Novelnya Mbak Pradnya yang diterbitkan Penerbit Naratama ini sukses bikin saya geregetan pengin jitak tokoh ceweknya. Padahal ceweknya cantik dan lucu, tapi seremnya minta ampun.
Jadi, namanya Ganisia Abhinandi atau biasa dipanggil Abhi. Setelah sembilan belas hari perkenalannya dengan Randu Anangga yang berkantor di gedung yang sama, mereka memutuskan untuk jadian.
Dua hari setelah jadian, Abhi mendengar percakapan Randu dan kawan-kawannya di kantin, bahwa alasannya memacari Abhi adalah mumpung lagi jomlo dan bisa dijadikan teman kondangan. Terlebih lagi, sebagai alat move on karena gebetannya tunangan sama orang lain.
Karena merasa sakit hati, marah, sekaligus sedih, Abhi menyusun sebuah misi balas dendam. Membuat Randu bertekuk lutut, lalu meninggalkannya pas lagi sayang-sayangnya.
Nah, pelaksanaan misi inilah yang membuat saya merasa pikiran Abhi ini seram banget. Meski nggak seseram Amy dalam Gone Girl, tetap saja mengerikan menghadapi cewek yang menuhankan asumsi pribadi begini. Tapi berkat misi ini pula, novel ini jadi menarik dan bikin perasaan manis-asam-asin kayak permen yang itu. Eh, tambah pedas juga! Hahaha.
***
"Maksudku, pernikahan itu kan bukan cuma soal gelar resepsi atau pakai cincin kawin. Ada segudang tanggung jawab yang nunggu di belakangnya, dan harusnya itu nggak ada hubungannya sama usia."
—hlm. 144
Novel setebal hampir 400 halaman ini termasuk novel romance yang jenaka dan renyah, meskipun—kata Mbak Pradnya—banyak pembacanya bilang bahwa ini lebih ke novel horor dan misteri karena isi pikiran heroine-nya yang bikin ngeri. Yah, memang semengerikan itu menyimak jalan pikiran Abhi yang penuh prasangka dan asumsi. Yah, mungkin sebagian besar orang bakalan melakukan itu jika dihadapkan masalah seperti ini, tapi Abhi ini ... sungguh terlalu! Hahaha. Apalagi novelnya diceritakan dari sudut pandang Abhi, jadi saya dapat menyelami betul pikiran-pikiran horornya. 😅😅😅
(Jadi penasaran dengan sudut pandang Randu. Apakah ada kebohongan dan keberengsekan yang belum terungkap? 🤔🤔🤔)
Namun, di sinilah salah satu kekuatan novel ini. Pembangunan karakternya bagus dan kuat banget. Dengan sifat-sifat yang manusiawi banget, membuat saya nggak bisa sepenuhnya menyukai maupun membenci tokoh-tokoh dalam novel ini (terutama tokoh utamanya). Dan ... tokoh-tokoh yang ada, hampir semuanya punya peran penting dalam menggulirkan cerita. Termasuk si kucing songong nan bulat, Paduka Cuan yang tergemas. 🐱🐱🐱
Untuk gaya penceritaannya, saya udah nyaman banget dengan cara Mbak Pradnya menuturkan novelnya. Apalagi bagian-bagian kecil pun bisa jadi penting dan memorable banget. Ya Allaaah, bisa ya kayak gitu. Uwuwuwu banget. 😙😙😙
***
Kalau Abhi lebih senang dianggap cewek cerdas, meskipun dia juga cantik dan lucu. Hanya saja, kecerdasan itu kadang menjelma menjadi stupid overload kalau berhadapan dengan Randu yang mempunyai daya analisis bagus dan juga penyimak yang oke.
"Anget-angetnya apaan? Biasanya orang baru jadian itu nggak main Tinder lagi, sih."
—hlm. 148
Nah, itulah salah satu contoh respons Randu terhadap satu kecerobohan Abhi yang bikin saya ngikik. Sayangnya Abhi sukanya band Sisitipsi. Andai dia suka Jamrud, mungkin dia bakalan nyanyi, "Ingin kumaki diriku sendiri yang tak berkutik di depanmuuu~" 😂😂😂
Novel ini banyak membahas tentang keputusan untuk menikah, baik ditilik dari segi usia, pandangan masyarakat, tanggung jawab, dll. Juga tentang self love, berdamai dengan masa lalu pasangan, dan dunia kerja Abhi sebagai desainer grafis. 🤵🏻👰🏻❤💻
Lantas, kekurangan novel ini apa? Secara keseluruhan, saya suka. Membacanya pengin cepat selesai, tapi juga pengin berlama-lama menyimak pikiran Abhi yang penuh prasangka dan keras kepala. Nah, ini yang kadang bikin saya geregetan banget, tapi juga bikin penasaran setelah ini ada apa lagi. Jadi, ini menjadi kekurangan sekaligus kelebihannya menurut saya. Ehehehe. 😁😁😁