Cerita tentang kesehatan mental mungkin sekarang ini sudah banyak ditulis oleh penulis lokal. Namun, bagaimana jika isu tentang kesehatan mental tersebut digabungkan dengan masalah pelecehan seksual. Shireishou berhasil membahasnya dalam Obsessive Love. Kedua topik yang sebenarnya masih memiliki benang merah yang sama ini masih sangat sedikit dibahas oleh penulis lokal. Saya kagum akan ide cerita yang dituangkan Shireishou dalam Obsessive Love. Jangan sampai tertipu dengan warna merah muda sampul bukunya yang mungkin terkesan manis dan romantis. Isinya jauh dari kedua kata tersebut. Meskipun begitu saya tetap menyukai kombinasi warna dan ilustrasi sampul bukunya. Gambar seorang gadis dengan kerudung yang terkurung dalam sebuah sangkar berduri memperlihatkan tokoh Syaira yang terjebak dalam penderitaannya. Sampul bukunya meskipun terlihat manis, tapi juga memberikan sedikit kesan yang kelam.
Cerita yang coba diangkat oleh penulis adalah tentang pelecehan seksual dan trauma yang menyertainya. Bagaimana biasanya korban bukannya mendapatkan dukungan dan perhatian, tapi malah mendapatkan hinaan dan disalahkan oleh orang-orang sekitar. Syaira yang merupakan seorang siswi SMA berubah menjadi pribadi yang murung dan histeris. Nara yang menjadi gurunya curiga akan kondisi Syaira tersebut. Setelah mengetahui penyebabnya, Nara malah sulit untuk membantu Syaira yang merasa dirinya kotor dan penuh dosa. Apalagi anggapan negatif dari lingkungan sekitar semakin menambah beban berat bagi Syaira. Kondisi mental Syaira cukup berhasil diperlihatkan dengan baik oleh penulis. Rasa takut, sedih, dan cemas tergambar dengan jelas dalam diri Syaira. Pembahasan tentang stigma negatif terhadap korban pelecehan seksual pun menarik untuk dibahas. Saya bisa sangat memaklumi dan bersimpati pada tokoh Syaira yang kenyataan adalah korban, namun merasa seperti tersangka akibat penilaian lingkungan sekitar.
Ada beberapa tokoh yang menjadi pusat cerita, seperti Nara, Syaira, Bu Desy, dan Kani. Tokoh Nara adalah seorang guru muda yang menjadi guru pengganti di sekolah Syaira. Nara memiliki sifat yang amat sangat baik dan pengertian. Saking baiknya ia disebut terlalu naif dan bodoh oleh ibunya. Tokoh Syaira merupakan seorang remaja yang pada awalnya merupakan murid yang teladan dan berprestasi. Namun, semenjak sebuah tragedi menimpanya Syaira berubah menjadi sosok yang pendiam, histeris, dan penuh dengan rasa takut. Bunda Desy adalah ibu dari Nara yang berprofesi sebagai psikolog. Bunda Desy memiliki sifat yang sangat keibuan. Pokoknya Bunda Desy ini ibu idola semua orang, siapa yang nggak mau punya ibu kayak Bunda Desy. Terakhir ada tokoh Kani yang merupakan guru di sekolah Syaira. Kani memiliki karakter yang nyentrik dan unik dengan kecintaannya pada kain etnik. Menurut saya setiap tokoh memiliki porsi yang terbilang pas. Meskipun ceritanya tergolong ringkas, tapi penulis berhasil membangun karakter tokohnya dengan baik.
Di awal jalan ceritanya berjalan lambat, tapi seiring berjalannya waktu ceritanya berjalan dengan cukup cepat. Sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Di mana hampir setiap tokoh diberikan sudut pandangnya masing-masing. Sebenarnya penggunaan sudut pandang ini cukup berhasil membuat deduksi pembaca bisa terkecoh dan bertanya-tanya akan pelaku. Namun, entah kenapa saya kurang begitu nyaman dengan penggunaan sudut pandangnya karena perpindahannya terasa kurang halus. Gaya bahasa penulis ringan dan sederhana. Pembaca akan langsung ikut masuk ke dalam aliran ceritanya.
Di sini konflik cerita dibuat agar pembaca bertanya-tanya dan menebak akan pelaku utama dalam permasalahan yang menimpa Syaira. Jujur saja di awal saya sudah bisa menebak siapa pelaku sesungguhnya dan memang tidak sulit untuk menebaknya. Namun, saya ingin mengapresiasi penulis yang tetap berusaha membelokan pikiran pembacanya ke beberapa orang yang dicurigai sebagai pelaku. Konflik akan berpusar pada kondisi Syaira yang merasa tidak aman dan selalu ketakutan. Di satu sisi Syaira tak ingin mengungkap identitas pelaku, tapi di sisi lain ia tak bisa hidup tenang. Motif Syaira mempertahankan identitas si pelaku sangat lemah dan tidak terjelaskan sama sekali. Padahal saya sudah menunggu-nunggu apa sebenarnya alasan Syaira takut jika identitas si pelaku terbongkar. Sayangnya motif itu hanya tempelan tanpa penjelasan sama sekali.
Senang sekali rasanya jika pilihan genre bacaan lokal sudah mulai bervariasi seperti ini. Tema cerita yang diusung oleh penulis terbilang jarang dan mungkin masih tabu di masyarakat Indonesia sehingga target pasarnya masih tidak begitu jelas. Saya sangat mengapresiasi keberanian penulis dalam menyuarakan pendapatnya tentang korban pelecehan seksual. Pesannya tersampaikan dengan baik dalam kemasan sebuah cerita yang apik. Detail-detail kecil pada ceritanya sangat membantu menjadikan novel ini terlihat realistis. Bagaimana penulis dengan cermat berhasil memasukan detail yang mungkin terkesan remeh, tapi menjadi pelengkap yang menguatkan jalan ceritanya. Kekurangannya terletak pada beberapa alasan cerita yang kurang dijelaskan. Dan menurut saya masa lalu atau kejadian yang dialami Syaira pun masih terlihat buram dan kurang jelas. Sehingga menurut saya novel ini masih kurang panjang untuk diceritakan. Secara keseluruhan Obsessive Love merupakan sebuah realita akan korban pelecehan seksual yang seringkali dipandang sebelah mata.
Baca di gramdig. Covernya memang merah jambu, tapi ceritanya untungnya ga selutju itu. Cover belakang ga menggambarkan ini mau ngapain ceritanya. Untungnya, ada beberapa komentar yang bilang soal pelecehan seksual yang bikin aku tertarik. Dan setelah baca, aku suka dengan tema pelecehan seksual dan trauma yang diangkat di sini.
Tersebutlah Syai, seorang remaja SMA yang mendadak suka berteriak histeris pasca kematian ortunya. Usut punya usut, ternyata Syaira hamil karena diperkosa. Sayangnya, Syaira belum mau ngaku ke gurunya (Pak Nara) siapa pelakunya. Cukup menyenangkan membacanya, meskipun aku kurang setuju dengan keputusan impulsif Nara yang menikahi muridnya itu. Tapi aku cukup menikmati main tebak-tebakan. Dari awal sudah mikir ke sana sih, tapi mbak penulis untungnya bikin cerita yang bikin kita punya opsi-opsi jawaban. Ada beberapa yang agak terkesan menggurui, ya tapi yasudah. Aku pernah baca Gunpla-something-nya kak Shirei dan kurasa ini beda banget dengan tulisan sebelumnya. Sukses untuk Kakak penulis
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sukaaa 🤩🤩🤩. Dari prolog sudah penasaran. Masuk kedalam cerita tambah dibuat bertanya-tanya siapa? Ini ok apa nggak? Ada rahasia apa 🤭 tapi buatku pribadi sih. Mungkin aja kalau yg lain baca dari pertama sudah tau siapa gt 😉.
Rasanya Mbak Shirei benar-benar dengan total jenderal menuangkan jeritan dari relung hati tergelap tokoh Syaira yang merupakan korban pemerkosaan di sini. Tak heran kalau novel ini memenangkan Scarlet Pen Award 2021 untuk kategori Best Romance Crime. Saat membacanya untuk pertama kali di awal tahun 2021, kondisi psikisku masih belum stabil. Jadi penderitaan Syaira yang kubaca di permukaan layar ini rasanya benar-benar kurasakan juga. Kini aku membacanya ulang dalam kondisi yang alhamdulillah jauh lebih stabil. Dengan ini aku berharap bisa memunguti hal-hal yang dulu terlewatkan olehku saat membacanya untuk pertama kali.
Kesan pertama masih tetap. Rangkaian diksinya ngeri! Puitis, tapi tidak sampai lebay dan dengan efektif menggambarkan apa yang terjadi pada korban-korban dengan PTSD yang parah seperti Syaira. Perpindahan gaya tulisan dari yang puitis ke gaya narasi yang lebih lugas juga halus. Novel ini dibuka dengan prolog yang indah secara diksi, sekaligus juga mencekam:
Ada duka mengerak di dalam mata. Fondasi hati telah berkarat dan merapuh secepat beliung.
Kaki yang menopang tubuh berderak dalam rasa sakit mematikan. Ia pun terjatuh tanpa berdaya untuk kembali bangkit.
Ketika rasa yang seharusnya membuatnya bahagia justru membawa petaka.
Cinta meruntuhkannya.
Cinta melumatkannya.
Kegelapan pekat mengungkung kala seseorang menginginkan dirinya dengan sangat.
Setiap jengkal tubuh, setiap embus napas, bahkan untuk setiap noda yang tercipta.
Obsessive loves....
Ketika cinta memenjarakan nurani dalam ego yang posesif.
Akankah Syaira bisa kembali menyembuhkan sayap yang kini patah dengan luka menganga lebar?
Ataukah selamanya Syaira akan kehilangan harapan seperti dia kehilangan kebebasannya untuk tertawa?
Fiuh....
Cerita pun lalu dibuka dengan adegan Syaira yang terus melamun di jam pelajaran matematika yang diampu oleh Rasha Abinara atau Nara, tokoh utama lelaki dalam novel ini. Namun, ketika teman sebangkunya menyenggol bahunya untuk mengingatkan, Syaira malah histeris.
Syaira merasakan senggolan di bahunya. Seperti tersengat listrik bertegangan tinggi, tiba-tiba sekujur tubuhnya bergetar. Sorot mata yang sejak tadi kosong dalam sekejap berubah. Pupilnya bergerak tak beraturan, giginya gemeletukan. Jeritan keras memekakkan telinga memenuhi ruangan. Jeritan yang seolah meremas dada seluruh isi kelas dengan emosi yang sulit mereka kenali. (halaman 1-2)
Namun yang mengherankan, anak-anak di kelas Syaira digambarkan justru sangat miskin empati. Kenapa kalau ada orang dengan sikap gak biasa kaya Syaira, yang muncul dari orang-orang sekitar malah prasangka? Kenapa nggak mempertanyakan kalau dia mungkin lagi ada masalah berat? Teman-teman Syaira ini sungguh brengsek. Mereka mengira bahwa Syaira sering sensitif sejak kedua orangtuanya yang kaya raya itu meninggal. Orangtua Syaira meninggal akibat kecelakaan lintasan kereta api tak berpalang. Tetapi, mereka juga menduga bahwa karena itulah Syaira jadi menjauh dan bersikap menyebalkan: karena merasa teman-temannya sudah tidak lagi selevel dengannya. Mungkin selama ini teman-teman Syaira memendam iri karena Syaira adalah anak yang berprestasi secara akademik maupun non-akademik. Ditambah lagi ia cantik dan anak dari keluarga konglomerat. Tampak sempurna dari luar. Sehingga begitu ada kesempatan, mereka pun menumpahkan segala racun dalam hatinya.
Manusia banyak menggunakan emosi daripada hati. Jadi, banyak yang mencaci daripada mencoba memahami. (halaman 90)
Meski begitu sebenarnya mungkin akan lebih logis jika masih digambarkan ada satu-dua teman yang tidak sekalap itu suuzonnya. Namun, tokoh yang bakal membantu Syaira di sini adalah sang guru, Nara., bukan teman seusianya. Lelaki ini bercita-cita membangun sekolah gratis untuk anak-anak yang kurang mampu. Untuk sementara dia menjadi guru matematika pengganti di sekolah Syaira selama tiga bulan demi mempelajari sistem pendidikan dan sistem manajemen sekolah. Karena itu cerita ini lebih banyak berpusat pada empati dan usaha Nara untuk menguak misteri di balik guncangnya psikis Syaira. Tokoh teman-teman Syaira di sini sama tidak terlalu diekspos kecuali dengan cara yang negatif.
Pak Nara ini digambarkan suka membuat bullet journal dengan gambar-gambar stiker lucu untuk membantunya mengurai banyak hal, salah satunya adalah untuk lebih mengenal para murid yang baru ia ajar selama sebulan. Bullet journal ini menjadi hal yang penting dalam cerita karena ternyata memiliki banyak fungsi: menjadi cara Nara untuk mengurai kasus Syaira, prenah menjadi alat terapinya di masa lalu, dan juga menjadi bagian dalam plot yang penting ketika cerita menuju klimaks.
Nara digambarkan paling peka dengan kondisi psikis Syaira. Itu karena perilaku Syaira mengingatkannya dengan perilaku seorang gadis di masa lalunya yang juga tergoncang psikisnya. Selain dibuat bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi pada Syaira, kita juga akan dibuat terus penasaran dengan sosok gadis di masa lalu Nara ini. Begitu hal ini terkuak nanti, derajat ketegangan dalam cerita akan langsung memuncak.
Untuk membantu memecahkan masalah seseorang, jangan terfokus untuk mencari solusi. Namun, fokus untuk memahami apa yang dirasakan orang itu terlebih dahulu. (halaman 9)
Nara pun menghubungi Wira, paman sekaligus wali dari Syaira yang kini juga menjadi CEO yang menjalankan perusahaan milik ayah Syaira. Wira adalah adik dari ayah Syaira. Sama seperti Nara, Wira pun terlihat khawatir dengan kondisi keponakannya. Ia mengaku tak terlalu menyadari perubahan Syaira karena gadis itu selama ini lebih sering mengurung diri dalam kamarnya yang lengkap dengan berbagai fasilitas. Ini yang membuat Nara jadi sering kesal pada Wira. Meski begitu Wira terlihat sangat protektif terhadap Syaira.
Untuk menerapi dirinya sendiri, sesuai saran Nara agar ia menekuni hobinya, Syaira pun kembali mencoba merajut. Awalnya ia kesulitan karena ia sudah lama tak melakukannya. Apalagi kondisi psikisnya yang acakadut membuatnya tak mampu berpikir hal-hal yang rumit. Tapi ia tetap berusaha sekadar untuk mengalihkan fokus dari berbagai traumanya. Namun, timbul masalah baru. Syaira membawa hobinya ini hingga ke sekolah saat jam pelajaran berlangsung. Guru pelajarannya pun tak terima dan mengajukan protes pada Nara yang sudah mengusulkan pada Syaira untuk menekuni hobi. Ini menunjukkan fakta lapangan juga, guru tak selalu bisa empati terhadap murid. Banyak juga yang begitu kaku dan hanya peduli pada pelajaran yang ia ajarkan, tanpa mau tahu kondisi para muridnya.
Hanya Bu Kanisa, guru kimia yang usianya tak terpaut jauh dari Nara, yang membela Syaira. Guru muda ini terlihat cantik dan suka menggunakan aksesori etnik. Siapa sangka di balik keanggunannya, ternyata ia adalah mantan atlet Tae Kwon Do tingkat daerah. Bu Kanisa ini yang awalnya membuka jalan bagi Nara untuk bisa mengajar di sekolah itu.
Dari Bu Kanisa lah Nara tahu tentang stalker Syaira, Tristan, teman SMP Syaira yang putus sekolah. Syaira sudah berkali-kali menolak pernyataan cinta pemuda itu. Suatu malam selesai les dari rumah Kanisa, pemuda itu membuntuti lalu menyergapnya. Beruntung Kanisa dan satpam kompleks menolong Syaira. Namun anehnya, meski awalnya sudah lapor polisi, Syaira lalu mencabut tuntutannya pada Tristan.
***
Pada suatu hari Syaira pingsan saat upacara. Nara langsung membawanya ke IGD. Wira sulit dihubungi, dan begitu tersambung ternyata dia sedang di luar negeri. Saat itulah Nara mendapat kabar mengejutkan dari para dokter: Syaira hamil empat bulan!!! Dengan kondisi yang tidak terlalu baik karena ia kurang mengonsumsi gizi yang memadai. Makin histerislah ia.
Syaira merasakan tangannya membasah. Keringat dingin membanjiri pori-pori. Rasa kotor, perasaan jijik, dan memuakkan kini menyergapnya tanpa belas kasihan. Aroma keringat dan amis yang memenuhi rongga hidung kembali membuatnya tersengal. Ia ingin mengeluarkan semua isi perutnya.
...
Syaira ingin memindahkan rasa sakit di dadanya. Berusaha untuk mengenyahkan semua sesak. Ia ingin menyusul ayah-ibunya meski pernah berjanji tak akan bunuh diri. Namun, Syaira kehilangan semua keyakinannya. Ia kini percaya bahwa dirinya tak akan bisa meraih surga bersama kedua orangtuanya. Kini ada sesuatu menggeliat di perutnya. Sesuatu yang menancapkan kenyataan tentang betapa kotornya dia. (halaman 53)
Syaira tak mau pulang ke rumahnya dan menghadapi Wira pamannya. Nara akhirnya membawa gadis itu pulang ke rumahnya karena berharap ibunya yang psikolog bisa membantu konseling muridnya. Tentu saja Wira tak terima.
Ketika seseorang belum mampu mengadukan segalanya pada Sang Pencipta, mungkin tugas sederhana kita sebagai manusia adalah menggenggam tangannya dan mendengarkan ia bercerita. (halaman 56)
Apakah korban pemerkosaan yang hamil diperbolehkan aborsi? Mbak Shirei dengan berani pun membawa tema ini ke dalam novelnya. Setelah diajak menyelami kekelaman hati Syaira, rasanya sulit juga bagi pembaca untuk berkata "tidak" pada keinginan Syaira.
Dan benar-benar salut dengan reaksi Desy, Ibu Nara, yang dengan tenang menghadapi permintaan Syaira yang begitu menggebu. Daripada mengatakan ya atau tidak, yang dikatakannya adalah:
"Sebelum kita bicara soal itu Bunda ingin kamu beristirahat. Aborsi membutuhkan banyak kekuatan. Kalau nggak kuat, bisa-bisa kamu nanti ikut jadi korban." (halaman 81)
dan
"Bunda akan mendukung segala keputusan Syaira. Tapi, bisakah kita bicarakan ini setidaknya tiga hari lagi? Setelah tubuhmu sudah lebih kuat?" (halaman 82)
Namun, tentu saja Bu Desy memiliki rencana.
Mbak Shirei tidak memilih metode ceramah dalam mengangkat tema aborsi ini. Melainkan lebih menunjukkan konsekuensi yang akan terjadi dan itu sudah cukup membuat Syaira dan pembaca merenung. Benar-benar sebuah novel yang padat. Pembaca juga akan diaduk perasaannya saat gosip tentang hamilnya Syaira merebak di sekolah. Lalu juga bagaimana Syaira sebagai korban malah sering menganggap dirinya berdosa karena telah diperkosa. Betapa kejinya masyarakat yang sering judgemental dan seringkali justru menyalahkan korban pemerkosaan.
Gosip semakin merebak dengan munculnya tokoh Wahyu, guru Fisika yang dikabarkan begitu dekat dengan Syaira karena sering memberi les, hingga ada rumor kalau dia sampai menginap di tempat Syaira segala. Tingkah laku Wahyu yang mirip stalker dengan mengumpulkan berbagai berita soal prestasi Syaira dan sikapnya yang sinis plus intimidatif ketika Nara dan Bu Kanisa yang berusaha mengumpulkan informasi tentang Syaira menambah ketegangan cerita. Jadi siapakah pemerkosa Syaira? Tristan, Wahyu, atau orang lain?
***
Novel ini adalah novel ketiga yang kubaca, yang dengan begitu mengiris hati menggambarkan kondisi internal orang dengan PTSD akibat kasus pemerkosaan. Yang pertama adalah novel The Way I Used to Be karya Amber Smith, dan yang kedua adalah trilogi Pencarian Keris Naga karya Yuu Sasih dan Eve Aulyta.
Sementara di kantin, Syaira duduk termangu menatap es jeruk yang sudah kehilangan dinginnya. Tadi Nara yang memesankan. Namun, gadis itu tidak meminumnya setetes pun.
Kehampaan merengkuhnya. Syaira menolak berpikir. Ia menghalau ingatan apa pun. Hanya kekosongan yang kini setia menemani. Kebisingan kantin seolah lenyap dalam kepalanya. Syaira Salsabila terus menyelap dalam kegelapan hingga tak mendengar Nara telah memanggil berulang dari kejauhan. (halaman 13)
*
Syaira terbeliak. Kengerian itu kembali merasukinya. Suara guntur, rasa sakit, juga jeritan yang takkan terdengar siapa pun kembali berulang menghantam kepalanya, menyempitkan saluran napasnya. Ia tersekat dalam ketakutan.
Tepat ketika kegelapan menerpa kesadarannya, Nara berhasil menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh terkulai mengenai pecahan mangkuk. (halaman 15)
*
"Syaira, kalau memang ada masalah mungkin bisa dikonsultasikan dengan guru BP."
Pupil Syaira membeliak mendengar kata-kata wanita yang masih tersenyum penuh pengertian itu.
Guru BP... seseorang yang akan menelanjangi kepalanya. Mereka akan melontarkan berjuta pertanyaan yang tak akan pernah bisa Syaira jawab. Seseorang yang akan mengorek kembali lukanya. Dan menguliti tubuhnya hingga tak lagi tersisa tempat untuk menyembunyikan semua rasa sakit yang harusnya tak perlu ditampakkan.
Bola matanya bergerak tak beraturan. Setiap kali kenangan buruk itu melintas, setiap kali itu juga Syaira bersimbah keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya tanpa ampun. Peringatan tersalurkan ke setiap sel tubuhnya bahwa ia akan disakiti dan dihancurkan kembali.
"TIDAAAAAAK!!! PERGIIII!!!"
...
Lima belas menit berlalu, Syaira masih berada dalam dunianya. Gadis itu hanya menginginkan kegelapan. Saat pikirannya tak melakukan apa pun, ia akan merasa lebih baik. Tak ada lagi rasa takut. Ia mematikan semua rasa di tubuh dan jiwanya. Dengan begitu, ia tidak merasakan lagi sakit yang terus meneror jiwanya.
(halaman 17)
*
Gadis itu seperti raga tanpa jiwa. Syaira bergerak atas naluri bertahan hidup, juga insting alami yang terbentuk sekian lama. Saat ini sejumput keinginan pun ia tak punya. Seluruh mimpinya musnah ditelan rasa sakit yang merajah hati. (halaman 25)
*
Syaira teringat peristiwa mengerikan itu. Rasa sakit kala tangannya ditahan ke atas, beban yang menindih tubuhnya dengan paksa dan juga aroma amis yang selalu membuatnya mual.
Syaira menjerit sekuatnya. Ia tergeragap berusaha berlari keluar. Namun, kilasan kepedihan merajamnya bulat-bulat. Mengikis semua ketenangan yang sempat ia jalani. Membuat kakinya terasa seperti agar-agar yang tak mampu menopang tubuhnya sendiri. (halaman 72)
Ngeri, kan? Saat membacanya pertama kali, aku benar-benar hanyut dan sesak, seolah aku sendiri yang merasakan gejolak hati Syaira. Butuh berkali-kali berhenti dan bernapas sejenak sebelum bisa lanjut membaca.
***
Dalam novel ini Mbak Shirei mengekspos sudut pandang dari para tokoh pentingnya, bahkan sudut pandang dari sang pelaku! Dan ini benar-benar mengecoh karena kita takkan mengira bahwa pelaku yang isi kepalanya tadinya digambarkan begitu simpatik dan protektif pada Syaira, ternyata adalah monster yang sebenarnya. Narasinya itu loh benar-benar menipu. Sampai gemas!
Bu Kanisa juga menjadi tokoh yang menarik di sini. Awalnya ia terlihat seperti sosok sidekick yang dengan senang hati membantu Nara mendekati Syaira dan menyelidiki Pak Wahyu. Namun, ternyata ia memiliki kegelapan hati yang lumayan tajam juga. Terutama setelah Nara memutuskan untuk melindungi Syaira sepenuh hati. Perasaannya pada Nara bahkan sampai membuatnya berpikir lebih baik Syaira lenyap saja agar nantinya ia bisa bersanding dengan lelaki itu. Semua diekspos dalam taraf wajar dan membuat kedalaman tokoh ini makin terasah. Tak peduli seriuh apa pun kepala kita meneriakkan kegelapan, yang penting adalah tindakan apa yang kita pilih di dunia nyata. Dengan perlahan tapi pasti Kanisa terus menyortir isi kepala dan hatinya terkait kasus Kanisa.
Hanya saja, ada yang menurutku membingungkan dari tokoh ini. Ketika Nara akhirnya membuka sosok pemerkosa Syaira, Kanisa digambarkan sudah menduganya lebih dulu? Tapi di adegan-adegan sebelumnya, tidak diperlihatkan bagaimana Kanisa akhirnya bisa sampai pada kecurigaan itu.
Ada lagi yang mengganjal, Foreshadow yang membuat Nara akhirnya bisa menyadari misteri di balik bunga nasturtium oranye yang meneror Syaira itu sangat tipis. Aku tak ingat kapan Nara sampai membaui aroma nasturtium itu di suatu tempat. Entah apa aku melewatkan hal ini dan berarti perlu membacanya untuk yang ketiga kalinya, ya??? Selain itu alasan Syaira menutupi identitas pemerkosanya demi melindungi aib keluarganya sama sekali tak dibahas. Masa penulis dan editornya lupa mencantumkan? Ini mungkin kelemahan terbesar dari novel ini.
Meskipun demikian, secara keseluruhan, Mbak Shirei berhasil menyajikan cerita yang menegangkan dari awal sampai akhir. Ending yang diberikan juga melegakan. Tak hanya memicu adrenalin, rasanya novel ini pun berhasil membukakan wawasan pada kesadaran baru terkait apa yang dirasakan para korban pemerkosaan, dan juga soal isu aborsi untuk korban pemerkosaan. Menanti apakah Mbak Shireishou bakal menulis novel thriller atau misteri lagi setelah Obsessive Love. Tampaknya riset kisah Syaira ini begitu menguras tenaga penulisnya. Sebanding dengan hasilnya yang juga menguras emosi pembaca. Sehat terus, Mbak Shirei. Aamiin yra.
Dari awal banyak teka teki yang terjadi. Apalagi Syaira yang suka tiba2 histeris membuat teman2nya bingung. Dan itu juga membuat Pak Nara gurunya ikutan bingung.
Sebelum orang tuanya meninggal, kehidupan Syaira baik-baik aja. Setelah mereka nggak ada inilah yang mungkin membuat Syaira tertekan.
Bacanya dari bab per bab, deg-degan gitu. Trus juga aku menebak2 gitu, tebakanku benar. Tapi ya aku terkecoh dulu sih.
Penulis emang membuat plot twist yang emang bikin kaget.
Ceritanya menarik, dan mengalir. Kusuka ceritanya.
Saya sempat maju mundur untuk membaca novel ini karena saya selalu nggak tega baca tema-tema kayak gini. Waktu akhirnya memutuskan untuk mulai membaca, saya sempat sulit melanjutkan. Anehnya, semakin ke sini, pace ceritanya semakin cepat dan alurnya semakin seru. Saya pun terus dan terus membaca, tanpa sadar tahu-tahu sudah tamat saja.
Nggak tega sama kisah Syaira. :((
Dia remaja yang cemerlang sebenarnya. Shalihah, pintar, ceria, dengan masa depan terbentang luas. Kemudian sesuatu terjadi, menyebabkan Syaira berubah drastis. Dunianya jungkir balik. Sekarang Syaira depresi, mudah histeris, merasa kotor dan ingin mati saja, gegara diperkosa sampai hamil.
***
Saya punya mixed feeling terhadap novel ini. Mungkin kita urai saja satu per satu dengan dua kategori: "yang disuka" dan "yang kurang disuka".
Yang saya suka dari novel ini: 1. Kisah Syaira dengan sangat bagus menunjukkan bahwa remaja korban perkosaan masih punya harapan akan masa depan dan tidak semestinya dianggap kotor. Mereka hanya korban yang tidak pantas di-victim blaming. 2. Siapa pemerkosa Syaira tidak diungkap sampai menjelang akhir. Tentu saja bukannya hal itu tidak ketebak, lumayan jelas sebenarnya. xD Tapi setidaknya dengan menyembunyikan faktanya, pembaca bertahan karena ingin tahu bagaimana pengungkapan misterinya. Apalagi teknik penulisan novel ini memakai POV serbatahu sehingga mungkin saja ada pembaca yang terkecoh. 3. Sebagaimana yang sudah saya katakan di atas, alurnya cukup cepat meski awalnya agak lambat. Novel ini jadi terasa seru untuk dibaca. 4. Gaya bahasanya--baik narasi maupun dialog--ringan, mengalir, dan enak dibaca, meskipun buat saya pribadi agak terlalu dramatis di beberapa bagian. xD 5. Saya salut banget dengan cara Shirei-san memasukkan detail-detail kehidupan nyata di sini, dalam narasi maupun dialog. Misalnya, ketika Kani mengatakan bahwa dengan Nara resign, dia harus bayar penalti kontrak. Detail-detail semacam itu membuat cerita ini terasa realistis. Selain itu, beberapa detail tersebut menunjang konsistensi karakterisasi. Contohnya, Nara digambarkan sebagai pria yang menjaga diri. Dia tidak mau masuk ke kamar Syaira ketika Syaira tidak pakai jilbab, tapi di lain adegan, dia masuk. Hal ini dijelaskan dalam narasi bahwa saat itu keadaan darurat. Pada kesempatan lain juga, dikatakan Nara menggandeng Syaira, tapi di bagian tangan yang tertutup baju, bukan kulit menyentuh kulit. Saya respek banget sama penulis yang sangat memperhatikan detail. 6. Beberapa kali membaca/menonton tema serupa (teenage pregnancy), saya belum pernah melihat proses aborsi dijabarkan sedetail ini. Menurut saya ini bagus sekali karena bisa menjadi insight yang bagus bagi remaja yang membaca buku ini. Baik mereka mengalami atau tidak mengalami kondisi serupa Syaira, menurut saya penjelasan aborsi ini bagus sekali untuk menyadarkan kembali bahwa janin adalah calon manusia yang juga punya hak hidup. 7. Karakter Kani bagi saya adalah representasi perempuan keren yang patut diapresiasi. Fashion style-nya yang unik, pembawaannya sebagai "unapologetic woman", rasa keadilannya yang tinggi, juga bagaimana dia melindungi Syaira dari stalker bahkan sampai bertarung melawan si pemerkosa, menurut saya itu KEREN BANGET. Dia bisa jadi role model yang bagus buat remaja-remaja putri. Apalagi meskipun dia kelihatan sempurna, dia tetap digambarkan sangat manusiawi dengan perasaannya terhadap Nara dan Syaira. Suka banget sama karakter dia!
Yang saya kurang sreg dalam novel ini: 1. Saya agak geuleuh dengan gagasan . Paham sih alasan dan situasinya, tapi buat saya tetap aja risi membayangkannya. 2. Menurut saya kisah Fahita agak kurang tereksplor. 3. Satu lagi yang bikin saya penasaran.
***
Overall, saya merasa novel ini lumayan unik dan mengandung banyak pelajaran berharga bagi para remaja. Kisahnya memang gelap dan depressing, tapi sarat harapan di baliknya. Saya harap lebih banyak remaja yang membaca ini. Semoga sampulnya yang manis akan menarik hati remaja-remaja itu untuk membaca Obsessive Loves.
Kedua orangtua Syaira meninggal karena kecelakaan. Syaira sangat sedih dan merasa kesepian. Semenjak kepergian orangtua Syaira, ia tinggal berdua dengan Wira, pamannya. Syaira berasal dari keluarga berada, dan pamannya adalah seorang CEO di perusahaan terkenal.
Syaira dulu adalah gadis yang ceria di sekolahnya, dia juga sangat suka dengan pelajaran fisika dan karena parasnya yang cantik, Syaira juga disukai banyak orang, termasuk oleh penguntitnya. Semenjak kecelakaan yang menimpa orangtuanya, Syaira di sekolah lebih banyak diam, menyendiri dan mudah histeris terlebih ketika dipegang orang.
Gurunya, Nara punya jiwa kemanusiaan yang tinggi. Dia pun memutuskan untuk mencari tahu apa yang menyebabkan Syaira bisa histeris seperti itu. Dia bertekad membantu gadis itu, dengan cara apapun. Dan dalam usahanya membantu Syaira, dia menemukan banyak fakta - fakta mengejutkan yang ternyata selama ini menimpa Syaira.
Sebenarnya ceritanya cukup bagus. Penulis lumayan jago mengajak kita menerka - nerka siapa sih otak dibalik ini semua. Awalnya aku berpikir pasti si A, eh rupanya ada si B dan C yang sama mencurigakannya, dll. Namun sayangnya, banyak hal yang terasa janggal dan kurang dikupas lagi permasalahannya. Entah kenapa rasanya seperti ceritanya pengen cepat - cepat diselesaikan aja padahal belum ada penjelasan soal si A, B, dan C, dsb. Tapi yah overall ceritanya cukup menjanjikan dan agak berbeda karena ada bumbu - bumbu stalkernya, si penguntit. Good job buat penulis.
Bercerita tentang Syaira yang menjadi korban pelecehan seksual yang dibantu oleh gurunya untuk melewati penderitaanya.
Aku suka ama isu yang diangkat di cerita ini, aku juga suka gimana penulis membuat cerita ini serealistis mungkin. Aku juga suka gimana karakter Syaira yang digambarkan mau bertahan hidup, juga arc-nya karakter Syaira ini oke menurutku. Gimana dia digambarkan depresi banget itu beneran ngena, sih, menurutku. Interaksi Nara-Syaira-Desy juga hearwarming banget. Penjelasan aborsi yang dijelaskan detail banget dan itu asli bikin merindiiiiing. Sumpah, mereka yang aborsi bayi2nya demi kepentingan pribadi gimana perasaanya kalau tahu proses aborsi ini mengerikaaaan, huhu
Sebenernya, selama aku baca ini aku kayak ada yang bertanya-tanya apa yang aneh, karena kek rada ada yang mengganjal, waktu saya baca-baca review orang, saya baru ikutan sadar kalau di cerita ini, motif Syaira mempertahankan bayinya itu karena si pelaku punya aib ayah Syaira, dan sampai akhir abi ini gak diceritakan, sehingga ngebuat motif syaira jadi lemah dan gak berdasar dan seakan diada-ada. Selain itu, aku rada kurang sreg ama keeksisan Wahyu sama Tristan. Karena mereka itu gak terlalu menunjukkan perannya. Apalagi pas tiba-tiba Tristannya mati dan Wahyu ama Kani kek dikasih clue bakalan jadi pasangan seakan-akan semua karakter harus punya akhir yang bahagia bersama pasangan. Oh ia, cerita adiknya pun kayak numpang lewat dan gak terlalu signifikan.
Endingnya yang cepet bikin aku enggak puas, hahaha. Jadi aku sebenernya kepingin langsung baca ekstra part yang diposting di blognya ka shirei, sayangnya bungkus paketku gak kubawa (aku selesain bku ini di rumah nenekku). Mungkin nanti abis aku baca ekstra partnya aku bakalan edit reviewku ini.
Tapi overall, buku ini bagus dan bisa dibaca ama kalian-kalian yang butuh rekomendasi gimana keadaan psikologis korban perkosaan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awalnya saya mengira ini buku teenlit karena bercerita tentang seorang anak SMA. Tapi, tidak terlihat logo tersebut di sampul depannya. Setelah menuntaskannya, memang ini bukan buku tentang anak SMA biasa.
Buku ini bercerita tentang Nara, guru sementara di satu SMA, yang memperhatikan keanehan Syaira, siswi cantik dan pintar yang baru ditinggalkan oleh kedua orang tuanya untuk selamanya. Ada kesedihan yang begitu mendalam terlihat pada diri Syaira. Perubahan jelas juga terlihat pada perilakunya sehari-hari. Apakah karena ayah dan ibunya meninggal? Atau jangan-jangan, ada penyebab lainnya?
Sebuah rahasia akhirnya terungkap. Syaira hamil empat bulan, karena diperkosa. Lalu, pertanyaannya lain muncul, siapa yang melakukan? Apakah paman yang kini menjadi walinya masih mau menerimanya? Bagaimana nasib Syaira? Apakah ia bisa menerima kondisinya sekarang dan ke depannya?
Buku ini bisa memberikan gambaran tentang apa yang mungkin dialami oleh remaja atau korban pemerkosaan. Bagaimana tertekannya mereka dan pentingnya orang yang bisa mereka percaya untuk menemani mereka di masa sulit. Juga tentang pendekatan yang sebaiknya dilakukan agar mereka percaya bahwa kita bersedia menemani dan membantu.
Lalu, kenapa judulnya Obsessive Loves? Karena perlakuan yang terjadi kepada Syaira didasari oleh obsesi yang begitu besar dari seseorang kepada Syaira. Obsesi atas nama cinta yang membutakan segalanya. Pelakunya pun akhirnya terkuak dengan plot twist yang membuat bertanya-tanya sepanjang membaca novel ini.
Gak usah panjang-panjang deh ya ripyunya hahaha, intinya buku ini seru ban, apalagi selama baca dari awal spe akhir kayak diajak main teka-teki buat nebak pelaku gilanya :') sukak bgt sama penulisannya Kak Shirei.
Baca ini kayak paket lengkap banget. Walaupun ada satu bagian yang bikin aku mikir sampe baca ulang 😂 tapi itu gak mempengaruhi keseruan ceritanya sih.
Membaca novel ini aku jadi ingat satu Syaira lain yang aku tahu ceritanya, anak teman ayahku... Sampai sekarang, kabarnya tidak terdengar lagi. 😭
Ah, jadi curhat.
Sebetulnya aku sudah memasukkan cerita ini ke library Wattpad-ku saat pertama di posting. Tapi, berhubung temanya bersangkutan erat dengan obsesi, aku nggak berani membaca 😭 tahu-tahu sudah terbit. Selamat, Kak Shi!
Aku selalu suka dengan tulisan Kak Shi karena selalu penuh dengan informasi dan pengetahuan baru. Nggak pernah main-main dengan fakta. Bagian yang paling kusukai adalah novel ini tidak meromantisasi kejadian pemerkosaan (karena percaya atau nggak, ada BANYAK sekali penulis yang membuat cerita seperti itu) sehingga bisa mengedukasi bahwa itu bukan kejadian atas dasar suka sama suka. Itu pemaksaan, dan menimbulkan trauma yang amat mendalam. Dan untuk bisa 'sembuh' pun tidak mudah.
Overall aku suka karakter-karakternya. Masing-masing punya keunikan tersendiri, dan memiliki porsi yang pas dalam cerita. Misteri yang disajikan cukup membuatku bertanya-tanya selama membaca ini.
Cuma sayangnya, aku merasa alurnya sedikit terlalu cepat, sehingga misterinya pun kurang nendang rasanya. Kesannya seperti cerita ini harus buru-buru diselesaikan. Padahal ada beberapa hal yang sangat potensial jika digali lebih dalam lagi, semisal tokoh Wahyu.
Untuk endingnya sendiri... Jujur, kurang sreg. Tapi di lain sisi juga menyebalkan (yah, mungkin ada hubungannya dengan sifatku yang pendendam 😂).
Membaca kisah ini sejak dari versi web tentu kaget dengan perubahan yang terjadi di versi buku. Makin matang dan menarik. Jauh dibanding bersi webnya.
Tersebutlah Syaira yang nyaris bunuh diri karena diperkosa, tapi berhasil selamat. Ini usahanya untuk menjalani kehidupan, meski dia punya penguntit yang terobsesi dengannya.
Penulis menggunakan judul Obsessive LoveS dengan halus sebagai petunjuk kasusnya.
Meski sudah tamat dengan sangat manis, saya masih mengharapkan ada spin off cerita dari karakter lain yang kurang digali di buku ini karena memang fokusnya kan di Syaira.
Semoga Obsessive Loves menjadi novel yang bisa membuka mata pembaca bahwa korban perkosaan bukanlah aib masyarakat. Mereka ada untuk didukung melalui semua derita.
Ditunggu novel berikutnya. Kabarnya Mei mau bertelur lagi, nih?
Obsessive Loves merupakan novel kedua Kak Shirei yang kubaca setelah Fake Love. Novel yang berbeda dari novel sebelumnya yang cenderung ringan dan menghibur.
Sebenarnya, aku sudah membaca novel ini versi ebook melalui @gramediadigital tapi karena aku suka ceritanya dan ingin lebih banyak yang tahu soal novel ini, aku memberanikan diri untuk mendaftar sebagai salah satu book reviewer novel ini di akun Kak Shirei. Padahal aku jarang (bahkan bisa dihitung jari mengikuti GA maupun pencarian seperti ini, kalau aku tidak menyukai novel itu)
Kamu pasti bertanya dunk kenapa aku ingin orang lain tahu soal novel ini?
Karena Obsessive Love ini mengangkat kisah Cinta dan Obsesi. Bagaimana sebuah obsesi akan sebuah cinta, bisa membuat seseorang melakukan segala cara untuk mendapatkan orang yang dicintai. Tidak peduli orang yang dituju membalas cinta, menderita atau apapun, asal rasa itu terpuaskan.
Novel ini seakan hadir membuka hati dan pikiran kita, bahwa masih banyak orang-orang seperti Syaira yang butuh diselamatkan. Mereka bukan untuk dijauhi, dicaci, dimaki, dihakimi bahkan dikasihani, mereka butuh perhatian dan pertolongan kita, karena apa yang mereka alami saja sudah berat, jangan ditambah-tambah lagi 😭😭😭
Dan untuk kasus-kasus seperti Syaira ini memang lebih banyak yang memilih untuk diam dan tidak melaporkan. Karena apa? Karena malu dan takut akan reaksi masyarakat.Karena biasanya yang salah malah korban, bukan pelakunya 😭
Alurnya dibuat sedemikian rapi dan mengalir, membuatku terus menebak siapa pelaku sesungguhnya. Clue demi clue dibiarkan bertebaran, membuat kita menerka apa benar ini pelakunya. Walaupun sejak awal aku mencurigai seseorang, dan apakah dia pelakunya? Kamu harus baca sendiri novel ini untuk tahu ...
Alur yang menarik, ide cerita yang dieksekusi dengan baik, karakter yang kuat membuat aku bisa menikmati membaca kisah Syaira. Hanya butuh waktu beberapa jam saja aku membaca kisahnya dan ketika aku menutup halaman terakhir, aku ingin memeluk Syaira
Obsessive Love merupakan novel yang mengangkat tema yang sesuai dengan realita terjadi di masyarakat, yaitu isu pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat korban. Beberapa wkatu terakhir banyak sekali berita kriminal di televisi yang mengangkat topik ini. Topik ini adalah fenomena lama namun terjadi berulang di kehidupan masyarakat. Entah karena karena hal tersebut masih dianggap tabu oleh masyarakat atau ketakutan korban untuk bercerita. Yang jelas saya mengapresiasi usaha yang dilakukan Shireishou untuk mengangkat topik ini menjadi sebuah cerita yang menarik dan menggugah hati pembaca.
Syaira, gadis yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, mendapat pelecehan seksual dari seseorang hingga dinyatakan hamil. Ketakutan Syaira dengan orang yang melakukan hal keji itu padanya, membuat gadis itu bungkam. Dalam novel ini, pembaca diajak main tebak-tebakan mengenai siapa orang tega melakukan hal tersebut pada Syaira.
Selain itu, novel ini menggabungkan isu kesehatan mental dengan isu pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat. Dengan membaca novel ini, jika diajak untuk berpikir ulang perbedaan antara cinta dan obsesi. Jangan sampai obsesi diartikan sebagai cinta dan sebaliknya.
Ga hanya benci dan cinta yang bedanya tipis, antara obsesi dan cintapun bedanya lebih tipis lagi
Judul : Obsessive Loves Genre : Novel Remaja Penulis : Shireishou Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jumlah Halaman : 245
Yang suka main tebak-tebakan, cocok baca ini.
Judulnya udah ngasih clue banget tentang isi cerita, yaitu cinta yang malah mengarah ke obsesi.
Kita diajak buat nebak siapa orang dibalik perubahan Syaira dari siswi yang pintar dan suka fisika menjadi sosok yang selalu histeris dan memiliki trauma.
Berfokus kepada Syaira yang mengalami pelecehan dan kehadiran Nara sebagai guru magang disekolah Syaira yang peduli kepada Syaira karena mengingatkannya pada masa lalu. Penggambaran keadaan Syaira disini sangat ditonjolkan, tapi hal lainnya terasa nanggung seperti kisah masa lalu Nara dan ibunya yang diceritakan tapi menurutku kurang mendetail. Sehingga aku hanya sampai ditahap tahu tanpa bisa mencapai emosi/feel yang seharusnya aku dapatkan dari kisah mereka
Dari awal ke konflik hingga ending semuanya ada dan jelas, tapi menurutku balik lagi ke tadi, terasa nanggung apalagi endingnya yang terasa cepat walaupun jelas bagaimana penyelesaian dari konflik yang dihadirkan.
Pesan dari cerita ini adalah, ada saatnya kita memang membutuhkan bantuan orang lain sehingga kita tidak menanggungnya sendiri. Dan tentang perasaan, tentang obsesi ... hal yang seperti itu sangat tidak baik, dan beruntung buat orang-orang yang masih mendapat kesempatan untuk bisa keluar dari lingkaran perasaan obsesi sama halnya seperti Kani di cerita ini.
Syaira dulunya gadis yang ceria. Tapi akhir-akhir ini dia berubah. Pandangannya kosong dan jika disentuh dia akan histeris. Sebagai gurunya, Nara penasaran ingin mengetahui ada apa dengan Syaira. Dia mulai melakukan pendekatan pada Syaira. Kondisi Syaira mengingatkan Nara pada seseorang yang gagal dilindunginya di masa lalu.
Ternyata Syaira mengalami pelecehan seksual sampai hamil. Namun Syaira tidak ingin menyebutkan siapa pelakunya. Sebagai walinya, Wira tidak bisa berbuat apa-apa. Yang terpenting saat ini Syaira bisa lepas dari depresinya.
Membahas tentang korban pelecehan seksual, novel ini disajikan dalam bentuk misteri. Nara dibantu oleh ibunya, Dessy, yang juga seorang psikolog menolong Syaira dari depresi. Sementara bu Kani, rekannya sesama guru membantu dalam penyelidikan siapa pelaku yang belakangan menciptakan teror untuk Syaira.
Jalan ceritanya cukup rapi, pelakunya hampir tidak tertebak sampai di akhir cerita.
Udah lama tahu Kak Shirei karena materi-materi kepenulisannya di blog, baru kali ini baca karyanya. Wow, buku ini triggering banget :( sewaktu membaca blurb pun sudah bisa ditebak Syaira kena dampak obsesi cinta seseorang tapi nggak menyangka juga sampai dia ... 😶
Anyway, aku suka topik yang diangkat nggak segampang kelihatannya dan memperlihatkan bagaimana struggle korban perkosaan. Tapi agak terganggu dengan perpindahan "kepala" yang dalam satu bab bisa berubah-ubah. Seperti misalnya, pov berada di Nara, lalu tiba-tiba dilempar ke Kani. Serius, aku gampang terganggu dengan hal-hal seperti itu :(
Lalu porsi romance-nya nggak berlebihan. Malah, jika lebih dari itu jadi terkesan meromantisasi situasi genting mengingat kondisi Syaira sedang tidak stabil. Idk, sampai ending rasanya nggak ada yang meletup-letup alias "oh begitu saja?" Okelah, mau mengharap apa juga aku 😭 intinya buku ini worth to read, sih. Asal nggak punya trigger ke kekerasan seksual atau soal pemerkosaan aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Keren, sih. Apalagi bisa masuk Gramed, udah pasti keren. Awal-awal baca agak malesin karakter si tokoh utama wanitanya. Maybe itu tanda kalau karakternya emang strong, ya. Nggak tahu, deh. Trus nggak nyangka aja ternyata si Pak Gurunya juga bakal jadi male lead. Pokoknya awal baca tu masih nebak-nebak, ini ntar siapa yang bakal jadi bintang.
Kaget banget pas si tokoh wanita dibawa ke RS trus ternyata sudah nganu. Ya ampun, waow, Kak Shi pinter naruh konfliknya. Setelah itu jadi nebak-nebak lagi, siapa ya yang nganuin. Kecurigaan awal pasti ke penguntit dong, yang les sama guru Kimia yang nyentrik. Terus terus teruss...
Gitu, deh..
Nggak nyesel bacanya. Kubaca dalam sekali duduk, tapi di Ipusnas, ehehe. Terima kasih Kak Shi untuk karya se-nice ini. Ringan tapi cukup membuat penasaran.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini mengangkat soal pelecehan seksual. Dengan tambahan unsur misteri dan sedikit thriller. Aslinya aku bingung kasih rating berapa habis karakternya bikin aku gregetan hhhh.
Overall ceritanya realistis. Meski perasaan Syaira kurang banyak tereksplorasi karena karakter yang banyak dan subkonflik yg juga banyak sih. Secara keseluruhan aku merasakan kesedihan dia. Cuma age gap usianya aja yang bikin aku nggak nyaman, padahal aslinya nggak jauh banyak. Si Syaira masih SMA sih. 😂
Mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang duduk di bangku SMA diperkosa oleh paman nya sendiri. Dalam hal ini tokoh Syaira digambarkan sebagai sosok yang tidak mampu speak up seperti yang memang sering terjadi pada korban kekerasan seksual. Selain itu, dalam buku ini pun penulis menyertakan dampak dari pemerkosaan tersebut. Salah satunya dimana penyintas berusaha menyakiti dirinya sendiri.
Bukunya baguss.. ada plot twist yang gak disangka. Terus kerasa sakitnya jadi Syaira T_T pesan moralnya juga sampai. Tapi sayang, kalo gak salah anu nemuin plot hole yang dijadiin pengecoh tersangka.
Ketika cinta membutakan nurani, obsesi membutakan hati. Obsessive Loves mengangkat isu sensitif yang menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sebuah tema kekerasan pada remaja yang menghantui kaum perempuan. Bahkan seiring perkembangan zaman, polanya terus berulang. Penulis mengangkat keresahan sebagian besar orang tua atas anak-anak remaja mereka. Terjadinya pelecehan seksual dan dampak yang ditimbulkan terhadap mental remaja membuat Obsessive Loves menjadi bacaan bergizi.
Melalui sudut pandang Syaira, seorang remaja SMA mengalami trauma pasca kejadian tak biasa yang sudah menimpanya, kita diajak menyelami kedalaman kehidupan para penyintas yang gelap. Seakan semua cahaya dalam hidup, impian, dan cita-cita seketika hancur bersama duka yang mengatasnamakan cinta itu.
Syaira tidak stabil, dia berteriak histeris di kelas dan mengundang keributan di kelas. Di antara sikap masa bodoh teman-temannya, ada sosok Nara, seorang guru pengganti yang peduli dan akhirnya membantu Syaira. Sebuah kebenaran pahit membawa Nara pada secuil kisah di masa lalunya. Kemiripan kisah Syaira dengan Fahita, adik Nara menuntun lelaki itu ke dalam rasa bersalah yang membelit hidupnya sejak lama. Nara bertekad membantu Syaira apa pun yang terjadi.
Kisah ini membuka mata hati di setiap peristiwanya. Mengingatkan bahwa di luar sana banyak sekali Syaira dan Fahita yang butuh pertolongan. Bukan mengalami victim blaming yang membuat mental korban anjlok. Shireishou sangat berani mengangkat tema yang masih dianggap tabu di masyarakat secara umum. Namun, pengemasan yang menarik dipadukan unsur misteri membuat pembaca asyik menebak siapa pelaku sebenarnya. Petunjuk tersebar dengan apik dengan menambah pengecoh membuat cerita ini semakin seru.
Tak kalah penting, ada proses penyembuhan yang akan memberi motivasi pada para penyintas di luar sana untuk sembuh. Untuk kembali bermimpi. Untuk tidak menyerah dengan mengakhiri hidup atau mengambil keputusan yang beresiko.
Penjabaran proses pengguguran kandungan yang mendetail diharapkan akan memberikan insight baru kepada para remaja, orang tua, dan siapapun yang membaca buku berbobot ini. Obsessive Love dibuka dengan alur yang lambat, diksi puitis yang mendalam membuat perasaan Syaira, ketakutannya, keinginannya untuk menggugurkan kandungan tereksplorasi dengan baik. Transformasi karakter sangat alami. Penulis mampu membawa pembaca masuk dalam cerita dan mengaduk emosinya. Makin ke belakang, tensi naik dan alur berjalan cepat.
Hanya saja, cerita ini bisa menjadi pemicu yang kuat menguak luka lama, jika dibaca mereka yang punya trauma serupa. Kelemahan lain ada beberapa hal yang masih bisa digali lebih mendalam dari buku ini seperti latar belakang Syaira, Nara, motif Syaira memutuskan menyembunyikan identitas pelaku, dan mempertahankan bayinya bisa diperkuat. Plot hole yang fatal karena ada yang tidak diungkap di akhir cerita. Beberapa perpindahan sudut pandang dan gaya bahasa dari puitis ke bahasa lugas masih kurang luwes. Namun, Secara keseluruhan aku sangat menyukai buku ini.
Tentu saja aku merekomendasikan Obsessive Loves agar banyak remaja dan orang tua membaca buku yang penuh inspirasi dan mengedukasi~