Jump to ratings and reviews
Rate this book

Selamat Datang, Bulan

Rate this book
dari mata kanak-kanak
kau tidak melihat mendung seperti mendung
ia bisa saja roti lapis isi telur
sebuah lebam pada tumit...

100 pages, Paperback

Published June 24, 2019

10 people are currently reading
108 people want to read

About the author

Theoresia Rumthe

11 books46 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
38 (22%)
4 stars
66 (39%)
3 stars
52 (31%)
2 stars
10 (5%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 42 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
June 18, 2019
Saya suka buku puisi ini. Bila di dua buku duet sebelumnya kebanyakan soal asmara. Tapi kali akan ada isu-isu sosial, isu lingkungan, isu agama yang menarik dengan bahasa ringan dan mudah dipahami.

BELAJAR MEWARNAI
nak,
jika agama seperti rumah
mestinya tak mengapa
warna tembokmu berbeda
dengan tetangga.

SEBUAH LACI YANG TERTUTUP
pada sebuah laci yang tertutup
aku menyimpan agama
bersama mainan-mainanku yang lain
jika kawan-kawanku berkunjung
dan mengajakku bermain
aku akan mengeluarkan semua mainanku
kecuali yang satu itu.


SUkkkkaaaaaa.... apalagi satu puisi pendek yang ini.

KETIKA PENYAIR HILANG KATA
kutulis sebuah puisi untukmu:
maaf.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,967 followers
February 11, 2020
Kembang Tidur

ingin menyelinap
ke dalam waktu tidurmu
walau itu sebuah guling
selimut belel
atau kaus longgar
yang telah kaupakai berhari-hari


Salahkan Sintia karena ia kerap merekomendasikan buku kumpulan puisi ini kapanpun ditanyai soal buku yang bagus. Tentu saja aku menjadi penasaran. Memangnya sebagus apa sih kok sampai-sampi ada orang yang tidak bosan memberikan rekomendasi yang sama?

Ternyata, apa yang dirasakan oleh Sintia, aku rasakan pula. Sebelumnya, aku sudah pernah membaca puisi yang ditulis oleh mbak Theo (panggilan dari penyair). Bahkan aku beberapa kali berkesempatan berinteraksi langsung dengannya ketika berada di Ubud untuk UWRF 2019 kemarin. Mbak Theo begitu hangat dan ramah dan rendah hati. Tetapi begitu membaca puisinya, kau akan mengerti bahwa kekuatannya sangat besar. Ia menuangkan semua isi hati dan pikirannya ke dalam puisi-puisi yang terdengar lantang dan tegas.

Dalam Selamat Datang, Bulan, mbak Theo menulis seraya menyindir dan mengkritisi tentang apa yang terjadi di sekitar kita belakangan ini. Tentang kericuhan yang terjadi karena pilkada, tentang perkara-perkara perkosaan yang tidak berpihak pada korban. Tentang apapun yang menurut mbak Theo, harus diluruskan sebagaimana mestinya. Melalui tulisannya, pembaca bisa memahami rasa geram manusia, terutama wanita, tentang hidup di Indonesia.

Selamat Datang, Bulan rasanya menjadi sebuah kumpulan puisi yang harus dibaca siapapun. Setidaknya untuk memahami bagaimana tidak enaknya dilahirkan menjadi wanita dan masih harus berjuang agar bisa setara.

MERAIH KEHIDUPAN

pembalut mahal di swalayan
sementara tak ada hari libur
bagi perempuan saat menstruasi
lucunya, iklan-iklan di tivi
masih saja berwarna biru
pada darah perempuan
"bilang pada mereka, nak
darah itu merah
karena ia kehidupan."
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
June 15, 2020
"Diabetes menyerang kota-kota
akibat janji manis pemerintah"


Puisi-puisi di buku ini lebih singkat namun padat. Dan saya lebih suka jenis puisi yg pendek ketimbang yg panjang di buku ini karena meski pendek tapi pesannya entah bagaimana lebih nancap sekaligus nampol. Yang pendek juga cenderung lebih lestari dalam ingatan.

Dengan kata-kata sederhana, sebuah puisi bisa tersusun. Namun, tidak sekadar jajaran kata takbermakna, dalam puisi gagasan harus tetap ada, yang lalu dituangkan dalam kata-kata. Bisa sederhana bisa berbunga-bunga, terserah si penulisnya, biarkan pembaca nanti yang menilainya.


Tapi puisi tidak selalu harus tentang yg berat-bera. Kadang, kepandaian si penyair menangkap ide dan menuangkannya dalam kata menjadi bagian yang juga tidak kalah menarik. Seperti di puisi ini:


Hujan;
orang-orang sedang menumis di wajan raksasa


Beberapa puisi menggunakan metafora yang sangat canggih untuk menggambarkan hal-hal erotis dan sensual. Memang, membaca puisi sangat bagus untuk melatih kepekaan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
July 4, 2019
136 - 2019

Baru kali ini baca buku solonya Theoresia Rumthe.
Setelah sebelumnya suka karena baca 2 buku dia bareng Weslly, maka saya gak ragu buat baca buku puisi satu ini.

Biasanya puisinya tentang cinta dan asmara, tapi dalam buku ini terasa lebih banyak isu sosialnya, isu lingkungan, isu agama dan terlebih isu tentang perempuan. Beberapa judul malah diberi nama-nama perempuan misalnya yang paling saya suka yaitu Sumiati.

Banyak judul favorit saya nih sebenernya, antara lain :
- Karena Menjadi Manusia Itu Tidak Gampang
- Bagi Setiap Musim
- Belajar Mewarnai
- Doa Ayah
- Padamu Negeri


Belajar Mewarnai

nak,
jika agama seperti rumah
mestinya tak mengapa
warna tembokmu berbeda
dengan tetangga
Profile Image for Devi N..
49 reviews2 followers
November 25, 2021
Rangkaian kata yang ditulis dengan tulus; dari hati. Berbagai isu diangkat dan disajikn dalam kata-kata. Ada kalanya aku membaca sambil tertawa kecil, seakan menyadari arti puisi tersebut. Puisi berjudul "Hantu" sangat menggelitikku—karena benar ketika mengakhiri puisi dengan kalimat, "Para hantu sudah tidak betah lagi di kuburan, mereka telah pindah; lebah betah di gereja."
Profile Image for birds don't sing.
14 reviews
March 11, 2022
This book pretty underrated sih menurutku. Beberapa puisi yg aku suka ada Belajar Mewarnai, Bagi Setiap Musim, Pada Sudut Jalan. Here some sneak peek dari Pada Sudut Jalan
"......
pada sudut jalan kumenemukan papan bertuliskan "beri jalan"
tak ada satupun yang berhenti
semua begitu terburu-buru:
luka dan cinta berulang persis
seperti terima dan kasih."
Profile Image for Alifa Imama.
133 reviews10 followers
June 12, 2020
Selamat Datang, Bulan adalah buku kedua TR yang saya baca hanya dalam jeda beberapa bulan. TR yang langsung saya kagumi sejak puisi pertama melebarkan topiknya tidak hanya perihal cinta. Kali ini TR menyentil persoalan lain. Tentang kesahnya soal kehilangan soal sosok ibu, tentang menjadi perempuan, tentang menjadi warga dan seorang minoritas di negeri ini

Puisi TR tidak pernah terlalu panjang. Namun dalam tiap baitnya kata-kata tersusun lugas, galak, menendang tepat dimana gawang seharusnya berada.

Kumpulan puisi ini banyak juga sepertinya yang dibuat pada jaman riuh pilkada kemarin. Dimana isu agama dijadikan jualan dan semua perkaranya menjadi intens. Kegelisahan TR soal agama disampaikan dengan khusyuk disana sini, salah satu puisi dengan topik ini yang saya suka berjudul “Belajar Mewarnai”

nak,
jika agama seperti rumah
Mestinya tak mengapa
Warna tembokmu berbeda dengan tetangga

Beberapa puisinya juga menceritakan luka dan kepahitannya mencintai negeri yang sepertinya hanya peduli untuk menyakiti hati. Hal tsb disampaikan pada bait-bait di "Padamu Negeri" dan "Di kota Ini"
Di kota ini,
Para pekerja seks digerebek
Tempat pelacuran dikucilkan
Kehamilan kadaluwarsa
Anak seribu anak
Mau kau kasih makan apa
Mau kasih pendidikan agama saja
Sementara mahal harga hotel
Mau bercinta ditangkap polisi
Kondom-kondom dilarang
Bayi-bayi dibuang
Seni pipis di celana
Di kota ini seniman-seniman mati
Dengan tidak bahagia”

Satu tema lagi yang membuat saya tertegun kagum adalah soal wanita dan sulitnya menjadi wanita. TR tidak hanya menuliskan soal wanita secara general. Tapi juga mereka yang bukan Cinderella
dan aku bukan cinderella
aku babu bersepatu kaca
Aku suka berdiri di jendela
Menyetubuhi sajak-sajak telanjang yang lewat
Tak kenal detik dan waktu
Pukul dua belas lewat
Lipstikku masih menyala
Putingku masih merekah

Sejak halaman pertama dibaca hingga akhirnya menutup kalimat terakhir. Saya jatuh cinta
Profile Image for asih simanis.
209 reviews134 followers
December 11, 2021
Ada tiga puisi di buku ini yang saya sangat suka, yang pertama berjudul “Bagi Setiap Musim”, yang kedua berjudul “Ibu”, yang ketiga berjudul “Sembahyang”. Karena Kak Theo memang rajin mengunduh beberapa tulisannya di Media Sosial, puisi satu dan dua sudah saya ketahui sebelum membaca buku ini. Walaupun begitu, memang luar biasa kekuatan kata—berapa kalipun puisi tersebut saya ulang, tak kuasa saya terharu mampus dibuatnya. Mungkin terutama puisi Ibu adalah karya Kak Theo yang paling saya suka hingga saat ini. Karena, melalui observasinya di dalam puisi ini, saya sadar bahwa ibu adalah sedekat darah dalam nadi saya.

Berbeda dengan tulisan-tulisa kak Theo bersama kekasih, buku-buku yang ia tulis sendiri lebih eksperimental. Lebih banyak bermain bunyi dan kata, serta kadang Kak Theo juga mencoba ekplorasi isu yang berbeda-beda. Lagi-lagi puisi adalah selera, karena hati saya yang Romantis, tentunya saya punya kecenderungan untuk menyukai karya-karya Kak Theo bersama kekasih, walau begitu seperti yang saya sebut di atas—saat berdiri sendiri, Kak Theo kadang bisa menuliskan karya yang inginnya saya hapal kan, layaknya saya menghafal bait demi bait tulisan Sapardi ataupun Chairil Anwar.

Bagaimanapun Kak Theo adalah penyair perempuan paling konsisten dan paling membumi di kancah tanah air saat ini. Buku ini adalah sebuah manifestasi perjalanan Kak Theo yang saya rasa masih jauh dari usai. Dan, saya tak sabar menantikan kelanjutannya.
14 reviews
February 16, 2024
Buku kumpulan puisi dengan bahasa yang sederhana untuk diucap tapi hangat di hati. Isinya tentang bumbu-bumbu dalam sayur kehidupan; perempuan, percintaan, politik, keluarga, juga kepercayaan.

Puisinya ada yang panjang, pendek, panjang banget sampe kayak cerpen, & pendek banget cuma 2 baris. Suka-suka Kak Theo pokoknya haha.

Puisi favorit saya yang judulnya “Kembang Tidur”, sebagai puisi pertama di buku ini yang mengepalai puluhan puisi setelahnya. Izin saya spill ya, Kak. Kira-kira begini bunyinya:

ingin menyelinap
ke dalam waktu tidurmu
walau itu sebuah guling
selimut belel
atau kaus longgar
yang telah kau pakai berhari-hari

Profile Image for Andita.
309 reviews3 followers
October 3, 2020
Buku karya Theoresia Rumthe pertama yang aku baca. yayyy.. karena ini buku puisi jadi ya, hanya butuh beberapa jam untuk menyelesaikannya. Aku kira buku ini bakal menjadi buku yang penuh dengan unsur cinta-cinta, ternyata tidak.

Senengnya tuh, puisi di dalamnya ini memuat banyak sentilan-sentilan terhadap berbagai bidang sosial ya, bahkan perkara wanita, yang jelas seputar isu sosial lah ya.

Subjectively i love this book! and im so so so happy. Banyak banget beberapa puisinya yang langsung jadi favorite.
Profile Image for Siraa.
260 reviews3 followers
January 14, 2022

"lindungi setiap jiwa yang jatuh,
biar tubuh menemukan jalan pulang",
kepada lautan kuberdoa.

Dalam buku ini, puisi Rumthe singkat-singkat tapi masih sangat padat makna. Eksplorasi temanya banyak membahas Laut, rumah, pulang, nelayan dan keluarga. Serasa belum cukup, dia juga membahas isu-isu sosial dalam bentuk kritik terhadap pemerintah, pemilu, emansipasi, agama, kekerasan seksual,dan kekerasan dalam rumah tangga. Diksinya masih khas Rumthe sekali yaitu tulisan yang tajam dan mengiris.
Profile Image for Fira.
129 reviews
December 26, 2024
Rate: 2.5/5
Buku pertama kak theo yang saya baca & suka adalah “seseorang di kaca” salah satu bagian selfie(sh). Salah satu puisinya bahkan masih bertengger dalam postingan instagram saya. Jadi, saya penasaran dengan karya kak theo yang lain. Namun, setelah menjelajah ternyata saya kurang cocok dengan sebagian besarnya.
Buku ini yang kedua yang dapat saya selesaikan, lebih kurangnya, i can say i like half of it.
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
September 7, 2020
HANTU

bulan bermain di kuburan
mengukir namanya sendiri
di atas batu nisan
siapa tahu terkenal, pikirnya

paling tidak
di kalangan para hantu
yang katanya suka nongkrong
di emperan kubur
sekadar makan sate
atau nasi goreng yang lewat

tapi bulan kecewa
sekarang kuburan kosong
para hantu sudah tidak betah lagi di kuburan
mereka telah pindah
lebih betah di gereja.
Profile Image for Isma.
43 reviews2 followers
April 17, 2022
"Diberkatilah kau dengan pekerjaan kecilmu" pesan orangtua penulis yang menyentuh. Sebagian besar berkisah tentang cinta, kemudian agama, sosial, dan hal-hal liris lain. Refleksi juga di tengah sibuknya kehidupan kota di antaranya ini: "Betapa aku merindukan hidup lamban, seperti pohon yang tidak melakukan apa-apa...." Sebagaimana anjuran ajaran slow living.
Profile Image for Lidia.
91 reviews
June 28, 2022
Ini buku pertama Theo yang saya baca. Dan menurut saya sekitar 86 puisinya sungguh menyentil, meski dengan tema beragam.

Ada satu puisinya yang melekat di kepalaku, "Belajar Mewarnai"
ini bercerita tentang perbedaan agama. Saya kutip puisinya:

Belajar Mewarnai

nak,
jika agama seperti rumah
mestinya tak mengapa
warna tembokmu berbeda
dengan tetangga.
Profile Image for Dyan Eka.
290 reviews12 followers
February 23, 2023
Perempuan dengan segala sisi kehidupannya, bisa ditulis menjadi berbagai macam puisi yang indah.

Puisi-puisi favoritku di buku ini adalah Mata Kanak, Bagi Setiap Musim, Berumah Tangga, Satu Hal yang Kupelajari, dan Sembahyang.

"Untuk setiap pasang dan gelombang, jadilah tenang. Untuk setiap kehilangan, jadilah lapang."
Profile Image for Sylwty.
72 reviews
October 14, 2024
Puisi tidak selalu pakai kata-kata rumit nan jelimet buat dipahami. Contohnya buku ini.

Gaya cerita yang sederhana, bahasa sehari-hari, jujur, apa adanya.

Kadang yang bikin kepala kita makin berisik adalah sibuk mengoreksi tulisan sendiri. Padahal sastra buta sehari hari, juga asik pakai istilah biasa.
Profile Image for Jihan Suweleh.
37 reviews
December 26, 2020
"untuk setiap pasang dan gelombang,
jadilah tenang.
untuk setiap kehilangan,
jadilah lapang."

(Sembahyang, hlm. 96)

Suka selalu sama puisi-puisinya Kak Theo. Unik. Kadang menyenangkan, kadang menyentuh juga. 💙
Profile Image for Dini Azhari.
38 reviews
January 25, 2023
Sebagai pecinta puisi, ini salah satu karya puisi yang saya sukai. Judulnya sederhana, namun puisi-puisi di dalamnya tidak sesederhana judulnya. Puisinya unik, sangat unik. Indah banget lirik puisinya. Bintang 5 untuk puisi karya Mbak Theoresia.
Profile Image for Eka Situmorang-Sir.
172 reviews27 followers
December 10, 2023
I’ve been following Theoresia Rumthe for years in Twitter and IG and I love the way she played with words thus I have high expectation in this book. Turned out, it wasn’t as good as I thought.
Yet, it’s still Okay for 1x afternoon reading but for me not to rereading it.
Profile Image for Soraya.
128 reviews7 followers
December 14, 2023
“perempuan diajarkan untuk menjadi bunga di padang senantiasa berwarna bagi setiap musim
namun kita lupa
mengajarkan perempuan
menjadi ilalang dengan kesederhanaannya
tumbuh, bertahan, menjadi banyak di mana saja
tidak peduli apa pun kondisi tanahnya.”

Profile Image for Zahra El-Fajr.
5 reviews11 followers
February 27, 2020
Puisi kak Theo selalu menarik dan menggerakkan hati karena isinya begitu murni, dan tulus
Profile Image for Aqiva Karenina.
51 reviews4 followers
January 20, 2021
Puisi yang pendek-pendek, lugas, dan padat isu. Sangat sederhana tapi gagasannya kaya sekali. Kebaikan menyertai Kak Theo.
Profile Image for May.
65 reviews16 followers
January 28, 2021
Di antara semua puisi, ini saya paling suka:

'Sembahyang'

Untuk setiap pasang dan gelombang,
jadilah tenang.
Untuk setiap kehilangan,
jadilah lapang.
Profile Image for Mourning_elf.
587 reviews28 followers
October 18, 2021
Puisi nya sederhana dan banyak membahas tentang masalah sosial. Aku suka sih ga banyak bicara tentang cinta aja.
Displaying 1 - 30 of 42 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.