What do you think?


Merusak Bumi dari Meja Makan
Sudah banyak penelitian yang mewartakan bahan plastik—termasuk yang terlihat paling remeh, kantong plastik—memerlukan ratusan hingga ribuan tahun agar dapat terurai secara alami. Sialnya, rentang waktu penguraian yang lama tersebut sungguh sangat membebani keseimbangan ekologis.
Bahan plastik sering digunakan dalam keseharian kita—di pasar, di dapur, di kamar mandi, di ruang tamu, di meja makan. Namun, jarang kita sadari, justru di “meja makan” plastik paling jamak datang dan pergi. “Meja makan” mengundang hadirnya plastik (minimal kantong plastik) melalui pembelian bahan-bahan konsumsi, sekaligus menghasilkan sampah plastik yang dibuang bersama sisa-sisa makanan.
Buku ini merupakan kumpulan esai yang berupaya, secara pelan, mengetuk pintu kesadaran betapa “meja makan” dapat menyumbang peran meringkus bumi ke dalam kerusakan. Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang segar, ringan, dan jenaka. Persoalan-persoalan ekologis, wabilkhusus ihwal sampah plastik yang paling sering berputar dari dan untuk “meja makan”, didedah dengan narasi reflektif tanpa bernada menggurui.
Bahan plastik sering digunakan dalam keseharian kita—di pasar, di dapur, di kamar mandi, di ruang tamu, di meja makan. Namun, jarang kita sadari, justru di “meja makan” plastik paling jamak datang dan pergi. “Meja makan” mengundang hadirnya plastik (minimal kantong plastik) melalui pembelian bahan-bahan konsumsi, sekaligus menghasilkan sampah plastik yang dibuang bersama sisa-sisa makanan.
Buku ini merupakan kumpulan esai yang berupaya, secara pelan, mengetuk pintu kesadaran betapa “meja makan” dapat menyumbang peran meringkus bumi ke dalam kerusakan. Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang segar, ringan, dan jenaka. Persoalan-persoalan ekologis, wabilkhusus ihwal sampah plastik yang paling sering berputar dari dan untuk “meja makan”, didedah dengan narasi reflektif tanpa bernada menggurui.
140 pages, Paperback
First published January 1, 2020
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
June 8, 2025
47 - 2025
Soal pengelolaan sampah utamanya sampah plastik sebenarnya bukan hal baru buat saya. Dari sebelum pandemi saya udah rajin memilah sampah, bikin komposter sendiri di rumah, motongin plastik bekas makanan untuk ecobrick, menggunakan lagi kantong kresek plastik, bawa tumbler, ngasih abang yang ngangkut sampah botol-botol PET, dsb dsb. Tentu saja buku ini menuliskan gak banyak hal baru buat saya.
Buku ini hadiah dari Kak Roos pas ketemu di bandara 3 hari lalu, karena sampulnya warna oranye (sama dengan tantangan bulan ini) akhirnya lanjut dibaca langsung. Ternyata ini ditulis oleh seorang pengajar di pondok pesantren, ya wajar aja kebanyakan tulisan di dalam tiap judulnya berkaitan dengan ajaran islam. Menyenangkan juga ketika mengetahui bahwa di pesantren sudah punya program untuk mengelola sampah sendiri. Namun, tulisan-tulisan dalam buku ini tidak dibarengi dengan upaya-upaya di luar sana (khususnya Indonesia) untuk mengurangi sampah itu sendiri. Baik juga dong proses baik dan pengelolaan sampah yang makin dijalankan oleh banyak orang saat ini, juga gen z. Biar seimbang, ndak yang menakutkan soal plastik (yang memang sudah mengerikan dampaknya) aja. Praktik baiknya banyak, dan perlu dituliskan lebih banyak.
Kalimat menarik di dalam buku ini.
..... peperangan di antara gerombolan yang "merasa kurang" dan yang "takut kekurangan", korbannya adalah mereka yang "sedang kekurangan".
Soal pengelolaan sampah utamanya sampah plastik sebenarnya bukan hal baru buat saya. Dari sebelum pandemi saya udah rajin memilah sampah, bikin komposter sendiri di rumah, motongin plastik bekas makanan untuk ecobrick, menggunakan lagi kantong kresek plastik, bawa tumbler, ngasih abang yang ngangkut sampah botol-botol PET, dsb dsb. Tentu saja buku ini menuliskan gak banyak hal baru buat saya.
Buku ini hadiah dari Kak Roos pas ketemu di bandara 3 hari lalu, karena sampulnya warna oranye (sama dengan tantangan bulan ini) akhirnya lanjut dibaca langsung. Ternyata ini ditulis oleh seorang pengajar di pondok pesantren, ya wajar aja kebanyakan tulisan di dalam tiap judulnya berkaitan dengan ajaran islam. Menyenangkan juga ketika mengetahui bahwa di pesantren sudah punya program untuk mengelola sampah sendiri. Namun, tulisan-tulisan dalam buku ini tidak dibarengi dengan upaya-upaya di luar sana (khususnya Indonesia) untuk mengurangi sampah itu sendiri. Baik juga dong proses baik dan pengelolaan sampah yang makin dijalankan oleh banyak orang saat ini, juga gen z. Biar seimbang, ndak yang menakutkan soal plastik (yang memang sudah mengerikan dampaknya) aja. Praktik baiknya banyak, dan perlu dituliskan lebih banyak.
Kalimat menarik di dalam buku ini.
..... peperangan di antara gerombolan yang "merasa kurang" dan yang "takut kekurangan", korbannya adalah mereka yang "sedang kekurangan".
February 2, 2025
• Merusak Bumi dari Meja Makan •
🍻Beli pentol pakai plastik, bungkus cimol juga plastik, batogar juga pakai plastik yang cara makannya dari ujung plastik. Dimakan sama es teh yang juga pakai plastik. Perut kenyang, makanan habis, plastiknya kemana? 🙂
🍻Kita sering berpikir bahwa kerusakan lingkungan terjadi karena industri besar, kendaraan bermotor, atau limbah pabrik. Tapi pernahkah kita sadar bahwa apa yang kita makan setiap hari juga bisa merusak bumi?
🍻Buku ini mengajak kita melihat kembali pola konsumsi yang kita anggap biasa, tetapi ternyata berdampak besar bagi lingkungan. Dari cara kita memilih bahan makanan, memproduksi, hingga membuang sisa makanan—semuanya berkontribusi terhadap jejak ekologis yang sering kali kita abaikan
🍻Banyak fakta tentang industri pangan yang mungkin jarang kita pikirkan, Tidak terasa seperti membaca buku akademik, justru terasa seperti diajak ngobrol oleh seseorang yang ingin kita lebih sadar.
🍻Beli pentol pakai plastik, bungkus cimol juga plastik, batogar juga pakai plastik yang cara makannya dari ujung plastik. Dimakan sama es teh yang juga pakai plastik. Perut kenyang, makanan habis, plastiknya kemana? 🙂
🍻Kita sering berpikir bahwa kerusakan lingkungan terjadi karena industri besar, kendaraan bermotor, atau limbah pabrik. Tapi pernahkah kita sadar bahwa apa yang kita makan setiap hari juga bisa merusak bumi?
🍻Buku ini mengajak kita melihat kembali pola konsumsi yang kita anggap biasa, tetapi ternyata berdampak besar bagi lingkungan. Dari cara kita memilih bahan makanan, memproduksi, hingga membuang sisa makanan—semuanya berkontribusi terhadap jejak ekologis yang sering kali kita abaikan
🍻Banyak fakta tentang industri pangan yang mungkin jarang kita pikirkan, Tidak terasa seperti membaca buku akademik, justru terasa seperti diajak ngobrol oleh seseorang yang ingin kita lebih sadar.
February 16, 2020
Adakah yang lebih abadi daripada cinta Majnun kepada Laila? Ada, di antaranya ialah kotak styrofoam, bungkus nasi Majnun Laila milenial, bungkus makan siang mereka berdua yang akan tetap abadi di atas tanah saat mereka sudah terkubur di baliknya. (hal.76)
Esai-esai dalam buku ini memang "hampir semua" didasarkan pada budaya Islam--misalkan bagaimana memilih makanan secara islam (halal, toyibah). Tetapi kemudian bergerak ke arah lingkungan.
Manusia adalah makhluk ironi. Sering dengan dalih pemenuhan kebutuhan, justru merusak. Ikan yang menyediakan sumber protein, bukan manusia yang menumbuhkan dan memperbanyak populasi, justru manusia yang mengeruk mereka bahkan dengan pukat. Belum puas, masih harus dirusak tempat ikan tinggal.
Dan justru paling senang adalah diskusi-diskusi meja makan.
Buku tipis yang menyegarkan.
August 16, 2026
Merusak Bumi dari Meja Makan adalah kumpulan tulisan pendek M. Faizi tentang kerusakan lingkungan yang sebetulnya dekat dengan aktivitas kita sehari-hari, terutama kegiatan di meja makan.
Ada beberapa poin menarik yang disampaikan, salah satunya tentang bagaimana perilaku menjaga bumi sebetulnya ada di dalam ajaran Islam, dan pendapat penulis bahwa pesantren bisa jadi tempat yang strategis untuk menumbuhkan sikap cinta lingkungan sesuai dengan ajaran agama.
Melalui buku ini, aku jadi diingatkan lagi kalau isu iklim memang nggak berdiri sendiri. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk hal-hal yang bisa jadi terasa tidak berhubungan. Sayangnya, menurutku, topiknya nggak dibahas secara mendalam dan terasa lompat-lompat. Buku ini mungkin cocok untuk orang yang baru mau mengulik hubungan antara isu iklim dengan islam, tapi untuk yang sudah familiar dengan keduanya, kurasa buku ini akan terasa seperti informasi yang berulang-ulang.
Ada beberapa poin menarik yang disampaikan, salah satunya tentang bagaimana perilaku menjaga bumi sebetulnya ada di dalam ajaran Islam, dan pendapat penulis bahwa pesantren bisa jadi tempat yang strategis untuk menumbuhkan sikap cinta lingkungan sesuai dengan ajaran agama.
Melalui buku ini, aku jadi diingatkan lagi kalau isu iklim memang nggak berdiri sendiri. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk hal-hal yang bisa jadi terasa tidak berhubungan. Sayangnya, menurutku, topiknya nggak dibahas secara mendalam dan terasa lompat-lompat. Buku ini mungkin cocok untuk orang yang baru mau mengulik hubungan antara isu iklim dengan islam, tapi untuk yang sudah familiar dengan keduanya, kurasa buku ini akan terasa seperti informasi yang berulang-ulang.
June 7, 2024
Pengalaman pertamaku baca buku esai, dan ya ada beberapa yang kurang suka. Ada pernyataan yang menggeneralisir dan pembahasan yang entah kemana-mana. Bagiku tulisan ini dibuat untuk mengubah individu menjadi peduli dan mau mengambil sikap terhadap lingkungan. Padahal aku membayangkannya akan ada jawaban semisal bagaimana menyikapi ketidakpedulian terhadap lingkungan sedangkan kita hanya masyarakat konsumen? Atau kenapa sikap serba instan kita mendahului rasa peduli terhadap lingkungan, padahal agama Islam mengajarkan umatnya untuk peduli pada lingkungan?
Terlepas dari itu semua, buku ini cocok untuk mereka yang mencari bacaan ringan tentang lingkungan.
Terlepas dari itu semua, buku ini cocok untuk mereka yang mencari bacaan ringan tentang lingkungan.
September 5, 2026
Menurutku baca ini di tengah tahun 2026, jadi reminder buat menyelaraskan ulang prinsip islam dalam hal taktis kayak makan. Diingatkan lagi kenapa ga boleh mubazir dan buat lebih conscious alias berkesadaran bahwa segala sesuatu makanan yang kita sia-siakan itu berdiri dari rantai pasok dan perputaran energi yang panjang.
In a way aku malah keingetan film Young Sheldon, yang dimana setiap makan mereka berdoa "bless the hands who brought us food to this table, ameen." Karena kalo kita tilik lebih dalam, begitu banyak daya dan usaha yang dikeluarkan sampai akhirnya sesendok pangan itu masuk ke dalam mulut kita.
In a way aku malah keingetan film Young Sheldon, yang dimana setiap makan mereka berdoa "bless the hands who brought us food to this table, ameen." Karena kalo kita tilik lebih dalam, begitu banyak daya dan usaha yang dikeluarkan sampai akhirnya sesendok pangan itu masuk ke dalam mulut kita.
March 1, 2024
M Faizi itu 'M'-nya untuk Mas Faizi gitu ya? Esainya muda banget wkwk.
Membaca Merusak Bumi dari Meja Makan bikin sadar betapa dahsyat efek dari denting garpu, remah-remah sisa yang dianggap 'takguna', tisu pembersih belepotan di mulut, dan aktivitas-aktivitas lain yang, bagi saya dulu, terasa "ah cuma kayak gini." Sungkem...
Membaca Merusak Bumi dari Meja Makan bikin sadar betapa dahsyat efek dari denting garpu, remah-remah sisa yang dianggap 'takguna', tisu pembersih belepotan di mulut, dan aktivitas-aktivitas lain yang, bagi saya dulu, terasa "ah cuma kayak gini." Sungkem...
Displaying 1 - 7 of 7 reviews







