Jump to ratings and reviews
Rate this book

La Hami

Rate this book

200 pages, Paperback

First published January 1, 1986

19 people are currently reading
136 people want to read

About the author

Marah Rusli

4 books32 followers
Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai demang. Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Buitenzorg (kini Bogor) pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.

Meski lebih terkenal sebagai sastrawan, Marah Rusli sebenarnya adalah dokter hewan. Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair, Marah Rusli tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala. Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra. Marah Rusli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

http://id.wikipedia.org/wiki/Marah_Ro...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (44%)
4 stars
23 (42%)
3 stars
6 (11%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
February 20, 2020
Buku untuk siaran Klub Siaran GRI, Sabtu 15 Februari 2020: buku bersampul warna merah.

Ini satu-satunya buku yang saya beli untuk diri sendiri sepanjang 2019 lalu, baru terbaca tahun ini, hehee... Pertama terbit oleh Balai Pustaka tahun 1953, dan edisi yang saya baca ini cetakan ke-14 tahun 2011.

Mungkin sebagian besar pembaca Indonesia kayak saya, hanya tahu Sitti Nurbaya yang merupakan karya Marah Rusli (terbit pertama kali 1922). La Hami ini baru saya ketahui keberadaannya Oktober 2019 lalu, padahal sudah ditetapkan Kemendiknas RI sebagai buku pengayaan di tingkat dasar dan menengah. Dalam hal ini kayaknya memang saya terlalu cepat lulus SMA.

Gaya cerita masih seperti sastra klasik zaman sebelum merdeka, belum lagi latar kisahnya. Dibuka dengan kegelisahan sepasang orang tua di tepi pantai Pulau Sumbawa resah menanti kedatangan putra mereka, La Hami, dari pengembaraan mencari jati diri, eaaa... Pokoknya di bagian depan ini memang agak membosankan, sampai buku ini telantarkan, eh, malah dibaca dan diselesaikan duluan oleh ibu saya, wkwkwk...

Tapi saat makin dilanjut, ternyata isinya memang cukup memikat, terutama bagian penjelajahan yang dilakukan La Hami, serta berbagai perikehidupan suku-suku bangsa di Pulau Sumbawa yang begitu kaya dan beragam. Dalam skala kecil, tidak kalah dengan pengembaraan Marco Polo di Jalur Sutra. Jadinya agak mirip buku perjalanan sepanjang Sumbawa. La Hami mengunjungi berbagai kota dan kerajaan, berguru pada yang lebih tinggi ilmunya, bertemu warga biasa dan kaum bangsawan, berkenalan dengan putri istana, mengalami keramaian perayaan serta pengkhianatan, dll. Hmm, ya, sebenarnya sungguh standar cerita klasik dari berbagai belahan dunia.

Tapi bagian menarik menurut saya adalah ketika menginsyafi betapa kerajaan-kerajaan yang disebut di buku ini, kini sudah musnah bersama sebagian besar warganya... lenyap ditelan dahsyatnya Gunung Tambora tahun 1815. Jangankan bekas fisiknya, untuk nama-nama kerajaan tersebut pun, tinggal sedikit yang masih bisa mengingatnya di masa sekarang.

Sungguh, membuat saya berharap bisa segera diberi kesempatan untuk menjelajahi Pulau Sumbawa.
Profile Image for Princeps.
17 reviews
April 22, 2019
Buku yang pernah dibaca dan membuat bingung waktu kecil dulu
Profile Image for Gustia Mardalena.
26 reviews
February 19, 2021
Buku pertama yang selesai saya baca di tahun 2021. Terus terang, buku 'La Hami'-lah yang pertama kalinya saya baca dari karya Marah Rusli. Bahkan, buku bersampul merah ini telah dinilai oleh Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional, dan telah ditetapkan memenuhi kelayakan buku pengayaan untuk digunakan sebagai sumber belajar pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Jujur, pada awalnya saya agak kagok dengan bahasa yang digunakan, khas sastra klasik, tetapi semakin saya baca, semakin saya terbiasa, semakin cepat bacanya. Banyak kata yang baru saya kenal di sini, menambah kosakata bagi saya.

Selama baca cerita ini, saya seolah benar-benar diajak berpetualang di pulau Sumbawa; Sanggar, Bima, Dompo. Rasanya, ingin sekali berjumpa dengan para tokoh di sini. Saya pasti akan sangat merindukan mereka. Semoga saja, saya masih berkesempatan membaca karya Marah Rusli lainnya.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
June 2, 2021
Sebuah buku yang ditemukan via daring.
Nama Marah Rusli bisa dikatakan adalah jaminan bagi saya. Dengan cara bercerita yang piawai, sebuah kisah menjadi berbeda jika disajikan melalui guratan tangan beliau.

Di pantau Sumbawa sepasang orang tua di menanti kedatangan putra mereka-La Hami, dari pengembaraan mencari jati diri. Selanjutnya pembaca akan diajak mengikuti perjalanan kehidupannya, terutama kondisi kehidupan Pulau Sumbawa sebelum meletusnya Gunung Tambora pada tahun 1815.

Sebuah cara unik untuk mempertahankan kenangan



Profile Image for Qanita Ayu.
14 reviews
February 20, 2025
My first indonesian classical book i read. Suka banget jalan ceritanya, selain itu ceritain tentang Pulau Sumbawa dengan baik beserta keragaman suku-sukunya. Ada banyak budaya dimasukkin disini dan sedikit politik kerajaan disini.
Profile Image for Yaffa.
56 reviews1 follower
March 10, 2025
Aku sangat yakin kalau diriku yang lebih muda akan sangat mengidolakan La Hami apabila dia membaca buku ini dulu ketika SMP/SMA. Aku tumbuh dengan Percy Jackson, Katniss Everdeen, dan kisah-kisah pahlawan yang datang dari permulaan sederhana dan melesat menjadi legenda di dunia mereka. Andai aku tahu penulis-penulis Indonesia sudah punya tokoh-tokoh seperti ini dalam Novel mereka.

Ini surat cinta Marah Rusli untuk masyarakat Nusa Tenggara Barat, dan dari novel petualangan singkat ini, aku merasakan seberapa mulia, digdaya, dan bijaksananya suatu kaum yang tinggal di wilayah itu.
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
February 26, 2016
Ini adalah buku pertama yang saya baca untuk mengawali tahun 2016.
Buku ini penuh dengan cerita pengalaman marah rusli ketika hidup di negeri indonesia bagian timur.
2 reviews
Read
January 7, 2019
BAGUS
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.