Ketika Tentara Merah memasuki Afganistan pada tahun 1979, Uni Soviet sedang berada pada masa kejayaannya. Memiliki pasukan mekanis terbesar di dunia, Tentara Soviet kelihatannya akan melindas habis gerilyawan yang compang-camping dan bersenjata ringan dari salah satu negara termiskin di dunia. Namun, hasil akhirnya sangat mengejutkan ....
Dalam buku ini juga, saya kagum dengan sudut pandang yang dibuat Niko Oktorino dalam memaparkan sejarah. Pandangan saya jadi terbuka tentang kenapa sampai Afghanistan bisa jadi "Negeri Perang". Ini semata bukan dosa dari Rusia saja, atau Amerika saja, atau Arab, China, Inggris. Afghanistan berperan dalam penentuan nasibnya sendiri. Selain itu, ketika orang mengatakan "memerangi komunisme", sebetulnya bukan komunisme yang diperangi. Ketika orang mengatakan "bela agama", sebetulnya bukan agama yang dibela.
Terlalu banyak mengulas dari sisi kekuatan tentara Merah beserta dinas intelijen mereka, jadi kurang imbang cerita dari sisi mujahidinnya porsinya sedikit.