Jump to ratings and reviews
Rate this book

Young Adult GPU

The Boy I Knew From Youtube

Rate this book
Pada hari pertama di SMA, Rai terkejut. Ternyata Pri, pemilik channel Pie Susu, adalah kakak kelasnya. Mereka sering berinteraksi di kolom komentar YouTube, bahkan lanjut ke e-mail.

Pie Susu tidak pernah mengetahui identitas Rai. Video cover lagu-lagu yang Rai nyanyikan di channel Peri Bisu hanya menayangkan sosoknya dari belakang. Itu pun sebatas pundak ke atas. Karena sudah tiga tahun Rai tidak lagi nyaman menampilkan bakat menyanyinya di dunia nyata.

Saat tiba-tiba Rai terpaksa harus tampil lagi di depan umum, Kak Pri bersedia mengiringinya dengan gitar. Persiapan lomba akustik pun menggiring interaksi mereka di dunia nyata. Namun, Rai masih tidak percaya diri. Terutama ketika gosip dan perlakuan tidak menyenangkan atas ukuran tubuhnya kembali mencuat.

254 pages, Paperback

Published February 10, 2020

12 people are currently reading
135 people want to read

About the author

Suarcani

9 books35 followers
Dulu suka peri. Sekarang pun masih.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
29 (11%)
4 stars
121 (49%)
3 stars
82 (33%)
2 stars
13 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 88 reviews
Profile Image for Suarcani Suarcani.
Author 9 books35 followers
Read
February 7, 2020
Buku ini berisikan curhatan teramat pribadi yang tidak pernah saya bagi ke orang-orang. Tumbuh sebagai remaja yang insecure terhadap kondisi tubuh sendiri, saya kehilangan banyak momen masa muda yang seharusnya indah. Barangkali saya tidak sendirian, karena itu, saya bersikeras agar kisah ini rampung dan bisa dibaca banyak orang.

Kisah Rai ini akan mengajak kamu untuk belajar menerima dan sekaligus mencintai diri sendiri.
Profile Image for Liliyana Halim.
312 reviews243 followers
February 24, 2020
Sukaaaa 🤩🤩🤩. Emosinya dapat. Pengen peluk Rai dan kasih semangat 😕. Pengen bikin Randi jadi gila 😖. Pengen jambak Lolita 😅. Jadi penasaran novel selanjutnya apa 😬
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books153 followers
February 7, 2020
Aku suka covernya (yang pertama bikin pengen punya bukunya), setelah baca aku suka gaya nulisnya, dan sampai akhir benar-benar suka karena ceritanya sendiri.⁣

Tentang Rai yang jadi semacam sahabat pena Pri si youtuber, tapi via surel. Jadi mereka berdua sama-sama punya passion di bidang musik, Pri jago main gitar dan punya subscriber ratusan ribu. Di antara ratusan ribu itu ada Rai yang punya suara bagus, sayangnya nggak pede buat nunjukin diri karena sesuatu yang berhubungan sama tubuhnya. Tanpa disangka, mereka ternyata satu sekolah, satu ekskul pula.⁣

Awalnya aku mikir novel remaja ini akan sama seperti beberapa yang sudah ada, kalau dari sinopsis doang kan mirip dengan A atau B, tapi aku salah besarrr. Aku suka pemilihan konfliknya. Lebih suka lagi penyelesaian yang disuguhkan dalam buku. Baca ini nggak kerasa, tau-tau selesai.⁣ Benar-benar mengobati rinduku sama teenlit yang bagus. Aku sangat merekomendasikan si merah keren ini buat adik-adik yang punya rasa insecure sama tubuhnya, juga buat kakak-kakak yang kangen baca teenlit dengan bumbu roman-persahabatan-impian yang pas.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,044 reviews1,976 followers
February 24, 2020
Cukup sadar diri karena belakangan suka dengan tulisan-tulisan penulis luar. Ya sebut saja John Green, Rainbow Rowell, Jenny Han. Pokoknya novel-novelnya selalu berjajar di etalase toko buku sebagai daya tarik. Hingga akhirnya ada The Boy I Knew from YouTube. Sebuah teenlit lokal.

Premis yang ditawarkan cukup menarik: tentang body shaming. Jujur saja, awalnya aku kira akan seperti Dumplin' atau novel YA lain yang sudah pernah aku baca mengenai body shaming yakni ukuran tubuh yang lebih lebar. Maka dari itu, bayanganku terhadap tokoh Rai sudah terpatri lebih dulu sebelum akhirnya aku mengerti masalah yang dihadapi olehnya.

Rai "bersembunyi" di balik nama Peri Bisu. Sebuah akun YouTube yang kerap mengunggah video Rai bernyanyi. Tetapi, Rai tidak pernah menampakkan wajahnya. Suaranya yang indah itu menarik salah satu pemilik akun YouTube juga, Pie Susu untuk berkenalan lebih jauh. Tidak disangka-sangka, Pie Susu ini adalah kakak kelas Rai. Ya, mereka satu sekolah!

Masih kalut karena trauma akan body shaming yang sering ia alami, Rai lebih suka menggunakan baju yang kebesaran milik abangnya. Ia khawatir akan menjadi bulan-bulanan. Akan mendapat cat call dari teman-teman sekolah ketika ia berjalan melintasi koridor. Maka, ketika Pie Susu mencoba mencari tahu, Rai malah takut. Ia mati-matian menutupi identitasnya. Tapi akan sampai berapa lama?

The Boy I Knew From YouTube merupakan sebuah bacaan ringan. Jujur saja, di umurku yang sudah bukan lagi remaja, membaca tulisan tersebut bisa dilakukan sembari duduk santai di cafe atau di dalam TransJakarta (seperti yang aku lakukan ketika membaca buku ini). Tidak terlalu banyak kata-kata yang sulit dimengerti. Membaca dengan mengikuti alur.

Dalam buku ini, penulis memperkenalkan bagaimana body shaming bisa sangat memengaruhi stabilitas seseorang. Tidak hanya sekadar masalah fisik namun juga menyerang mental. Bagusnya, penulis tidak membuat penyelesaian masalah begitu saja. Ia juga membangun karakter yang suportif dan penuh cinta kasih untuk mendukung Rai menghadapi ujaran yang negatif itu.

Ahya dan satu lagi, ceritanya tidak javasentris. Berlatar di Bali dan dengan menyisipkan kosakata Bali membuatku merasa kalau teen lit ini juga menawarkan keberagaman (diversity).
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews856 followers
February 23, 2020
Suarcani
The Boy I Knew From Youtube
Gramedia Pustaka Utama
254 halaman
7.3

Karya pertama Suarcani dalam lini teenlit berhasil menyajikan kisah yang lebih ringan dibandingkan dengan karya-karyanya sebelumnya, tetapi dengan premis cerita yang begitu relevan dengan kehidupan remaja generasi Z serta dengan pesan tentang body positivity yang tak kalah pentingnya dalam era media sosial seperti sekarang.

Saat saya membaca Patron Saints of Nothing beberapa minggu yang lalu, ada satu bagian yang membuat saya mengernyitkan dahi. Dalam salah satu narasinya, Jay Reguero, karakter utama dalam buku ini, menyebut "Call Me Maybe" sebagai salah satu jam sewaktu dia masih SD. That "Call Me Maybe"? The "Call Me Maybe" that became my jam during my sophomore year in college? Dan bocah ini berani-beraninya mengaku kalau lagu itu baru pertama kali dia dengar saat masih SD. The audacity!

Tapi di saat itu saya sadar kalau saya sudah tidak remaja lagi. Saya sadar ada generasi yang berbeda dari generasi. Kedengaran seperti sesuatu yang biasa boomer katakan, memang, tapi di saat itulah saya mengakui saya tidak tahu sama sekali apa-apa soal kehidupan anak remaja zaman sekarang. Hal pertama yang saya tanyakan kepada orang lain saat saya membaca The Boy I Know From Youtube adalah memangnya SMA zaman sekarang memakai sistem penilaian ABC? Saya bahkan tidak tahu bagaimana sistem penilaian di sekolah zaman sekarang! Bisa dibilang, membaca kisah remaja adalah upaya putus asa saya untuk tetap relevan dan muda, suatu fakta yang mungkin tidak banyak orang lain berani akui.

Yang membuat karya pertama Suarcani dalam lini teenlit ini berkesan adalah buku ini tidak mengalienasi para pembaca sepuh seperti saya. Buku ini tidak dipenuhi jargon dan slang yang dipakai anak muda kini (fun fact: saya baru tahu arti kata jamet hari ini). Satu-satunya hal "kekinian" yang ada dalam The Boy I Knew From Youtube adalah melibatkan seorang bintang YouTube, suatu titel yang kedengaran mengada-ada sepuluh tahun lalu saat saya masih SMA. Rai, sang karakter utama, tanpa disangka-sangka ternyata satu sekolah dengan Pri, pemuda tampan di balik channel Pie Susu yang digandrungi remaja, seperti Hindia (atau .FEAST atau Fiersa Besari atau Pamungkas) (fun fact: saya pernah datang ke peluncuran komunitas Pencandu Buku yang pernah digagas Fiersa Besari di Bandung). Namun, tidak banyak yang tahu kalau Rai sebenarnya adalah Peri Bisu, seorang penyanyi misterius yang begitu dikagumi oleh Pri sendiri.

Pada awalnya plot dalam buku ini digerakkan oleh ketidakpercayaan diri Rai untuk mengaku kepada Pri tentang identitas Peri Bisu, tapi perlahan-lahan buku ini mengisahkan latar belakang ketidakpercayaan diri Rai untuk menyanyi di muka umum karena kondisi fisiknya. The Boy I Knew From Youtube mulai bergeser dari novel tipikal tentang romansa remaja menjadi novel dengan pesan tentang body positivity yang penting. Di tengah era media sosial ketika para remaja dengan mudahnya mengamati satu sama lain seperti ikan dalam mangkuk kaca, rasa iri pada orang lain dan benci pada diri sendiri begitu mudahnya mengintai. Semua remaja ingin dipandang sempurna, keren, dan gaul dan lewat media sosial mereka. Sementara itu, mulut pedas netizen yang hanya terpaut beberapa tombol pada keyboard membuat mereka membenci diri sendiri dan membanding-bandingkan kondisi mereka dengan orang lain. Rai mungkin bukan korban bullying di internet, tetapi bullying dari dunia nyata itu yang membentuk persona internetnya: sesosok gadis misterius yang tidak ingin memperlihatkan kondisi fisiknya. Untuk buku remaja lokal, saya pikir kondisi fisik yang membuat Rai tidak percaya diri memang cukup berani, tapi sesuatu yang valid karena pasti ada banyak gadis remaja lain yang merasakan hal serupa.

Masih sama seperti buku sebelumnya, karya Suarcani yang satu ini masih kental dengan budaya Bali dan saya suka sekali melihat bagaimana kehidupan sekolah di Bali, lengkap dengan aturan soal kebaya dan sembahyang tiap pagi. Beberapa percakapan dalam bahasa Bali juga terasa sangat natural dan menarik. Bicara soal natural dan menarik, Suarcani jelas piawai sekali dalam menggambarkan pelbagai karakter dengan sifat yang unik serta interaksi mereka satu sama lain. Gaya menulis Suarcani juga "seremaja itu"—mengutip kata-kata vlogger makanan yang suka berkomentar "seenak itu"—walau beberapa similenya terkadang membuat saya meringis. Misal dalam kalimat: UAS datang dengan lekas, secepat menghilangnya uang dari dompet. Tapi selain itu, saya rasa The Boy I Knew From Youtube merupakan kisah remaja solid lainnya dari Suarcani.
Profile Image for Yonea Bakla.
323 reviews36 followers
February 16, 2020
I'm so excited waktu kak @alhzeta posting cover #theboyiknewfromyoutube 😍😍😍 covernya itu lho, cakep!

Aku udah baca beberapa buku Kak Ari sebelumnya: Welcome Home, Rain (Young Adult), Rule of Thirds dan Purple Prose (Metropop). Jadi penasaran gimana kalo kak Ari nulis teenlit?

Highlight buku ini yaitu tentang body shaming, klub musik dan persahabatan virtual.

Selama tiga tahun Rai tidak lagi menyanyi di panggung, bahkan ketika sahabatnya, Kiki berulang tahun.

Ketika menemukan channel Youtube Pie Susu, Rai seperti mendapatkan sarana aktualisasi diri dan memutuskan untuk membuat channel Peri Bisu.

Bertemu Kak Pri, pemilik channel Pie Susu di sekolah sebagai kakak kelasnya ternyata membuat Rai harus menghadapi rasa takutnya.

Isu yang diangkat cukup relevan dengan kondisi remaja saat ini.

Full review bisa dibaca di blog: https://pharmacistjournalist.wordpres...
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
March 26, 2020
Cewek yg payudaranya kecil kayaknya udah cukup sering diceritakan walau hanya sebagai salah satu insecurity kecil yg ngga terlalu dibahas (misal cuma jadi bahan ledekan tepos, datar, triplek, yg sebenernya problematik juga tapi rasanya udah normalized banget). Novel ini mengangkat isu insecurity dan body-shaming yg dialami seorang remaja putri berpayudara besar. Pembaca perempuan bakal gampang banget relate sama cerita dalam novel ini, entah secara pribadi atau sekadar inget cerita-cerita temen. Saya juga kayak gitu. Saya termasuk orang yg seneeeeeeengggggg seneng seneng senenggggggggggg banget isu ini diangkat dalam fiksi remaja dan bisa jadi sarana edukasi untuk remaja-remaja putri maupun putra. Terima kasih telah menulis novel ini, Mbak Suarcani!!!

Jujur si Rai ini agak ngeselin sih buat saya, karena dia beneran yg lemah banget. Ada saat-saat dia jadi berani dan tangguh tapi karakternya yg klemar-klemer itu secara keseluruhan sangat menguji kesabaran saya ^^ Tapi yg paling saya suka dari novel ini adalah dinamika interpersonal tokoh-tokohnya! Mereka semua terasa hidup dan dinamis. Ada momen ketika Kiki nyebelin, Kiki baik, lalu Lolita baik, Lolita nyebelin. Yang baik terus mungkin si Pri ^^ Bucin sih ^^

Yang agak saya sayangkan mungkin penampilan tokoh-tokohnya yg ngga terlalu dideskripsikan (or did I miss the details?). Oh, istilah-istilah peribadatannya harusnya dikasih footnote, soalnya ritual sembahyang Hindu (cmiiw) tuh ngga terlalu familier jadi mestinya setidaknya dijelasin dikit gitu lewat footnote. Saya salut banget sih ada cerita remaja yg bawa-bawa peribadatan Hindu sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Jadi kesannya Denpasar di sini ngga cuma jadi latar-lataran doang, tapi nyatu dgn cerita.

Banyak pelajaran yg bisa diambil dari novel ini, must read banget untuk para remaja. Saya harap novel ini tersedia di perpus-perpus sekolah.
Profile Image for Wardah.
960 reviews174 followers
February 23, 2020
Seperti yang tertulis di blurb, Rai itu mengalami pelecehan dan bullyingin karena ukuran tubuhnya, ukuran dadanya. Dan hal ini bikin Rai trauma.⁣

Kalau kata Saka, kakak Rai, penyelesaiannya gini:⁣

"Kalau kamu kuat, hal yang begini pasti nggak akan bikin kamu down. Nggak akan mempan. Kuncinya cuma satu, sayangi diri kamu sendiri, sayangi tubuh kamu sendiri." (h. 140)⁣


Aku suka banget gimana penulis membuat Rai perlahan sadar bahwa ujung-ujungnya, Rai yang harus menerima dan mencintai dirinya sendiri dulu supaya segala omongan buruk soal tubuhnya tuh jadi nggak berarti apa-apa. Bukan berarti pelecehan seksual lantas dibiarkan ya, tapi namanya faktor dari luar itu ga bisa dikendalikan. Yang bisa kita kendalikan, ya diri kita sendiri. Iya kan?⁣

Terus yg aku suka dari buku ini tuh interaksi Rai dan Pri. Sama Dandi juga yg nyebelin. Hahaha. Lucu banget sih liat anak SMA itu. 😂⁣

Oya, aku juga suka sama buku ini karena karakternya pada punya sisi hitam dan sisi putih. Nggak serta merta serba baik. Ya meski si Pri rada too good sih, tapi Rai dan orang-orang lain nggak. Aku suka konflik persahabatan Rai dengan Kiki dan gimana mereka menyelesaikannya. Dan aku suka akhir bukunya. Apalagi soal nama kucing.⁣

Sebelumnya aku lebih suka buku-buku metropop penulis, karena teenlit/YA-nya menurutku kayak kurang greget. Tapi yang ini beda. Ringan, cuma mendalam. Emosi Rai terasa, karakernya tereksplorasi, dan penyelesaiannya bagus. Jadi pengen baca teenlit lain dari penulis. 😁⁣
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
April 13, 2020
Ceritanya mengandung pesan penting yang patut diketahui khalayak, enggak cuma remaja. Body shaming adalah hal sensitif bagi banyak orang, tentu bagi mereka yang sering dinyinyirin kondisi tubuhnya. Agak menyayangkan enggak sih kalo ada orang yang dengan mudahnya menilai fisik orang lain? Tanpa tahu keseluruhan kondisi tubuh orang yang dikomentarinya? Bisa aja kan dia sudah berusaha sekuat tenaga mengubah tetapi bagian tubuh yang dikomentarinya tak kunjung berubah. Jadi, jangan kaget atau merasa offended balik pas orang yang tubuhnya dikomentarin membalas dengan bilang 'bacot!' or 'mind your own business!'.



Seperti Rai dalam novel ini. Salah satu bagian tubuhnya selalu membuatnya merasa insecure. Hal itu menghalanginya untuk bersinar. Ya, dia punya bakat menyanyi yang cemerlang, hanya saja karena dia sering rendah diri alhasil hanya sedikit jam terbang akhirnya bakatnya kurang terekplor. Untunglah, the boy who she knew from Youtube-nya selalu berusaha terus menyemangati Rai. Pri sangat mengagumi Rai meskipun cewek itu selalu merasa mundur untuk berusaha lebih. Untung Rai juga punya teman yang suportif seperti Kiki, dan keluarga yang terus membuatnya untuk maju, Ibu dan Kak Saka. Tetapi, apa Rai akan berusaha maksimal? Baca aja ya, cerita inspiratif banget kok. Gak melulu soal cinta, khas banget novel-novel Kak Suarcani alias @alhzeta ini kalo di luar lini Metropop. Suka suka suka, meksipun Rai sedikit agak annoying sih 😂
Profile Image for Reina Tan.
292 reviews143 followers
February 25, 2020
pendapat pribadi!


Ini adalah karya pertama Kak Suarcani yang aku baca. Bisa dikatakan, novel ini menjadi impresi pertamaku terhadap tulisannya. Aku suka dengan gaya penulisannya. Santai, tidak banyak menggunakan kata-kata rumit, mengalir, dan ringan. Gaya penulisan menjadi faktor penentu apakah aku bisa menikmati cerita yang disajikan atau sebaliknya. Dan, gaya tulisan Kak Suarcani benar-benar dapat kuterima.

Mari kita bahas novelnya.

The Boy I Knew From Youtube merupakan novel teenlit yang terbilang ringan, tapi tidak seringan itu. Maksudnya bagaimana, nanti aku jelaskan. Set up novel ini mengingatkanku kepada novel-novel luar yang memiliki tema 'temu sapa dunia maya, tapi tidak tahu orang aslinya'. Contohnya, P.S I Like You -nya Kasie West, Alex, Approximately -nya Jenn Bennnett, atau Letters to the Lost -nya Brigid Kemmerer. Set up serupa, bukan berarti sama persis kok.

Novel ini memiliki konflik yang terbilang cukup berat, tapi pembawaan penulis beserta gaya penulisannya yang membuatnya seakan-akan ringan. Jadi, ini yang aku maksud mengenai 'teenlit ringan tapi tidak seringan itu'

Apa konfliknya?

Body shaming dan self love

Untuk penjelasan lanjut tentang konfliknya, ada baiknya membaca novelnya saja. Sebab aku takut menjadi spoiler hehehehe.

Tokoh utama itu menjadi hal krusial bagiku ketika membaca sebuah novel. Biasanya, kalau aku sudah tidak begitu suka dengan tokohnya, suka nyambung ke hal-hal lain dari novel itu. Dan, di novel ini, aku suka Rai!

Meskipun kadang Rai suka berkeras hati, tapi aku senang karena selama lembar-lembar buku ini diganti hingga mencapai akhir, Rai mulai menyayangi dan menerima diri sendiri. Prosesya kadang bikin gemas karena kesal, tapi akhir dari proses ini membuatku cukup puas.

Perihal Pri, hmm... Pri manis sih. Tapi, agak terlalu mengada-ada, bahkan di beberapa bagian agak creepy menurutku. Hehehe. Tapi, tak apa, aku masih bisa terima karena tingkah Pri berhasil membuatku tersenyum geli.

Hal yang kurang masuk di aku adalah...

Judul novel sama isinya di dalamnya, menurutku kurang nyambung. Jika dilihat sekelebat dari judulnya, novel ini seakan-akan ingin menceritakan siapa cowok yang diketahui melalui yuotube beserta bala-bala kehidupannya. Namun, jika kita baca novelnya, aku bahkan tidak ingat mengenai latar belakang cerita tentang tokoh cowoknya. Semuanya lebih fokus ke tokoh utama ceweknya, yaitu Rai.

Tapi, tak apa, perkara korelasi judul dan isi di sini cukup sepele. Aku masih menikmati isi novel ini, walaupun kadang penggalan perpindahan latar waktu dan tempat kadang membuat kagok pas baca.

Sebelum mengakhiri review--yang lebih terasa seperti kesan ini--ada baiknya kita mengapresiasi kovernya yang cantik banget! Sangat eye-catching.

Sekian dariku, mungkin suatu saat aku edit lagi. Tapi, overall, aku suka novel ini <3
Profile Image for Haqqi.
8 reviews1 follower
December 4, 2023
Unusually, I've been into cheesy coming-of-age romance lately.

Dan buku ini one of the best. Baca buku ini enggak bikin geli yang "apa sih?" but more like heartwarming.

Suarcani bercerita tentang insecurity di buku ini, dibalut dengan bumbu roman dan drama. This is the type of book that I eager to read more, triggers my curiosity till I finished it.

I like the way the author writes. Nggak monoton flat, tersisip kiasan-kiasan yang bagus dan meningkatkan daya imaji. Juga diksi yang penulis punya cukup oke.

In the other hand, aku ngerasa penggambaran latar, karakter, dan fisik tokoh yang kurang jelas, yang bikin aku bingung where is this conversation happening? What do they look like? And what time is it? Walau ada beberapa yang disebut, tapi di belakang, so I have to reread it again. Apalagi tokoh Pri yang baru digambarkan di tengah-tengah buku. Dan aku merasa akan lebih oke sudut pandang orang pertama yang dipakai.

Overall, I liked the story, the plot, the way you excecuted it. It was a heartwarming one.

For the heartwarmth, I would give a 5. But overall, I think 4.5 is perfect.

So, any idea what I should read next?
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
March 4, 2020
4.5 🌟

"Seringnya, bukan orang lain yang menyakiti. Tapi, harapanmu-lah yang berkhianat." - Hal. 219

Baca kisah remaja ini selalu aja bikin nostalgia gitu. Apalagi kisah Rai dan Pri ini emang kisah remaja yang gemesin. Awalnya Rai nggak mengenal Pri, dia cuman tahu kalau Pri yang punya channel yutub yang sering dia komen. Mereka ini satu sekolah, ya Rai pun emang memakai nama lain buat channelnya.

Dan kedekatan sama Pri, pas Rai masuk ke klub musik. Sebelumnya Pri udah pernah duet sama Rai di acara sekolah. Melihat potensi Rai, Pri ngajak Rai untuk ikutan lomba. Rai jelas menolak untuk ikutan lomba, tapi Pri membujuknya. Sayangnya, sebelum lomba dimulai tiba-tiba ada gosip nggak enak tentang Rai yang menyebar di sekolah. Bagaimana cara Rai mengatasinya?

Ini pertama kalinya aku baca teenlit karya penulis, dan gaya berceritanya ini sangat menarik. Tema yang diangkatnya tentang rasa insecure. Tema yang emang realistis, karena sering terjadi di masa sekarang.

Untuk karakter tokohnya, aku suka sama Rai yang selalu bersikap positif thinking cuman kadang gemes klo dia udah terlalu baik sama orang karena ya itu kelemahan dia seolah dimanfaatkan. Dan Pri ini emang manis sih, sikapnya baik dan dewasa. Aku gregetan juga sama Kiki, tapi dia sahabat yang baik. Kakaknya Rai pun kusuka, bijaksana dia. Tokohnya loveable, sifatnya khas remaja banget. Karakternya berkembang dengan baik, kuat dan konsisten.

Gaya bahasanya ringan dan mengalir, enak banget bacanya. Page turner!

Memakai sudut pandang orang ketiga, pikiran para tokohnya diceritakan dengan baik. Dan perasaan tokohnya pun ngena banget. Apalagi yang dialami Rai, bikin sedih dan marah aja rasanya.

Interaksinya antartokohnya hangat dan seru. Chemistrynya dapet, feelnya berasa 😍. Mereka tuh manis banget.

Dan untuk konfliknya, ini emang lebih ke rasa insecure, pembullyan dan bodyshamming. Aku rasa emang wajar sih Rai insecure dan takut, karena emang yang mendapat perlakuan yang jahat banget. Itu jadi ketakutan dan membuat minder 😭. Konflik batinnya pun kuat, aku suka sih cara Rai mengatasinya meski nggak mudah tapi dia berjuang. Eksekusinya rapi dan apik, meski ada adegan yang bikin kaget tapi bikin ketawa pas bayanginnya 😂. Endingnya puas banget, dan sukaaa banget 😍😍.

Overall, aku rekomendasikan buat para remaja. Kalian mesti baca ini ya gaes ~
181 reviews
February 14, 2020
Aku suka sama tema yang diangkat. Jadi buku ini berfokus sama masalah Rai yang sering mendapat ujaran body shaming yang dimana termasuk bullying tiap dia manggung nyanyi dulu.

Akibatnya, Rai berhenti nyanyi di atas panggung. Bersembunyi di balik channel Peri Bisu.

Nah, dia nih hobi cover lagu, dan saling kasi komentar dengan pemilik channel Pie Susu yang ternyata si kakelnya di RL.

Nah lohhh makin greget kan wkwk.

Konflik bukunya ringan kok gengs, namanya juga teens yak.

Interaksi Rai dengan Pri aku suka ❤. Uwu~ manis bat haha.

Ending bukunya juga realistis

Rate : 4,4❤
Profile Image for Yasfin.
119 reviews
March 1, 2020
Ada beberapa adegan yang hampir bikin nangis karena pernah ngerasain. Diomongin dari belakang, dilirik² berasa kayak punya muka aneh, diketawain.
Emang kelakuan Rai bikin kesel banyak orang, termasuk aku, karena dia lemah. Tapi aku juga maklum karena nggak semua orang mau digituin. Cuman emang kadang butuh waktu yang sangat lama buat bisa nerima semuanya
Profile Image for Novita Dwi Riyanti .
149 reviews4 followers
July 16, 2021
Novel teenlit pertama yang aku baca tahun ini. Setelah lama wara wiri dan mengendap di tumpukan bacaan akhirnya punya waktu juga buat baca.

Pertama kalinya juga bagiku membaca karya dari penulis Suarcani. Mengambil latar tempat di Bali dan menyisipkan beberapa adat juga bahasa di sana membuat novel ini semakin menarik.

Teenlit yang biasanya hanya tentang kisah percintaan anak remaja namun disini juga mengangkat tema bullying dan bodyshaming menambah poin plus dalam novel ini. Tindakan bullying & bodyshaming punya peran besar terhadap trauma pada korbannya. Setidaknya itu yang aku tangkap selama membaca kisah Rai yang menjadi tidak percaya diri bahkan membenci bentuk tubuhnya.

Beruntungnya Rai memiliki support penuh dari keluarga dan teman dekatnya salah satunya Pri cowok yang dia kenal dari Youtube, hingga akhirnya Rai mampu bangkit menekuni bakatnya kembali. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Rai ini. Salah satunya dengan tidak memilih diam ketika ada yang membully seseorang.

“Seseorang emang harus ngomong soal ini sih, Rai. Meski pun hanya lewat selebaran. Bullying itu akan terus terjadi kalau semua orang memilih diam…” Halaman 135.
Profile Image for Ardina Rahma.
134 reviews14 followers
April 15, 2020
Page turner! Teenlit yang manis 😍 Aku suka dengan ceritanya, tokoh-tokohnya dan konflik serta salah satu isu yang diangkat tentang body shaming!
Semoga semakin dikit orang yang memiliki sifat seperti "Lolita" dan semakin banyak orang seperti "Pri", si youtuber favorit pembaca 😘
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,496 reviews74 followers
November 16, 2020
Whoa. Yang ini pun... endingnya lumayan realistis... Jalan masih panjang bagi Rai untuk bisa jadi diva penguasa panggung. Seenggaknya kini dia tahu siapa saja yang benar-benar tulus mendukungnya.

Paling mengejutkan sih buatku hubungan antara Kiki dan Rai. Hmm....
Profile Image for Lila Cyclist.
859 reviews71 followers
February 21, 2020
Hmmmmm... Pengennya sih nulis review dulu, baru nandai 'read' disini. Tapi mood nulis review ngga kunjung datang. Jadi, gimana dong? Nulis sekedarnya aja lah..

Saya sudah membaca beberapa karya dari Suarcani. Satu hal yang khas darinya adalah budaya Bali selalu terselip didalam ceritanya. Itu sebenarnya daya tariknya, buat saya. Ohya, penulis ini juga ngga melulu happy end dalam novelnya. Tapu karena novel ini jenis teen lit, jadi saya ngga boleh protes kalo happy end 😅😅😅

Rai, gadis SMA yang menjadi karakter utama disini memiliki bentuk dada yang sebenarnya menjadi idaman banyak perempuan. Tapi buat dirinya, itu petaka. Bakat menyanyi nya bahkan ia tinggalkan pelan-pelan karena masalah tersebut. Sebagai pelampiasan bakatnya, Rai menyanyi untuk channel Youtube nya yang ia beri nama Peri Bisu. Dia hanya menampilkan bayangan dirinya dan suara indahnya.

Pri, kakak kelas Rai, adalah bintang Youtube di sekolah Rai. Selain memiliki suara emas, Pri juga dianugerahi wajah memadai (untuk jadi populer), dan kebetulan baik hati dan tidak sombong. Yah, kalo sombong, dia ngga mungkin saling berkirim komentar di channel Peri Bisu hingga berbalas ngobrol di email.

Satu hari, sekolah Rai mengadakan pentas seni. Sudah diduga, jika nanti kelas Rai bakal mendapuk Rai menjadi wakil dari kelas mereka. Ini bukan spoiler karena tertulis di sinopsis novelnya lo. Pri akan mendampingi Rai nyanyi di panggung. Jadi ketahuan dong kalo Peri Bisu itu adalah Rai? Oh, masih ada drama dulu dong hingga ketahuan bahwa Rai adalah Peri Bisu.

Hmmm... Karena novel ini bergenre teen lit, jadi plot nya sudah sangat tertebak, hingga drama queen, si villain yang cari perhatian. Yang agak bikin kesal itu justru Rai yang terlalu rapuh. Trauma perundungan memang bisa jadi lama sembuhnya. Tapi apa yang dilakukan teman-temannya masih kurang buatnya. Pri juga sudah cukup manis dengan nyanyi di telpon (jadi inget drakor dengan cowok super baik dan super maniz yang bikin diabetes). Tapi butuh berlembar lembar untuk membuat Rai tampil heroik. Yah, untungnya sih akhirnya dia cukup tahan banting sih. Kekesalan di lembar sebelumnya cukup terbayar 😄😄😄

Loh, akhirnya saya ngetik review juga... 😂😂😂
Profile Image for Milkalia.
26 reviews1 follower
March 18, 2020
Saya ngga ragu memberikan 5 bintang untuk novel Kak Suarcani. Jujur ini novel kedua yang aku baca selain Welcome Home, Rain. Bukan, bukan karena ngga berminat mencari buku yang lainnya. Tapi gara2 banyak wishlist jadi kelimpungan. Tapi promo gramedia digital membuat saya bertemu kembali dengan karya Kak Suarcani secara tidak sadar. Ah lebih benarnya sih saya sudah sempay membaca blurbnya waktu jalan2 ke Gramedia Merdeka dan tertarik mencomot buku ini. Lalu masuk ke dalam wishlist di otak saya hehe.

***
Iya ini seperti yang dikatakan penulis, bahwa kisah ini tentang Rai yang selalu merasa insecure dengan hal istimewa ditubuhnya. Sampai dia merasa trauma dan selalu khawatir tentang segala hal. Saya sempat kesal, sedih, dan terharu melihat bertapa paranoidnya dia dan terlalu berfikir jauh tentang hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Justru membuatnya tidak berkembang dan terus menerus berada di tempat. Padahal dia punya potensi dan bakat yang tidak semua orang punya.

Tapi, saya terharu dengan perlakuan dan cara Pri (laki-laki yang dikenal Rai di Youtube) menolong Rai di masa sulit itu. Saya sampai menitikan air mata saking ikut terharunya. Aduh Pri, ketulusan kamu bahkan sampe ke lubuk hati saya *eaaaa. Dia baik dan pengertian walau jail disaat yang bersamaan. Tapi tetap menggemaskan. Saya makin sayang sama dua karakter ini, apalagi cara mereka interaksi seriusan deh gemes banget.

Tapi saya senang karena kak Suarcani menutup kisah manis ini tanpa harus mengorbankan siapapun dan sebenarnya cukup melegakan.
Profile Image for blackferrum.
766 reviews58 followers
December 9, 2021
Setelah tahu buku ini ternyata salah satu contoh realistic fiction, aku langsung tertarik membacanya. Berlatar SMA, kisah Rai melawan ketakutan serta traumanya membuatku sadar bahwa masih banyak saudari-saudari kita yang membutuhkan banyak support untuk menghadapi body shamming dan pelecehan seksual. Sama seperti saat ini.

Buku ini relate dan bisa dibilang "wajar". Bagi sebagian orang yang punya kondisi sama dengan Rai pasti akan berlaku hal yang sama. Marah dan kecewanya. Beberapa pelajaran tersurat maupun tersirat bisa membuka insight lain. Barangkali bisa membantu jika punya teman yang sedang berjuang macam Rai.

Kesal sih sama Lolita, tapi untungnya penulis nggak sejahat itu bikin dia sampai wajib dihujat selamanya haha. Makanya kubilang buku ini "wajar". Suka juga dengan perhatian serta dukungan Pri. He's such a good person. Jadi pengin satu xD

Alurnya juga menurutku pas; nggak kecepetan atau kelambatan. Meskipun aku sempat mengira karakter Dendi bakal ada kejutan lain mungkin? Hoho, malah tambah panjang kalau begitu ceritanya. Anyway, cocok bagi kamu yang ingin membaca cerita ringan, tetapi penuh pelajaran di dalamnya.

Soon, kepoin karya penulis yang lain hihi
Profile Image for Rizki Utami.
212 reviews20 followers
April 13, 2020
Aku baca buku digitalnya di Gramedia Digital. Cukup memakan waktu satu hari. Fast reading memang, karena ceritanya menarik dan romance yang ada pun nggak berlebihan meskipun kebanyakan teenlit atau cerita berlatar SMA itu sering menampilkan romance yang cheesy. Fokus masalahnya pun bukan dari kisah romantis tapi lebih ke psikologis karakternya karena di buku ini Rai sebagai karakter utama perempuan memiliki trauma mendalam. Bagiku, kisah romantisnya menjadi pelengkap saja. Selain Rai, banyak karakter disekitarnya yang juga menarik. Kiki misalnya, sahabat Rai yang dimataku terkesan kurang baik di awal cerita, eh.. pas pertengahan ke akhir malah dia berubah jadi keren.

Quote fav :
'Seringnya, bukan orang lain yang menyakiti. Tapi, harapanmulah yang berkhianat. Rai sadar bahwa kekecewaan yang ia rasakan sekarang buah dari asa yang ia tebar' p. 2

Aku udah merekomendasikan ini ke temen aku yang jarang baca dan dia suka. Pastinya aku juga akan merekomendasikan buku ini untuk kalian semua. No warning kali ini. Baca aja, semoga kalian suka ya
Profile Image for Lana.
81 reviews6 followers
February 8, 2022
Final rating = 2 stars
(Dipertengahan buku pikirnya pasti 3 bintang, lalu di 50 halaman terakhir turun jadi 1 bintang. Akhirnya setelah dipikir-pikir lagi, setuju di 2 bintang.)

(This book is availabe in Ipusnas, stoknya mayan banyak, yuk dibaca!)

WARNING = MINOR TO MAJOR (?) SPOILERS (so read at your own risk)


Here are my thoughts:


1. Tokoh utamanya, Rai, pasif

= Di awal aku berargumen kalau Rai memang seorang gadis yang pemalu dan mempunyai trauma yang membuatnya mudah cemas dan sedih. Namun setelah konflik mulai muncul, akhirnya kelihatan juga kalau Rai itu tokoh yang pasif. Ini sindrom yang sering ada di buku, dimana karakter utamanya yang diseret cerita, bukan yang memimpin cerita.

= Hal ini terlihat saat salah satu tokoh jelas-jelas berbuat salah, bukannya Rai merasa marah/kecewa atau setidaknya mempertanyakannya, Rai malah seakan-akan membela bahwa tokoh tersebut hanya tidak sengaja. Hal sepert ini berulang saat beberapa konflik sampingan bermunculan.

= Tapi ya, di akhir kita akan melihat Rai berkembang menjadi tokoh yang lebih baik. Namun aku tetap merasa tokoh Rai tidak dikembangkan ke dalam potensi penuhnya.

2. Karakter Pri terlalu baik

= Sebenarnya tidak ada yang salah dengan karakter yang baik. Pri memang baik. Tapi sikapnya yang terlalu baik (kepada semua orang), membuat aku bosan karena tidak ada perubahan yang menarik dari Pri.

3. Chemistry?

= Aku tidak bisa melihat perkembangan relasi Rai dan Pri. Mereka memang ramah dari awal cerita, lalu seiring berjalannya waktu mereka menjadi teman dan lebih sering mengobrol. Tapi sepertinya aku bisa salah mengira Rai-Pri hanya teman yang dekat (karena lagi-lagi tidak ada perkembangan relasi dan chemistry yang berarti, kecuali di akhir cerita saat Pri akhirnya mengaku bahwa ia menyukai Rai).

4. Kiki yang wishy-washy di awal

= Di awal cerita Kiki memang menyebalkan. Teman seperti apa yang membongkar rahasia temannya sendiri demi bisa dekat dengan seorang laki-laki? Tapi ya setidaknya dia meminta maaf dan berkembang menjadi teman yang baik dan berani untuk Rai.

5. Lolita si penjahat karikatur

= Karakter Lolita menurutku sangat karikatur. Ia dibuat jahat sampai-sampai terkesan sedikit berlebihan. Awalnya aku mengharapkan Lolita merupakan karakter antagonis yang setidaknya berlayer dalam segi personality. Tapi sepertinya tidak begitu.

= Dan perkembangan karakter Lolita agak tidak masuk akal. Sekalinya saja ia ter-expose karena telah berbuat jahat, ia langsung merasa bersalah. Perubahannya terlalu cepat dan lumayan membingungkan.

6. Masalahnya Dandi apa sih

= Ini pertanyaanku dari awal sampai akhir yang tidak terjawab. Kenapa Dandi selalu kesal dan marah-marah (terutama kepada Rai). Agak aneh saja saat aku membaca ada salah satu karakter yang setiap kali ngomong pasti selalu kesal atau marah.

7. Plot sampingan yang membingungkan

= Plot utama cerita ini adalah Rai yang awalnya insecure dengan dirinya (baik secara fisik dan kemampuan), berubah menjadi yakin pada dirinya sendiri. Salah satu plot sampingannya (yang juga penting bagi cerita) adalah Rai yang merahasiakan identitas onlinenya dari Pri. Rai selalu merasa bersalah karena ia merasa bahwa ia bermuka dua di hadapan Pri. Jujur aku bingung, memangnya kenapa kalau ingin mempunyai persona online yang kita rahasiakan? Kalau misalnya mau dirahasiakan karena kita nyamannya begitu apa masalahnya?

8. Potret kehidupan SMA yang realistis?

= Iya dan nggak juga. Ya, di beberapa aspek memang realistis. Seperti di segi keseharian sekolah dan masalah body insecurity. Cowok-cowok SMA yang brengsek pun juga realistis (tapi percayalah bahwa realitanya tidak ada cowok yang akan sesungguhnya menyesal saat mereka melakukan body shaming bahkan sampai melecehkan). Tukang-tukang ojek yang brengsek yang kerjaanya hanya nangkring dan melecehkan setiap perempuan yang lewat juga sangat realistis.

= Tapi ada beberapa hal juga yang cukup karikatur. Salah satunya ketika Rai digosipi. Cukup dramatis di buku saat diceritakan bahwa semua pasang mata langsung tertuju ke Rai dan suara bisikan selalu terdengar. Karena realitanya, ketika kita jadi hot topic sekolah, ya kita akan digosipi, tapi nggak sampai digosipi blak-blakkan di depan mata kita sendiri. Karena percayalah orang-orang masih punya sedikit malu dan takut untuk digosipi balik atau disalahkan. Tapi karena namanya juga fiksi jadi ya gak semuanya bakal plek sama dengan kehidupan asli.

9. Topik yang penting untuk dibicarakan

= Disamping itu semua, topik utama yang ada dalam buku ini sebenarnya cukup penting. Yaitu masalah body insecurity. Dan nyatanya masalah body insecurity itu beragam, mulai dari berat badan, wajah, bahkan ukuran dada yang diangkat di buku ini. Menjadi seorang perempuan yang berdada besar memang sulit. Bahkan mungkin bagi Rai untuk bergerak saja (apalagi berolahraga) sudah canggung dan khawatir. Juga takut untuk dibicarakan apalagi sampai dilecehkan dan dimanfaatkan dengan sangat tidak etis. Namun dalam cerita, dengan bantuan orang-orang di hidupnya, akhirnya Rai mulai mencoba untuk menerima dan memahami serta mencoba untuk tegar.

= Jadi ya, memang topik buku ini sangat spesial menurutku dan patut untuk dibicarakan dan didiskusikan. Also, terakhir, yes you should protect your daughters but more importantly, EDUCATE YOUR SON .
Profile Image for Fitra Aulianty.
154 reviews4 followers
March 27, 2020
Ini keren banget loh, Kak. Nulis novel dengan tema-tema seperti ini berat banget dan Kak Suarcani bisa bikin dengan bahasa yang khas anak zaman sekarang banget. Sukaa.

Btw, endingnya komplak 🤣🤣 suka endingnya jugaa.
Profile Image for satine..
23 reviews1 follower
January 27, 2023
akhirnya selesai!. Aku ngebut buat nyelesain ini tapiii ada kecewa sedikit. Yaa karena di endingnya itu, masalah masalah belum terungkap jadi kan penasaran
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book274 followers
March 4, 2020
Rai mengagumi seorang youtuber dengan nama akun Pie Susu. Rai sendiri punya akun youtuber dengan nama Peri Bisu. Diawali saling komen, kedekatan mereka berlanjut di email. Peri Bisu beberapa kali menyanyikan cover lagu dengan iringan gitar Pie Susu. Saat masuk SMA, Rai menyadari bahwa Pie Susu adalah kakak kelasnya, Pri. Rai tidak ingin mengaku, karena ada satu hal yang disembunyikannya. Hanya ada satu orang di sekolah yang tahu bahwa dialah si Peri Bisu. Kiki, sahabatnya.

Tapi saat pentas seni di sekolah, Rai didaulat mewakili kelasnya menyanyi diiringi oleh Pri. Rai gugup, cemas dan takut. Dia teringat peristiwa 3 tahun yang lalu saat dirinya masih sering tampil sebagai penyanyi. Ukuran dadanya yang besar membuat orang justru membicarakan itu. Dan tidak berhenti di situ, Rai bahkan mengalami pelecehan secara verbal.

Bodyshaming adalah salah satu topik yang lumayan sering diangkat dalam novel, dan biasanya yang menjadi sasaran adalah golongan big size. Novel ini sedikit berbeda karena mengangkat tentang big size untuk ukuran dada seorang gadis remaja. Topik ini dipadukan dengan topik "youtuber" menjadi perpaduan yang menarik.

Persoalan bodyshaming ini mendapat perhatian khusus dari saya. Yah.. saya juga mengalaminya. Alih-alih membicarakan prestasi yang dibuat, orang-orang lebih mudah berkelakar soal ukuran badan dan menganggapnya hanya sebagai candaan pencair suasana. Been there and not done yet.

Saya suka penyelesaian konfliknya. Rapi dan realistis. Recommended novel.
Profile Image for Arvia Maharhani.
231 reviews29 followers
February 17, 2020
Pas pertama baca, aku kira ceritanya bakal kayak novel remaja pada umumnya yang mudah di tebak. Ketika makin dibaca, malah nebak-nebak siapa tokoh yang 'palsu' di depan. Rai, tokoh utama, juga bikin kita gemes karena sifatnya yang nggak tegaan itu. Meskipun begitu, insecurity yang dialami Rai rasanya bakal relate sama banyak orang terutama perempuan. Rasanya aku jarang nemuin novel teenlit yang membahas tentang insecurity gini.
Kisah Pri dan Rai yang banyak menyimpan rahasia juga diceritakan dengan porsi yang pas namun tetap bisa dinikmati pembaca.
Profile Image for Dhamala Shobita.
Author 5 books15 followers
March 2, 2020
Novel-novel Kak Suarcani yang lainnya yang pernah kubaca cenderung lebih mature, dari segi karakter, dari segi tema juga. Sebut saja Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta, Purple Prose, Welcome Home, Rain, dan lain-lainnya. Ketika melihat novel Teenlit pertama Kak Suarcani, saya penasaran, bagaimana kah kisahnya akan dikemas.

Ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Topik yang dibahas memang cukup sensitif. Body shaming dan perannya terhadap kehidupan seorang remaja. Sampai akhir, beberapa masalah dijabarkan perlahan sampai selesai. Aku suka banget gimana semua karakter sebenarnya punya sisi baik yang berperan mendukung perkembangan karakter utamanya. Dibumbui dengan kosakata dari Bali membuat novel ini lebih khas dan memperkaya budaya pembaca juga.

Novel ini saya rekomendasikan sekali untuk adik-adik remaja yang suka membaca novel sekaligus belajar tentang mencintai diri sendiri. Buat kakak-kakak yang sudah nggak remaja yang masih suka baca teenlit juga boleh banget. :)

Terima kasih atas tulisannya, Kak.
- ds
Displaying 1 - 30 of 88 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.