Ketika Majapahit jatuh pada abad ke-15 Masehi, dua abdi, Banca dan Naya, sebelum moksha mengeluarkan sumpah bahwa keduanya akan menitis pada individu terpilih, dari masa ke masa. Lalu, pada abad ke-21, mereka ke dalam diri seorang pendongeng yang hidupnya luntang-lantung tanpa tujuan, hobinya berziarah dari candi ke candi. Diterangi dua roh tadi, pendongeng ini menguak misteri jatuhnya Majapahit berikut imajinasi berbangsa dari kerajaan besar itu yang juga terus hidup dari masa ke masa.
Cara penulisannya menarik. Selama membaca, saya seakan ikut berkelana kembali ke masa lalu dan bertualang bersama Karebre dari satu desa ke desa lainnya. Penggunaan 11 struktur pupuh sebagai judul bab secara bergantian membuat saya menjadi lebih memahami arti dari tiap pupuh tersebut
Cerita yang indah dan di beberapa bagian juga menggelikan. Di samping penggunaan bahasa yang kelihatannya sederhana, banyak tersembunyi kata-kata dan kalimat yang memiliki arti mendalam tentang kehidupan di buku ini. Tidak hanya menghibur, tapi buku ini bisa dibilang dapat membuka pikiran pembacanya.
Saya suka sekali dengan cara penulisan di buku ini. Lugas dan seru!! Seperti menjelajah ke masa Majapahit tapi, versi abad sekarang. Ada bagian-bagian yang cukup menggelitik juga~
Kisah runtuhnya Majapahit yang diceritakan dengan gaya pop. Sangat menarik untuk orang seperti saya yang (masih) malas membaca non fiksi. Banyak sindiran-sindiran politik dan sosial yang relevan dengan masa kini. Dari membaca buku ini saya berkesimpulan: sejarah berulang, dan akan terus berulang seiring dengan adanya ketamakan manusia.