Saya percaya pada para ahli yang mengatakan pengalaman seks pertama akan menentukan bagaimana kamu memaknai seks itu. Sama halnya dengan mengetahui informasi seks yang benar akan membawa kamu pada pengetahuan yang benar juga.
Berpengetahuan tentang seks yang benar akan membuat seseorang lebih bertanggung jawab dan paham akan risiko dari melakukan hubungan seks. Lagi-lagi orangtua adalah sosok yang tepat untuk memberikan pengetahuan tentang seks kepada anaknya sejak usia dini.
"Intinya, kesetaraan kan sama dengan keadilan dan sejatinya keadilan harus dimulai dari pikiran." halaman 35.
Sebagai seorang yang terlahir menjadi perempuan, saya memiliki banyak pertanyaan tentang yang katanya 'kodrat' kami. Salah satunya adalah mengapa wanita yang terbuka membicarakan hal-hal berbau seks akan dianggap tidak senonoh (dan nakal)? Tapi kalau lelaki yang melakukan ini akan dimaklumi? Kalau ini menjadi topik dalam diskusi pasti akan sangat panjang kan?
Buku ini sangat mewakili keresahan saya atas sikap masyarakat Indonesia pada seks. Seks sering kali dianggap tabu oleh orang timur, sehingga memunculkan banyak masalah. Tak jarang di setiap bab saya memutar bola mata dengan kesal saat membaca hal-hal seksis yang ditemui oleh penulis. Kenapa kesal? Ya karna hal tersebut memang nyata terjadi. Contohnya? Wah banyak, orang tua yang canggung dan cenderung tidak ingin membicarakan seks dengan anaknya, pria yang ('katanya') menjaga pacarnya agar tetap suci tapi dibelakang malah berburu perempuan untuk memenuhi 'kebutuhan', wanita yang membicarakan seks dianggap nakal, hingga kurangnya pemahaman risiko-risiko dari seks bebas selain kehamilan. Dengan membaca buku ini, kita semua tau seberapa gentingnya pendidikan seks perlu dilakukan (yang bukan tentang memahami anatomi tubuh manusia saja ya, anak sd sudah belajar di sekolah kalo itu, dan nyatanya tidak berhasil mengurangi masalah yang ada).
Kemudian perihal kesalahan penulisan tidak saya temui di buku ini. Namun, saya mendapatkan buku dengan cutting yang tidak pas. Pada bagian bawah seperti terpotong terlalu banyak dan bertahan sampai akhir halaman (maaf saya perfeksionis dan terganggu dengan ini). Atau memang seperti ini desain layoutnya? Selebihnya, saya menyarankan semua orang untuk membaca buku ini.
Nggak sengaja menemukan buku ini di Google Playbooks beberapa hari lalu. Bukan terbitan baru memang, mungkin beberapa tahun lalu. Jumlah halaman yang tidak terlalu tebal dan topik yang diangkat pada akhirnya membuatku berniat membeli untuk membacanya sekali duduk.
Buku ini judulnya Akibat Menabukan Seks karya Ester Pandiangan, diterbitkan oleh Indie Book Corner. Setelah aku cek lagi, sepertinya sang penulis juga baru-baru ini menerbitkan buku dengan tema besar serupa di penerbit lainnya. Atau, buku baru itu hanya bentuk penyempurnaan dari buku ini, entah juga ya.
Akibat Menabukan Seks memuat tulisan-tulisan pendek yang pernah dimuat di Magdalene sekitar tahun 2018-2019 lalu. Ketika membaca judulnya, aku pikir keseluruhan buku ini berbicara tentang seks dari berbagai sisi dan berharap mendapatkan banyak pemikiran out of the box.
Tetapi ada satu yang agak 'mengecewakan' yaitu beberapa tulisan ternyata tidak bicara soal seks lagi, dan cenderung berbicara tentang hal yang kurang relevan dengan tema seks, seperti Haul Gus Dur, ucapan selamat natal dari umat muslim kepada teman/rekan non muslim yang merayakannya, serta bagaimana pandangan penulis tentang Jakarta --kota yang ditempatinya dari tahun 2012.
Menurutku bukannya tulisan-tulisan tak relevan ini jelek, sih. Malahan, aku cukup suka dengan tulisan beliau mengenai Gus Dur. Tetapi ya, tetap saja kurang relevan kalau diterbitkan di buku yang tulisan SEKS-nya segede gaban di sampul depan.
Secara umum, tulisan penulisnya cukup mengalir dan beneran enak untuk dijadikan bacaan yang dilahap sekali duduk. Cuma 76 halaman. Silakan dicoba📚💫
Rating bukan berarti isinya tidak menarik. Justru sangat menarik. Saya menemukan tulisan-tulisan penulis tentang seks di mojok, magdalena, dan blog pribadinya. Saat itu saya sedang mengeksplor diri dan menemukan kesukaan pada topik bersenggama yang selama ini saya tolak karena takut akan stigma. Hal itu membuat saya sempit melihat seks. Tapi tulisan penulis membuat saya lebih berani untuk melihat baik buruknya topik ini.
Tidak banyak tulisan yang memandang seks seperti yang diberikan penulis. Sudut pandangnya luas dan tidak menitik beratkan pada gender wanita saja. Tidak hanya rasa nikmat dan manis dari bercinta yang dijabarkan tapi juga rasa khawatir akan resiko. Hal tersebut justru membuat saya semakin sayang dan bertanggung jawab pada diri saya, si pemilik vagina ini.
Entah saya yang kurang main atau gimana, saya sangat suka menemukan pengetahuan ini, hal yang sangat intim untuk sesama wanita. Sayangnya tulisan yang ditulis sudah banyak saya baca di internet, beberapa tulisan tidak ada sangkut paut langsung dengan seks. 18 tulisan itu terasa tipis tapi mba penulis, saya suka semua isinya.
Semoga penulis diberikan kebahagiaan selalu dalam menulis sehingga lebih banyak karyanya.
Bacaan sekali duduk, tapi membahas tema yang penting sekaligus menarik: seks. Sebuah kekeliruan yang umum: seks adalah sesuatu yang tabu, demikian pula belajar ttg seks akhirnya sesuatu yg tabu pula. Padahal, ada beda sangat besar antara melakukan seks dan tahu tentang seks. Melakukan selalu ada hasil (konsekuensinya), tapi tahu ya kadang cuma selesai di "cukup tahu saja." Namun, setidaknya, tahu berarti dia memahami betul risiko dan konsekuensi ketika melakukan seks di luar nikah dan seks yanh tidak aman. Seperti tulisannya di buku terbitan EA Books, Ester tetap tajam, open, dan ceplas ceplos tapi nampol di buku ini. SelIn tema seks, ada juga tulisan pendek ttg kesetaraan pria dan wanita dan sedikit tulisan khusus ttg Gusdur.
kupikir hanya artikel soal seks ternyata ada 6 dari 17 artikel yang ga ada hubungannya sama sekali dengan seks. Menurutku kalau editornya peka, 6 tulisan ini bisa ditakeout dan disimpan untuk kumpulan tulisan lainnya. Soalnya jadi beda banget mood bacanya ya tiba-tiba ngomongin Haul Gus Dur? Untuk tulisan lainnya aku banyak setuju sama penulis. Bukan karena dia temanku tapi memang kami sering sependapat soal banyak hal. Dan isi buku ini salah satunya.
Buku yang sangat menarik untuk dibaca mengenai topik seksualitas dan seks. Buku ini tetap menyajikan dan memaparkan seks dengan gamblang dan menohok, tapi tetap ringan dibaca.
Banyak hal yang kita bisa dapat dari buku ini, bagaimana kita menyampaikan pendidikan seks kepada anak kecil, perempuan dicap suka seks hanya karena dia memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang seks, mudahnya melakukan hubungan seksual hanya melalui sebuah aplikasi, bahkan sampai penyakit yang bisa saja kita alami ketika kita melakukan seks bebas.
This entire review has been hidden because of spoilers.