Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rosa Luxemburg buku 1: Sosialisme dan Demokrasi

Rate this book
Menggabungkan metode penulisan riwayat diri dengan telaah pemikiran, buku ini menyajikan Rosa Luxemburg sebagai pejuang Demokrasi Sosial dalam gaya naratif yang mudah dicerna dan dinikmati.

Buku pertama dari rencana dua jilid buku ini mengkhususkan diri pada pembahasan isu-isu seputar demokrasi dan sosialisme yang relevan dengan perkembangan dunia saat ini, saat ide-ide sosialisme kembali dipeluk anak-anak muda sedunia di tengah kebangkrutan tatanan yang ada.

Akan kita temukan pemikiran Rosa Luxemburg mengenai Demokrasi Sosial sebagai leburan antara sosialisme dengan gerakan kelas pekerja, termasuk uraiannya tentang kapan persisnya aksi-aksi demonstrasi dan pemogokan bisa digunakan secara tepat; bagaimana seharusnya sosialisme menyikapi agama, baik umat maupun pemukanya; sikapnya yang anti terorisme politik; beserta kecenderungan internasionalisnya dalam perjuangan demokrasi.

Tak heran bila sejak jauh-jauh hari para pendiri bangsa ini seperti Sutan Sjahrir, Kasman Singodimedjo, maupun Tan Malaka menyuruh kita agar mempelajari dan bertauladan kepada Rosa Luxemburg.

253 pages, Paperback

Published November 1, 2019

5 people are currently reading
25 people want to read

About the author

Dede Mulyanto

11 books10 followers
Staf pengajar antropologi FISIP Universitas Padjadjaran. Sebelumnya pernah menjadi staf pengajar di program sarjana Sekolah Bisnis & Manajemen ITB (2004—2006) dan peneliti di Yayasan Akatiga, Pusat Analisis Sosial Bandung (2004—2008). Beberapa hasil penelitiannya diterbitkan Jurnal Analisis Sosial dan Jurnal Masyarakat dan Budaya-LIPI. Buku yang diterbitkan antara lain Usaha Kecil dan Persoalannya di Indonesia (Akatiga, 2006); Kapitalisasi dalam Penghidupan Pedesaan (Akatiga, 2008).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (33%)
4 stars
9 (37%)
3 stars
6 (25%)
2 stars
1 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Evan Kanigara.
66 reviews21 followers
March 6, 2020
Dede Mulyanto sangat berhasil mengemas pemikiran Roxa Luxemburg dalam buku jilid pertama “Sosialisme dan Demokrasi” ini. Dede dengan baik membuat alur yang jelas, padat, sekaligus kaya akan konteks sehingga pembaca dapat memahami pemikiran Rosa dengan lebih koheren. Pertama-tama, Dede memberikan konteks riwayat dan latar belakang Rosa. Dari mana ia lahir, keluarga seperti apa yang membesarkannya, hingga bagaimana riwayat keluarganya memengaruhi pandangan politisnya. Penjelasan lalu diteruskan dengan apik dengan membahas bagaimana kondisi dan medan politik di Eropa tengah kala itu. Ini bagian yang cukup menarik, mulai dari pelarian Rosa dari Rusia menuju Swiss, pertemuannya dengan Jogiches, pendirian jurnal Sprawa Robotniscza, hingga pendirian partai SDKP, dll. Itu hanya sebagian kecil yang saya ingat. Sisanya begitu banyak. Mereka ditulis dengan runtut dan detail. Bahkan, terkadang terlalu detail. Tapi saya kira itu memang perlu.

Dalam buku ini, Dede seolah selalu menekankan secara tersirat bahwa pikiran Rosa Luxemburg tidak pernah berdiri sendiri. Ia bukanlah suatu pikiran yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan dan dari sebuah angin kosong. Ia terbentur sana-sini, dari suatu keadaan yang satu dan yang lain. Reaksi atas sebuah keadaan tertentu, dan utamanya gagasan tertentu yang dimiliki orang lain. Dalam konteks ini, atas gagasan Eduard Bernstein sampai pada akhirnya Vladimir Lenin. Tentu, hal semacam ini mungkin adalah hal yang sudah umum diketahui di dunia ilmu sosial. Bahwa suatu pemikiran tokoh merupakan pertalian kusut dari tanggapan atas gagasan orang satu dan lainnya. Terkadang tanggapan itu sezaman, kadang pula bisa ratusan tahun setelahnya. Tapi nuansa penekanan ini sangat jarang saya temukan di suatu buku terjemahan berbahasa Indonesia.

Saya masih ingat betul dalam acara diskusi bukunya di Nitikusala, Dede Mulyanto berkata “mungkin banyak orang yang mengetahui nama Rosa Luxemburg, tetapi sedikit yang mengenali pemikirannya.” Dede lalu melanjutkan, “Buku yang membahas Rosa dalam bahasa Indonesia minim sekali jumlahnya, padahal pemikir pra kemerdekaan Indonesia saya lihat beberapa kali mengutip Rosa dalam tulisan-tulisannya.” Saya kira betul. Dan konteksnya pun bisa lebih diperluas. Buku-buku pengantar pemikir-pemikir dunia dalam bahasa Indonesia masih begitu sedikit. Mungkin ada, tapi entah kenapa di luar jangkauan saya sebagai orang awam. Kalaupun ada, mayoritas ditulis dengan begitu buruk. Beberapa buku terjemahan non-fiksi yang saya baca, hanya memberikan alih bahasa tekstual terhadap karya yang ia terjemahkan. Sangat minim konteks. Semisal, ‘The Selfish Gene’ karya Richard Dawkins atau ‘Il Principe’ karya Niccolò Machiavelli . Terjemahan atas kedua karya tersebut bisa dibilang baik. Namun penyajiannya begitu kering dan membosankan. Mengapa Dawkins atau Machiavelli bisa menerbitkan karya tersebut? Apakah hal tersebut merupakan reaksi terhadap suatu kejadian/ide di suatu masa hidup mereka? Lalu bagaimana kejadian/ide tersebut bisa relevan terhadap penulis dan bagaimana dinamika penulis terhadap kejadian/ide tersebut? Kalaupun ada, hal-hal ini biasanya dipaparkan dengan begitu singkat di awal kata pengantar.

(Pembaca yang menghadapi buku seperti ini mungkin hanya akan berakhir bosan. Tapi bahkan ada beberapa karya terjemahan yang terjemahannya sendiri pun sangat buruk. Ambillah buku ‘Seks dan Revolusi’ karya Jean-Paul Sartre. Buku ini adalah buku dengan terjemahan terburuk yang pernah saya baca.)

Dalam catatan pembuka, penulis dengan rendah hati berkata bahwa buku ini bukanlah telaah sistematik mendalam atas pemikiran Rosa. Mengutip Dede “...[buku ini] bahkan masih berada di bawah taraf eksegesis karena penulis tidak melakukan semacam pelocotan bagian-bagian teorinya, merekonstruksi pertalian antarbagian tersebut, lalu menimbang-nimbang pemikirannya...” Saya rasa ia ada benarnya. Tapi saya juga merasa ini sudah cukup dan sangat perlu diapresiasi oleh ukuran saya yang hanya seorang awam. Saya melihat begitu banyak potensi dengan bentuk terjemahan seperti ini. Saya berharap pemikir-pemikir dunia dan tentu saja lokal yang biasanya hanya diketahui sosoknya saja, bisa disajikan juga buah pikirannya. Sehingga gagasan-gagasan mereka bisa tersebar bukan hanya di kalangan akademisi, tetapi juga kepada masyarakat umum.
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
October 28, 2020
Aku bodoh sih teori-teorian, aseli, aku menyadari hal ini karena saat membaca buku ini aku membutuhkan waktu yang lumayan lama (ketimbang kalau aku membaca fiksi) dan kudu membangun mood benar-benar pula. Pun aku mencari terlebih dahulu ringkasan gagasan pria berjanggut, si Marx itu (sekarang sudah lupa lagi tentu saja).

Tapi ada pertanyaan-pertanyaan dalam kepalaku yang tidak bisa selalu dijawab oleh marasumber-narasumber di lapangan, dan karena itu, aku akan menunggu buku kedua seri Rosa Luxemburg. Sekian.
Profile Image for Ata Syafaat.
3 reviews
December 11, 2024
Rosa Luxemburg: Hantu Nasionalisme hingga Perjuangan Kelas

Berawal dari perenungan sore, tentang upaya untuk membaca seorang perempuan dengan menilik riwayatnya, meskipun informasi yang terserap tentangnya masih sedikit bak seutas tali sepatu. Singkat saja, menurut saya, ia selalu punya cara sendiri untuk melawan meskipun dengan hal-hal yang barangkali remeh-temeh bagi kebanyakan orang. Entahlah apa prasyarat material yang membuat orang ini kemudian menarik perhatian saya, sehingga mengambil tempat dalam renungan saya yang khusyuk.

Tentu saja dalam tulisan ini saya bukan ingin membahas mengenai prasyarat material tersebut, apalagi ingin membahas doi lebih jauh, tentu saja bukan.

Hanya saja, mungkin karena berkaitan dengan seorang perempuan dan perlawanan, perenungan ini kemudian mengantarkan saya untuk teringat pada salah seorang pejuang perempuan yang juga sedang berusaha saya baca yakni Rosa Luxemburg.

Berkenalan dengan Rosa

Belakangan ini, saya berusaha pelan-pelan untuk membaca buku karya Dede Mulyanto yang berjudul; Rosa Luxemburg: Sosialisme dan Demokrasi. Halaman demi halaman saya baca, sampai ada yang saya ulangi beberapa kali karena rasa penasaran terhadap Rosa dan pemikirannya.

Bagaimana tidak, di umur 16 tahun ia sudah terjun ke gelanggang politik dengan bergabung ke partai Proletariat Polandia yang pada saat itu para aktivisnya menjadi sasaran penangkapan oleh pihak kerajaan karena persekutuannya dengan organisasi teroris Narodnaya Volya, yang terbukti menjadi dalang pembunuhan Tsar Aleksandr II. Hmmm, umur 16 tahun saya bikin apa? Ah sudahlah, kali ini saya bersyukur karena punya daya ingat yang buruk.

Mari kita lanjutkan. Dalam kehidupan remajanya, Rosa ditempa dengan iklim politik yang dapat dikatakan cukup memacu adrenalin. Ia sebagai seorang kader partai terlarang, mau tidak mau harus banyak bersiasat untuk menghindari intel kerajaan sembari terus melakukan kegiatan organisasi yang terkenal disiplin, radikal, dan militan. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang membuat anak semuda ini sudah memiliki sikap berontak yang teguh terhadap otoritas? Untuk memahami hal itu, mari kita mencoba merunut lagi sedikit ke belakang.

Alkisah, ada seorang pria yang bernama Eduard alias Eliasz dibesarkan dalam keluarga yahudi. Ayahnya yang bernama Abraham Luxemburg merupakan orang dengan jaringan bisnis yang merentang dari Warsawa hingga Berlin. Karena kekayaan ayahnya, maka Eduard dapat mengenyam pendidikan yahudi reformis di Warsawa serta memiliki akses untuk mencecap hidangan karya-karya para pujangga Prancis dan Jerman. Sebagai calon penerus ayahnya, tidak lupa ia juga diperkenalkan dengan dunia bisnis beserta jaringan yang dimiliki ayahnya.

Selain berbisnis, Eduard juga terjun ke dunia politik dengan mendirikan koran berbahasa Yiddi pada tahun 1860 yang berfokus kepada terbitan-terbitan untuk memantik kesadaran politik rakyat. Pada 1861 tanpa disangka, meletus pemberontakan rakyat di Warsawa yang kemudian dapat dipatahkan dengan keras oleh Rusia. Dua tahun berselang, meletus kembali pemberontakan yang lebih luas mencakup seluruh wilayah Polandia yang diduduki oleh Rusia, Austro-Hungaria, dan Prusia. Dengan kesadaran politik dan jiwa nasionalisnya, Eduard dan keluarganya pun turut serta dalam mendukung pemberontakan ini. Ia berusaha memperkuat pemberontakan dengan memasok perbekalan militer, senjata, hingga pakaian untuk para pemberontak.

Meskipun dengan sokongan perbekalan dan senjata, ternyata para pemberontak bukanlah lawan sebanding dari tiga kekaisaran ini. Pemberontakan pun kembali berhasil dilumpuhkan. Upaya mengendus dan menangkapi para pemberontak terus berlanjut. Hal ini yang kemudian membuat Eduard terpaksa harus pergi ke Zamosc pada akhir 1864 dengan meninggalkan istri dan anak-anaknya, karena ia termasuk orang yang paling dicari oleh aparat kerajaan. Pada 1868 ia kembali ke Warsawa. Tiga tahun kemudian lahirlah anak bungsunya, yakni Rosa. Yah, sikap pemberontak ternyata memang adalah bagian dari kehidupan keluarganya.

 

 

Hantu Nasionalisme

Berbeda dengan ayahya yang memiliki jiwa nasionalis tinggi, Rosa hadir sebagai seorang yang menentang nasionalisme, sehingga hal tersebut tidak lepas dari kritiknya. Bagi Rosa, nasionalisme hanya akan menjadi racun yang merecoki kesadaran kelas pekerja. Dalam pandangannya, kelas pekerja tidak memiliki tanah air, kalaupun punya, tanah airnya ialah seluruh dunia.

Dalam konteks kondisi polandia saat itu, Rosa dengan kerasnya mengkritik gerakan yang berdasar kepada nasionalisme. Rosa menjabarkan latar belakang penindasan yang terjadi, yakni dianalogikan sebagai elang berkepala dua: absolutisme Tsar dan Kapitalisme Industri. Maka dari itu Nasionalisme berbulu sosialisme yang dipegang erat oleh aktivis partai dianggapnya keliru secara ideologi dan ilmiah.

Sosialisme macam ini ia anggap sebagai sosialisme setengah hati yang malah akan melemahkan daya juang kelas pekerja dikarenakan menghadirkan hantu imajiner bernama “bangsa Rusia”. Hal ini pula yang akan membuat kelas pekerja bersekutu dengan para penindasnya yakni para borjuasi yang nantinya akan mengkooptasi gerakan dengan tujuan utama akumulasi kapitalnya.

Perempuan dan Perjuangan Kelas

Selain itu, yang juga menarik dari buku ini yakni perdebatan antara Rosa dengan Eduard Bernstein yang merupakan seniornya dalam partai Demokrasi Sosial. Singkatnya, Bernstein melihat reformasi kapitalisme sebagai tujuan akhir dari gerakan. Hal ini yang kemudian membuat Rosa berpandangan bahwa Bernstein telah memelintir Marxisme keluar dari jalan revolusioner yang bertumpu pada gerakan kelas pekerja untuk menghancurkan kapitalisme menuju masyarakat sosialis. Dengan keyakinan dan prinsip yang kuat, Rosa pun tidak goyah dalam menerima maupun melakukan serangan terhadap kubu yang dianggapnya mengingkari jalan revolusioner.

Buku ini menceritakan perjalanan politik Rosa untuk menggambarkan ide dan gagasannya terkait sosialisme dan perjuangan kelas. Waktunya banyak dihabiskan untuk mengamati dan menyusun gagasan tentang gerakan kelas pekerja. Selain itu, dituliskan bahwa meskipun dirinya seorang perempuan, Rosa tidak banyak menulis soal perempuan.

Hal tersebut berakar dari pandangannya bahwa emansipasi politik perempuan perlu dilihat dari watak kelas yang melatarinya. Sehingga emansipasi politik perempuan tidak dapat dipisahkan dari emansipasi politik kelas pekerja. Ya, Rosa memang cukup sinis dengan perempuan-perempuan dari kelas borjuis yang juga gencar menyuarakan kesetaraan dari hal yang dianggap oleh Rosa sebagai ilusi yakni antagonisme antara laki-laki dan perempuan. Persoalan utama menurutnya yaitu antagonisme antara kapital dan kerja.

Dede Mulyanto cukup berhasil membuat saya tertarik dengan cerita beserta gagasan-gagasan perjuangan yang digagas oleh Rosa Luxemburg, bahkan bisa jadi saya sudah jatuh hati ketika berupaya untuk membacanya. Banyak hal yang ingin saya diskusikan dengannya jika saja ia bisa hadir kembali. Mulai dari persoalan kelas yang telah berhasil dibuat abu-abu oleh rezim sampai kepada bagaimana praktik organisasi yang menurutnya tepat untuk mempersiapkan perubahan besar dalam kondisi yang makin suram hari ini.

 

 
Profile Image for Kahfi.
140 reviews15 followers
March 25, 2020
Sejauh ini, buku ini merupakan buku gagasan yang paling renyah untuk dibaca karena penulis menggabungkan gaya kepenulisan setengah biografi yang diselipkan dengan gagasan-gagasan sang tokoh sehingga narasi menjadi tidak terlalu kering dan terkesan heroik.

Relevansi pemikiran Rosa juga sangat sesuai dengan kondisi demokrasi Indonesia saat ini, plus menyinggung keadaan kelas pekerja yang semakin kehilangan kekuatan menghadapi kelas kapitalis yang semakin eksploitatif.

Saya tak sabar menunggu jilid kedua buku ini, dan berharap jika sudah terbit nantinya akan lebih banyak ruang untuk menelaah lebih jauh pemikiran nya karena pada edisi pertama Rosa hanya ditempatkan sebagai tokoh yang reaksioner.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.