Kata orang, selama masih hidup, manusia akan terus menghadapi masalah demi masalah. Dan itulah yang akan kuceritakan dalam buku ini, yaitu bagaimana aku menghadapi setiap persoalan di dalam hidupku. Dimulai dari aku yang lahir dekat dengan hari meletusnya kerusuhan di tahun 1998, bagaimana keluargaku berusaha menyekolahkanku dengan kondisi ekonomi yang terbatas, sampai pada akhirnya aku berhasil mendapatkan beasiswa penuh S1 di Jepang.
Manusia tidak akan pernah lepas dari masalah kehidupan, betul. Tapi buku ini tidak hanya berisi cerita sedih dan keluhan ini-itu. Ini adalah catatan perjuanganku sebagai Jerome Polin Sijabat, pelajar Indonesia di Jepang yang iseng memulai petualangan di YouTube lewat channel Nihongo Mantappu.
Yuk, naik roller coaster di kehidupanku yang penuh dengan kalkulasi seperti matematika.
It may not gonna be super fun, but I promise it would worth the ride.
Kurasa kali ini aku bisa objektif membahas buku ini, walaupun kisah semacam Jerome ini cukup familier dalam hidupku. Sebagai guru les private yang memiliki beragam tipikal murid, anak-anak pintar seperti Jerome juga beberapa kali kubina (((kubina))). Jadi, kurasa aku paham lah psikologi anak muda yang 1) gila lomba 2) dalam kamus hidupnya berisi belajar, belajar, belajar, entah karena desakan lingkungan atau kemauan sendiri.
Lalu, aku membaca buku ini, tentang perjalanan Jerome hingga sekarang. Apakah aku kenal Jerome? Aku tahu, sih, karena aku salah satu followers dan subscribers Jerome dan bisa dibilang penikmat YouTube-nya, apalagi saat battle matematika (beberapa soal di awal aku ikutan ngitung tapi lama-lama mager juga wkwkwk). Oh ya, aku juga nonton collab Jerome sama Rans Entertainment 😂 Aku suka attitude dia saat diajak collab sama Raffi-Gigi. Apa yang tampak di depan kamera kuharap juga seperti itu di dunia nyata ya, Jer. Karena aku kan hanya mengenal Jerome dari apa yang ditampilkan saja, jadi kurasa aku akan menilai dari sana. (Sebentar, aku bingung, ini review tentang Jerome atau bukunya, yha?)
Nah, balik ke bukunya. Aku suka buku ini, konsepnya bagus! Seperti buku sejenis yang sudah terlebih dahulu beredar di pasaran, antusiasme pembaca tentu untuk mengetahui hal-hal yang tidak terekam di kamera maupun di sosial media penulisnya. Tentang kenapa Jerome bisa kuliah di Jepang, apa yang melatarbelakanginya, dan hal-hal seperti itu. Di sini, cerita itu disampaikan dengan terstuktur. Pembaca dibawa mengenal Jerome, ambisinya, masa kecilnya, kondisi keluarganya, dan lingkungan seperti apa yang membentuk Jerome sekarang. Aku senang bisa mengetahui itu di buku ini. Dan kurasa hal-hal tersebut menjelaskan banyak hal. Para fans tentu senang mengetahui kisah idolanya sebelum dia terkenal. (Kalau aku sih, bukan fans, cukup penikmat saja, hahaha.)
Ada dua bagian besar yang diceritakan di sini, pertama bagaimana Jerome bisa sampai berkuliah di Waseda University, kedua bagaimana dia bisa membangun konten YouTube-nya hingga sekarang. Dari apa yang disampaikan di buku ini, kurasa aku jadi mengenal Jerome lebih jauh. Bisa dibilang dia tuh unik. Jarang ada anak-anak pintar dan study oriented yang mudah bergaul, pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan berpikir banyak hal di luar belajar. Kurasa karena itu pula yang membuat dia berbeda. Kalau anak selevel dirinya biasanya berasal dari orang berada, keluarga Jerome bisa dibilang biasa saja. Berkecukupan, tapi ya perlu berpikir ulang untuk menyokong kebutuhan study anaknya di luar sekolah (ya, aku pernah punya murid les yang hidupnya berkutat di sekolah, les, les, les, yang kalau ditotal, untuk membayari les dia aja jutaan per bulan). Namun, aku salut dengan ambisinya. Jerome tidak hanya punya ambisi tapi tahu bagaimana cara mewujudkan ambisi itu tanpa privilege yang dimiliki teman-temannya. Jerome bahkan jadi guru les untuk adik kelasnya 👏
Balik lagi ke buku. Mulanya aku berharap soal-soal yang muncul di buku ini tuh ada maknanya, bukan sekadar tempelan belaka. Seperti misalnya, ada cerita khusus kenapa soal itu muncul di sana. Lebih spesifik lagi, misal soal-soal yang membekas dalam perjalanan hidupnya. (Sebagai anak pencinta eksakta, aku bahkan masih ingat soal-soal fisika mana yang membekas dalam hidupku. Nah, ekspektasiku kira-kira begitulah.) Namun ternyata, begitu selesai membaca buku ini, pertanyaanku tentang soal matematika di buku ini terjawab. Ada makna filosofis dari kemunculan soal-soal itu dan penjelasannya menunjukkan seberapa kerennya konsep buku ini dibuat. Mantappu jiwa! Andai saja aku baca versi buku cetaknya, percayalah, di halaman belakang pasti sudah kucoret-coret untuk mengeksekusi soal matematika yang ada di sana 😂
Jadi, Jerome ini paket lengkap. Cakep, pintar, lucu, hidupnya terstuktur, dan visioner. Aku nggak tahu apakah Jerome bakal baca ulasan ini atau nggak. Tapi, bolehlah sebagai... anggap saja aku seperti kakak les yang lagi menasihati murid lesnya, ku ingin memberikan pesan-pesan berikut: "Jerome tetaplah rendah hati, ya (kalau kalian nonton vlog Jerome sama Raffi-Gigi mungkin tahu makna rendah hati yang kumaksud di sini). Jangan sampai ketenaran ini melenakan dan melupakanmu dari hal-hal utama yang harus kamu lakukan dan kamu perjuangkan. Ketenaran itu dua mata uang yang kalau kamu berlebihan menangkap peluangnya, bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Tetaplah jadi Jerome yang menginspirasi. Dan tetap rendah hati."
Untuk saya pribadi, baru mengetahui sosok Jerome beberapa bulan belakangan, sekitar akhir Mei-Juni, tepatnya ketika cuitannya seliweran di timeline twitter dan di retweet netizen. Benar-benar ngga tahu kalo Jerome ternyata mahasiswa jurusan matematika di Jepang yang memiliki subscriber cukup banyak di youtube dan instagram. Cuitannya saat itu rame di retweet karena menarik, menariknya adalah karena receh dan ngga jelas atau kadang cuitannya sungguh bucin. Padahal Jerome jomblo. Ups. Contoh : "Ada ketupat gak? KEsempatan unTUk mendaPATkanmu" "Ada opor gak? Opor-tunity buat dapetin kamu?"
Terus pertama kali nonton videonya yang viral tentang battle MTK dengan mahasiswa NTU yang di publish 12 Juli 2019. Video lainnya yang paling menarik buat saya di publish tanggal 10 Agt 2019 yaitu saat battle MTK dengan Bang Sabda-Zenius. PASTI TAHU KAN SIAPA BANG SABDA ITU? Menyenangkan sekali loh melihat battle tersebut. Asli 😆 ** Di bulan Juli ada pengumuman bahwa Jerome akan menerbitkan buku yang berjudul Mantappu Jiwa. Karena penasaran akhirnya ikut PO. Wiihh penggemar Jerome mantul-mantul sekali, di PO pertama, seribu buku ludes di bawah 10 menit hingga penerbit menambah kuota seribu buku lagi untuk PO kedua. Tetap sama, ludes dalam hitungan menit. Marketingnya bagus banget ya ehehehehe ** Oke. Jadi buku Mantappu Jiwa berisi tentang apa? Bercerita dari awal. Tentang impian Jerome kuliah di luar negeri dengan beasiswa, kegagalan saat seleksi di univ impiannya, hingga ia akhirnya impiannya tercapai : bisa kuliah di luar negeri, yaitu di Jepang dengan mendapatkan beasiswa. Yang perlu pembaca ketahui, Jerome tidak mendapatkan semuanya dengan instan, prosesnya panjang sekali. Untuk Jerome, tekad tidak hanya sekadar tekad. Ia iringi dengan usaha dan kerja keras yang maksimal seperti sering ikut lomba, olimpiade dan latihan soal sebagai persiapan seleksi.
Aku pikir setelah Jerome sudah mendapat beasiswa semuanya usai, ternyata tidak. Dia harus belajar lagi untuk persiapan tes masuk Univ di Jepang yang menghabiskan waktu 1,5 tahun. :)) ** Setelah membahas segala perjuangannya dari mendapatkan beasiswa hingga masuk ke salah satu univ di Jepang, pembahasan beralih ke interest Jerome yang lain : media sosial. Well, semua orang memang pasti interest sama medsos sih, siapa coba yang ngga? Tapi yaaa namanya juga Jerome, dia membuat interestnya menjadi sesuatu. Ketertarikannya pada MTK membuat ia membuat OA Line Math Q&A lalu ia pun melirik youtube dengan konsep konten edukasi. Dan tadaaa per 14/8 subscriber youtube Nihongo Mantappu sudah ada 1,7 juta. Wadawww👏 ** Buku ini dilengkapi soal matematika dan jawaban yang dibahas oleh Jerome, termasuk contoh soal dan pembahasan tes masuk univnya Jerome. Juga kutipan-kutipan ala Jerome. ** Yang ku dapat setelah membaca buku ini adalah : Aku suka matematika. Suka. Tapi ternyata ada orang yang lebih menyukai matematika dengan gila, yaitu Jerome. Tekadnya benar-benar harus diacungi jempol👍👍👍. Semacam ngga pernah lelah untuk belajar belajar dan belajar lagi, belajar terus sampai mual. ** Buat orang awam yang baru mengenal Jerome, buku ini cukup worth it untuk mengetahui perjuangan Jerome. Tapi untuk yang sudah mengetahui Jerome dari lama bahkan sudah khatam tentang segala perjuangannya (alias followers lama) jika bersedia mengetahui kisahnya lagi silahkan baca buku ini, jika tidak ya gapapa, ya ngga usah 😅 ** Dear Jerome, dari segala popularitas yang lagi kamu dapatkan sekarang, pliss jangan berubah. Saya ngga kenal kamu sih. Tapi, tetaplah menjadi sosok yang rendah hati, jangan pernah terlena dan sombong atas segala pencapaian di titik ini. Di atas langit masih ada langit. Ingat targetmu yang lebih besar, kan? Menjadi Menteri Pendidikan. Semoga dapat menjadi nyata dan tak sekadar angan ya, Jer. Sukses terus untuk kamu!
Membaca Mantappu Jiwa karena penasaran dengan siapa sih Jerome ini? Apalagi setelah keramaian di Twitter yang membahas soal privilege dan sepertinya netizen menyerang apa yang diutarakan oleh Jerome. Selain kenyataan bahwa dia adalah salah satu siswa dari SMA terbaik se-Surabaya, aku cuman tahu kalau Jerome ini mendapatkan beasiswa di Waseda University dan mengambil konsentrasi Matematika Terapan. Sisanya? Mana aku tahu. Aku jelas-jelas bukan tipikal orang yang mengikuti diari YouTube.
Kesan pertama membaca Mantappu Jiwa adalah gemas! Ilustrasi yang lucu dan penuh warna ini sukses menjadi daya tarik tersendiri. Belum lagi dengan judul buku yang menggunakan kata "Latihan Soal." Bagi mereka yang belum tahu siapa Jerome, mungkin akan sedikit bingung. Memangnya latihan soal apa?
Syukurlah, sejak awal Jerome sudah mengenalkan matematika. Maksudnya begini, desain halaman dan tata letaknya sangat menonjolkan unsur dan simbol matematika. Hingga pada bagian pembuka, Jerome mengatakan bahwa ia merupakan mahasiswa matematika.
Mantappu Jiwa berisi tentang kisah hidup Jerome. Soal bagaimana ia berjuang bisa bersekolah di IPH Schools--sekadar info, IPH Schools merupakan salah satu sekolah swasta bergensi di Surabaya--yang kemudian memberikan ia gambaran mengenai pergi ke Disneyland (anak sekolah negeri, sepertinya sedikit sekali yang pernah merasakan liburan ke Disneyland, bukan?). Berkat hal itu, Jerome punya visi untuk dapat ke luar negeri. Bahkan kalau bisa, bersekolah di luar negeri.
Mimpi tersebut ternyata benar-benar diamininya. Bukan sekadar pemanis bibir biasa. Jerome terus berusaha hingga akhirnya diterima menjadi salah satu mahasiswa di Waseda University. Semua kisah akrobatnya ditulis di dalam bukunya.
Buku ini cukup cepat dihabiskan. Apalagi bagi mereka yang sudah biasa membaca kisah sukses anak negeri mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di negara orang. Yang disampaikan tetap satu: berjuang tiada henti.
Mungkin buku ini cocok untuk mereka yang seumur dengan Jerome atau di bawahnya. Sebagaimana memperkenalkan kepada pembaca muda bagaimana caranya mendapatkan beasiswa ya melalui apalagi kalau tidak melalui figur yang dekat dengan generasi langgas itu: seorang YouTuber. Aku rasa tidak ada yang salah dengan Jerome menulis buku. Tinggal sesuaikan saja dengan target pembaca yang ingin diincar.
Rate: 4+, akan saya beri 5 kalau buku ini dilengkapi pembahasan soal matematikanya :D
Kalau ada yang bertanya, "Gimana sih caranya studi keluar negeri?", maka saya bisa merekomendasikan satu buku ini dari beberapa buku yang lain. Lebih-lebih, untuk seseorang yang kepo tentang kuliah S1 di luar negeri. Bisa dibilang, semua proses utama perjuangan studi berbeasiswa ada dalam buku ini.
Ya, bukan rahasia umum, kalau ada dana, siapa saja bisa studi ke luar negeri. Tinggal nyari agen, calon mahasiswa beserta keluarga bisa dibantu nyari universitas beserta tempat tinggalnya. Beda lagi kalau ingin kuliah gratis plus dapat biaya hidup tanpa bantuan agen.
Hal-hal yang perlu digarisbawahi dalam buku ini adalah proses bagaimana seseorang bisa studi di luar negeri. Sederhananya, rasa 'ingin' saja tidak cukup. Ada tindakan yang perlu diambil. Misal, perlu menyadari bahwa pasti ada ujian masuk universitas. Plus, ujian untuk mendapatkan beasiswa. Otomatis, jauh2 hari...atau minimal sejak duduk di bangku SMA, calon mahasiswa harus sudah belajar bahan yang akan dihadapi saat ujian masuk. Jerome mengaku sering mengikuti olimpiade semasa SMA, beberapa kali menang, seringkali kalah. Nah, sudah pasti perlu usaha extra untuk pembaca yang ingin studi di luar negeri tapi nggak pernah sekalipun ikut olimpiade. Udah pasti kaum rebahan perlu segera bergerak :D
Selain persiapan materi, siapa saja yang ingin studi di luar, perlu sering mendatangi event sejenis 'Campus fair', 'High education fair', dan apapun yang berkaitan dengan pameran universitas dari luar negeri. Menurut saya, di event itu, para representarif universitas biasa membagikan brosur berisi jurusan yang ditawarkan di kampus mereka. Kalau pengunjung bisa berbahasa inggris/bahasa asing sesuai negara kampus yang diinginkan, paling tidak...acara ini bisa dipakai ajang 'sparring' atau latihan 'conversation' dengan native speaker. Ehe..
Selebihnya? Ya..kurang lebih ada dalam 'jurnal'-nya Jerome ini. Gimana deg-degan, nyaris frustasi, gagal, nyoba lagi, dan akhirnya berhasil, semua prosesnya ada dalam buku ini. Poin plusnya, Jerome selalu berusaha mengintrepretasikan kegagalan dalam proses berjuangnya sebagai 'jalan lain' dari Sang Pencipta. Melalui tulisan-tulisannya, dia tidak pernah lupa untuk menuliskan rasa syukur atas segala pencapaian yang ada, berterima kasih pada keluarga Indonesia dan orang tua angkat di Jepang, teman-teman baru, dan semua orang yang merasa terinspirasi atas konten youtubenya.
"Aku tanpa kalian, hanyalah serbuk jasjus" (hal. 199)
Pengakuan : Sebenarnya saya gak tau siapa Jerome Polin ini, sungguh. Boro-boro nonton channel Youtubenya, ngeliat IG/Twitternya aja belum pernah. Tapi, pas buku ini keluar orang-orang pada heboh, di wag GRI jg begitu, katanya buku ini pre-ordernya aja habis dalam waktu gak sampe 10 menit. Luar biasa dek Jerome ini ya. Karena itu pas bukunya nongol di Gramedia Digital, download dulu trus baru akhirnya semalem baca.
Jerome ini setelah aku baca di wag, katanya Youtuber yang suka banget matematika dan dapet beasiswa sekolah di Jepang trus suka bantuin followernya untuk bahas soal matematika. Sampe sana aja saya lalu tertarik, pengen tau apa yang mau ditulis seorang Jerome.
Dalam buku ini Jerome bercerita dengan runut bagaimana ia akhirnya sampai mendapat beasiswa ke Jepang. Berkat kecintaan dia sama matematika juga itu. Yang paling hebat menurut saya, Jerome menuliskan banyak kalimat-kalimat motivasi untuk dirinya sendiri, buat yang baca ya rasanya jadi termotivasi juga untuk lebih lagi. Tidak ada yang mudah, bagi seorang Jerome yang mencintai matematika dan sering banget ikut olimpiade pun banyak hal dilalui dengan kegagalan ini dan itu, tapi dia punya orang-orang terdekatnya yang selalu memupuk semangatnya untuk belajar lebih lagi.
Saya punya sepupu yang juga suka matematika dari kecil, dia terlihat introvert sekali, ngomongnya dikit banget, punya teman-teman juga begitu modelnya, terasa kayak antisosial gitu. Jerome kok gak gitu ya keliatannya? terbukti dengan aktifnya dia di media sosial dan juga channel Youtubenya.
Buat adik-adik yang perlu buku motivasi, buku ini pastilah saya rekomendasikan, apalagi buat yang pengen dapet beasiswa ini itu, biar gak gampang nyerah. Disisipi pula dengan soal-soal matematika dibeberapa halaman membuat buku ini terasa sekali personal Jerome-nya, beberapa halaman juga dibuat berwarna dan ditambahkan ilustrasi gambar yang bikin buku ini terlihat lebih menarik. Belum lagi Jerome juga pake bahasa anak zaman now, yang memang pas banget kalo dibaca saat ini, entah kalo nanti-nanti mungkin jadinya pada gak ngerti.
Kurangnya, buku ini seperti ditulis Jerome kayak jalan tol, lurus aja gitu kayak gak ada berhentinya, akan lebih enak sebenarnya kalo dibikin chapter, masa kecil, masa sma, masa ikut olimpiade, masa mencari beasiswa, masa memulai jadi Youtuber, dsb dsb, menurut saya akan lebih enak dibacanya.
Di mana ada niat, asal mau berusaha, pasti ada jalan. Mungkin jalannya tidak semulus orang lain, atau mungkin hasilnya tidak sebaik orang lain, tetapi setidaknya kita bisa menghasilkan sesuatu. Dan sebagai awal, itu sudah cukup baik. #rumusjerome
Kalimat di atas adalah kutipan dari Mantappu Jiwa, buku pertama dari Jerome Polin, youtuber Indonesia yang saat ini kuliah di Waseda University dengan beasiswa Mitsui Bussan. Ini buku pertama yang ditulis oleh Youtuber yang saya baca. Ringan, menarik secara visual, dan menginspirasi mungkin kata-kata yang tepat untuk menggambarkan buku ini.
Mantappu Jiwa berisi kisah hidup Jerome sampai bisa kuliah di Jepang dan menjadi Youtuber terkenal. Rupanya keinginan Jerome untuk kuliah sudah tercetus sejak dia SD, karena alasan yang sangat sederhana: dia ingin pergi ke luar negeri seperti teman-temannya. Kisahnya pun mengalir ke bagaimana Jerome mencari beasiswa S1 penuh di luar negeri sejak SMP, perjuangannya belajar matematika dan ikut banyak lomba sejak SMA, dan jatuh bangunnya untuk mendapatkan beasiswa NUS, NTU, dan akhirnya Mitsui Busan ke Jepang.
Setelah sampai di Jepang dengan beasiswa penuhpun, perjuangan Jerome masih belum berakhir. Jerome masih harus belajar menaklukan Bahasa Jepang dari nol, belajar Matematika, Kimia, dan Fisika dalam Bahasa Jepang, serta beradaptasi di negara asing sampai akhirnya berhasil lulus menjadi mahasiswa di Waseda University. Di waktu senggangnya, Jerome membuat konten Youtube di channelnya Nihongo Mantappu, yang sekarang memiliki hampir 2 juta subscribers.
Bagi penonton channel Nihongo Mantappu, buku ini sebenarnya tidak menceritakan hal yang benar-benar baru. Jerome sendiri sudah membuat video tentang kisahnya mendapatkan beasiswa (“Cerita Perjuangan Beasiswa Full Kuliah ke Luar Negeri”). Tapi yang menarik, buku ini lebih menonjolkan tentang kerja keras Jerome untuk mendapatkan beasiswa. Cerita-cerita kegagalan yang biasanya tidak diceritakan mendetail dituliskan untuk menunjukkan kalau hasil yang didapatkan bukan dari proses instan. Saat membaca cara belajar Jerome yang gila-gilaan supaya bisa lulus N1 Bahasa Jepang (12 jam setiap hari!), saya sampai rasanya tersindir sendiri. Rasanya memang di balik kesuksesan, ada perjuangan setengah mati untuk mencapainya.
Ilustrasi yang menarik dan halaman yang berwarna-warni juga memudahkan untuk mencerna buku ini, yang saya selesaikan dalam dua hari. Selain ilustrasi biasa seperti keluarga dan teman-teman Jerome, ada banyak ilustrasi soal matematika menghiasi buku ini. Awalnya saya pikir soal-soal tersebut cuma penghias halaman, tapi rupanya di akhir dijelaskan bahwa ada filosofi di balik soal-soal tersebut. Misalnya soal-soal di bab pertama yang semuanya menghasilkan angka yang sama. Itu menunjukkan kalau ada banyak jalan penyelesaian untuk mencapai angka yang sama tersebut, seperti banyak jalan untuk mencapai Roma. Ide yang cukup unik, meskipun semua soal tersebut tetap saya skip haha.
Yang saya sayangkan di buku ini mungkin kurangnya proporsi cerita tentang bagaimana Jerome bisa menjadi Youtuber terkenal, yang hanya ditampilkan di 50 halaman terakhir buku. Buku ini juga lebih terpusat ke perjuangan Jerome mendapatkan beasiswa dan lulus Waseda University, padahal sepertinya akan lebih menarik kalau ada kisah-kisah culture shock lucu yang dialami Jerome di awal kedatangan di Jepang atau persahabatannya dengan Kevin (yang hanya disinggung sedikit) dan Tomo (bagaimana Jerome bisa sampai jadi sahabat Tomo, bukan hanya kenalan? Bagaimana Jerome bisa diundang ke rumah Tomo?).
Tapi mungkin itu artinya masih banyak ruang untuk buku selanjutnya, ya. Secara keseluruhan, menurut saya buku ini menarik dan mudah dibaca. Timeline cerita yang rapi memudahkan bagi orang yang baru mengenal Jerome untuk langsung mengetahui kisahnya tanpa harus bingung mengecek video mana di channelnya. Ilustrasi dan halaman yang berwarna warni juga menjadi nilai plus. Menurut saya, buku ini sesuai untuk dibaca penonton Youtube Jerome yang sebagian besar masih SMP, SMA, dan kuliah karena bisa memotivasi mereka untuk belajar dan mengejar mimpinya meski dengan segala keterbatasan.
Kalau Jerome menerbitkan buku lagi, saya pasti mau baca lagi. Semoga buku selanjutnya lebih banyak membahas suka duka jadi Youtuber dan mahasiswa di Jepang ya, juga masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi Indonesia sampai-sampai Jerome ingin menjadi Menteri Pendidikan. Soalnya saya tertarik, solusi seperti apa yang akan Jerome sarankan untuk pendidikan dan pembangunan Indonesia saat ini.
Apa yang kelihatan mustahil, jika kita coba kerjakan dengan tekun, bisa menjadi kenyataan. #rumusjerome
Entah si Jerome terinspirasi kesuksesan buku "Imperfect" nya Meira Anastasia, jadi saya liat setipe nih bukunya. Ceritanya ya ttg motivasi buat anak-anak muda supaya terinspirasi. Sayangnya, saya kurang merasakan jatuh bangunnya Jerome utk mencapai kesuksesan. Entah krn gaya bahasanya super diringankan spy segala kalangan bisa baca, atau ada maksud lain "menyembunyikan" bagaimana utk tahan banting dan bekerja/belajar sesulit apapun tantangannya.
Yg jadi problem pertama saya saat membaca buku ini adalah kertas dan tulisan berwarna-warni ala buku-buku anak TK dan SD, malah banyak yg warnanya genjreng banget dan langsung meng-kontaminasi mata saya. Memang sih ini sesuai dgn kepribadian Jerome yg kynya tipe Sanguin, doyan yg rame-rame dan berwarna-warni, tapi tidak untuk saya. Maklumin aja ya, saya bacanya dari Gramedia Digital di IPad, jd kalau latarnya bukan putih, rasanya terlalu silau dan bikin pening aja. Mending ilustrasinya berupa kotak warna-warni (kalau memang mau berwarna) drpd setiap lembar gonta-ganti warna. Beneran, serasa baca buku anak-anak TK.
Sisi bagusnya dlm novel ini adalah Jerome gak pernah putus asa utk mencapai cita-cita dan aspirasinya. Gagal di tempat pertama, tidak membuat Jerome patah semangat dan mencoba di tempat kedua, ketiga dst. Jerome juga membuktikan berani utk membuat target setinggi mungkin. Seperti kata pepatah Soekarno:
"Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
Tapi sayang, sekali lagi sayangnya Jerome tidak memberi contoh bagaimana, berapa kegagalannya sampai dia mencapai sukses. Semuanya di fast forward saja bhw akhirnya dia berhasil melampaui target yg dia tetapkan. Alangkah bagusnya kalau ada contoh-contoh yg membuktikan bhw kerja keras tidak membohongi hasilnya.
Cuma mau bilang saja, semoga tercapai cita-citamu utk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Ketika mendengar Jerome akan menerbitkan buku dan dalam 7 menit ludes sekitar 2.000 eksemplar seketika aku penasaran seperti apa ceritanya. Apalagi aku suka mengikuti kisah Jerome bersama teman-temannya di Channel Youtubenya yang berjudul "Nihongo Mantappu" rasa penasaranku semakin bertambah
Ketika membaca buku ini jujur aku salut banget sama kegigihan Jerome dalam mengejar beasiswa Jepangnya yang tidak semudah membalikkan. Highlights di buku ini adalah suka duka Jerome dalam mendapatkan beasiswa
Akan tetapi disatu sisi aku merasa buku ini masih kurang dalam eksekusinya. Aku sempat mengira buku ini akan lebih cukup selesai menceritakan suka duka jerome dalam mencari beasiswa ternyata ditambah dengan kegiatannya sebagai youtuber sehingga membuat buku ini terasa penuh seperti air didalam gelas ditambah air lagi hingga air didalam gelas menjadi tumpah begitu perumpamaannya
Selain itu penulisan buku ini seperti kita mendengar Jerome bercerita di Youtube padahal ketika suatu pemikiran dituangkan ke dalam media tulisan akan berbeda perlakuannya tidak seperti ngobrol sama subscribers. Buku ini kayaknya ditujukan untuk orang yang suka matematika ya? Karena hampir setiap halaman dihiasi oleh soal matematika menurutku karena buku ini lebih ke autobiografi ada baiknya lebih banyak menceritakan kisah Jeromenya sendiri dibandingkan soal matematikanya (sampe disiapkan lembar coret-coretannya sekalian lo di buku ini)
Buku ini efeknya berasa banget buatku. Setelah baca buku ini, aku jadi merenungi, sebenarnya selama ini, selama 19 tahun aku hidup di dunia, aku udah lakuin apa aja sih buat diriku dan untuk orang-orang di sekelilingku? Rasa-rasanya aku nggak pernah melakukan perjuangan yang begitu bermakna untuk mencapai sesuatu. Aku selalu jadi orang yang mengikuti arus tanpa harus capek-capek menargetkan diriku untuk mencapai sesuatu.
Meski gak salah untuk jadi orang yang seperti itu, tapi justru ada yang mengusik hatiku. Kalau begitu terus, berarti hidupku akan kulalui begitu saja dong? Terus gaada kenangan apa pun yang bisa kuingat kelak yang mana hal itu adalah pencapaianku yang bikin diriku bangga atas perjuanganku sendiri, dong? Aku jadi mulai memikirkan apa aja sih yang selama 19 tahun ini aku lalui begitu saja tanpa perjuangan yang berarti?
Lalu aku jadi berpikir, jelas aku gak bisa balik ke masa lalu buat mengulang hari-hariku yang monoton, yang menjadikan sekolah hanya sebagai tempat ketemuan sama teman, yang bodo amat sama segala macam tugas dan ujian di sekolah. Pada akhirnya, aku sudah sampai di titik di mana aku sudah jadi mahasiswa dan gaada yang bisa putar balik waktu. Jadi kuputuskan untuk maksimalkan saja apa yang sedang aku jalani sekarang.
Baca perjuangan Bang Jerome untuk gapai impiannya, bikin hatiku tersentil dan jadi mikir, "Selama ini apa sih impianku? Kenapa aku gak pernah seberjuang itu mengejar apa yang aku cita-citakan?" Aku jadi mempertanyakan apakah aku punya mimpi sebesar Bang Jerome yang pengin bis akuliah di luar negeri dengan beasiswa full?
Terus aku jadi sadar, ternyata buat menjadi versi yang terbaik dari diri kita gak harus dengan punya mimpi sebesar orang-orang lain. Karena yang tau porsi kita adalah diri kita sendiri. Pencapaian bentuknya apa pun itu, kalau saat melakukannya kita sudah berusaha menjadi yang terbaik, ketika itulah kita jadi versi terbaik dari diri kita.
Maka dari itulah, karena aku hanya bisa meneruskan langkah untuk nantinya lulus sebagai sarjana pendidikan, aku hanya bisa mengisi perjalananku di dunia perkuliahan dengan semaksimal mungkin.
Mungkin gak akan sekeren Bang Jerome yang berhasil menyabet beasiswa full di Jepang, gak sehebat dia saat berhasil dapat penghargaan pidato dengan bahasa Jepang, gak semantappu dia yang berhasil punya banyak subscribertapi aku tau porsiku, dan karena baca perjuangan Bang Jer, aku juga pengin semaksimal dia ketika melakukan sesuatu dan berusaha jadi yang terbaik dengan menjadi diri sendiri.
*BLURB* Manusia tidak akan lepas dari masalah kehidupan, betul. Tapi buku ini tidak hanya berisi cerita sedih dan keluhan ini-itu. Ini adalah catatan perjuanganku sebagai Jerome Polin Sijabat, pelajar Indonesia di Jepang yang iseng memulai petualangan di YouTube lwat channel “Nihongo Mantappu”.
Yuk, naik roller coaster di kehidupanku yang penuh dengan kalkulasi seperti matematika.
It may not gonna be super fun, but I promise it would worth the ride. Minasan, let’s go, MANTAPPU JIWA! .
Jadi, buku ini itu bercerita tentang anak laki-laki yang bernama “Jerome Polin Sijabat”. Pasti di antara kalian sudah ada yang familiar dengan nama ini- yap u’re right, kebanyakan dari kita mengenal seorang Jerome dari channel Yt-nya “Nihongo Mantappu” yang sangat booming dan berisikan berbagai macam vlog dan pembahasan soal-soal matematika bersama teman-temannya. Tapi, di balik kesuksesannya pasti ada perjuangan yang sangat keras, keluh kesal, pertumpahan air mata dan yang pasti ada juga kegagalan. Jadi, buku ini menceritakan semua perjuangan dan perjalanan hidup serta studi seorang Jerome Polin Sijabat yang bisa dikatakan mimpinya itu hampir mustahil, tapi bukan berarti tidak bisa digapai. .
Awal baca buku ini kita disuguhi oleh sebuah puisi yang indah dan pasti tidak biasa karena berisikan beberapa mapel menarik sebagai pembukaan dan penghantar sebelum kita terjun ke dalam perjalanan hidup seorang Jerome. .
Saat baru baca dan terjun ke dalam perjalanan hidup seorang Jerome, sejujurnya aku gk pernah memerhatikan udah baca sampai halaman berapa- Karena semua kata, kalimat dan cerita yang berbalut makna, keluh kesal dan suka duka berasa membuat kita nyaman bagaikan sedang mendengar sahabat kita sendiri sedang bercerita. Dan lebih lagi pembawaan seorang Jerome Polin juga dituangkan ke dalam cerita ini, itulah yang membuat cerita ini benar-benar berasa easy going banget dan enjoy banget, secara diselipin jokes dan quotes yang relate banget sama kehidupan kita, terlebih lagi kehidupan para pelajar. .
Sebenarnya buku ini adalah buku non-fiksi pertamaku dan buku terfavorit buatku, secara buku ini seperti memberikan pancaran emosi yang membuatku terharu sampai menangis ikut bahagia dan gk tahu gmna caranya buat berhenti nangis wkwkwk (ini betulan loh, aku serius) dan quotes serta mindset (terkhususnya yg tentang roma) yang dituangkan sangat relate dengan kehidupanku. Btw setelah baca buku ini aku jadi book-hangover dan buku ini really inspired me
Buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca, sepanjang buku penulis menyisipkan soal-soal matematika dan gambar-gambar juga quote yang memotivasi dalam judul : rumus jerome. Membaca buku ini saya jadi lebih termotivasi untuk bekerja keras dan menyerahkan hasil usaha kepada tuhan. Sungguh 2 prinsip yang terus diulang dan dipraktekkan oleh Jerome Polin Sijabat sepanjang hidupnya
overall good, but I think the book just told you the story of the writer and the value of the action he took not discussed about the deep meaning and life value
4.3⭐ (0.3 bonus karena video Kak Jerome itu temen aku kalau lagi down)
Tiga hal yang ingin aku bahas dalam ulasan ini: 1. Isi buku 2. Ilustrasi, soal, dan quotes 3. Perasaanku & makna yang aku dapat Terakhir: kesimpulan
Isi Buku Aku suka dengan cara Kak Jerome menulis buku ini. Sangat kelihatan ciri khas dia yang receh, pecicilan, heboh, dan penuh semangat. Cara Kak Jerome memotivasi juga lebih menyorot proses dibanding hasil. Selain itu, aku suka bagaimana nama Tuhan disebut dalam setiap perjalanan hidup yang Kak Jerome ceritakan.
Satu hal yang aku sayangkan adalah: isi buku ini kurang dalam. Kalau kalian penonton setia channel Nihongo Mantappu, kalian pasti sudah tahu hampir seluruh isi buku ini.
Ilustrasi, Soal, dan Quotes Menghibur. Ilustrasi yang disajikan sangat menyegarkan mata dan cukup akurat dalam meniru ekspresi Kak Jerome. Soal yang disajikan juga memiliki arti masing-masing dan memperkuat background Kak Jerome yang seorang mahasiswa Matematika Terapan. Quotesnya menurutku standar.
Perasaanku & Makna Awal membaca buku ini, entah kenapa ada perasaan kesal. Rasa kesal ini, setelah aku cari akarnya, berasal dari iri hati dan kekesalan akan diri sendiri. Aku belum bisa se konsisten, rajin, dan positif Kak Jerome. Alhasil, semangat yang selama ini redup kembali terbakar karena kenyataan baru ini. Aku termotivasi untuk berjuang mencapai mimpi kembali.
Kesimpulan Aku suka, tapi kurang puas. Semoga Tuhan senantiasa memberkati Kak Jerome dan orang2 disekeliling Kakak.
Mantap jiwa! Seneng aku baca usaha Jerome yang konsisten dalam mencapai sesuatu meski dia awalnya nggak langsung berhasil. Mereka, para netizen yang sok-sokan mem-bully anak ini karena beberapa flaw yang diputer-puter sampai bikin eneg cuma buat ngeramein thread, sudah sekonsisten apa kerja keras mereka untuk bisa berprestasi? Pake menertawakan dan meremehkan impian orang segala. Jerome sudah minta maaf pun tetap saja di-bully. Sudah jadi apa sih loe?
Jerome Polin lahir di Jakarta pada tanggal 2 Mei 1998. Tahun 1998 terjadi krisis moneter di Indonesia. Dampaknya terjadi kerusuhan terutama di Jakarta pada Mei 1998. Pada saat itu rumah-rumah dan toko-toko para etnis Tionghoa dijarah massa. Dan memang beberapa hari setelah Jerome lahir, terjadi kerusuhan sehingga banyak dokter takut datang ke rumah sakit. Beruntung Jerome lahir lebih cepat sehingga ia mendapatkan penanganan medis yang memadai.
Jerome berasal dari keluarga yang sederhana. Papanya adalah seorang pendeta dan mamanya adalah ibu rumah tangga. Akibat kerusuhan di tahun 1998, mayoritas pasar dan toko bahan makanan tidak beroperasi, sehingga orangtua Jerome tidak bisa memberikan gizi yang memadai bagi Jerome yang masih bayi.
Di tahun 2004, keluarga Jerome pindah ke Surabaya. Keluarganya kesulitan mencari SD yang bagus dengan biaya yang terjangkau bagi Jerome. Namun, kedua orangtuanya percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan mereka. Akhirnya mereka berhasi mendapatkan sekolah elit dan high class yang mau memberikan keringanan biaya bagi Jerome. Sekolah itu bernama IPH School. Kebanyakan siswa yang bersekolah di sana adalah anak-anak orang kaya di Surabaya. Jerome sempat iri pada teman-temannya yang bisa ikut kursus pelajaran tambahan di luar. Ia minta les Matematika KUMON pada mamanya, tapi sayangnya permintaan itu tidak bisa dikabulkan karena keluarganya tak punya uang. Sebagai gantinya, sang Mama memberikan soal-soal Matematika untuk dikerjakan Jerome. Setelah itu sang Mama membahas soal-soal tersebut bersama anaknya. Berkat les gratis dari mamanya, Jerome bisa bersaing dengan teman-teman sekolahnya. Dari sanalah Jerome jadi termotivasi untuk belajar mandiri. Selain berusaha, ia dan mamanya tak lupa terus berdoa siang-malam bagi kelancaran studi di IPH.
Setiap kali selesai liburan panjang, teman-teman Jerome sering menceritakan pengalaman mereka berwisata di luar negeri. Tentu saja saat itu Jerome tak bisa merasakan pengalaman yang sama karena saat liburan ia hanya bisa berjalan-jalan di daerah Surabaya, Malang, dan sekitarnya. Di antara cerita teman-temannya, ia paling terkesan dengan cerita soal keseruan bermain di Disneyland. Jerome pun bermimpi ingin bisa ke Disneyland bersama-sama keluarganya. Mimpi itu terus mengusiknya. Hingga akhirnya ia memutuskan bahwa cara paling masuk akal agar bisa dengan bebas pergi ke Disneyland adalah dengan kuliah di luar negeri.
Namun, saat Jerome menceritakan impian itu, orangtuanya mengatakan bahwa mereka tak punya uang untuk menguliahkan Jerome ke luar negeri. “Kalau kamu mau kuliah di luar negeri, jangan minta ke Papa-Mama, tapi minta ke Tuhan, ya.” Begitu kata mereka.
Awalnya Jerome lemas dengan kenyataan itu. Tapi kemudian semangatnya kembali menyala. Ia bertekad mendapatkan beasiswa penuh. Sejak SMP, Jerome pun rajin riset mengenai beasiswa penuh untuk S1. Ia menggali dari internet, koran, teman-teman, hingga teman dari temannya. Dari sana ia mendapat informasi bahwa beasiswa penuh untuk S1 di luar negeri bisa didapat dari NTU (Nanyang Technological University) Singapura dan NUS (National University Singapore). Saat itu dua universitas itu adalah universitas terbaik nomor 20 di seluruh dunia, dan nomor 1 serta 2 di Asia. Tes masuk NTU dan NUS terdiri dari tiga mata pelajaran: Matematika, Fisika, dan Bahasa Inggris. Awalnya ia yakin bisa lulus tes karena kemampuannya di sekolah bagus. Namun, kesombongannya runtuh saat melihat kisi-kisi dan contoh soal dari ujian tahun-tahun sebelumnya. Soalnya sangat berbeda dari tipe soal yang selama ini ia kerjakan di sekolah. Meski optimismenya sempat menghilang, ia kembali berpikir: “Bagi Tuhan, tak ada yang mustahil.” Semangatnya pun kembali.
Sejak kelas 10 SMA akhirnya ia terdorong untuk mengikuti berbagai olimpiade Matematika berkat dorongan gurunya. Ia terus berlatih mengerjakan soal meski adakalanya capek dan jadi harus mengorbankan pergaulannya di dunia nyata maupun media sosial. Namun, meskipun sudah belajar mati-matian dan banyak mengikuti lomba, ia tak kunjung menang lomba. Jerome pun merasa frustrasi dan marah. Adakalanya ia bertanya-tanya soal nasibnya kepada Tuhan. Namun, setiap berdoa, ia merasa ada suara yang mengingatkan dirinya: “Jangan berhenti dulu. Jangan menyerah dulu.” Karena jika ia berhenti, makan selamanya ia tidak akan punya kesempatan untuk menang.
Ia pun memaksa dirinya untuk terus ikut lomba. Baru saat kelas 11, ia berhasil mendapatkan Juara 3 dalam Olimpiade Matematika tingkat nasional yang diadakan Universitas Brawijaya. Baginya kemenangan pertama itu terasa begitu mahal. Harapannya untuk bisa mendapatkan beasiswa dari NTU dan NUS kembali terbit. Karena jika ia berhasil mengerjakan soal Olimpiade Matematika, kemungkinan dia juga akan mampu mengerjakan soal tes masuk NTU dan NUS. Ia semakin sering ikut Olimpiade Matematika dengan keyakinan practice makes perfect. Semakin sering ikut lomba ia jadi lebih terbiasa, percaya diri, dan bisa mengatasi ketegangan serta punya mental yang lebih kuat kala melihat peserta lain tampaknya lebih pintar dan punya persiapan lebih matang. Semakin banyak lomba yang ia menangkan. Beberapa di antaranya memberikan jaminan beasiswa penuh S1 di beberapa universitas di Indonesia. Ia menyimpan jaminan itu untuk jaga-jaga saja. Fokusnya tetap pada NTU dan NUS.
Jerome terus berusaha mencari informasi beasiswa dan rajin mengikuti pameran pendidikan. Ia juga rajin memantau website beasiswa dan mendaftar di beberapa beasiswa seperti beasiswa CIMB Niaga, beasiswa Ancora Khazanah Foundation di Malaysia, dan beasiswa Metro. Setiap hari ia belajar mengerjakan soal-soal Fisika dan Matematika.
23 Januari 2016, tibalah hari tes masuk National University of Singapore. Ujiannya diadakan di Hotel Ciputra Mall, Jakarta. Ia sempat mental breakdown saat melihat orang-orang jago yang sering ia temui di berbagai Olimpiade Matematika juga ikut registrasi ulang. Saat tes, ia lumayan bisa mengerjakan soal Matematika dan Bahasa Inggris, tapi kesulitan di soal Fisika. Jerome kemudian mempersiapkan diri untuk tes masuk Nanyang Technological University yang akan diadakan minggu depan. Di hari ujian, ia langsung panik karena soal-soal Matematika yang ia pelajari malah tidak keluar. Ia pun hanya bisa pasrah dan mengerjakan sebisanya.
Pada akhirnya ia tidak mendapat e-mail dari NUS yang berarti dirinya tidak lulus ujian. Namun, ternyata ia diterima di NTU sayangnya... ia tidak mendapatkan tawaran beasiswa penuh. Jerome merasa hancur karena impian yang sudah diperjuangkannya sejak kecil tidak kesampaian. Jerome butuh waktu sebelum bisa menerima kenyataan pahit itu dan bersiap kuliah S1 di dalam negeri saja.
Kemudian tanggal 21 Februari 2016, tepat satu minggu sebelum pendaftaran beasiswa Mitsui Bussan ditutup, kakaknya memberitahunya informasi tentang beasiswa itu. Jerome pun segera mencari informasi melalui Google. Dia mempelajari ketentuan beasiswa dari laman resmi dan juga dari berbagai blog berisi pengalaman para peserta seleksi tes beasiswa. Beasiswa Mitsui Bussan mencari para siswa yang setelah menyelesaikan studi bersedia kembali ke negara asal dan memberikan kontribusi bagi bangsanya. Jerome yang memiliki keinginan untuk bisa mengabdi kepada negara kembali bersemangat. Ia lega karena beasiswa ini tidak mensyaratkan TOEFL maupun IELTS, juga kemampuan berbahasa Jepang. Bahkan ia kaget karena syarat-syarat yang ada seperti nilai rapor di atas 70 terasa begitu mudah baginya. Meski begitu ia sempat pusing karena dari sekian ribu pelamar, hanya akan ada dua orang yang terpilih.
Dengan bingung dan ragu, ia pun mendaftar dengan dukungan kedua orangtuanya. Tanggal 26 Maret 2016, Jerome mendapat e-mail dari pihak Mitsui Bussan yang menyatakan bahwa dirinya lolos seleksi administrasi dan bisa mengikuti ujian tes tulis di Jakarta. Ujiannya berlangsung pada tanggal 26 April 2016. Di tempat ujian, ia sempat minder karena ternyata peserta ujian lainnya sudah mahasiswa, sedangkan dia sendiri baru lulus SMA. Ujian berlangsung selama satu jam dengan jumlah soal sebanyak 20. Setelah berdoa, ia pun mulai mengerjakan. Saat itulah Jerome merasa latihannya mengerjakan soal-soal Olimpiade Matematika terbayar. Soal-soal yang dihadapinya dalam ujian Matematika Mitsui Bussan tak jauh berbeda dengan soal-soal yang selama ini dihadapinya saat Olimpiade. Dengan rasa percaya diri ia pun menyelesaikan ujian hanya dalam waktu dua puluh menit. Namun, ia tetap memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengecek kembali jawaban-jawabannya. Setelah satu jam waktu istirahat, ujian Bahasa Inggris dimulai. Jerome merasa kesulitan mengerjakannya karena tipe soalnya berbeda dengan tipe soal TOEFL dan latian-latihan soal yang selama ini pernah ia kerjakan.
Pada akhirnya, dari sekitar 180 peserta tes tulis, hanya 22 orang yang lolos. Salah satunya adalah Jerome. Para peserta yang lolos diberi waktu dua minggu sebelum menjalani tes selanjutnya. Jerome kembali melakukan persiapan mati-matian. Untuk persiapan tes kesehatan, ia menjaga makan dan berolahraga. Untuk tes psikologi, ia mencari informasi soal tes dan latihan mengerjakan soal-soalnya baik dari buku, website, maupun YouTube.
Tanggal 12 Mei 2016, Jerome pun menjalani ujian tahap selanjutnya di Universitas Indonesia, Salemba. Lagi-lagi ia terkejut karena jenis soalnya berbeda dengan soal-soal yang pernah ia kerjakan. Ia hanya bisa mengerjakan soal sebisanya dengan pasrah. Setelah ia itu menjalani tes diskusi kelompok dan wawancara singkat. Besoknya, ia mengikuti tes kesehatan.
Pengumuman ujian baru keluar sebulan kemudian. Selama sebulan perasaan Jerome terus gelisah. Hingga akhirnya daftar empat belas orang yang lolos ujian pun keluar dan lagi-lagi Jerome termasuk. Ia pun berlatih untuk tes wawancara yang akan diadakan 21 Juni 2016. Ia terus mencari tahu soal daftar pertanyaan yang kira-kira akan ditanyakan, cara menjawab dengan baik dan benar, hingga etika ketika menghadapi ujian wawancara. Setiap hari ia berlatih dengan menghafalkan jawaban, berlatih, dan meminta pendapat pada orangtua dan kakaknya. Ia juga terus berdoa.
Saat wawancara di hari-H, para peserta ditanyai tentang sejarah Jepang, makanan Jepang, penerima Nobel Prize dari Jepang, universitas impian, dan lain sebagainya. Semua itu sudah termasuk daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan Jerome, jadi ia tidak terlalu panik. Saat ditanya tentang cita-citanya, ia menjawab dirinya ingin jadi Menteri Pendidikan Indonesia karena kunci dari kemajuan negara adalah pembangunan dan kunci dari pembangunan adalah pendidikan. Ia ingin memajukan Indonesia. Para pewawancara tampaknya senang dengan jawabannya. Dari pewawancara juga Jerome akhirnya mengetahui bahwa nilai Matematikanya adalah yang paling tinggi di antara semua peserta. Nilainya 99, nyaris sempurna. Usaha benar-benar tidak mengkhianati hasil.
Selesai tes wawancara, ia merasa yakin dan positif. Tapi ia ia juga cemas karena hanya akan ada dua orang yang diterima dari empat belas peserta. Namun, kekhawatirannya terjawab, tiga hari kemudian ia mendapatkan telepon dari pihak Mitsui Bussan yang menyatakan bahwa dirinya berhasil lulus seleksi beasiswa!
3 Poin utama dari buku ini: Informatif, Motivatif, Menghibur.
=== Tanggapan Pribadi terhadap Penulis ===
Sebelum mengenal Jerome melalui akun Instagramnya, saya terlebih dahulu mengenal produknya dia, Q&A Math. Karena kami seangkatan, dan waktu itu LINE lagi rame-ramenya dibanding opsi lain seperti BBM, otomatis saya pribadi juga sering aktif di LINE.
Salah satu kutipan dari Jerome yang saya setujui terkait fenomena saat itu, di LINE, kebanyakan postingan yang beredar saat itu adalah postingan cinta-cintaan, galau-galauan, hal-hal yang menurut saya pribadi juga kurang edukatif dan informatif.
Mengikuti jejak Q&A Math yang ingin mentranformasi sosmed menjadi alternatif media pembelajaran, saya dan teman-teman membuat grup PERSIAPAN SBMPTN 2016, yang awalnya cuman terdiri dari anak-anak yang minat belajar dari 2 sekolah, hingga ngga tau asalnya dari mana aja. Dan sejak saat itu jadi sangat termotivasi untuk membangun pendidikan di Indonesia juga, karena sebetulnya banyak yang minat, tetapi kurang wadah yang membantu mendorong minat mereka.
=== Tanggapan terhadap Buku ===
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, buku ini memiliki 3 poin utama.
=== Tanggapan terhadap Buku: Motivatif ===
Menurut saya, ini termasuk buku BIOGRAFI, yang dimana, setiap buku BIOGRAFI sering kali bersifat memotivasi. Karena pada buku ini, Jerome menceritakan keadaan mulai dia sebelum lahir, perjuangannya sejak SD, lalu perjuangan dan persiapannya yang dilakukan sejak SMA, hingga pada akhirnya menjadi sosok sekarang yang banyak orang kenal di sosmed.
=== Tanggapan terhadap Buku: Informatif ===
Karena buku BIOGRAFI ini menjelaskan BIOGRAFI dari seseorang yang usianya masih 20-an, informasi-informasi yang tertera disini menurut saya masih sangat HOT. Dalam artian, informasi seperti informasi beasiswa untuk pendidikan Sekolah Dasar, informasi beasiswa untuk Kuliah S1 di Singapura dan di Jepang, ini kemungkinan besar di tahun-tahun kedepan masih akan terus ada, sehingga para pembaca yang membutuhkan informasi tersebut sangat terbantu.
Berbeda dengan misal buku Biografi yang terjadi pada era sebelum masehi, tidak banyak hal yang terjadi pada era tersebut yang bisa dengan mudah diterapkan/dicari pada era ini tentunya.
=== Tanggapan terhadap Buku: Menghibur ===
Karena buku ini ditulis oleh pemilik cerita itu sendiri, pastinya sudut pandang penulisannya akan sangat berbeda dari kebanyakan buku sejarah/biografi yang ditulis oleh orang lain berdasarkan informasi-informasi yang tersedia. Jerome disini sering sekali memberikan candaan receh di tulisannya, yang tidak umum ditulis pada kebanyakan buku biografi lainnya.
Hal ini sangat unik, dan menghibur, sehingga menurut saya pribadi, buku ini menjadi lebih mudah untuk dibaca dibanding buku yang lain. Saya dengan mudah terbawa arus penulisan pada buku ini, dan ini adalah buku kedua yang saya dapat tuntaskan dalam waktu kurang dari 3 hari dengan tiap hari dibaca 2 jam.
Namun karena buku biografi ini ditulis oleh pelakunya sendiri, hal ini menyebabkan juga banyak informasi yang seharusnya ada di buku ini, justru tidak tertulis atau mungkin tidak sempat terpikirkan oleh sang penulis sendiri. Dan sebaliknya, informasi yang seharusnya tidak tertulis di buku ini, justru malah tertulis disini.
=== Overall ===
Saya setuju dengan tanggapan teman-teman, setelah membaca buku ini, saya juga merasa demikian, buku ini kurang 'dalam'. Terlalu banyak hal yang hanya dibahas pada permukaannya saja, hanya sebagian saja yang sampai 'dalam' dan itupun dapat dihitung dengan jari.
Tapi menurut saya ini cukup menghibur dan informatif, sebagai seorang yang juga memiliki keinginan untuk memajukan bangsa, buku ini tamparan bagi saya. Saya selama ini tidak berbuat apa-apa, hanya melemparkan tanggapan dan argumen saja tanpa berbuat nyata. Sementara Jerome memulai dengan hal kecil hingga akhirnya saat ini terlihat luar biasa.
Thank you Jerome sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini saya tanyakan ke diri sendiri.
Jadi, buku ini sebenarnya isinya tentang cerita seorang Influencer ya (sebutannya sekarang), Jerome Polin. Alurnya dimulai pas lahir sampai dia sekarang. Yang ku salut sama dia adalah cara belajarnya sih buat menggapai impiannya. Dibalik apa yang dia dapatkan sekarang, ada juga kisah kegagalannya. Namanya juga berproses ya. Menurutku, inspiratif ya. Aku ngikutin ceritanya Jerome di Youtube, jadi bisa dibilang buku ini versi tertulisnya dari Youtube.
Buku ini jadi lebih menarik karena pengemasannya tuh ringan banget, ngga kaya menggurui, dan banyak ilustrasinya yang gemes banget. Ilustrasinya banyak rumus matematika gitu ya. Tapi, Jerome bagi 'rumus' yang dia pake buat ngejalanin hidupnya gitu. Salah satunya kaya gini:
"Karena Tuhan lebih tahu Roma mana yang terbaik untuk kita." (hal.205).
Atau gini:
"Apa yang kelihatan mustahil. Jika kita coba kerjakan dengan tekun, bisa jadi kenyataan." (hal. 154).
Kalau buat aku ya, buat yang ngga suka matematika coba deh belajar sama Jerome. Dia bisa ngebahas matematika jadi menarik gitu. Ngga bikin apa ya, matematika itu sebagai suatu hal yang menakutkan. Tapi, bisa jadi pembuka jalan kesuksesan gitu. Aku yang bukan jurusan matematika aja, jadi tertarik buat belajar matematika karena ya sepenting itu.
Buat kamu yang masih sekolah, kayanya pas banget buat baca buku yang satu ini. Apalagi yang punya mimpi bisa sekolah ke luar negeri. Soalnya, mantappu jiwa! Hahaha
EHEM. CIE GUE JADI YANG PERTAMA REVIIIIEEEW. ICIKIWIR LUMVVA-LUMVVA.
Jadi, ikut PO buku ini tuuuu amat zangat melelahkan! KARENA DI AWAL DIRIQU INI KEABIZZZZZAN!!!! DAN TIBA-TIBA WOEEEE ADA JILID KEDUA. EANJIRRRR.
Kezalahan diriQ saat gelombang (cailaa gelombanGG) pertama menjadikans diriQ blajar dengan baeeeq. Q sangat penuh persiapan! DAN VOILA GUA DAPET. SUJUD SUKUR LNGSUNG BEIB.
Oke, ini buku Youtuber ke-4 yang gue baca. Pendahlunya adala Deddy, Ria dan Ria. Ya paham dah ye kan.
Buku ini nyeritain ttg kegigihan seorang jerome yang tidak diterima di universitas pilihannya. Kemudian beliau tetap berjuang meski ujung-ujungnya tetap ditolaq... yha sedih sekale... tapi akhirnya takdir berkehendak layn.... dia pun mendapatkan universitas di Jepang nunjauh di zanaaaah~
Singkat kata buku ini lebih semacam memoar (anjay tadi gw ty ke temen gw kata yg tepat apa abis gue ingetnya memory ahahahahah yaqalew) si penulis. DAN INTINYA KITA INI MANUSIA-MUNUSIA QUAT KEK KATA TULUS KALO GIGIH BERJUANG MERAIH MIMPI. Anjay cus.
Bagus seh, tapi we agak bingung sama gaya nuliz bang Jerome disini. Apa ya? Ga smooth(ie) gitu bacanya, patah-patah kek jogetnya Inul. Istilahnya kaya orang buku yg komplen sama novel wattpad gt. Ya ga tao juga sehhh......
Uda gitu ada tu bagian komik yang uda ada dalam narasi (itu maksudnya biar panjang ya bukunya?). Banyak halaman kosong yg ga paham akutu buat apa. Uda gitu ilustrasinya ga singkron. Apa ya kaya ga stabil? Du susah juga ni gue berkata-katanya hadeh. Kaya apa siy gitu, kaya ga konsisten. Pokoke gitu lah.
Kalo tekniz, we mo bicarain isinya yang redup warnanya. Sama bonusnya yg gt doang. Kaga spesial anjir. Untug bukunya dittd-in. Duh apaka aQ mesti ke fx jugaaa liat kamoooh bang?
Intinya we cukup kecele siii isinya begini doang wk. DAN GUA PUYENG LIAt ANGKa DI BUKU INI HUHU. HELEEEEEP. AI BENCI MAT. WAKAKAKA. Inisi guanya aj yg bedonnnnnn nyiahahaha.
3 bintang di sini artinya aQ masi sukkkkkkka... sesuai penjelasan goodreads.
Aku suka definisi Jerome untuk kata "berserah pada Tuhan". Suka sekali.
Buku ini berisi perjalanan dari lahir (sekilas banget) sampai kuliah di Waseda Uni. Ya jujur, aku harapnya lebih detail, tapi di buku ini engga terlalu spesifik kesan jatuh bangunnya. Kurang greget. Dan ya terlalu colorful. Kalo soal warna warni ada positif negatifnya ya. Kalau buat remaja yang mulai baca buku, kayanya buku ini cocok banget. Mungkin memang segmentasi buku ini bukan buatku, tapi untuk remaja, atau memang terlalu terburu buru untuk diterbitkan? Ntahlah. Tapi aku ngerasa ada banyak hal yang lebih dalam digali untuk diceritakan. Kayanya kalo Jerome bikin buku soal matematika bakal aku beli. Haha.
Buku pertama yang saya selesaikan baca melalui Gramedia Digital Book. Selesai dalam sekali duduk saat sedang menunggu pesawat hingga setengah perjalanan menuju Jakarta. Meskipun mungkin buku ini idealnya dibaca oleh anak SMA kelas 1-2, saya tetap menikmati membacanya. Substansi yang ingin disampaikan Jerome relevan untuk diterapkan oleh semua orang yang sedang berjuang meraih impian. Saya merasa diingatkan kembali untuk fokus pada tujuan dan bekerja keras sampai tujuan itu terwujud. Penulis adalah mahasiswa S1 Matematika Terapan Waseda University, penerima beasiswa Mitsui Busan. Buku ini berisi tentang cerita perjalanan hidup penulis dari lahir sampai sekarang, yang menurut saya cukup inspiratif. Desain buku asik (khas Jerome), ada beberapa coretan rumus, soal, dan penyelesaian soal matematika yang menghiasi halaman. Ada #rumusjerome yang merupakan prinsip penulis dalam menjalani hidupnya. Salah satu #rumusjerome adalah: Roma yang kita tuju belum tentu Roma terbaik yang Tuhan siapkan. Membaca beberapa #rumusjerome itu membuat saya (mungkin) bisa memahami kenapa penulis ini kesannya bahagia terus, ga ada susahnya , dan selalu positif. Padahal kalau dilihat, penulis memiliki banyak sekali kegiatan (he often goes sleep at 4 am). Diantara kemampuan bahasa Jepang yang saat itu belum advance dan kesibukan belajar, sempat-sempatnya ikut lomba pidato bahasa Jepang. Ajaib, tapi, ya penulis memang senekat dan segigih itu sih. Semoga semakin banyak anak SMA yang membaca buku ini dan terinspirasi untuk bekerja keras menggapai mimpi. Mantappu Jiwa lah.
Mantappu Jiwa emang!! Luar biasa membaca perjuangan kak Jerome agar cita-citanya tercapai. Rasanya segala kesuksesannya sekarang adalah buah usahanya yang mati-matian. Gila deh kak Jerome, belajar teruuus, matematika lagi.
Isinya banyak banget kalimat motivasi agar tetap semangat mencapai cita-cita. Dan jujur, semuanya bikin aku 'jreng' lagi. Kalau kita cuma melihat hasil orang lain siih bakalan "wah enak banget ya, dia jenius!" Padahal dibalik itu semua ada usaha, pengorbanan, keringat, air mata dan masih banyak lagi.
Dengan membaca Mantappu Jiwa ini, aku lebih dekat lagi mengenal sosok kak Jerome. YouTuber kocak dan mahasiswa Waseda University itu ternyata memang gila banget sama belajar. Bacanya saja ikut-ikutan capek. Harus menghafal Katakana, Hiragana, belajar matematika, fisika, kimia dalam bahasa Jepang, kebayang kan capeknya kayak gimana. Hasil yang diperoleh kak Jerome emang sesuai banget sama usahanya.
Waaah dapat pelajaran buanyak bangett dari sini. Dapat motivasi, dapat keyakinan, dapat keseruan, pokoknya dapat semangat lagi deh.
4,5 dari 5 untuk buku ini. 0,5 nya karena kalimatnya banyak yang kurang nyaman buat aku pribadi, terus ada juga pengulangan kata yang buat aku juga nggak nyaman. Selain itu, suka semuanya! Covernya, kertasnya (full colour! Suka banget, baca jadi semangat), ceritanya, soalnya juga. Waaah kak Jerome emang pemuda yang patut dicontoh. Ulet, ganteng, pinter, pantang menyerah. Semoga aku juga tetap semangat seperti kak Jerome :)
Sebenarnya aku nggak kenal Jerome Polin selain beberapa twit garingnya yang lewat di linimasa. Terus akhirnya tahu dia youtuber/mahasiswa matematika di Jepang setelah ngonbrol dengan teman.
Baca ini pun berkat keisengan karena lihat 2 orang yang memberikan ulasan positif, jadinya aku penasaran. Eh pas nyoba baca, ternyata asyik juga dan nggak terasa sudah habis.
Selain pengalaman menuju "Roma" Jerome yang keren gilak, buku ini dikemas dengan cantik seperti penambahan ilustrasi dan penyelesaian soal-soal matematika. Aku bakal kasih baca buku ini untuk adik-adikku!
Secara keseluruhan, buku ini perlu dibaca banyak anak muda, adik-adik kelas Jerome dimana pun berada, bahwa mimpi itu bukan sekedar bunga tidur. Mimpi bisa menjadi kenyataan ketika mimpi itu dikejar untuk diwujudkan dengan kerja keras pantang menyerah. Ada banyak jalan menuju Roma, hanya Tuhan yang tahu Roma di bagian mana yang sudah disediakan untuk kita. Ja, mataneeee… MANTAPPU JIWAAAAAAA….
This book is very wonderful. I'll recomend this to all people who still struggling to reach their dreams. This made me upside down when I was reading it. I could feel how jerome fought his dreams. The ways to reach his dreams weren't easy, but he can manage to reach them. He also give advises there like if you don't get what you want maybe God has been preparing you to give better, so you have to keep hard working to reach your dream and you have to believe that God always besides you to guide you. Just keep fighting, then you can surrender all to God. God will work for you.
Membaca cerita ini mengingatkanku pada adikku. Memang orang-orang yang telah berusaha secara luar biasa, pantas mendapatkan hal-hal luar biasa.
Sebuah buku yang bagus untuk memotivasi, bukan hanya untuk adik-adik yang sedang sekolah, tapi juga kita, para pembelajar yang selalu mengeluh bahwa waktu 24 jam sehari tak cukup.
Kesan yang ku tangkap tentang Jerome dari buku ini adalah : ga bisa diem. Beneran deh dia ikut beragam aktivitas mulai dari sekolah, musik, olahraga sampai jadi youtuber! Bener-bener dah. Aku sebagai pembaca dan penikmat konten-konten youtube jerome merasa terhibur, terinspirasi dan jadi semangat buat meraih cita-cita. Makasih ya! Haha