❤ Kehidupan yang sekarang tak jarang membuat kita harus berupaya keras untuk menjadi baik-baik saja. Namun, saya dan kita semua, didalam kepala tahu dengan baik jika banyak hal dalam hidup tidak selalu terasa baik. Namun sayangnya emosi dan banyak pengalaman yang telah kita lalui tanpa sadar menjadi 'terabaikan' sehingga terkadang berbagai rasa dan pengalaman itu berpadu dalam ujud tangis yang tiba-tiba misalnya. Kurang lebih itu yang saya pikirkan ketika membaca buku ini.
❤ Buku self improvement pertama yang ditulis oleh kak @iidmhmd yang terdiri dari beberapa bagian, dan setiap judul dari bab dalam buku ini menarik untuk dibaca.
❤ Keseluruhan buku ini membuat saya merasa tidak sendirian melewati banyak hal tidak menyenangkan dalam hidup. Buku ini pun memberikan pesan baik laiknya sahabat lewat kalimat yang menyentuh tetapi juga memberikan kesadaran tentang pentingnya menyadari, memberi ruang, dan lebih memahami emosi kita agar tidak terjebak dalam perilaku mendiagnosa diri sendiri sebagai seorang yang mengalami masalah mental tertentu misalnya.
❤ Buku ini dapat menjadi bacaan untuk membantu kita melihat kedalam diri. Adakah emosi dan pengalaman buruk yang belum kita beri ruang? Adakah pengalaman tidak menyenangkan yang belum sepenuhnya kita ikhlaskan?
Buku self improvement pertama yang aku bisa enjoy bacanya. Keren banget ini buku! Dia semacam curhat tentang dirinya sendiri, cerita tentang bagaimana dia melewati masa-masa sulitnya, dll. Perasaanku campur aduk saat membacanya. Pada suatu pembahasan, aku bisa sangat relate sekali sampai tertawa, emosi dan marah-marah. Tapi di pembahasan yang lainnya aku merasa biasa aja dan bahkan nggak terlalu nyambung. Tapi wajar aja, mungkin aku belum melewati masa-masa yang dimaksudkan jadi aku belum relate. Di sisi lain, temanku bisa nangis-nangis sepanjang baca buku ini. Nah, itu semua tergantung preferensi kan.
Kamu pernah ngerasa gak enakan? Atau ngerasa mudah cemas? Pengin nangis walau tanpa sebab? Terlalu sensitif menanggapi sesuatu? Tenang, kamu gak sendiri.
Buku yang cukup tebal untuk tema self-improvement menurutku, tapi bacanya ngaliiir banget.
Buku ini tebalnya 339 halaman yang isinya pengalaman penulis menghadapi kecemasan, perundungan, sampai serangan kepanikan. Penulis menuliskan segala perasaannya, emosi (marah, cemas, sedih berlebihan, kecewa, terlalu sensitif) yang berusaha ditolak, tapi pada akhirnya berhasil mengolah dan menjadikan emosi-emosi itu sebagai wadah untuk lebih mengenal diri sendiri.
“Semakin banyak hal yang kita cintai dari isi diri, semakin banyak hal yang mampu membahagiakan.” p.167
Kagumnya aku dengan buku ini salahsatunya adalah banyak perasaan dan kata hati yang kadang dirasakan oleh kita, terjabarkan dengan lugas lewat tulisan sang penulis. Kita berasa dirangkul dan dipuk-puk🫠 walau ada pengalaman yang aku ga relate, tapi kebanyakan aku ngerti karena bahasanya yang santai, kadang juga kocak😁
Di buku ini, kita diajak untuk lebih mengenal, mencintai, dan menjaga kesehatan mental diri sendiri. Perasaan berlebih pada marah, kecewa, merasa terasingkan, cemas, iri, malu, dan sejenisnya.. itu GAK APA-APA. Di buku ini kamu akan diajak untuk mengolah perasaan itu agar menghasilkan jiwa yang besar dan kuat😊
Setelah agak lama tidak begitu mengikuti karya kak Iid, membaca ini seperti nostalgia ke masa-masa awal mula mengenal beliau dari tulisan di Tumblr. Aku kemudian mengoleksi buku pertama dan kedua hasil kolabnya waktu itu (sampai ikut PO saking semangatnya). Setelahnya, aku masih membaca bukunya tapi tidak sampai yang terbaru karena kaIid sangat produktif menerbitkan karya—aku tak bisa lagi mengikutinya, hiks. Ternyata ini buku non fiksi pertamanya dan aku pun tersadar, aku lebih suka tulisan model begini dibanding karya fiksi/novelnya.
Buku ini seperti katarsis, medium yang dipakai penulis untuk menyalurkan isi kepala dan juga perasaan-perasaan yang selama ini mungkin tidak bisa dipahami orang-orang. Dari judulnya saja kita bisa mafhum; penulis mengajak pembaca untuk tidak merasa sendirian; dengan emosi-emosi yang kadang begitu sukar ditangani. Sebab ada banyak orang di luar sana yang juga merasakan hal yang sama; kesepian, perasaan bersalah, hingga depresi yang kadang disembunyikan. Ada banyak sekali pembahasan tentang mental ilnes yang dikemas dengan apa adanya, dari sudut pandang penulis sekaligus penyandang 'gangguan mental'— semuanya akan mengajak kita untuk lebih aware tentang pentingnya kesehatan mental dan bagaimana kita harus menghadapinya.
Aku salut dengan keberanian KaIid menulis hal-hal yang rasanya tidak mudah untuk dibagikan ke orang banyak/pembaca; proses pulih dan tumbuh yang membuat hancur berantakan, namun membentuk sebuah pemahaman baik yang menghasilkan seseorang yang lebih bijak dan mencintai diri sendiri akhirnya.
--Setelah membaca ini aku mau bilang ke orang-orang yang masih senang memendam dan sukar meminta bantuan; hey, Kamu Gak Sendiri!
Ini buku pertama Syahid Muhammad yang aku baca dan isinya tentang 𝒔𝒆𝒍𝒇 𝒊𝒎𝒑𝒓𝒐𝒗𝒆𝒎𝒆𝒏𝒕. Bang Iid, panggilan bekennya bercerita tentang dirinya yang mengalami serangan panik, gangguan kecemasan yang biasa disebut 𝑮𝒆𝒏𝒆𝒓𝒂𝒍𝒊𝒛𝒆𝒅 𝑨𝒏𝒙𝒊𝒆𝒕𝒚 𝑫𝒊𝒔𝒐𝒓𝒅𝒆𝒓. Kecenderungan panic attack saat sedang tidak dapat dikontrol. Ia mengetahui hal itu dengan mengandalkan 𝒔𝒆𝒍𝒇 𝒅𝒊𝒂𝒈𝒏𝒐𝒔𝒆𝒅. Ya meski itu bukan jalan keluar yang cocok sih, karena kondisi finansialnya saat itu. Bang Iid mikir cuma dia yang ngalamin hal kayak gitu awalnya. Masuk ke bab-bab berikutnya yang banyak sekali 🤭 tapi singkat dan ngena menurutku. Membahas bagaimana atau dalam bentuk apa kecemasan itu terjadi, seperti panik, perundungan, sensitivitas, kesepian, ketakutan dan hal lainnya. "Tapi percayalah, diantara orang-orang berbahagia kita juga terlihat berbahagia di mata seseorang yang sedang menyembunyikan kesedihannya. Tugas kita, izinkan mereka untuk tidak baik-baik saja, memvalidasi bahwa masalah yang mereka alami adalah hal yang normal dan wajar" Nggak ada kalimat yang rela aku lewatin pas baca tulisan Bang Iid. Benar-benar memberikan banyak energi positif untukku. Membuatku merasa menjadi manusia baru. Nah bagian favoritku dari buku ini yaitu bagian halaman dengan warna hitam . Bagian tersebut dibuat seperti percakapan kita dengan diri sendiri, amarah dengan kebingungannya, beserta solusi yang sangat masuk akal. Bahasanya pun santai dan on point. Bang Iid, good job 😊
bukan pertama kalinya baca buku mas iid, jadi waktu baca ini juga udah tau buku ini bakal menenangkan kayak bukunya yang udah pernah aku baca. mas iid enggak pernah gagal kan bikin kita tenang? hahaha.
banyak banget hal yang disampaikan di buku ini. perihal diri sendiri, cerita asmara, lingkungan sekitar, sampe penyakit-penyakit mental (meski ngga banyak tapi beberapa kali disinggung).
dari buku ini aku bisa merasa lebih kenal sama mas iid karena nyaris seluruh buku ini adalah cerita tentang hidupnya. dan yang bisa kusimpulkan adalah; mas iid selalu bisa liat hal positif dari apa pun yang terjadi meski hal itu hal paling buruk sekalipun. ini buat aku sadar juga sih biar lebih bisa berpikiran positif gitu dan ngga fokus ke hal-hal yang nyebelin doang. dari buku ini juga merasa kalau semua tulisan yang mas iid ciptain ternyata berasal dari semua "susah"-nya mas iid. dari situ juga kita bisa belajar supaya mengolah emosi yang kita rasain. gimana caranya supaya ngga memendam emosi, tapi juga waktu diutarain tuh ngga nyakitin orang.
ngga mungkin bisa nyebutin bagian mana yang paling favorit karena ya kayaknya sebagian besar yang ditulis mas iid relate sama aku meski ngga mirip 100% juga. ini yang kupahamin kenapa judulnya "kamu gak sendiri", karena waktu baca ini jadi sadar kalau apa pun yang lagi kita laluin tuh ngga pernah kita laluin sendirian. ada yang bisa paham sama kita sebaik diri kita sendiri (which is mas iid lol).
Mulai membahas dari pengalaman bullying dari penulis, kecemasan, kemarahan, hingga kondisi mental yang sedang tidak baik hingga terjadinya serangan panik. Penulis atau mas Iid mengekspresikan segala perasaannya, menolak emosi yang berdatangan, hingga belajar menerima dan mengenal emosi tersebut tentu saja semakin mengenal dirinya sendiri. Menceritakan juga bagaimana mengolah emosinya menjadi sesuatu yang positif dan lewat media yang tepat yaitu tulisan.
Penyajiannya yang berbentuk sub chapter membuat pembaca akan lebih mudah memahami isi buku ini. Mungkin tidak semua yang ditulis mas Iid related dengan yang aku rasakan maupun pembaca lain rasakan. Tapi pasti beberapa bagian setelah membaca tulisannya ada semacam suara dalam hati yang muncul “aku dulu juga pernah mengalaminya, atau aku sekarang juga sedang mengalaminya”. It’s okay semua orang pasti pernah terluka, kecewa, menangis, resah, dan lelah. Tapi hal-hal itulah yang membuat manusia menjadi hebat karena memilih berdamai dengan dirinya dan terus melanjutkan hidup.
Siapa pun kalian, apa pun yang sedang kalian rasakan, ingat “Kamu Gak Sendiri!”
Kamu gak Sendiri buku non fiksi pertama yang dilahirkan oleh syahid muhammad yang biasa dipanggil bang Iid, meskipun ini merupakan non fiksi pertamanya, namun buku Duduk Dulu alias buku non fiksi ke-duanya telah menghantarkan aku yang pada akhirnya membaca buku ini. buku yang terbilang tebal terdapat 338 halaman dengan tulisan-tulisannya yang padat, penulis meluapkan segala isi kepalanya kedalam buku ini. di halaman depan kalian akan menemukan kalimat ini :
beli buku ini karena sinopsisnya ngena banget dan aku kira bakal relate sama kondisiku sekarang. ternyata ngga bisa relate sama sekali huhu
karena ternyata buku ini menceritakan tentang mas syahid yang punya mental illness, menceritakan bagaimana kehidupan mas syahid yg merupakan org yg sensitif, terkena bully, punya gangguan kecemasan
applause sih buat mas nya yg berani menceritakan sisi kelamnya dia, ga semua orang berani
disini aku jadi bisa sedikit punya gambaran gimana kehidupan orang yg punya mental illness
Cinta pertama dari buku ini malah bukan dari sinopsis di belakang buku. Tp dari satu halaman yg dibuka acak.
Satu halaman ngerasa relate. Trus balik lg ke halaman selanjutnya. Buka lg halaman secara acak dan ternyata relate bgt sama apa yg menjadi concern dari diri pribadi. "Ternyata ga cuma gue".
Buku ini cocok bgt buat yg punya beberapa beban hidup yg selama ini terpendam dan bingung mau cerita ke siapa. Takut mereka ga paham. Sebagus itu dan banyak nasihat yg bisa dikutip dan digarisbawahi pake pena.
Salah satu buku self-improvement yang dibumbui dengan beberapa istilah serta teori psikologi. Bagi saya sendiri, beberapa topik di setiap bab ada yang 'relate' atau memberikan sebuah kesan seperti 'Oh, jadi begini ya' walau hampir seluruh isi buku berbicara tentang gangguan kecemasan. Namun, tidak semerta-merta membahas tentang gangguan kecemasan yang dikaitkan dengan ilmu psikologi, tetapi banyak hal di buku ini yang bisa kita refleksikan ke diri kita sendiri dan bisa kita olah menjadi emosi-emosi positif atas apa yang terjadi dalam hidup kita yang berhubungan dengan sesama.
Tulisan yang ada dalam buku ini berisi keresahan dan masalah yang dialami langsung oleh penulis sendiri, namun semua masalah dan keresahan tersebut adalah obat bagi pembaca yang merasakan apa yg penulis rasakan. Ini adalah buku self healing pertama yang saya pernah baca dan saya tidak menyesal membaca setiap bab dan setiap masalah yang ditulis karena pasti setiap masalah terdapat jalan keluar yang berguna untuk tumbuh.
Rangkaian kata di buku ini membuat para pembacanya merasa dipahami, dimengerti, dan dirangkul. 'Ternyata bukan aku aja yang ngerasa kaya gini' dan entah kenapa diri ini jadi merasa kurang terasing dari sebelumnya. Beberapa bagian membuat aku benar-benar tertegun, karena itu seperti kata hati yang tidak pernah aku bayangkan bisa dideskripsikan dalam bentuk kata-kata.
Buku ini sangat menyentuh hati, selesai baca ini yang saya pikirkan: Tidak apa-apa memiliki perbedaan dengan orang lain; merasa cemas, kesepian, iri, takut, panik, malu bahkan menangisi semua hal yang pernah atau saat ini kita lalui. Kenapa? karena kita istimewa, iya istimewa, kita punya cara sendiri untuk menerima segala kekurangan, melepas hal buruk dan belajar mencintai diri sendiri.
Terlalu banyak yang relate di kehidupanku 👍🏻 sukanya aku beliau ini menulis kesulitan dan masalahnya dengan solusi yang diperbuatnya. Menggunakan pov oranv pertama, berasa diajak curhat ✨️
Entahlah ya, merasa hidup semakin ke sini, kadang suka bikin nangis tiba tiba tapi ngga tau kenapa, atau ngerasa cemas karena diri ngga capable, atau emang hidup tuh se ancur ini ya? Ya, tapi tenang aja, ini wajar dan ngga ngerasain sendiri kok. Mungkin dalam sistem sosial, agak sulit buat menyampaikan rasa yang ngga bikin nyaman kali ya, jadi kaya ngerasa sendirian aja gitu.
Oke, jadi kira kira itu isi dari buku ini. Emang ya rasanya berat buat menerima kenyataan atau ya mencintai diri sendiri. Kadang mikir, apa iya kita bener bener se istimewa itu? Tapi kalo pun iya, kenapa kita suka dibuat kacau sama hidup, atau orang orang yang ada di sekitar kita. Nah, buku ini kaya ngasih semacam dari sudut pandang dan pengalaman penulis dalam mengalami beberapa hal yang kusebut diatas.
Bagian yang menarik buat aku sih ketika ngebahas soal tren kesehatan mental, yang kadang bikin kita mudah banget buat self-diagnose. Ya karena akses informasi mudah banget kali ya. Cuma masalahnya, belum tentu diagnosenya bener gitu loh, ngga jarang jadi bikin kita pusing sendiri. Intinya banget, masalah mental ini ngga selalu harus diselesain sendirian kok, emang kita butuh bantuan dari orang lain ataupun pihak profesional. Mungkin ada pengaruh ngomongin isu kesehatan mental, agak tabu kali ya, jadi kayanya apa apa harus diselesain sendiri.
Terus, ada juga beberapa hal yang menarik dibahas dalam buku ini tuh kaya ngerasa ngga pede karena selalu dibanding-bandingin, belum bisa ngontrol diri kalo lagi marah atau lagi panik, atau ya ngerasa semuanya ngga ada yang paham ama perasaan kita jadi bisa dibecandain seenaknya, serta berpura pura bahagia. Dan fase ini kaya akan ada dan dialami sama semua orang.
Oke, kayanya itu aja dulu. Buat yang suka baca buku self improvement yang ga terlalu teori, bisa sih baca buku ini, apalagi yang ngerasa lagi capek aja ama kehidupan haha. Dan intinya, jangan ngerasa lemah karena masalah hidupnya banyak, atau mikir masalah orang kayanya lebih banyak dari kita, sebenernya kita juga hak buat dibantuin kok!