47 - 2025
Soal pengelolaan sampah utamanya sampah plastik sebenarnya bukan hal baru buat saya. Dari sebelum pandemi saya udah rajin memilah sampah, bikin komposter sendiri di rumah, motongin plastik bekas makanan untuk ecobrick, menggunakan lagi kantong kresek plastik, bawa tumbler, ngasih abang yang ngangkut sampah botol-botol PET, dsb dsb. Tentu saja buku ini menuliskan gak banyak hal baru buat saya.
Buku ini hadiah dari Kak Roos pas ketemu di bandara 3 hari lalu, karena sampulnya warna oranye (sama dengan tantangan bulan ini) akhirnya lanjut dibaca langsung. Ternyata ini ditulis oleh seorang pengajar di pondok pesantren, ya wajar aja kebanyakan tulisan di dalam tiap judulnya berkaitan dengan ajaran islam. Menyenangkan juga ketika mengetahui bahwa di pesantren sudah punya program untuk mengelola sampah sendiri. Namun, tulisan-tulisan dalam buku ini tidak dibarengi dengan upaya-upaya di luar sana (khususnya Indonesia) untuk mengurangi sampah itu sendiri. Baik juga dong proses baik dan pengelolaan sampah yang makin dijalankan oleh banyak orang saat ini, juga gen z. Biar seimbang, ndak yang menakutkan soal plastik (yang memang sudah mengerikan dampaknya) aja. Praktik baiknya banyak, dan perlu dituliskan lebih banyak.
Kalimat menarik di dalam buku ini.
..... peperangan di antara gerombolan yang "merasa kurang" dan yang "takut kekurangan", korbannya adalah mereka yang "sedang kekurangan".